Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Kekalahan murid Biksu Gila


__ADS_3

"Baik guru!" jawab Han Wen dan Tan Li yang bersamaan.


Bagaikan tiga ekor burung malam, guru dan murid ini melayang naik ke atas dinding dan memasuki daerah bangunan Istana tengah hutan.


Biksu Ji melompat ke atas genteng sebelah kiri dan dua orang gadis itu lari ke kanan yang menjadi bagian belakang bangunan itu, kemudian melompat pula ke atas genteng.


Seandainya biksu Ji tahu kalau setan kipas merah itu murid Siauw Bo, pasti ya dia tak akan membiarkan dirinya berpisah dengan kedua muridnya itu.


Dengan ketabahan yang timbul dari percaya kepada kepandaian sendiri, dua orang pendekar muda itu berlompatan di atas genteng dan langsung menyelidik di bagian belakang ruangan gedung yang besar dan indah itu.


Kemudian mereka melihat sebuah taman di belakang gedung dan mereka melayang turun. Perlahan-lahan menyelinap di dalam bayangan pohon, kemudian mengendap-endap memasuki ruangan belakang yang diterangi cahaya obor yang remang-remang.


Dengan sigap mereka berlari ke ruangan ini, pedang di tangan dan mata memandang ke sekeliling mencari-cari pintu mana yang akan mereka serbu untuk mencari setan kipas merah atau menghadapi kaki tangannya.


Tiba tiba terdengar suara ketawa terbahak dan muncullah empat orang laki laki tinggi besar memegang golok berat dan seorang kakek berjenggot putih panjang.


"Adik kedua malam-malam begini kita kedatangan tamu-tamu yang tak diundang! ha ha ha !" seru salah satu perompak buaya merah sambil melihat ke arah Han Wen dan juga Tan Li. Lalu empat orang perompak buaya merah itu tertawa sinis.


"Tuan berempat, mohon ma'af jika kedatangan kami mengganggu kalian!" balas Ham Wen sembari bersikap menundukkan kepalanya san diikuti oleh adik seperguruannya Tan Li.


"Kedua pemuda itu bukan orang sambarangan." kata Cun Sam yang menatap dua murid Biksu Ji itu.


"Ha...ha...ha...! tapi mereka adalah tamu yang kurang ajar! tanpa permisi, mengendap-endap diatas genting lagi! bukan kah itu mereka akan mencuri?" ucap salah satu perompak buaya merah itu dengan menunjuk kearah kedua orang pemuda yang ada dihadapan mereka.


"Ma'afkan sikap kurang ajar kami, kami sedang mencari seseorang. Dan kami tak mau membangunkan penghuni tempat ini. Jadi kami berniat mencarinya sendiri " jelas Tan Li.


"Tapi kami tak mau menerima permintaan ma'af kalian! Siapapun yang masuk ke wilayah kami tanpa ijin, maka harus berhadapan dengan kami!" seru anggota perompak buaya mereka yang lainnya.


Dan mereka sudah bersiap dengan golok di depan dada mereka masing-masing, yang membuktikan mereka tak main-main,


Merasa percakapan itu sudah tak bisa baik-baik. Tan Li memutar sepasang pedangnya, terus menyerang dua perombak buaya merah itu yang juga sudah siap dengan golok mereka di tangan.


Melihat gerakan adik seperguruannya, Han wen juga menyerang dua anggota perompak buaya merah yang lainnya.

__ADS_1


"Trang.... trang.....!"


'Aihh, lihay juga....!"


Seru salah satu perompak buaya merah yang kaget, sebab ketika ia dan adiknya menangkis sepasang pedang Tan Li, dengan kecepatan yang sukar diduga pedang itu mental ke bawah dan membabat ke arah perut mereka dari kanan kiri seperti kilat menyambar.


Untung dia cepat mengelak mundur bersama anggota perompak lainnya, tetapi baju mereka tetap robek karena terkena ujung pedang Tan Li. Nyaris kulit perut mereka yang robek.


Kini mereka tidak berani main-main dan harus mengakui kebenaran yang diterangkan kakek jenggot putih Cun Sam tadi. Sedangkan dua orang anggota perompak merah yang lainnya masih sibuk memutar serta memainkan senjata karena terkurung oleh sinar pedang yang bergulung gulung di tangan Han Wen.


"Trang.... trang.....!"


"Trang.... trang.....!"


"Trang.... trang.....!"


"Trang.... trang.....!"


Pertempuran berlangsung seru dan mati-matian karena sambaran pedang dan golok yang berdesingan serta bersiuran bunyinya itu merupakan bayangan-bayangan tangan maut yang mengerikan,.


Tiba tiba Han wen terkejut sekali karena merasa ada hawa pukulan yang amat kuat menerjangnya dari belakang, ia bisa menduga tentu kakek jengot putih itu yang menyerangnya karena sudah sejak tadi ia melihat bahwa kakek inilah yang terlihai di antara musuh-musuhnya.


Dengan cepat dia memiringkan bahuhnya mengangkat sebelah kaki meloncat terus menendang, sementara pedangnya berkelebat ke kiri melindungi tubuhnya dari serangan kedua golok.


Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba kakinya yang menendang itu kena ditangkap oleh kakek jenggot putih. Sebagai seorang ahli pedang yang lihai biarpun kaki kirinya tertangkap,ia dapat mencenderungkan tubuhnya ke depan sambil membebatkan pedang ke arah pergelangan tangan Cun Sam.


"Uhhh...!"


Kakek itu berseru kaget dan kagum sekali. Terpaksa ia menarik pulang tangannya sambil melepaskan pegangan.


Perompak buaya merah sudah menerjang dengan sambaran golok mereka. Golok itu datangnya dari kanan kiri, ketika ditangkis pedang, dua batang golok itu membuat gerakan menggunting sehingga pedang Han wen terjepit.


Pemuda itu tidak menjadi gugup, cepat tangan kirinya mendorong sambil kaki kirinya melangkah maju.

__ADS_1


"Dukk...!"


"Aduh...!"


Seorang di antara kedua perompak buaya merah itu terjengkang roboh karena dadanya terkena pukulan tangan yang halus namun mengandang tenaga sinkang hebat itu.


Namun pada detik pukulan Han wen mengenai sasaran, pemuda ini terkejut sekali karena tiba tiba pinggangnya dipeluk orang dari belakang.


Sebelum dia sempat bergerak, golok lawan kedua sudah menyambar dari depan. Terpaksa Han Wen menangkis dengan pedang dan pada saat itu Cun Sam yang memeluk pinggangnya telah menangkap tangan kirinya dan terus ditelikung ke belakang.


Saat ini Han Wen berada dalam cengkeraman kakek berjenggot putih itu, dan dia sama sekali tak dapat berkutik lagi. Tangan kanannya yang memegang pedang dapat ditendang lawan sehingga pedangnya terlepas dan ia tertangkap.


Han Wen terus meronta-ronta, membuat Cun Sam mengeluarkan tali kulit yang amat kuat dan membelenggu tangan Han Wen. Kemudian Cun Sam menendang belakang lutut Han Wen sehingga Han Wen roboh terguling.


Tan Li yang melihat robohnya kakak seperguruannya itu, menjadi marah sekali. Namun ia tidak dapat menolong karena pada saat itu orang ketiga perompak buaya merah juga sudah maju menerjang dirinya, sehingga saat ini dirinya dikeroyok tiga orang. Karena yang satu orang masih duduk dan meringis kesakitan sambil mengurut-urut dadanya yang tertonjok tadi.


Tan Li mengamuk nekat dengan sepasang pedangnya berkelebatan seperti dua ekor naga sakti mengamuk. Namun tiga orang lawannya juga bukan orang lemah. Tadi ketika menghadapi dua orang lawan Tan Li masih dapat mendesak, akan tetapi sekarang ditambah seorang lawan dan melihat kakak seperguruannya roboh, ia menjadi gelisah dan berbalik terdesak hebat.


Lebih celaka lagi baginya, Cun Sam kembali menubruknya dari belakang selagi kedua pedang nya sibuk menangkis tiga batang golok, dan sekali kena diterkam ia dapat ditelikung dan pedangnya di rampas, lalu iapun dibelenggu dan ditendang roboh.


Dua pemuda perkasa itu kini tersungkur di atas lantai dengan mata melotot penuh kebencian.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


"


__ADS_2