
Kini melihat kekasih mereka nekad menghadapi musuh yang amat tangguh, mereka berkuda cepat maju dan menyambung.
"Kami akan melawan sampai mati!" seru Han wen dan Tan Li serempak.
Melihat dua pasang orang muda itu dengan pedang di tangan siap bertempur dengan semangat meluap-meluap, pada hal tadi mereka telah mengenal kesaktian mereka, Panglima Thian Sung diam-diam kagum dan tahu kenapa pasukan Mongol berkali-kali mengalami pukulan hebat.
Kiranya kaum pemberontak dipimpin oleh pemuda pemuda yang begini besar semangat dan keberaniannya.
Panglima Thian Sung menghela napas panjang.
"Hemm, sayang orang muda seperti kalian, yang belum banyak menikmati hidup, membuang nyawa. Hanya karena menuruti jiwa petualang." gumam Panglima Thian Sung.
"Hao Panglima tua! Kamu tentu sudah tahu bahwa kami kaum pejuang memperjuangkan nasib para pekerja paksa dan para wanita tak berdosa. Kami mengacau dan memusuhi pasukan-pasukan Mongol karena mereka menyengsarakan rakyat tak berdosa, menyuruh rakyat bekerja sampai mati dan menyiksa mereka, menculik dan memperkosa wanita wanita tak berdosa. Semenjak kamu memimpin An bun kami sudah mendengar akan perubahan perubahan yang kau lakukan ke arah kebaikan nasib rakyat yang dipekerjakan, juga tidak ada lagi penculikan-penculikan, bahkan wanita wanita yang dikeram di dalam benteng telah kau bebaskan dan suruh antar pulang. Mengingat akan kebaikan kebaikan yang kau lakukan itulah maka kami para pejuang berdiam diri, tidak memusuhi benteng An bun selama kau menjadi pemimpin di sana. Akan tetapi mengapa kini secara pengecut sekali kamu diam-diam membawa barisan besar mengepung kami!" seru Setan kipas merah saat berhadapan dengan panglima Thian Sung.
"Hm, dasar manusia sombong dan tak tahu diri!" balas seru Thian Sung.
"Apakah kalian kira bahwa peraturan peraturan yang kuadakan di An bun itu menjadi tanda bahwa aku takut kepada kalian? Ha...ha...ha....! Sama sekali tidak bocah nakal ! Memang para panglima yang lalu kurang becus mengatur. Memang sengaja aku mendiamkan kalian semenjak aku datang karena yang penting adalah mengatur keadaan di Thian An bun untuk memperlancar jalannya pekerjaan menggali terusan. Sekarang, setelah semua lancar barulah aku teringat kepada kalian dan karena kalian ini anak-anak yang memberontak, harus diberi hukuman! Sekarang pilih saja, kalian semua kutumpas sampai habis atau memenuhi syarat yang kuajukan !" seru Panglima Thian Sung dengan lantang.
Para pejuang menjadi panas telinganya mendengar ucapan yang memandang rendah mereka.
"Thian Sung! kita tua sama tua, jangan kau anggap kamu ini anak-anak ! kamu boleh jadi gagah perkasa, akan tetapi sudah terbukti kamu itu mengabdi pada penjajah asing! Kami biarpun tidak berani menyebut diri pandai masih memiliki jiwa patriot. Kami rela mengorbankan nyawa untuk tanah air dan bangsa, aku menantang kamu bertanding sampai mati!" Seru Cui Lin, tetua perkumpulan Hoang Ho.
"Ha..ha...ha...! cecunguk yang tak tahu malu! Siapa tidak mengenalmu? kamu itu orang tertua Hoang ho si Kepala bajak! Bangsa bajak yang kerjanya hanya membajak dan mengganggu rakyat, masih berani bilang seorang patriot? Sungguh tak tahu malu, seperti seekor harimau yang keluar tak lain hanya gonggongan menjijikan!" seru panglima Thia sing yang secara otomatis itu menghina Cui Lin.
__ADS_1
Cui Lin tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia melompat maju menerjang dengan senjatanya diikuti A Kiok dan A Bhok, kedua orang adiknya.
Dengan senjata di tangan, tiga orang Hoang ho ini menerjang dari depan penun kemarahan. Agaknya, Panglima Thian Sung sudah lebih dahulu memesan anak buahnya tidak bergerak kalau tidak diperintah, atau memang para anak buahnya amat takut kepada pemimpin baru ini.
Buktinya melihat tiga orang penerjang hebat dan mengancam keselamatan pemimpin mereka semua memandang tajam. Kiranya semua perajurit dan perwira itu sudah seratus prosen percaya akan kesaktian pemimpin mereka yang benar benar hebat dan terbukti.
Ketika ketiga orang saudara dari Huang Ho itu menerjang maju. Sementara panglima Thian Sung masih tertawa dan sama sekali tidak bersiap-siap menyambut.
Akan tetapi tiba-tiba kelihatan tangan kiri kakek itu bergerak, terdengar suara berkerincing nyaring sekali dan tampak sinar berkilauan menyambar ke depan dari tangan kiri panglima itu, menyambar ke arah tiga orang Huang ho yang berturut turut terjungkal sambil berseru kaget dan kesakitan, senjata di tangan mereka terlepas.
Mereka berkelojotan sebentar lalu tak bergerak lagi, tampak di dahi mereka tepat di antara kedua mata, sudah tertusuk senjata senjata rahasia ampuh itu yang menancap sampai dalam memecahkan balok kepala menembus otak.
Peristiwa itu terlalu hebat sehingga kedua pihak sampai tercengang. Huang ho bukanlah orang-orang lemah. Sebaliknya dari pada itu mereka adalah orang-orang yang telah memiliki tingkat kepandaian tinggi, akan tetapi dalam segebrakan saja mereka tewas oleh senjata lempar panglima itu.
Melihat ini saja makin yakin hati setan kipas merah bahwa Panglima Thian Sung benar-benar merupakan tandingan yang amat berat.
Pada taat itu, selagi para pejuang menjadi gelisah dan sudah mengambil keputusan untuk membela diri dengan mati-matian, akan tetapi terdengar ledakan bertubi-tubi tidak begitu keras.
Akan tetapi tampaklah di angkasa anak panah berapi, Panglima Thian Sung hanya mengerling ke atas sedikit lalu ia mendesak.
"Setan kipas merah! agaknya engkau yang menjadi pemimpin di sini. Dengarlah syaratku. Aku tidak menumpas semua pemberontak karena mereka itu tidak tahu apa yang mereka lakukan. Aku hanya ingin menangkap semua pemimpinnya untuk mempertanggungjawabkan pemberontakan mereka di depan pengadilan kaisar. Adapun para anak buah, akan diampuni nyawanya asal suka kembali bekerja, membantu penggalian terusan dan tidak usah khawatir lagi, kini mereka dijamin dan kalau sudah habis waktu kerja, mereka akan dipulangkan ke kampung dan diberi pesangon!" seru panglima Thian dengan suara lantang.
Setan kipas merah menghadapi situasi dilema, dia sangat mengharapkan kehadiran pendekar tanpa gelar pada saat ini juga, setidaknya mengimbangi kelihaian Panglima Thian Sung.
__ADS_1
Kalau dia menolak syarat itu, berarti semua pejuang yang berada di situ akan tewas semua. Tapi kalau ia menerima, dia dan banyak teman akan ditangkap. Dia sendiri tidak perduli kalau ia ditangkap atau terbunuh sekalipun, akan tetapi bagaimana dia tega untuk membiarkan kedua murid Biksu Ji dan bocah tua nakal ditangkap dan dihukum pula.
Selagi setan kipas merah sedang berpikir dan bingung tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dari atas pohon yang berdekatan dengan tempat itu.
"Ha...ha...ha...! panglima Thian Sung! sungguh tak tahu malu, mengabdi kepada orang Mongol mengkhianati bangsa sendiri!"
Ucapan ini disusul melayangnya tiga bayangan orang dari atas pohon melalui kepala orang-orang dan turun ke depan panglima Thian Sung.
Semua orang memandang dan dua pasang orang yang sedang gelisah itu segera berseru girang,
"Guru!"
"Ha! Bagus sekali. Siok Lee sudah tiba!" Seru Ang Han atau Ang Kai ketua perkumpulan pengemis sabuk sutra merah dengan suara lega.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...