
Mendengar ejekan ini, merahlah raut wajah Siok Lan dan dengan terpaksa dia mundur karena percuma saja dirinya membujuk Yu Tian, si pelayannya itu.
Tapi Siok Lan sudah siap siaga dengan jarum peraknya untuk menyelamatkan nyawa pelayannya, kalau dalam keadaan terdesak nanti.
Begitu Siok Lan mundur, Cui Hwa sudah menerjang maju.
"Hei, jangan curang!" seru Xiao Yu sambil mundur beberapa langkah.
Karena takut dikatakan curang, Cui Hwa menunda serangannya.
"Curang apa! Kamu yang hendak lari! Kali ini kami harus mampus, tidak peduli siapa yang akan kehilangan pelayan seperti kamu!" seru wanita galak itu yang memancing kemarahan Siok Lan.
"Boleh saja kalau mau buat aku mampus, boleh saja. Tapi pertandingan ini harus diatur sebaiknya. Bukankah kita semua ini tengolong orang-orang gagah dan kalian ini para pejuang? Jadi jangan membuat malu Huang ho sebagai tuan rumah!" ucap Xiao Yu yang sengaja berbelit-belit.
"Sudahlah, cepat katakan apa mau kamu! jangan terlalu cerewet!" seru Cui Hwa dengan kesal.
"Begini, aku tidak bisa silat bagaimana mungkin mengadu ilmu silat? Sekarang begini saja Pendekar tadi bilang mau membunuh saya, tapi saya hanya ingin satu kali menampar pinggul yang besar itu. Kalau sampai dapat kutampar, berarti aku menang. Sebaliknya, kalau sampai pendekar berhasil membunuhku, sudah tentu saja aku mengaku kalah! Eh, tentu saja kalau aku masih mampu mengaku, kalau sudah mati, mana mungkin dapat mengaku ya? He...he... aku jadi bingung!" ucap Xiao Yu sambil terkekeh.
Yang mendengarkan ucapan si pelayan itu, tentunya mereka tak bisa menahan tawanya. Dan kemarahan Cui Hwa semakin memuncak karenanya.
"Baik kita mulai sekarang!" seru Cui Hwa yang sudah tak dapat menahan lagi emosinya, dia menerjang maju dengan amat ganasnya memukul bertubi-tubi dengan kedua tangan yang mengandung tenaga dalam yang tinggi.
Karena itu di setiap pukulan disusul dengan tendangan yang mengarah pada bagian berbahaya.
"Ayaaaa....!"
Seru Xiao Yu membuat gerakan menari dengan lincahnya, yang membuat Cui Hwa kelabakan.
Cui Hwa mengejar setiap langkah dan derakan Xiao Yu dengan langkah teratur, langkah-langkah diseret sehingga terdengar jejaknya,
"Sett... Sett...sett ....!"
Terus mengikuti Xiao Yu seraya melancarkan satu dan dua pukulan.
"Hm aku merasa kalau si pelayan itu bukanlah seorang pelayan yang bodoh. Dia seorang pelayan pendekar yang sudah berani bersikap seperti itu tak mungkin kalau tidak memiliki kepandaian ilmu silat, aku tak boleh berlaku sembrono!" gumam dalam hati Cui Hwa yang masih terus bergerak dengan serangannya.
__ADS_1
"Yu Tian !Kau mengaku kalah saja, biar aku menggantikanmu !" seru Siok Lan yang merasa gelisah menyaksikan pelayannya menari-nari seperti itu.
"Nanti dulu nona, biarkan aku menggaplok pantatnya dulu !" balas Xiao Yu yang terus menghindari serangan Cui Hwa dengan tariannya.
Pada saat Cui Hwa akan melayangkan pukulannya, semua orang, termasuk Siok Lan menjadi pucat. Karena pukulan tangan kanan wanita itu amat cepat dan sukar menghindarkan dirinya, orang yang punya kesaktian saja belum tentu bisa menghindarinya apalagi seorang yang tidak pandai silat seperti Yu Tian.
Pukulan itu cepat menyambar ke arah dada Yu Tian dan gadis yang menyamar menjadi laki-laki itu, sengaja seperti tidak tahu akan datangnya pukulan ini.
"Awas Yu Tian..!" teriak Siok Lan.
Namun terlambat, pukulan itu telah menyambar pundak Yu Tian. Dan tubuh Yu Tian terbanting ke atas tanah, bergulingan dan secara aneh tubuh itu terguling ke belakang Cui Hwa yang sudah kegirangan dan mengira bahwa pukulannya tentu akan menewaskan pelayan itu.
Sebelum ada yang tahu apa terjadi, juga Cui Hwa sendiri tidak tahu mengapa kedua kakinya tiba tiba tak dapat digerakkan. Yu Tian sudah merangkak bangun, lalu tangan kanannya, diayun menampar pinggul Cui Hwa.
"Pakkkk.....!"
"Aku menang...!" seru Yu Tian dengan berjingkrak kegirangan.
Cui Hwa berusaha untuk menggerakkan kedua kakinya, namun tetap tidak dapat digerakkan.
"Pendekar Cui kau harus mau mengaku kalah!" bisik Yu Tian yang seketika Cui Hwa dapat bergerak kembali, tak dapat menahan kemarahannya.
Wanita itu mengira kalau Siok Lan yang diam-diam membantu pelayan nya, maka kini ia mendelik dan mencabut pedangnya yang berkilauan.
"Aku Cui Hwa menantang Siok Lan !" bentaknya dengan nyaring.
"Waduh, hati-hati tuan muda! dia galak sekali!" seru Yu Tian yang pura-pura takut.
menyaksikan betapa secara aneh pelayannya berhasil benar benar menampar pinggul wanita itu dan pukulan yang mengenai pundaknya tidak menewaskannya.
"Apakah kamu tidak apa-apa, Yu Tian?" tanya Siok Lan yang penasaran setelah menyaksikan betapa secara aneh pelayannya berhasil benar benar menampar pinggul wanita itu dan pukulan yang mengenai pundaknya tidak menewaskan pelayannya itu.
"Tidak apa-apa tuan muda!" jawab Yu Tian dengan suara keras disengaja.
"Pukulannya lunak seperti tahu. tuan bisa balaskan dengan goreskan pedang tuan pada pinggulnya, ha...ha...!" kelakar Yu Tian.
__ADS_1
Dan Siok Lan tidak melayani kelakar pelayannya karena ia sendiri merasa tegang, Cui Hwa sudah mencabut pedang dan sudah menantangnya.
Tak dapat ia menghindarkan pertandingan yang tentu akan terjadi seru dan mati-matian karena ia tahu kemampuan lawannya.
"Cui Hwa berkali-kali engkau sengaja menghinaku, sikapmu sungguh tidak patut menjadi sikap seorang pendekar yang mengaku gagah dan pejuang. Sepatutnya engkau dilayani pelayanku dan tukang perahu, bahkan ternyata menghadapi kedua orang pembantu itupun kau sudah kalah. Sekarang mau menantangku, sungguh tak tahu diri!" kata Siok Lan yang sedikit angkuh.
"Tak usah banyak cakap, lihat pedangku!" bentak Cui Hwa dan pedang berkilat itu menyambar ke arah dada Siok Lan.
Gerakannya cepat dan kuat, namun tidaklah secepat yang disangka Siok
Lan sehingga nona ini dengan mudahnya miringkan tubuh mengelak sambil menggerakkan pedang peraknya dengan menangkis.
Terdengar suara nyaring dan pedang hijau di tangan Cui Hwa terpukul miring. Kejadian ini kembali tidak disangka-sangka oleh Siok Lan dan tentu saja ia menjadi girang mendapat kenyataan bahwa lawannya ini tidaklah selihai yang ia sangka, bahkan ia yakin bahwa dia lebih cepat dan lebih kuat.
Sementara itu Cui Hwa terkejut setengah mati. Karena ternyata Siok Lan mampu mengatasi setiap serangannya.
Akan tetapi begitu ia menggerakkan pedangnya terasa betapa punggungaya, dari bawah sampai ke tengkuk, panas dan nyeri seperti ditusuk.
Ketika Siok Lan meloncat mundur sambil tersenyum dan semua orang memandang, kira nya baju yang menutup pinggul terobek lebar dan pada bukit pinggul yang kiri terdapat goresan merah bekas ujung pedang Siok Lan.
Kulit pinggul yang menonjol besar dan putih itu terluka dan Cui Hwa hampir menangis karena malunya. Ia menggunakan tangan mencoba menutupi pinggul yang tampak itu, namun karena robeknya terlalu besar, tetap saja bukit pinggul kiri yang menonjol amat besarnya itu tampak.
Kemudian Cui Hwa menyambar pedangnya yang terlepas tadi, tanpa berkata sesuatu ia melompat dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1