
Baru saja Siok Lan menyelesaikan ucapannya, garpu itu sudah menyambar ke depan. Tepat ke arah mulut Siok Lan.
Semua tamu menahan napas dan seluruh urat saraf di tubuh Xiao Yu menegang karena pemuda ini sudah siap menolong pemuda pujaan hatinya dari pada ancaman berbahaya.
Sementara itu si A bo mengeluarkan pekik tertahan saking ngerinya.
"Aaaaaaahhh....!"
Semua mata tertuju kepada garpu yang berubah menjadi sinar putih, Siok Lan hanya membuat sedikit gerakan, miringkan kepalanya lalu membuka mulutnya yang kecil dan garpu itu ujungnya telah memasuki mulutnya.
Si jangkung mengakui kelihaiannya, maka begitu melihat bahwa garpunya sudah diterima dan digigit oleh Siok, ia lalu membuat tangannya menggetar dengan tenaganya.
Gerakan ini tentu takkan tertahan oleh Siok Lan, membuat giginya sakit dan akan memaksanya membuka mulut memuntahkan daging dari garpu sehingga dengan demikian pemuda itu akan kalah dan kehilangan muka.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba tiba terdengar suara
"Krekk...!"
dan si jangkung terhuyung mundur karena garpunya yang berada di tangannya itu tinggal gagangnya saja. Dua gigi garpu yang runcing patah dan berada di mulut Siok Lan.
Pemuda itu dengan ayem dan enaknya mengunyah daging dan menelannya, tidak perduli betapa semua mata ditujukan ke arahnya.
Kemudian ia membuka mulut dan meniup,
"Brrr....cap.... cap!"
Dua buah gigi garpu yang runcing itu meluncur keluar dari mulut yang mungil dan kini menancap pada kayu yang melintang di bawah atap ruangan itu.
"Terima kasih tuan. Daging yang kau suguhkan enak sayang sekali ada tulang nya!" kata Siok Lan dengan sikap biasa, seakan akan tidak pernah terjadi sesuatu.
Kembali terdengar orang bersorak, dan kali ini yang mendahului bersorak adalah Pui Tiong dan Can Bwe. Makin kagumlah semua orang menyaksikan demonstrasi yang luar biasa ini.
Bahkan Xiao Yu diam-diam makin kagum terhadap Siok Lan, terutama sekali ketenangan dan keberaniannya yang hebat.
__ADS_1
Kiok Soe memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Siapa sangka bukan dia yang mempermainkan, bahkan sebaliknya Siok lan yang mempermainkannya, membuatnya menderita malu dan kehilangan muka.
Si tuan rumah itu sangat marah sekali, akan tetapi ia masih dapat melihat kakaknya memberi isyarat mata sehingga ia hanya membanting kaki lalu mengundurkan diri.
Datanglah satu lagi anggota Huang ho yang lainnta adalah yang paling pendiam diantara mereka. Tubuhnya pendek dan biarpun dia seorang kepala perompak tetapi melihat di pinggangnya terselip sepasang senjata alat tulis seperti tongkat pena.
Tentu saja dia bukan seorang kasar yang buta huruf. Dan memang sebetulnya demikian. Bhok An, orang ketiga ini terkenal pandai menulis, dan memang amat aneh seorang anggota perompak yang pandai menulis, dan senjata kuas.
Tidak mengherankan apabila sikapnyapun tidak sekasar kedua orang ketuanya.
Tetapi, betapapun juga hatinya panas menyaksikan dua orang ketuanya dipermainkan seorang pemuda yang baru saja muncul di dunia persilatan, apalagi pemuda itu berani pula menantang perkumpulan pengemis sabuk sutra merah.
Bhok An segera berdiri lalu melangkahkan kaki dengan tenang menghampiri Siok Lan yang sudah memandangnya karena pemuda ini sudah dapat menduga bahwa kini tentu orang itu akan mencari perkara.
"Siok Lan sebagai seorang tamu anda tidaklah mengecewakan kami. Perkenankanlah aku, Bhok An mendapat bagian untuk menyambut tuan dengan penghormatan." ucap Bhok An seraya menjura pada Siok Lan.
"Hm.... sudah kukatakan tadi, sebagai tuan rumah memang, berhak melakukan apa saja yang dikehendaki. Sebaliknya aku sebagai tamu tentu tidak bisa menolak penghormatan tuan rumah.
Bhok An menduduki bangku yang masih kosong menghadapi meja Siok Lan. Memang, meja itu mempunyai enam buah bangku dan baru lima buah yang dipakai.
Dengan tenang Bhok An mengambil sepasang sumpit dari tempat sumpit, lalu dengan sumpit itu ia mengambil sepotong daging dan dengan siku kanan di atas meja.
"Saya seorang bodoh, tidak ada permainan sesuatu untuk diperlihatkan kepada tuan muda. Harap tuan muda sudi mengambil daging ini dari sumpit saya!" ucap Bhok An seraya menunjukkan sumpit yang dia pegang.
Siok Lan maklum bahwa lawan ini hendak memperlihatkan kepandaiannya memainkan sumpitnya.
Untuk dapat mempergunakan sepasang sumpit merebut daging di antara sumpit itu, selain ia harus memiliki tenaga yang kuat, juga ia harus mempunyai kegesitan dalam mempergunakan sepasang sumpit itu sebagai senjata.
Dan Siok Lan menduga bahwa Bhok An yang bersenjata sepasang kuas ini tentu amat mahir bermain sumpit.
Walaupun begitu, Siok Lan tidak mau kalah. Iapun lalu mengambil sumpitnya sambil tersenyum.
"Anda sungguh baik, mau memilihkan sepotong daging untukku." ucap Siok Lan yang dengan menggunakan sumpitnya menyambar daging yang terjepit disumpit lawan.
__ADS_1
Akan tetapi, benar seperti yang disangkanya, dengan gerakan tangan yang kuat, Bhok An membuat sumpitnya itu mengelak, bahkan dari atas tepasang sumpitnya yang menjepit daging itu menangkis dan menindih sepasang sumpit di tangan Siok Lan dengan tenaga dalam yang demikian kuatnya.
Hampir saja Siok Lan melepaskan sumpitnya. Sumpit itu tertangkis sampai tergetar dan jari-jari tangannya sampai kesemutan.
Hebat gerakan Bhok An yang pendek ini, pikirnya. Kalau sampai lama ia tidak mampu mengambil daging itu, tentu ia akan menjadi buah tertawaan.
Namun untung bahwa orang ini berwatak halus dan biarpun ia akan kalah, namun tidaklah memalukan.
"Tuan Bhok An, sungguh mahir menggunakan sumpit. Kalau sampai lima kali saya gagal merebut daging, biarlah saya sebagai orang muda mengaku kalah." ucap Siok Lan.
"He...he...he.... baiklah. Dan kalau ia sampai lima kali tuan muda dapat merampasnya, benar-benar aku merasa takluk. Terus terang saja, ketahuilah tuan bahwa di dunia ini kira nya harus dipilih-pilih dulu orang yang akan mampu merampas daging dari sumpitku selama lima jurus!" seru Bhok An seraya tersenyum sinis.
Panas rasa dada Siok Lan. Biarpun sikap nya halus ucapan terakhir dari Bhok An ini boleh dibilang mengandung kesombongan.
"Masa aku tidak dapat merampas sampai lima jurus" ucap dalam hati Siok Lan.
Dan Siok Lan tahu bahwa biarpun kelihatan hanya "berebutan daging" dengan sumpit, gerakan gerakannya mirip dengan mengadu ilmu silat dan untuk dapat berhasil, tentu saja boleh menggunakan taktik pertandingan misalnya dengan menggunakan sumpit menyerang tangan, pendeknya asal dapat membuat daging itu terlepas dari sumpit lawan dan dirampas dengan sumpit sendiri.
Tentu saja serangan hanya terbatas pada tangan kanan lawan saja, tidak boleh menyerang bagian tubuh yang lain.
"Awas tuan!Aku sudah menyerang satu kali tinggal empat kali!" seru Siok Lan dan sepasang sumpitnya bergerak, bukan langsung menjepit seperti tadi, melainkan dengan gerakan menggunting dari atas ke bawah meluncur ke depan dan digerakkan dengan membentuk lingkaran.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1