
Jelas bahwa kebencian mereka terhadap para penjaga Mongol ini meluap-luap dan karena inilah maka cara mereka bertanding amatlah dahsyat dan mengerikan.
"Saudaraku, jangan khawatir kami datang membantu!" seru seorang gadis diantara dua orang gadis yang cantik jelita dan ternyata mereka memimpin penyerbuan bersama pasukan para laki-laki kurus dan pucat itu.
Han Wen dan Tan Li segera mengenal dua orang gadis itu, biarpun mereka cantik saat ini mereka juga berpakaian tidak karuan kotor dan compang-camping.
Namun wajah Yang Tek tetap cantik, tubuhnya tetap langsing tapi kuat. Demikian pula dengan Gui Siong masih cantik sekali, dengan gerak-gerik yang halus namun pedang di tangannya tidak kalah dahsyatnya dari pada pedang di tangan saudara seperguruannya.
Dua orang gadis ini ini adalah murid murid terkasih Kwe Cheng si Bocah tua nakal.
Dan tentu saja hati kedua orang pemuda yang sudah terluka dan tadinya tidak melihat harapan untuk dapat lolos dari kepungan oleh anak buah Mo Yo itu menjadi girang sekali.
Semangat mereka telah kembali dan kini mereka mengamuk lebih hebat dari sebelumnya. Dan pertempuran kini menjadi berat sebelah.
Mengalahkan dua orang pemuda perkasa itu saja sudah kesulitan, apalagi kini ditambah dua orang gadis yang tidak kalah lihainya daripada kedua orang pemuda itu.
Dan masih ada lagi pasukan sebanyak lima puluh orang yang bertempur tanpa memperdulikan keselamatan sendiri.
Tidak banyak yang dapat dilakukan oleh Mo Yo dan pasukannya. Mereka tumbang satu demi satu, dan Si Golok Sakti itu sendiripun akhirnya roboh mandi darah. Entah pedang siapa yang membunuhnya, namun setidaknya, di tubuhnya terdapat bekas tusukan dan bacokan pedang keempat orang muda perkasa itu.
Akhirnya pasukan laki-laki kurus pucat itu menghabiskan semua musuh, tidak ada seorangpun dapat meloloskan diri semua tewas dibawah hujan senjata orang-orang yang telah meluapkan kebenciannya.
" Ah, sayang sekali kami agak terlambat datang!" seru Gui Siong saat melihat kedua pemuda itu yang mempunyai tanda luka ditubuh mereka.
Kemudian dua pasang orang muda itu saling berhadapan, Yang Tek yang tidak pandai bicara itu tanpa membuka mulut sudah mengeluarkan bungkusan obat luka dan kain pembalut. kemudian menyerahkan semuanya pada Han Wen.
Pemuda itu menerimanya dengan
mengangguk tanda terima kasih akan tetapi tanpa berkata-kata pula itu. Mulailah kedua orang pemuda itu saling bantu mengobati dan membalut luka masing-masing sambil bercerita dengan kedua orang gadis yang telah menolong mereka.
"Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan saudari berdua dan saudara yang lainnya." kata Tan Li yang mengepalkan tangannya tanda memberi hormat pada kedua gadis dan lima puluh laki-laki yang memakai pakaian compang-camping.
__ADS_1
"Memang dalam soal bantu-membantu melawan musuh dalam dunia pendekar merupakan hal biasa dan lumrah." balas Gui Siong.
"Akan tetapi bagaimana kalian bisa tiba-tiba muncul di sini dan siapakah mereka yang kalian pimpin itu?" tanya Han Wen yang penasaran.
"Kasihan mereka itu, menjadi korban kelaliman raja penjajah, menjadi buruh paksa!" jawab Yang Tek yang sudah berani bicara.
"Jadi mereka itu buruh yang disuruh bekerja paksa menggali terusan?" tanya Han wen yang memastikan pendengarannya.
Yang Tek memandang pemuda itu. Dua pasang mata melekat sejenak dan tiba-tiba wajah gadis itu menjadi merah, jantungnya berdebar dan ia tidak dapat bicara lagi, hanya dapat menganggukkan kepalanya saja.
"Betul, Saudaraku. Mereka ini adalah pekerja pekerja paksaan yang bekerja dalam neraka dunia, menggali terusan sampai mati!" seru Gui Siong yang menambahi.
"Tapi-tapi bagaimana mereka dapat datang menolong kami, dan bagaimana kalian dapat memimpin mereka?" tanya Han wen lagi.
"Kami mentaati pesan suhu agar membantu para orang-orang yang dijadikan kuli paksa di sini. Sudah setengah tahun kami berkeliaran di daerah ini dan berkali-kali kami mengacau para penjaga, membunuh mereka apabila ada kesempatan. Akan tetapi, karena jumlah mereka amat banyak, kedudukan mereka
terlalu kuat juga dengan jalan mengacau saja kami masih belum dapat meringankan beban para pekerja yang hidup seperti dalam neraka, maka kami mengambil keputusan untuk menyamar dan masuk sebagai pekerja paksa." jawab Gui Siong yang menjelaskan.
"Ahhh....!"
"Hanya itu satu satunya jalan agar dapat berdekatan dengan mereka yang hidup dalam neraka dunia itu. Dan kami berusaha membangkitkan semangat mereka, membunuh banyak penjaga yang terlalu kejam terhadap para buruh kerja paksa, akhirnya, lima puluh orang lebih ini bertekad ikut dengan kami melarikan diri, membentak pasukan untuk melawan pemerintah penjajah yang membikin sengsara kehidupan rakyat." lanjut penjelasan Gui Siong.
Dua orang pemuda itu menjadi makin kagum. Kini pandangan mata mereka terhadap pasukan orang orang kurus pucat itu berubah.
Kiranya mereka itu adalah orang orang yang telah mengalami penderitaan dan penghinaan sehingga hati mereka menjadi keras dan semangat mereka meluap.
Padahal mereka semua itu bukanlah orang-orang yang memiliki kepandaian. Kalau mereka yang hidup sebagai rakyat petani di dusun dusun kini telah menjadi pejuang penentang kerajaan penjajah, apakah orang-orang gagah di dunia persilatan cuma memeluk tangan saja? Sungguh memalukan tentunya.
Tan Li dan Han Wen melihat betapa pasukan itu kini sedang melucuti pakaian dan senjata mayat mayat musuh untuk mereka pengunakan karena memang mereka amat 385
membutuhkan pakaian sebagai pengganti pakaian mereka yang compang-camping, dan senjata untuk melanjutkan perjuangan mereka mementang para penjaga yang kejam.
__ADS_1
"Bagus sekali!" seru Tan Li dengan wajah gembira.
"Kami berdua datang ke tempat inipun dengan tujuan yang sama, menentang kekejaman penjajah !" seru Han Wen yang menatap kedua gadis itu.
"Kalau begitu...!" Kata Gui Siong gembira sambil memandang wajah Yang Li dengan penuh harap, akan tetapi tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Kami siap membantu perjuangan kalian!" seru Tan Li dengan semangat.
"Iya, kita berjuang menumpas penjajah bersama-sama!" seru Han Wen dengan berapi-api.
"Tepat sekali ucapan saudara-saudaraku !" Sorak Gui Siong.
"Kita berempat memimpin pasukan pekerja paksa, bergerak dari luar dan di dalam dengan cara menyelundupkan pekerja untuk menghasut mereka yang masih takut melawan dan berada di dalam neraka itu. Hancurkan penjajah!" Gui Siong mengepal tinju ke atas.
"Hancurkan penjajah !"
Yang Tek, Han Wen dan Tan Li mengikuti teriakan ini sambil mengacungkan tinju ke atas.
"Hancurkan penjajah!!" Suara gemuruh ini keluar dari mulut puluhan orang bekas pekerja itu
yang amat gembira menyaksikan empat orang muda gagah perkasa itu meneriakkan suara yang sudah lama bengema di hati mereka.
Kemudian Yang Tek dan Gui Siong mengajak Han Wen dan Tan Li menuju ke markas mereka. Selain untuk menyusun rencana mereka, juga untuk beristirahat memulihkan kekuatan mereka yang sudah hampir terkuras saat melawan Perwira Mo Yo dan juga pasukannya.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...