
Demikian pula dengan Han Wen yang juga melakukan sikap yang sama.
"Guru ampuni murid, murid
tidak sanggup memenuhi perintah guru. Lebih baik guru bunuh saja murid yang murtad ini." ucap Han Wen.
"Amitabha...! Apa artinya ini, kenapa kalian bersikap begini? Apakah yang terjadi, Han Wen dan Tan Li kenapa kalian bersikap seperti ini?" ucap tanya Biksu Ji yang melihat kedua muridnya seperti berebut hati cucu sahabatnya Xiao Chen.
Kemudian Tan Li dan juga Han Wen menceritakan awal mereka bertemu dengan Xiao Yu dan sejak saat itu mereka berdua menyukai Xiao Yu.
"Guru tentu dapat memahami perasaan kami yang menyukai gadis yang menolong kami, dan kami jatuh hati pada pandangan pertama." ucap Tan Li yang menegaskan maksud mereka berdua.
Biksu Ji mengerutkan kening dan menganggukkan kepalanya.
"Amitabha...! semoga manusia terbebas dari pada nafsunya sendiri.
Guru hanya mengusulkan, akan tetapi keputusannya ada pada kalian sendiri. Guru akan kembali ke pertapaan, soal ini terserah kalian. Kalian sudan cukup dewasa, sudah cukup belajar ilmu guru memberi ijin kepada kalian berdua untuk menempuh hidup sendiri. Han Wen kamu yang tertua, harusnya bisa membimbing adikmu Tan Li." ucap biksu Ji.
"Baik, guru. Murid tentu saja ikut perintah guru," kata Han wen yang merangkul Tan Li dan Tan Li juga demikian.
"Ma'af guru dan semuanya, bukan maksud saya tidak menghormati keputusan kalian. Saya masih ingin mengembara, dan melaksanakan perintah guru hamba guru Sa Shuang. Untuk membela kebenaran dan keadilan untuk kaum lemah, memberantas para penjahat. Karena itulah saya mau mengundurkan dir dari hadapan kalian semuanya." ucap Xiao yu dengan sikap hormatnya.
"Oh, baguslah kalau begitu. Itulah memang sikap seorang pendekar. Kami juga akan kembali pada lingkungan kami, dan untuk para murid kami semuanya juga kami perintahkan untuk mencari banyak pengalaman di luar, Serta bantulah memerangi kejahatan." perintah biksu Ji.
"Murid-muridku juga, siapa tahu kalian kelak akan mendapatkan jodoh diluaran nanti! ha...ha...!" ucap Kwe Cheng sembari tertawa terkekeh.
"Baik guru!" ucap serempak keempat murid itu.
__ADS_1
Biksu Ji itu menarik napas panjang lalu keluar dari tempat itu, menyeret tongkatnya.
...***...
Kabar tentang Xiao Yu yang berhasil membunuh Siauw Bo si Kipas emas penakluk maut, sudah tersebar sampai ke seluruh dunia persilatan.
Ada diantara mereka yang sengan dan bersyukur, terutama para penduduk dan para laki-laki yang tak akan dibayangi ketakutan akan menjadi sasaran dari si kipas emas penebar maut itu.
Sebaliknya, para tokoh persilatan terutama kaum pendekar merasa iri hati dan penasaran pada sesosok gadis yang berani membunuh musuh bebuyutan mereka serta punya keinginan untuk bertemu dengan pendekar muda ini buat ditantang mengadu kepandaian silat.
Xiao Yu bukan tidak tahu akan hal ini. Ia tahu bahwa banyak orang pandai marah kepadanya, tetapi ia pura-pura tidak tahu dan sebab sikapnya selalu sederhana tidak suka menonjolkan diri.
Karena itulah tidak ada orang yang mengira bahwa Xiao Yu kini menyamar kembali menjadi pemuda baju putih yang kelihatan lemah, pakaian serta sikapnya sederhana seperti seorang perantau miskin.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Xiao Li telah memasuki dusun Ki bun. Walaupun hatinya sudah digembleng oleh si manusia sakti Sa Shuang, tetapi hatinya berdebar penuh keharuan ketika ia memasuki dusun yang sunyi serta tenteram itu. Sebuah dusun yang tidak pernah dilupakannya selama hidupnya yaitu dusun tempat tumpah darahnya, di mana darah ibunya tertumpah di waktu melahirkan. Dusun tempat kelahirannya.
Dusun itu sendiri tak pernah berubah tetapi cuma penduduknya yang berubah. Dan dia kini tidak kenal akan wajah seorangpun serta tidak ada seorangpun di dusun itu mengenalnya.
Tentu saja bisa demikian halnya, karena dahulu ia baru berusia tiga tahun, kini telah menjadi seorang gadis cantik yang berusia berusia dua puluh satu tahun.
Perih hati Xiao Yu yang melihat rumah-rumah di dusun ini masih seperti tujuh belas tahun yang lalu. Demikianlah keadaan hampir di seluruh dusun, tidak ada kemajuan, rakyatnya miskin dan hidup serba kekurangan. Kekayaan bertumpuk tumpuk di kota di mana orang-orang hidup bergelimang kemewahan.
Di kota-kota inilah bertumpuk bahan makanan memenuhi gudang-gudang besar, bahkan sampai membusuk karena terlampau banyak dan berlebihan.
Sedangkan di dusun-dusun di mana bahan makanan itu ditanam orang, yang menjadi sumber bahan makanan, malah kekurangan makanan, memang kalau direnungkan amatlah aneh dan janggal, namun nyata demikian tempat sumber bahan makanan malah kekurangan makanan, petani malah kekurangan makan di tengah sawah.
Keadaan seperti ini tidaklah aneh kalau diketahui bahwa seluruh sawah ladang itu kesemuanya hanya dikuasai olah beberapa orang saja, dan para petani yang bekerja di sawah hanyalah merupakan buruh buruh tani yang menerima upah amat sedikit, hanya cukup buat dimakan seorang saja.
__ADS_1
Sudah pasti para petani ini mempunyai keluarga maka timbullah kelaparan sebab jatah makanan buat seorang dimakan kadang kadang empat atau lima orang. Akibat hal ini pula
menimbulkan pemerasan tenaga, sampai anak anak kecil terpaksa bekerja di sawah untuk sekedar mencari isi peut pencegah kelaparan.
Bagi para penduduk dusun yang miskin, hidup mereka lebih rendah serta lebih sengsara dari pada kerbau. Pekerjaan berat di sawah ladang, makan tidak kenyang. Binatang kerbau masih dapat mengenyangkan perut serta tidak kelaparan sebab binatang ini dapat makan rumput yang tidak usah dibeli oleh majikannya.
Para pemilik tanah yang membutuhkan kemewahan dan sebab kemewahan hanya dapat ditemukan di kota tentu saja mengirim seluruh hasil tanah ke kota untuk ditukar dengan harta benda. Hal inilah yang menyebabkan kenapa di kota sampai berlebihan makanan, sebaliknya di dusun sebagai sumber makanan malah sampil banyak orang mati kelaparan.
Tanah kuburan di luar dusun Ki bun amat luas. Kuburan ini sudah tua sekali, sudah ratusan tahun dipakai sebagai tanah kuburan sehingga setelah beberapa kali dipakai masih tetap digali lagi buat dipakai yang baru.
Di tanah kuburan inilah tujuh belas tahun yang lalu semua jenazah keluarga Xiao dikubur oleh penduduk dusun Ki bun di lembah Seribu pedang. Dikubur menjadi satu, merupakan gundukan tanah yang tinggi. Ayah bundanya, pamannya dan bibinya, satu adiknya, empat orang pelayan semua berjumlah sembilan belas orang anggota keluarga kakeknya, ditambah mayat dua orang penjahat
suami isteri Kim hu dan Siauw Kwat, maka di dalam gundukan tanah kuburan ini terdapat dua puluh satu orang mayat yang dahulu binasa dalam tangan Siauw Bo.
Teringat akan hal itu tak dapat ditahan lagi, air mata Xiao Yu. Bercucuran ketika ia berdiri di depan gundukan tanah kuburan.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1