
Kenekatannya ini hampir mencelakakannya, karena dengan nekad Gui Siong lalu menusukkan pedangnya tanpa melindungi diri lagi untuk mengadu nyawa dengan laki-laki yang dibencinya itu.
"Aih....!"
Setan kipas merah menangkis keras sehingga pedang itu terpental akan tetapi tangan kiri Gui Siong menghantam dan walaupun ia sudah cepat mencelat, pundaknya masih terpukul, membuatnya terhuyung ke belakang.
"Keparat, kalian sudah bosan hidup. Sekarang mampuslah kalian!" seru setan kipas merah dengan kemarahannya.
Kemudian setan kipas merah menerjang maju dan kipasnya, melemparkan kipas merahnya melesat ke arah kedua lawannya itu.
Kedua gadis murid Kwe Cheng itu kerepotan melawan kipas setan merah yang terus menyerang mereka tanpa ampun itu.
Sementara itu Tan Li dan Han wen juga kerepotan sekali. Tadinya mereka dapat merobohkan beberapa perompak buaya merah itu, akan tetapi empat orang roboh dan delapan orang maju menggantikannya.
Dan karena mereka itu menyerang sambil mengurung, kedua orang tadi ini akhirnya hanya mampu melindungi tubuh dari hujan senjata, sukar mencari kesempatan untuk balas menyerang.
"Hua...ha...ha...! bocah-bocah tengik! Lebih baik menyerah dan melayani kami minum arak!" seru para perompak buaya merah yang meyaksikan pertempuran itu.
Pagi telah tiba dan suara ysng terdengar di tepi Sungai Yang di saat itu amat riuh-gemuruh, seolah olah semua iblis dan setan penghuni sungai itu muncul dan berpesta pora ditempat itu.
Semua orang gagah yang menyerbu Istana tengah hutan itu, kini berada dalam keadaan terdesak karena pihak lawan lebih unggul.
Tiba-tiba sesosok bayangan merah muda berkelebat dari atas serta sebatang tongkat kecil menahan kipas emas Siauw Bo, yang kemudian digetarkan dan tubuh Siauw bo terhuyung mundur dengan wajah pucat.
Gadis berbaju merah muda itu adalah murid Sa shuang yang ia takuti dan tadinya telah tertawan di ruangan silat itu kini telah berdiri di depan Siauw Bo.
Xiao Yu dengan tenang menjura di depan kedua orang sahabat kakeknya itu.
"Guru harap sudi berlaku murah dan menyerahkan Kipas emas penebar maut ini kepada murid, sebab muridlah yang berhak melawannya." ucap Xiao yu dengan sopan.
__ADS_1
Dua orang sahabat Xiao chen itu merasa kaget dan heran serta kagum. Seorang gadis berpakaian merah muda ini menaruh hormat pada mereka dan hanya dengan memakai sebatang tongkat, mampu membuat Siauw bo, membuat mereka teringat kepada Sa Shuang . Dengan otomatis mereka juga teringat akan bocah perempuan cucu Xiao Chen sahabat mereka, yang diambil murid oleh pendekar sakti itu.
"Amitabha..! Kiranya cucu kami Xiao Yu yang sudah datang!" kata Biksu Ji yang dengan telapak tangan kanan dalam posisi berdiri diletakkan didadanya.
"Ha....ha.... ! Cucu Xiao Chen, nama kamu Xiao Yu bukan?" tanya Kwe Cheng yang mengingat-ingat nama cucu sahabatnya itu.
"Memang benar guru!" jawab Xiao Yu seraya menunduk hormat.
"Ha...ha...ha...! hei iblis wanita! sekarang saatnya kau ke neraka, cucu Xiao Chen akan membalas yang apa yang kamu perbuat tujuh belas tahun yang lalu!" seru si bocah tua nakal dengan girangnya.
Siauw Bo sangat marah sekali.Walaupun dia tahu akan kelihaian Xiao Yu, tetapi ia bukan seorang penakut. Siauw bo terlalu percaya kepada kepandaian sendiri dan kini ia harus nekad bertempur mati-matian.
Dengan cepat melempar kipasnya dan serangkum sinar hitam menyambar ke arah tujuh belas jalan darah di bagian depan tubuh Xiao Yu.
Tapi gadis itu dengan kalemnya membuka tangan kiri serta jari jarinya yang terbuka itu mendorong dan sinar hitam itu runtuh lalu lenyap membawa jarum jarum halus amblas ke dalam tanah.
Keduanya kemudian berpaling dan menyerbu setan kipas merah yang tengah membuat repot dua orang gadis murid Kwe cheng.
"Yang Tek, Gui Siong! Kalian lekas bantu dua orang murid Biksu Ji itu, hajar semua penjahat!" seru Kwe cheng kepada dua orang muridnya itu.
Yang Tek dan Gui Siong girang melihat guru mereka yang tadi melawan nenek sakti, kini tiba bersama biksu Ji menghadapi setan kipas merah. Mereka segera melompat mundur lalu menyerbu puluhan para perompak buaya merah yang mengeroyok kedua orang pemida yang melawan dengan mati-matian itu.
Cerai berailah mereka itu menjadi senang dan terus mengamuk seperti empat ekor burung rajawali yang menyambar-nyambar sehingga pengeroyoknya berakhir dengan kocar-kacir.
Sementara setan kipas merah yang melihat kedua kakek yang tadinya menyerang gurunya, datang menyerbunya. Setan kipas merah menyambut serangan mereka dengan jurus silatnya yang ganas sekali.
"Rupanya murid Siauw bo ini tidak kalah ganas dari gurunya!" ucap biksu Ji dengan menarik napas panjang penuh penyesalan ketika menangkis kipas merah itu dengan tongkatnya.
Ia merasa menyesal mengapa seorang pemuda begini muda yang tampan, sepatutnya menjadi pendekar yang membela kaum lemah bukan memperdayai kaum lemah.
__ADS_1
"Ha...ha...! biksu Gila, kenapa diam saja? aku yakin pemuda ini tentu tidak kalah jahat oleh gurunya, mungkin lebih jahat serta lebih cabul!" seru si bocah tua nakal yang sangat yakin sekali.
"Jangan banyak bicara! aku akan mempercepat kematian kalian, hai tua-tua Bangka!'' seru setan kipas merah yang marah seperti dibakar hatinya.
Kemudian dia melemparkan kipasnya bagaikan bumerang dan menerjang mati-matian, tetapi kedua musuhnya adalah para pendekar yang lihai ilmu silatnya dan pertahanan mereka seperti batu karang yang kokoh kuat serta tidak takut diterjang ombak membadai.
Yang paling hebat adalah pertandingan antara Xiao Yu dengan Siauw Bo yang kini berhadapan serta bertempur dalam keadaan yang menentukan, kalah atau menang, mati atau hidup. Maklum akan kesaktian lawan, Xiao Yu terus saja memakai ilmu dari gurunya, yaitu Tongkat pemukul Iblis, yang lebih hebat dan berbahaya dari pada ketika ia melayani Siauw bo dengan pedang di tangan kemarin.
Pedang adalah sebatang benda baja yang keras, dan biarpun ia sudah menggunakan ilmu pedang berdasarkan ilmu Tongkat Pemukul iblis, namun masih tetap ilmu ini adalah ilmu tonpkat. Karena lebih tepat dan enak dimainkan dengan memegang tongkat. Dan tongkat yang dipegangnya, sebatang benda lemas, dapat menerima penyaluran tenaga serta hawa saktinya.. Dan menggetar ranting ini jauh lebih daripada sebatang pedang.
Siauw bo melawan dengan nekad.
Wanita tua ini selalu memakai kipas emasnya yang sudah membinasakan lebih dari seribu orang itu. Kini bargerak cepat, lenyap berubah menjadi kilatan sinar yang bergulung gulung hitam.
Ia bernafsu sekali untuk merobohkan gadis ini. Maklum bahwa gadis ini merupakan batu perintang yang berbahaya baginya.
Sekali ia dapat merobohkan gadis ini, yang lain lain bisa mudah dibereskannya. Sambil menerjang, ia mengeluarkan suara siulan yang merupakan ilmu tersendiri untuk melemahkankan semangat lawan-lawannya.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1