
Tiba tiba telinganya kembali ia pusatkan untuk mendengarkan percakapan mereka, dan kini mereka menyebut nama Pendekar tanpa gelar.
"Hm... kalau benar dugaanmu, kita akan berjasa besar kalau dapat menangkapnya hidup atau mati. Dia adalah keturunan terakhir Xiao Chen, musuh negara yang lebih penting dari pada Siok Lee. Akan tetapi, betulkah itu dia?" tanya si tinggi besar yang merupakan perwira pimpinan para prajurit itu.
"Aku sendiri belum pernah mendengar suaranya. Akan tetapi menurut penuturan mereka yang pernah bertemu dan bertanding dengannya kadang-kadang mengeluarkan lengkingan yang mengerikan." jawab prajurit kedua.
"Aaah, tak usah kalian khawatir, pemberontak tadi mau setan Kipas merah atau pendekar tanpa gelar, kita tidak perlu takut dan yang paling penting itu dia!" seru pemimpin mereka seraya menunjuk ke arah Siok Lan.
"Kalian lihat, bala bantuan dapat cepat diharapkan datang dari pos pos depan dan belakang !" lanjut kata pimpinan itu.
Siok Lan kembali termenung dan dalam hatinya berkecamuk.
"Mungkinkah Pendekar tanpa gelar yang datang tadi? Ah tak mungkin sama sekali. Pendekar tanpa gelar bukankah sudah melupakan keluarga Siok, merasa diri terlalu tinggi! Tak mungkin kini datang berusaha menolong aku. Dan yang andaikata ada yang dapat menolongnya, aku sama sekali tidak mengharapkan pendekar tanpa gelar yang menolongku! " gumam dalam hati Siok Lan, yang kemudian tertidur di bawah pohon.
Pada malam berikutnya selain rombongan pasukan pengawal itu diganggu bayangan hitam yang mengeluarkan bunyi melengking dan sedikitnya ada lima orang pengawal yang roboh menjadi korban. Akan tetapi bayangan itu tetap saja tidak berhasil membebaskan Siok Lan yang terjaga dan terkurung ketat.
Pasukan itu beberapa kali berhenti di pos-pos penjagaan dan pada hari ke sepuluh mereka tiba di luar kota An bun yang menjadi pos besar dari pada para penjaga yang menjaga jalan yang direncanakan untuk penggalian terusan atau saluran besar.
Tanpa mereka sadari, Xiao Yu telah menyamar menjadi salah satu bagian dari mereka, gadis itu menjadi prajurit dan berusaha mendekati Siok Lan.
"Tuan muda....tuan muda...!" bisik Xiao Yu saat ada kesempatan.
Siok Lan terkejut sekali saat mendengar suara yang tak asing ditelinga ya itu.
"Yu Tian!" panggil Siok Lan yang juga berbisik.
Beberapa detik lamanya hatinya girang dan gembira bukan main menyaksikan betapa pelayannya yang disayangnya itu ternyata selamat dan masih hdup akan tetapi pada detik detik berikutnya wajahnya menjadi pucat dan hatinya menyesal sekali. Mau apakah pelayannya itu menyamar sebagai pengawal, jika tertangkap pasti akan panjang urusannya.
"Sungguh bodoh hanya datang mencari mampus! Yu Tian, sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang juga!" bisik Siok Lan yang tak ingin pelayannya celaka.
"Tidak bisa, tuan muda! Saya pelayan tuan muda, jadi bagaimana bisa meninggalkan tuan muda? Saya harus menemani tuan muda dalam suka maupun duka!" bisik Yu Tian yang menjelaskan.
Mendengar hal ini hati Siok Lan terharu sekali dan ia teringat akan pandangan mata pelayan itu pada saat sebelum dia ditawan.
"Benar-benar seorang pemuda yang tolol. Yu Tian, kenapa kamu menyusulku? aku tak begitu perlu pelayan pada waktu begini, pergilah Yu Tian, jangan berada di sini. Pergilah!" bisik Siok Lan dengan penuh kekhawatiran, kemudian memandang para perwira, yang nampak sudah mulai mencurigainya.
__ADS_1
"Heeeii kalian itu, Kalian itu sama-sala lelaki. Apakah kalian penyuka sesama jenis?ha..ha.ha...!" seru salah satu pengawal yang mengetahui Siok Lan dan Yu tian yang sedang berbisik-bisik berdua saat mereka istirahat.
Xiao Yu dan juga Siok Lan yang membantah dengan cepat.
"Ti..tidak, tidak! aku masih sehat!" seru Yu Tian yang sedang menyamar sebagai prajurit itu.
Tapi salah perwira yang memimpin pasukan itu, rupanya mengenal para prajuritnya walaupun berjumlah ratusan. Hal itu disebabkan terlihat dari tubuh Yu Tian yang kecil, karena memang dasarnya Yu Tian atau Xiao Yu itu adalah perempuan. Jadi badannya pun beda dengan para prajurit yang kekar dan berotot
"Siapa kamu!" seru perwira yang memimpin pasukan itu yang menatap Yu Tian dengan tajam.
"A..aku pelayan tuan muda Siok Lan!" jawab Yu Tian dengan gugup.
"Oh, sudah aku duga! mau apa kamu kesini? dasar cecurut!" seru perwira yang memimpin pasukan itu.
"Aku mau melayani tuan mudaku! jadi aku iku kemana saja tuan mudaku pergi!" jawab Xiao Yu dengan pura-pura ketakutan.
"Ha...ha...ha...!" Semua perwira tertawa.
"Tak salah lagi, tentunya kalian penyuka sesama jenis ya! majikan dan pelayan!" seru prajurit kedua dan kembali semuanya tertawa.
Tiba-tiba tangan yang kuat dan kasar menyeret Yu Tian dari atas pungung kuda dan beberapa kepalan tangan memukulnya. Yu Tian pura pura ketakutan dan kesakitan.
"Aaaarghh...!"
"Kabar nya tentara Mongol paling gagah perkasa, siapa kira kini memukuli orang tak berdosa!" seru Yu Tian seraya mengusap pipinya yang biru karena terkena pukulan prajurit itu.
Perwira pimpinan pasukan menggerakkan tangan menyuruh perajurit-perajurit nya untuk mundur dan Yu Tian kemudian dilepaskan.
"Belenggu kedua tangan dan naikkan bersama tuan mudanya ke atas kuda. Satukan belenggu mereka agar tidak menyulitkan penjagaan !" seru Perwira pimpinan pasukan.
"Apa? disatukan!" seru dalam hati Yu Tian seraya berteriak dan merinta-ronta, akan tetapi percuma aaja. Ia segera diringkus dan di belenggu kedua lengannya yang ditelikung ke belakang, mirip keadaan Siok Lan.
Kemudian Siok Lan dan Yu Tian diangkat ke atas kuda yang dibawa oleh Yu Tiqn tadi, didudukkan di atas kuda saling membelakangi, Siok Lan menghadap ke depan dan Yu Tian menghadap ke belakang, beradu punggung kemudian kembali tubuh mereka diikat menjadi satu.
"Dasar tolol, kenapa tadi menyusul?" bisik Siok Lan sambil menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Tuan muda, bagaimana saya dapat membiarkan tuan muda seorang diri? Mati hidup saya harus bersama tuan muda. Saya mencari kuda ini dan menyusul" bisik Yu Lee sepenuh perasaan hatinya.
"Andai kamu wanita, aku mau menikah!" gumam dalam Siok Lan yang semakin terharu akan sikap pelayannya.
Mulailah rombongan itu melanjutkan perjalanan. Dua orang tawanan yang berada di punggung kuda itu berada di tengah tengah par ngawal.
Di lubuk hati Siok lan merasa heran kepada hatinya sendiri. Kenapa munculnya pelayannya merupakan hal yang begini mendebarkan dan menggirangkan hatinya.
Di tengah perjalanan, pada saat para pengawal itu tidak memperhatikan, Yu Tian berbisik lirih tanpa menggerakkan bibirnya saat berbisik pada Siok Lan.
"Tuan muda kita menanti kesempatan baik di waktu malam. Saya akan membantu tuan muda agar tuan mu dapat melarikan diri. Kalau berhasil, dan jangan perdulikan saya."ucap Xiao Yu.
"Tidak mungkin! Aku tidak mau lari sendiri dan meninggalkan kau!" seru Siok Lan.
"Ahhh, tuan adalah orang uan penting, kalau aku hanya seorang pelayan, dan mereka tentu akan membebaskan aku, sebetul perlu apa mengawal seorang pelayan ke kota raja!" ucap Xiao Yu yang penasaran.
"Hussshh! diamlah aku tidak mau lari sendiri! Yu Tian, kenapa kau mengorbankan dirimu untukku?" tanya Siok Lan yang penasaran
"Aku hanya menjalankan tugas dengan seluruh jiwa ragaku, biar berkorban nyawa sekalipun untuk tuan mudah saya rela!" balas Xiao Yu.
Siok Lan meramkan kedua matanya sejenak untuk menahan air matanya. Akan tetapi ketika membuka kembali, dua butir air mata membasahi pipinya.
Tanpa disadari, tangannya yang berada di belakang karena lengannya terbelenggu bertemu dengan tangan Yu Tian dan jari-jari tangan itu saling menggenggam erat.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1