
Siok Lan tersenyum dan duduk kembali. Belasan orang itu lalu mengaso di dalam pondok. Ada yang berdiri bersandar ke dinding ada yang jongkok, dan duduk di mana saja.
"Silakan, pendekar!" seru Pui San yang mengambilkan makanan untuk Siok Lan dan hendak menyuapi pemuda itu.
"Eh bagaimana aku bisa makan minum sendiri." ucap Siok Lan yang tak enak hati.
"Ah, kapan lagi kami bisa menjami seorang pendekar berilmu tinggi seperti anda tuan pendekar si Bayangan dewa!" balas Pui San dengan senyum yang dia buat-buat.
"Kalau begitu, ayo kalian semua menemani aku!" ajak Siok Lan tanpa curiga sama sekali.
"Kami semua sudah makan. Biarlah kami minum saja untuk menemani anda. Marilah." ucap San Bwee seraya mengangkat gelas dari bambu yang berisi arak ringan dan dia angkat sebagai tanda kehormatan.
Siok Lan tersenyum dan duduk kembali. Belasan orang itu lalu mengaso di dalam pondok.
Ada yang berdiri bersandar ke dinding ada yang jongkok, dan duduk di mana saja.
"Silakan, pendekar!" seru Pui San dengan pura-pura ramah.
"Eh bagaimana aku bisa makan minum sendiri? ayo kalian semua menemani aku!" ajak Siok Lan yang tak enak hati.
"Kami semua sudah makan. Biarlah kami minum sedikit arak untuk menemani anda pendekar! Jadi marilah kita sama-sama makan dan minum!" ucap San Bwee seraya menuangkan guci yang berisi arak rendah ke gelas yang terbuat dari bambu di atas meja.
Dan mereka makan dan minum secara bersama-sama. Siok Lan bukanlah seorang pemalu, karena memang ia lapar dan haus, ia segera mulai menyikat hidangan di atas meja dan mendorongnya masuk ke perut dengan arak atau minuman teh yang disediakan di situ.
Pui San dan San Bwee menemaninya hanya minum saja karena sudah makan. Sambil makan minum, mulailah Siok Lan menceritakan keadaan pertempuran di hutan yang dijadikan sarang pejuang. Ia menceritakan betapa para pejuang suka akan perubahan peraturan yang diadakan Thian Sung maka tidak mengacau di An bun lagi. Kemudian dia menceritakan munculnya Thian Sung dengan pasukan besar yang mengurung pasukan pejuang, kemudian tentang pertandingan perorangan di mana Thian Sung menewaskan tujuh orang pemimpin pejuang.
Siok Lan juga menceritakan pula tentang munculnya Pendekar tanpa gelar dan dalam menceritakan sepak terjang Pendekar tanpa gelar ini.
"Hebat sekali Pendekar tanpa gelar jauh lebih hebat dari Thian Sung" kata Siok Lan dengan mata bersinar sinar karena pada saat ia berkata itu ia menganggap bahwa Pendekar tanpa gelar itu adalah tunangannya.
__ADS_1
"Dengan kesaktian nya yang hebat ia membalas dan membunuh tujuh orang perwira pembantu Thian Sung dalam waktu singkat Kemudian Pendekar tanpa gelar itu menantang Thian Sung untuk bertanding dengan taruhan bahwa jika Thian sung kalah, semua pejuang yang terkurung harus bebas." ucap Siok Lan yang telah menyelesaikan makannnya.
"Aiihh...!" seru San Bwee yang sangat terkejut.
"Bagus, benar-benar hebat si Pendekar tanpa gelar itu! Kemudian bagaimana, Siapa yang kalah?" tanya Pui San yang penasaran.
"Tentu saja Pendekar tanpa gelarlah yang menang. Harapanku sih! he...he...! Akan tetapi aku tidak tahu, aku lalu pergi meninggalkan tempat itu, hanya aku yakin dia pasti menang!" jawab Siok Lan dengan mengulas senyumnya.
Setelah selesai makan dan Siok Lan merasa amat lelah dan mengantuk. Dua kali ia menguap, ditutupnya mulut dengan punggung tangan.
"Selain Pendekar tanpa gelar dan setan kipas merah, siapa lagi di antara tokoh pejuang yang hadir di sana?" tanya Pui San ini mengandung desakan, tanpa memperdulikan Siok Lan sudah amat lelah dan mengantuk.
Siok Lan tak menyadari maksud dari kedua gadis itu, hanya menganggap bahwa cerita nya amat menarik hati kedua gadis yang bersamanya itu.
"Kakekku juga datang bersama biksu Ji dan Bocah tua nakal yang telah menjadi korban sebelumnya." jawab Siok Lan yang menguap kembali.
"Siok Lee juga di sana!" Ucapan ini terdengar dari luar pondok dan masuklah seorang pendekar tua yang tinggi kurus dan bermuka
"Guru!" panggil Pui San dan San Bwee secara tiba-tiba, kemudian bangkit dari duduk mereka dan menjura ke arah pendekar tua itu.
Hal itu otomatis membuat
Siok Lan terkejut dan memandang penuh perhatian. Dia sudah pernah bertemu dengan pendekar tua ini ketika pendekar tua ini berkunjung kepada kakeknya, akan tetapi hal itu sudah terjadi tujuh tahun yang lalu sehingga ia sudah hampir lupa.
Kini barulah ia tahu bahwa pendekar tua ini adalah Gwat Kong dan ia mulai teringat. Sudah banyak ia mendengar perihal pendekar bekas murid Kun lun yang pernah membelok dari kakeknya.
Siok Lan hendak bangkit dari duduknya, akan tetapi tiba-tiba Siok Lan mengeluh, tubuhnya menjadi lemas dan ia terhuyun-huyun.
San Bwee cepat memeluknya dan Siok Lan sudah lemas dipelukan San Bwee, setengah pingsan dan kepalanya pening sekali. seakan segalanya tampak berputar-putar, kemudian dia memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Biarpun ia sudah lemas, akan tetapi lamat-lamat telinganya masih dapat menangkap percakapan mereka.
"Bagus, kalian sudah dapat merobohkannya! Masukkan di dalam tahanan bawah tanah, akan tetapi jaga jangan sampai mati kelaparan. Kita jadikan dia sebagai umpan, kita akan dapat mengangkap Siok Lee dan terutama sekai Pendekar tanpa gelar!" seru pendekar tua Gwat kong guru Pui San dan San Bwee itu.
"Baik, guru. Memang tujuan kita adalah menangkap Siok Lee dan terutama Pendekar tanpa gelar."ucap Pui San.
Siok Lan yang mendengar hal itu menjadi terkejut dan berusaha untuk meronta, akan tetapi tahu-tahu ia merasakan tubuhnya tak dapat bergerak karena ditotok oleh San Bwee.
Kini Siok Lan paham kalau di dalam makanan itu dicampuri obat bius, dalam keadaan tertotok dan setengah pingsan Siok Lan masih dapat mengetahui dia dibawa ke sebuah ruangan dan didalamnya ada pintu di lantai yang menuju ke ruang tahanan bawah tanah.
Siok Lan dibawa melewati beberapa sekat tahanan pendekar-pendekar aliran putih yang menjadi tahanan mereka.
Akhirnya mereka sampai disekat yang paling akhir, setelah membuka pintu sel tahanan itu, Pui San dan San Bwee mendorong Siok Lan masuk ke dalam dengan kasar. Yang akibatnya kepala Siok Lan terbentur ke dinding dan ia pingsan seketika itu juga.
Beberapa jam kemudian Siok Lan siuman dari pingsan, ternyata malam telah berganti pagi. Namun keadaan di dalam ruang tahanan bawah tanah itu tetap saja gelap, dan hanya diterangi oleh beberapa obor yang terus menyala.
Siok Lan memperhatikan keadaan di mana ia berada. Tubuhnya sudah dapat digerakkan, kepalanya tidak pening lagi ini tandanya bahwa obat bius yang tercampur dalam makanannya malam tadi tidaklah berbahaya, dan bahwa totokan itu sudah buyar sendiri ketika ia tidur setengah pingsan.
Di dekatnya tampak sebuah panci tertutup berisi makanan dan sebuah botol berisi air minum. Akan tetapi ia tidak perdulikan makanan dan minuman ini, lalu meloncat bangun. Pedangnya sudah tidak ada, tentu dirampas.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...