
Maka ia tadi tidak heran menyaksikan betapa dua orang itu bersikap baik terhadap dirinya.
Memang kedua orang anak murid Kim hong ini merupakan para pejuang baru yang menggabungkan diri dengan golongan pejuang yang berkumpul di sepanjang Sungai Huang ho ini.
Pui Tiong dan Ci Bwee lalu bangkit berdiri mengangkat kedua tangan depan dada lalu memberi hormat ke sekeliling.
"Harap saja saudara Pui sudi memberi sedikit permainan pedang Kmi hong pai untuk membuka mata kita!" seru Kiok Soe dengan suara lantang.
Pui Tiong bertukar pandang dengan kakak seperguruannya, dan Cie Bwee yang mengangguk perlahan pemuda baju biru itu lalu bangkit menjura ke arah Kiok Soe.
"Sesungguhnya saya yang muda merasa malu harus memperlihatkan kebodohan di depan banyak orang gagah. Akan tetapi untuk sekedar menggembirakan pertemuan ini, biarlah saya melupakan kebodohan sendiri, harap sahabat sekalian tidak menjadi kecewa." ucap Pui Tiong dengan ramah.
Sorak dan tepuk tangan para tamu yang hadir membuat suasana menjadi riuh, ketika pemuda ini melangkah ke tengah lapangan kemudian menebarkan pandangannya ke sekeliling dan mencabut pedangnya.
Sebuah pedang yang bagus dan berkilau Pui Tiong mainkan pedangnya mula-mula lambat, makin lama makin cepat sehingga pedangnya berubah menjadi segulungan sinar putih berkeredepan.
Siok Lan yang menonton penuh perhatian, mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang pemuda Pui Tiong ini cukup kuat, mempunyai sumber ilmu pedang Kun lun hanya gaya nya yang dirobah sehingga kini ilmu pedang ini disebut Jurus pedang Kim hong.
Pada saat itu berkelebat bayangan hijau dan Cui Hwa sudah berdiri di tengah lapangan menghadapi Pui Tiong.
"Saudara Pui jurus pedangmu bagus sekali kalau bermain sendiri tentu kurang menarik!"
Pui Tiong menghentikan tarian pedangnya dan menjura sambil menekuk pergelangan tangan sehingga pedangnya tersembunyi di bawah lengan.
"Apakah yang saudariku maksudkan?" tanya Pui Tiong yang penasaran.
"Ha...ha...! Saudara Pui biarpun kamu dikenal sebagai seorang tokoh Kim hong namun ilmu pedangmu masih dapat kukenal sebagai Kun lun. Aku sudah sering kali berhadapan dengan ilmu pedang Kun lun dan sudah sering kali menundukkannya." ucap Cui Hwa yang tertawa dan matanya yang lebar mengeluarkan sinar berseri dan mengerling ke arah Siok Lan.
"Ha...ha...ha...! karena itulah aku mengenalnya begitu melihat gerakanmu !" lanjut seru Cui Hwa sambil tertawa, yang tentu saja membuat merah telinga Pui Tiong. Akan tetapi Pui Tiong masih bersikap merendah dan hormat.
__ADS_1
"Tidak salah ucapan saudari. Memang tidak perlu kami sangkal bahwa guru kami Biksu Gwat Kong adalah bekas murid Kun lun akan tetapi ilmu pedang kami adalah Jurus pedang Kim hong, bukan jurus pedang Kun lun!" seru Pui Tiong.
"Ha...ha....! Saudara Pui sudah kukatakan tadi, bahwa bermain seorang diri kurang menarik.
Maka biarlah aku menemanimu dengan tangan kosong dan sebagai bukti kata kataku tadi, hendak kuperlihatkan kepadamu dan kepada semua tamu betapa dalam sepuluh jurus aku sanggup menundukkanmu seperti yang sudah terlalu sering kulakukan terhadap ilmu pedang Kun lun!" ucap Cui Hwa.
Semua yang hadir terkejut. Biarpun tak dapat dikatakan bahwa ilmu pedang pemuda itu indah sempurna, namun harus diakui cukup hebat, dan tangguh. Mungkin kalau menghadapinya dengan senjata lain, Cui Hwa Hwa yang terkenal sekali itu akan dapat mengambil kemenangan. Akan tetapi, menghadapi pedang pemuda itu dengan tangan kosong dan berjanji akan menundukkannya dalam sepuluh jurus. Adalah benar-benar terlalu tekabur.
Xiao Yu yang menyaksikan gerak gerik wanita itu penuh perhatian, diam-diam merasa khawatir.
Jelas dapat terlihat oleh siapapun juga bahwa sesungguhnya bukan murid Kim hong yang ditekan atau ditantang oleh Cui Hwa, melainkan Siok Lan. Siok Lan yang dikenal sebagai murid Kun lun menurut penilaian Xiao Yu, tingkat kepandaian wanita itu lebih tinggi dari pada Siok Lan sehingga jika ejekan demi ejekan menantang itu dilayani Siok Lan tentu akan berbahaya sekali bagi pemuda pujaan hatinya itu.
Pada saat itu keadaan Siok Lan pun sudah seperti itu ketika Siok Lan memandang ke arah Cui Hwa yang hendak mempermainkan Pui Tiong.
Pui Tiong sendiri juga penasaran. Ditantang untuk dihadapi dengan tangan kosong dan akan dikalahkan dalam sepuluh jurus benar-benar memanaskan hatinya.
"Sebelumnya terima kasih bahwa saudari Cui yang tersohor pandai dan suka memberi petunjuk." ucap Pui Tiong.
Pui Tiong lalu memutar pedangnya, mengayun ke atas kepala dan mulai menyerang maju. Putaran pedangnya cepat dan kuat sekali, lalu meluncur ke arah leher lawan.
Namun gerakan Cui Hwa benar benar mengagumkan. Dia sudah miringkan tubuh dan serangan pedang itu menyambar lewat, kemudian secepat kilat, tangan kirinya menyambar maju ke arah siku kanan Pui Tiong yang memegang pedang.
Pui Tiong kaget sekali karena kalau sampai sikunya tertotok atau terpukul tentu pedangnya akan terlepas, maka cepat ia berseru sambil meloncat, kebelakang pedangnya ditarik dan diputar melingkar dari luar, kini membabat ke arah pinggang.
Cui Hwa tampaknya memang tidak main-main karena buktinya, ia seperti telah tahu atau mengenal gerakan pedang Pui Tiong dan sebelum pedang itu membabat pinggangnya. Tubuhnya sudah melompat ke atas, kemudian dari atas tubuhnya melayang turun dengan kedua ujung kaki menyerang pundak Pui Tiong.
Pemuda baju biru ini tentu saja tidak mau ditendang pundaknya dari atas, ia meredahkan tubuh dan memutar pedang diatas kepala seperti payung yang bertugas menyerampang buntung kedua kaki lawan.
"Ha...ha...ha....!"
__ADS_1
Terdengar Cui Hwa Hwa tertawa dan tubuhnya yang masih di udara itu tiba tiba membuat salto atau poksai dua kali sehingga serampangan pedang Pui Tiong tidak berhasil.
Pui Tiong mendesak terus dan sampai berlangsung sembilan jurus, belum juga ia mampu menyentuh ujung baju Cui Hwa, akan tetapi hatinya girang karena sejurus lagi kalau wanita sombong itu belum dapat mengalahkannya, berarti ia menang.
Maka ia kini tidak menitik beratkan kepada serangan. Jurus terakhir ini ia menitik beratkan kepada pertahanan dan ia hanya membacokkan padangnya ke arah leher lawan sambil menjaga diri sendiri, menutup segala lobang.
Alangkah kaget hati Pui Tiong ketika mendapat kenyataan bahwa kini lawannya sama sekali tidak mengelak atau menangkis, membiarkan pedang meayambar pinggir leher sebelah kiri.
Walaupun Pui Tiong tidak bermaksud melukai lawan, apalagi membacok leher yang dapat menimbulkan bahaya maut.
Karena itu dengan gugup ia berusaha menahan bacokan atau sedikitnya mengurangi tenaga nya. Namun terlambat pedangnya tetap mengenai leher Cui Hwa.
"Takk....!"
Pui Tiong terkejut sekali karena pedangnya seperti mengenai benda keras dan pada saat itu Cui Hwa membuat gerakan menghantam dengun kepalan kiri kearah ulu hatinya.
Selagi ia bingung dan menangkis dengan tangan kiri, tiba-tiba pedangnya terampas oleh jari-jari tangan Cui Hwa yang kanan, yang menjepit pedang itu dengan jari jari ditekuk dan dengan kenyataan yang luar biasa telah merampas pedang sehingga terlepas dari tangannya dan kini berada dalam jepitan jari tangan kanan Cui Hwa yang mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Nah, tepat sepuluh jurus! Inilah jurusku yang ampuh untuk menghadapi ilmu pedang Kun lun yang tak pernah gagal merampas pedang Kun lun. Jurus ini kuberi nama Cakar Rajawali Menyambar Pedang!" seru Cui Hwa yang kembali dengan sengaja dan penuh tantangan seraya mengerling kearah meja Siok Lan.
Kemudian dengan sikap memandang rendah Cui Hwa mengarahkan pedangnya kepada Pui Tiong.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...