
"Kalau begitu kamu....!" ucap Tan Li yang sangat terkejut, karena ternyata gadis yang ada dihadapannya ada rasa padanya.
Tan Li menghela napas kemudian mengangkat mukanya yang agak pucat. Mereka saling berpandangan dan dan sinar mata Gui Song dapat merasa pandangan mata yang begitu teduh.
"Ahhh...!"
Tan Li berteriak dan melompat bangkit dengan wajah makin pucat.
"Adikku yang baik, sungguh aku tak tahu diri dan kurang ajar ! Maafkanlah aku kalau begitu sungguh kalau aku tahu bahwa cinta ku ini terbagi begitu saja!" ucap Tan Li.
Sementara itu Gui Siong yang tadirnya duduk di atas akar pohon, juga bangkit.
"Kak, lebih baik kakak kejar cinta pendekar Xiao kalau memang kakak cinta. Aku tak apa-apa, karena aku masih mau melanjutkan perjuangan kita, dalam menumpas penjajah." ucap Gui Siong yang setengah hati.
"Tapi bagaimana dengan kamu adik Gui?" tanya Tan Li yang tak enak hati.
"Berat memang kalau harus bersaing dengan Pendekar tanpa gelar!" gumam dalam hati Gui Siong yang menghela napasnya.
"Ah, sekali lagi maaf. Kiranya kak Tan Li mencintai Pendekar Xiao Yu, Jadi saya tak pantas berharap lebih." ucap Gui siong.
Tan Li cepat mengangkat wajahnya dan memandang, ke arah Gui Siong.
"Saya sendiri bingung, antara cinta ataukah sebatas kagum dengan pendekar tanpa gelar itu. Karena Pendekar Xiao Yu memang patut dikagumi, tetapi kenalpun tidak karena kami baru satu kali bertemu dan dalam waktu singkat pula." jawab Tan Li yang menatap Gui Siong.
Gadis itu terheran-heran dan jantungnya kembali berdebar girang penuh harapan.
"Dan dia? Apakah dia mencintaimu?" tanya Gui Siong yang penasaran.
"Siapa mengetahui hati orang lain!" jawab Tan Li yang masih menatap Gui siong.
Gadis itu menghela napas panjang. Kemudian timbul banyak pertanyaan dalam dirinya.
"Lantas apa yang hendak kakak lakukan? mengejar gadis itu atau menerima diriku ini yang apa adanya?" tanya Gui siong yang penuh harap.
"Aku Ingin mengetahui isi hati Xiao Yu, dia mencintaiku atau tidak. Kalau iya, mungkin aku akan melanjutkan berhubungan dengan dia. Dan kalau tidak, aku akan bersedia bersama kamu." ucap Tan Li seraya menatap Gui Siong.
__ADS_1
"Apa? kamu kira aku ini persinggahan atau hanya cadangan kamu saja kakak Tan? tidak, aku tidak mau!" gerutu dalam hati Gui siong yang geram.
"Bukan kah kamu mencintaiku adik Gui? jadi kita akan bisa bersama setelah aku mengetahui siapa yang dicintai pendekar Xiao Yu!" seru Tan Li yang bersikeras hati.
"Bagaimana kalau aku tidak setuju?" tanya Gui siong yang menatap Tan Li dengan geram.
"Apakah kamu tak ingin kita bersama-sama adik Gui?" tanya Tan Li yang terus menatap Gui siong dengan tatapan mesranya yang membuat Gui Siong tak bisa berkata-kata lagi.
Gui siong tak menjawabnya dan mendorong tubuh Tan Li yang menghadangnya. Walau tak terlalu kuat, tapi mampu membuat Tan Li mundur beberapa langkah.
Malam semakin larut, mereka kembali ke tempat rahasia mereka untuk beristirahat.
Gui siong dan Yang Tek saling menceritakan perihal apa yang menimpa asmara mereka, dan mereka bernasib sama. Sama-sama mencintai laki-laki yang menganggap diri mereka cadangan.
"Adik Gui kakak tak setuju jika mereka menganggap kita sebagai cadangan. Bagaimana kalau kita mencari pendekar tanpa gelar itu dan menantangnya dan mengajak bertanding sampai mati?" tanya Yang Tek yang merasa geram.
"Wah ide gila, tapi aku setuju. Biar ini juga buat pelajar bagi kakak Tan dan juga kakak Han. Walaupun mereka laki-laki, tapi jangan sok menang sendiri, suka mempermainkan hati para wanita. Terutama kita!" seru Gui Siong yang juga geram dan geregetan.
"Iya, benar! lebih baik Pendekar tanpa gelar itu mati, atau kita yang mati!" gumam Yang Tek.
Gui Siong dan Yang Tek termenung, keduanya merenungkan nasib mereka yang tidak beruntung dalam hal asmara.
Sementara itu kita kembali ke kisah Xiao Yu dan Siok Lan.
"Tuan muda! Tunggulah jangan tinggalkan saya....!" seru Xiao Yu yang ketinggalan dalam memacu kudanya.
Siok tan menahan kendali kudanya dan membiarkan pelayannya itu sampai dapat menyusulnya.
"Kamu menjemukan sekali, buat malu kepada saja!" seru Siok Lan pada saat pelayan bersama kudanya sudah mendekat.
" Eh, apakah dosaku tuan muda? tanya Xiao yu yang penasaran.
"Apakah dosaku? Hai....Melakukan kesalahan berkali kali masih tidak merasa punya dosa! Di tempat pertemuan tadi kau sudah membuat kacau dan membuat malu dengan tingkahmu bersama A bo yang gila-gilaan. Masih untung bahwa kamu dan A bo tidak sampai celaka, kalau kalian roboh di tangan orang! Apakah aku yang menjadi majikannya tidak menjadi malu sekali? Kedua, kamu begitu tak tahu malu dan tidak ragu-ragu lagi saat menerima pemberian kuda ini. Hm, agaknya kamu paling senang akan pemberian orang lain, ya? Memalukan saja! Apa kau kira aku tidak bisa membeli kuda kalau aku mau?" cerocos Siok Lan saat Xiao Yu sudah berada disampingnya.
"Pemuda ini lincah, lucu, kadang galak dan penuh semangat hidup. Bisa dikatakan selalu menyenangkan hati." kata dalam hati Xiao Yu yang diam-diam tersenyum.
__ADS_1
"Maaf, tuan muda." ucap Xiao Yu sambil mengangkat kedua tangan depan dada penuh hormat.
Sementara Siok Lan tetap dalam posisinya yang tetap memperhatikan ucapan pelayannya.
"Hal itu karena hati saya tidak rela mendengar tuan muda dihina, maka saya memberanikan diri untuk balas hinaan dari si pinggul besar itu. Adapun tentang kuda, saya rasa tuan muda akan lelah sekali kalau melanjutkan perjalanan hanya dengan jalan kaki. Jadi....!" jelas Xiao Yu yang belum sempat menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh Siok Lan.
"Sudahlah, yang lewat biarlah lalu," kata Siok Lan, yang geli juga membayangkan kembali pelayannya ini mempermainkan Cui Hwa yang lihai dalam bertarung itu.
Kemudian mereka diam sejenak, dan setelah itu Siok Lan melanjutkan ucapannya.
"Mulai detik ini, kamu tidak boleh berbuat sesuka hati sendiri, harus menanti perintahku. Mengerti!" seru Siok Lan yang sedikit keras.
"Baik, tuan muda" jawab Xiao Yu yang menurut saja pata majikannya.
"Hm kalau lain kali menjengkelkan hatiku tentu akan kugaplok kamu! sayang kali kamu laki-laki! andai kamu perempuan, pasti akan aku peluk dan cium kedua pipi kamu itu!" ha...ha..ha...!" ucap Siok Lan sembari tertawa.
"Glekk....!"
Xiao Yu menelan salivanya dan memandang kearah pemuda itu, dan membayangkan jika benar dia tahu kalau dirinya seorang perempuan.
"Hah, apa jadinya jika dia tahu aku seorang perempuan? katanya mau memeluk dan menciumiku? hah! lebih baik aku melawan puluhan anggota perompak sungai, daripada menerima ciuman tuan muda!" gumam dalam hati Xiao Yu yang kesal.
"Ha...ha....! kenapa aku berpikiran seperti itu ya? aku bukan setan kipas merah! Jadi jangan khawatir, aku hanya bercanda. Itu kalau memang kamu seorang perempuan! ha...ha...ha..!" ucap Siok Lan yang terus tertawa.
"Glekk...!"
Kembali Xiao Yu menelan salivanya, saat memandang wajah majikannya yang berseri-seri saat tertawa itu.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...