
Dari atas genteng mereka mengintai dan alangkah kaget hati mereka melihat guru mereka dibantu seorang pendekar aliran putih yang berusia lanjut dan bermuka hijau yang bersenjata pedang butut, sedang mengeroyok seorang nenek yang amat lihai.
Biarpun guru mereka berilmu tinggi, tetapi ternyata masih terdesak oleh kipas emas di tangan nenek itu. Kipas emas yang bergulung-gulung menjadi sinar hitam 'dan siap melesat bagaikan bumerang.
"Siauw Bo si kipas emas penebar maut!" bisik Han Wen yang dimana dia pernah mendengarkan ceritanya dari guru mereka perihal nenek iblis yang amat jahat dan sakti ini.
Mereka tak menduga sama sekali kalau bisa bertemu dengan nenek sakti ini disarang si setan kipas merah. Mereka melihat setan kipas merah yang memberi salam hormat pada Siauw Bo, mereka pun menduga bahwa setan kipas merah yang cabul itu adalah murid Siauw Bo, si kipas emas penebar maut itu.
Lalu mereka melayang turun sambil mencabut pedang mereka yang tadi mereka temukan di dalam kamar, kemudian menerjang Siauw Bo untuk membantu guru mereka serta si teman gurunya yang kewalahan.
"Kalian hajar saja murid iblis tua itu! Biar wanita iblis ini biarkan guru dan saudara Kwe Cheng yang melawannya!" teriak Biksu Ji karena bisa berbahaya kalau kedua muridnya itu bila membantunya. Sebab dia mengetahui kelihaian Siauw Bo juga ia tadi telah melihat bahwa dua orang gadis murid sahabatnya itupun terdesak hebat oleh setan kipas merah.
Kembali dua pemuda itu terkejut, saat guru ya menyebutkan nama Kwe Cheng. Kiranya pendekar tua yang lihai itu adalah si Bocah tua bakal yang suka disebut-sebut oleh guru mereka sebagai seorang sahabat baik.
Dan kedua orang gadis itu yang tengah bertempur mati-matian melawan setan kipas merah itu adalah dua orang murid Kwe Cheng.
Mereka cepat menengok dan memang betul dua orarg gadis itu terdesak hebat serta terancam bahaya karena dikeroyok pula oleh puluhan orang anggota perompak buaya merah lainnya yang telah mengepung mereka dan sebagian bersorak-sorak melihat betapa empat orang musuh itu terdesak hebat oleh Ratu dan tuan muda mereka.
Sambil berseru keras sebab masih marah dan teringat akan penghinaan yang mereka tadi alami, Tan Li lalu memutar tubuhnya dan terus menerjang Setan kipas merah yang tengah melawan Yang Tek dan Gui Siong, yang merupakan murid dari Kwe cheng.
Melihat adik seperguruannya mengeroyok, Han wen juga terus ikut mengeroyok setan kipas merah.
"Ha...ha...ha....! empat aliran putih yang minta dihilangkan dari muka bumi ini rupanya!" seru setan kipas merah seraya tertawa mengejek, menyambut kedua pengeroyok baru ini dengan kibasan kipas merahnya yang membuat sinar panjang sehingga dua orang pemuda itu kaget sekali.
Mereka melompat mundur memutar pedang melindungi diri masing-masing.
__ADS_1
"Kurang ajar...!" seru Tan Li dengan geram.
"Kawan-kawan semua, hayo kalian sambut dua orang pemuda ini dan kalau tertawan, kuserahkan kepada kalian untuk bersenang senang! Dan aku akan bersenang-senang dengan dua gadis itu!" seru setan kipas merah yang yakin akan kemenangan dipihaknya.
Mendengar hal itu, para perompak buaya merah menjadi girang sekali, karena waktunya mereka membalaskan dendam keempat saudara mereka yang beberapa jam sebelumnya di penggal oleh Tan Li.
Mereka terus bersorak dan menyerbu ke depan dengan senjata mereka sehingga dalam waktu singkat saja Tan Li dan Han Wen telah terkurung dan dikeroyok oleh dua puluh orang lebih perompak buaya merah itu.
Pertempuran kini terpecah menjadi tiga bagian yaitu Kwe Cheng dan Biksu Ji yang sibuk melawan Siauw Bo, Yang Tek dan Gui Siong terdesak dan repot melayani setan kipas merah. Sedangkan Tan Li dan Han Wen dikeroyok puluhan perompak buaya merah yang biarpun kepandaian mereka tidak tinggi tetapi jumlah mereka amat banyak sehingga dua orang pemuda itu menjadi repot juga.
Di luar kepungan itu masih terdengar banyak para perompak buaya merah yang memegang obor, sambil mengepung serta bersorak sorak memberi semangat kepada kawan-kawan mereka.
"Hm...! dua sahabat Xiao Chen yang menjemukan! Kalian ini sudah tua bangka mengapa tidak mau menantikan mati baik-baik saja di tempat pertapaan, sebaliknya datang ke sini untuk mati konyol. Menjemukan sekali!" seru Siauw Bo sambil menahan tongkat dan pedang musuh di dalam waktu cuma beberapa detik saja dengan kipas emasnya.
"Ha...ha....ha....! Siauw Bo jangan tekabur. Aku tidak ingin mati lebih dulu, karena aku ingin tertawa gembira melihat kau kelak tersiksa di dalam neraka. Bukankah begitu, Biksu gendut? Nenek macam Hek siauw Kui bo ini bukankah kelak dipanggang dalam api neraka?" celetuk Kwe cheng yang memang berwatak riang gembira.
Wajah biksu Ji yang serius itu mengerutkan kening.
"Memang dia ini jahat dan tentu akan di hukum, semoga saja dia insaf dan menyesali dosa sendiri lalu bertobat. Amitabha...!" sahut Biksu Ji yang dengan sikap tenangnya.
Siauw bo marah bukan main. Dua orang lawannya itu terang tidak akan mampu menang melawannya, namun masih mengeluarkan kata kata yang ia anggap menghinanya.
Kemudian dia melangkah mundur dan menarik kipasnya, kemudian kipasnya bergerak sangat cepat menyerang kedua orang dihadapannya.
Dua orang sahabat kakek Xiao Yu itu tidak bermain main lagi dan cepat menggerakkan senjata melindangi diri dan balas menyerang hebat.
__ADS_1
Sementara setan kipas merah juga tertawa-tawa mengejek.
"Kalau kalian berjanji mau menyerah, melempar pedang dan berlutut, mencium ujung jariku tujuh kali, aku mau mengampuni kalian dan selanjutnya menjadikan kalian pelayan-pelayan pribadiku.
Enak dan senang bukan? kalian boleh setiap hari melayani aku.Ha...ha...ha...!" ucap setan kipas merah sembari tertawa tergelak-gelak.
Saking marah dan jemunya Yang Tek dan Gui Siong tak mau menjawab, hanya berseru marah dan menerjang makin hebat. Namun laki-laki tampan baju merah itu hanya tertawa terbahak-bahak, bahkan dengan gerakan yang aneh sekali menyeluap diantara sambaran sinar pedang lawan dan tahu-tahu ujung kipasnya telah menotok ke arah pergelangan tangan dua orang lawannya secara bertubi-tubi.
Dua orang gadis itu kaget sekali dan cepat menarik kembali serangan mereka akan tetapi tangan kiri Setan kipas merah sempat mengelus dan mencubit dagu Gui Siong yang halus dan putih sambil tertawa terkekeh genit.
Kenekatannya ini hampir mencelakakannya, karena dengan nekad Gui Siong lalu menusukkan pedangnya tanpa melindungi diri lagi untuk mengadu nyawa dengan laki-laki yang dibencinya itu.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
"
__ADS_1