
Oiya, tadi kau bilang tadi bahwa kau pelayan keluarga Xiao, jadi tentunya tahu akan Pendekar tanpa gelar itu. Apakah benar begitu?" lanjut tanya Pemuda itu dengan rasa penasarannya.
Kembali Xiao Yu mengangguk sambil menelan ludah. Ia tidak biasa membohong, maka ia pilih lebih baik tidak berkata apa apa. Kalau hanya membohong dengan kata mengangguk itu mudah.
"Bagus, mulai sekarang biarlah kau menjadi pelayanku. Kau bisa mengurus kuda, kan? Nah nanti kau akan kuberi gaji secukupnya, makan dan pakaian akan kuberi jangan takut kekurangan. Aku hanya perlu bantuanmu mencari Pendekar tanpa gelar itu, kalau sudah bertemu dengannya, kau berhenti menjadi pelayanku. Bagaimaua, maukah kau membantu sebagai balasan pertolonganku tadi?" jelas sekaligus pertanyaan dari pemuda tampan itu.
" Hm, Hebat juga pemuda ini! benar benar pintar sekali, banyak akalnya serta bisa mempengaruhi hati orang. Entah putera siapa dia ini, kenapa orang tuanya membiarkannya terlepas seorang diri. Tak mungkin aku menolak, menjadi pelayan pun jadilah asalkan bisa berdekatan dan dapat melihat sinar mata serta senyumnya setiap hari. Ah, aku sudah menjadi gila!" gumam dalam hati Xiao Yu.
"Hei, ayo jawab! mau pikirkan apa lagi!" seru gadis itu dengan tangan-nya yang menyambar dan menepuk pundak Xiao Yu dengan tenaga dalam.
Xiao Yu tahu kalau pemuda itu tidak hanya sembarang menegur, tetapi juga mengujinya. Mungkin saja pemuda itu ragu-ragu serta curiga. Hal itu karena Xiao Yu sebagai bekas pelayan keluarga jagoan, mungkin dia sendiripun mempelajari ilmu silat.
"Aduh ......! tuan, kenapa nona memukul saya?" tanya Xiao Yu yang membuat gerakan wajar, terjengkang lalu roboh, serta mengaduh-aduh memegangi pundaknya yang ditepuk pemuda tampan tadi.
Pemuda itu tersenyum karena dia merasa lega hatinya bahwa pelayan ini tidak mengerti ilmu silat.
"Kalau lain kali kau tidak cepat menurut perintahku, baru benar-benar aku. Tadi cuma tepukan pelan saja. Nah lekas jawab, mau atau tidak engkau menjadi pelayan ku dan membantuku mencari Pendekar tanpa gelar?" jelas sekaligus tanya pemuda tampan itu.
"I...iya mau, akan tetapi nona jangan bersikap terlalu galak terhadap saya." ucap Xiao Yu yang cemberut.
"Aku tidak biasa bersikap galak terhadap pelayan, akan tetapi aku belum pernah mempunyai pelayan setolol engkau ini. Eh, siapa namamu?" tanya pemuda itu yang penasaran.
Xiao Yu bingung dan terpaksa ia harus mencari nama dan teringalah ia akan nama seorang pelayan cilik keluarganya yang dahulu juga ikut terbunuh.
"Nama saya Yu Tian, nona," jawab Xiao Yu dengan menundukkan kepalnya.
"Hemm, nama yang bagus juga!" gumam Pemuda itu.
"Kalau boleh saya tahu siapakah nama tuan muda?" tanya Xiao yu yang memberanikan diri menanyakannya.
__ADS_1
Pemuda itu menggerakkan alisnya, matanya mengerling tajam bibirnya cemberut.
"Mati aku!" gumam dalam hati Xiao Yu yang merasa seakan-akan jantung nya tertusuk dan berdesir saat melihat raut wajah pemuda itu yang menatapnya dengan tajam.
"Eh, mau apa kau tanya-tanya namaku segala!" bentak pemuda itu dengan geram.
"Bukankah kalau menjadi pelayan tuan muda, saya harus mengetahui nama tuan. Nanti bagaimana kalau ada orang bertanya siapa tuan muda? Bagaimana kalau ada orang bertanya siapa nama majikan saya? Apakah saya harus menjawab tidak tahu?" cerocos Xiao yu yang membuat Pemuda itu mengulas senyum, dan membuat hati Xiao Yu bergetar hebat.
"Hm, kau benar Yu Tian. Namaku Siok Lan. Akan tetapi aku lebih terkenal dengan Si Bayangan Dewa." jawab pemuda itu yang bernama Siok Lan itu.
Siok Lan adalah sebuah nama yang indah bagi Xiao Yu serta sekaligus nama ini terukir di dalam hatinya. Dia tersenyum di dalam hati, pemuda ini begitu bangga akan nama julukannya, bangga akan ilmu silatnya sehingga menganggap seolah-olah dirinya yang terpandai di dunia persilatan.
"Kalau begitu marilah kita berangkat tuan muda." ajak Xiao Yu,
"Kau ambilkan dulu kudaku, tadi aku ikat di pohon yang terletak di sana!" seru Siok Lan seraya menunjuk ke selatan di mana terdapat pohon-pohon yang rimbun.
Tak berapa lama Xiao Yu menuntun kuda Siok Lan dan menghampiri pemilik kuda. Dengan gerakan ringan Siok Lan melompat naik ke punggung kudanya.
"Ayo kita berangkat!" seru Siok Lan.
"Ke mana tuan muda?" tanya Xiao Yu yang berada disamping kuda dan memandang Siok Lan yang ada diatas punggung kuda.
"Ke mana lagi kalau tidak mencari Pendekar tanpa gelar? apakah kau tahu dimana dia sekarang ini?" tanya Siok Lan yang menatap Xiao Yu yang berada dibawahnya.
"Aku harus bilang apa?" gumam dalam hati Xiao Yu sambil berpikir, agar mereka bisa selalu bersama.
"Saya pernah berteman dengan Xiao Yu dan katanya dia ingin merantau ke kota raja. Sebaiknya kita menyusul ke kota raja dan karena namanya sudah terkenal tentu kita dapat bertanya-tanya sepanjang jalan!" jelas Xiao Yu yang tak sebenarnya.
"Hm benar juga pendapatmu itu. Akan tetapi kota raja amatlah jauh!" ucap Siok Lan.
__ADS_1
"Tuan muda menunggang kuda, tentu tidak akan lelah." ucap Xiao yu.
"Hm marilah!" seru Siok Lan yang kemudian menarik kudanya.
"Eh, tuan muda! Jangan cepat-cepat! nona, mana mungkin saya dapat menyusul larinya kuda!" teriak Xiao Yu, ketika Siok Lan mempercepat laju kudanya.
Dan Siok Lan menoleh dan menghela napas panjang. Dia hanya membutuhkan Yu Tian untuk mengenal dan mencari Pendekar Tanpa Gelar saja. Pendekar wanita keturunan satu-satunya dari pendekar pedang Naga.
Karena dia sudah bertanya-tanya pada setiap orang tentang nama Pendekar Tanpa Gelar, akan tetapi tidak seorang pun tahu di mana adanya si pendekar itu. Dan ia mendengar pula bahwa sukar untuk mengenal si pendekar wanita muda karena pendekar itu tidak pernah menonjolkan diri dari dunia persilatan.
Karena itulah dia mengambil Yu Tian sebagai pelayan untuk membantunya mencari Pendekar Tanpa Gelar tersebut, akan tetapi siapa duga bahwa risikonya malah berat.
Baru saja mereka jalan, ia terpaksa harus memperlambat dalam menjalankan kudanya agar si pelayan itu tidak ketinggalan.
"Aku akan jalan dulu ke dusun depan. Biar kutunggu engkau di sana, kau jalanlah lebih cepat!" teriaknya sambil menoleh lalu membalapkan kudanya ke depan.
Karena Ia akan menjadi kesal setengah mati kalau harus menjalankan kudanya perlahan lahan, mengimbangi si pelayan yang berjalan kaki begitu lambat. Akan tetapi, sejam kemudian Siok Lan menghentikan kudanya dan termangu-mangu di atas kuda.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1