
"Tuan silakan duduk! Dan kau pelayan dan tukang perahu, pergilah ke belakang. Dimana kalan akan dapat makan minum sepuasnya sampai kenyang!" seru si muka tikus itu kepada Xiao Yu dan A bo.
"Nanti dulu!" seru Siok Lan dengan kedua matanya yang sudah memancarkan sinar kemarahan.
"Pelayanku dan tukang perahuku, mereka itu aku yang membawa dan aku pula yang bertanggung jawab atas keadaan mereka! maka kalau kalian mengundang aku, pelayan dan tukang perahu harus diajak pula duduk bersamaku!" seru Siok Lan.
Seketika terdengar suara berisik karena semua tamu serta para perompak merasa heran mendengar ucapan Siok Lan.
"Mana ada seorang majikan mengajak pelayan dan tukang perahunya duduk makan semeja!"
"Iya! Benar benar seorang majikan yang aneh!"
Bisik-bisik para tamu yang hadir, dan memandang aneh pada Siok Lan.
"Boleh....boleh, silakan...silakan!" kata salah satu ketua para perompak sambil mempersilakan mereka bertiga masuk.
Xiao Yu sengaja masuk dan berjalan di belakang Siok Lan dengan sikapnya sebagai pelayan.
Adapun si tukang perahu berjalan paling belakang, wajahnya terlihat sangat pucat dan berjalan menunduk. Dia tak berani mengangkat wajahnya, takut jika itu akan mengenal dan mengingat wajahnya. Yang akan membuatnya repot dikemudian hari kalau ia melakukan pelayaran seorang diri, karena akan ada yang kenal dan tentunya dirinya diganggu.
Xiao Yu menarik napas lega ketika mendapat kenyataan bahwa tak seorangpun diantara para tokoh persilatan yang hadir di tempat itu ada yang mengenalnya.
Karena Xiao Yu yang memang sebelumnya menyembunyikan diri dengan menyamar menjadi laki-laki sehingga dunia kang ouw hanya mengenal namanya saja namun jarang ada orang yang pernah melihatnya.
Xiao Yu selalu melakukan tugasnya sebagai seorang pendekar secara bersembunyi dan saking cepatnya gerakannya, baik mereka yang ditolongnya manpun mereka yang dihajarnya tidak sempat mengenal mukanya. Inilah sebabnya ia tidak merasa khawatir menyamar sebagai pelayan Siok Lan.
__ADS_1
Sementara itu Siok Lan memilih tempat duduk menghadapi sebuah meja yang tidak berapa besar, cukup untuk enam orang saja.
Ketika ia dan dua orang pelayan duduk, terdengar suara seseorang.
"Biarlah kami yang menemani Siok Lan duduk!" seru suara laki-laki muda yang berpakaian serba biru.
Pemuda ini tidak menanti jawaban, langsung berdiri bersama seorang wanita cantik berusia tiga puluh tahun, yang menghampiri meja Siok Lan dan keduanya memberi hormat yang dibalas oleh Siok lan dengan sederhana.
"Maaf kalau kami mengganggu tuan, akan tetapi karena kami tertarik mendengar bahwa tuan muda ini adalah cucu dari Siok Lee,, maka kami memberanikan diri untuk berkenalan. Kami berdua adalah murid-murid Biksu Gwat Kong." ucap wanita yang bersama laki-laki yang tadi bersuara pada Siok Lan.
"Biksu Gwat Kong ketua Kim hong? Pernah aku bertemu dengan Biksu Gwat kong ketika dia berkunjung ke rumah kakek dan ayah! Biksu Gwat Kong itu adalah sahabat baik kakek. Saya senang dapat berjumpa dengan kalian berdua!' seru Siok Lan yang mengulas senyumnya seraya menatap satu persatu kedua orang dihadapannya.
"Saya bernama Pui Tiong dan ini adalah kakak seperguruan Can Bwee." pemuda baju biru itu memperkenalkan diri dengan ramah.
"Namaku Siok Lan dan dia ini pelayanku Yu Tian dan tukang perahu ini A bo." balas Siok Lan yang memperkenalkan kedua orang pelayannya.
Dua orang murid Kim hong itu berdiri dan juga memberi hormat kepada Yu Tian dan A bo yang di balas cepat-cepat oleh kedua orang ini.
Beberapa orang tertawa saat menyaksikan hal ini. Menurut mereka sungguh lucu kalau dua orang pendekar yang terkenal diperkenalkan dengan seorang pelayan dan seorang tukang perahu miskin.
Akan tetapi, sikap kedua orang murid biksu Gwat Kong ini benar-benar wajar dan mereka menghormat dua orang yang dianggap rendah itu secara semestinya.
"Adik, harap hati hati, tiga orang itu tidak boleh dipandang ringan." bisik Can Bwee, wanita cantik berusia tiga puluh tahun yang jarang bicara itu.
Biarpun ucapan ini hanya berbisik dan singkat namun jelas mengandung kekhawatiran akan keadaan Siok Lan.
__ADS_1
"Cici yang manis, terima kasih, atas peringatanmu. Aku dapat menjaga diri. Anda berdua sendiri, bagaimana bisa menjadi tamu di sini?" tanya Siok Lan dengan rasa penasarannya.
"Betapapun juga, mereka ini semua adalah pejuang-pejuang yang membela rakyat dan menentang pemerintah penjajah. Sampai disini pemuda baju biru ini menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, Huang ho bertepuk tangan memberi isyarat supaya semua orang memperhatikan mereka dan orang tertua dari Huang ho berkata dengan suara lantang.
"Saudara sekalian, para orang gagah patriot sejati yang hadir di sini tentu sudah maklum semua bahwa perkumpulan pengemis sabuk sutra merah adalah perkumpulan besar yang menjadi sekutu dan kawan seperjuangan kita. Hari ini sampai tidak ada wakil dari perkumpulan pengemis sabuk sutra merah, tiada lain karena Ang kin baru saja menderita pukulan besar karena beberapa orang tokoh nya di antaranya saudara Ang Ci dan Ang Sun. Mereka telah menderita kekalahan dalam bentrokan melawan Siok Lan. Kita akan menjadi hakim untuk mengadili siapa salah siapa benar dalam bentrokan ini, apalagi kalau diingat bahwa Siok Lan adalah cucu Siok Lee yang sudah kita kenal sebagai seorang pejuang yang gigih. Karena itu, selanjutnya kita serahkan kepada sikap dan sepak terjang Siok Lan sendiri, apakah dia benar-benar seorang pendekar yang patut menjadi kawan ataukah seorang pengacau yang harus dilawan. Sementara itu karena dia telah menjadi tamu, biarlah dia menyaksikan bahwa kita orang-orang pejuang bukanlah golongan yang mudah dipermainkan dan dihina oleh semua orang.
Pertama biarlah kami sebagai tuan rumah memberi hormat kepada Siok Lan dengan secawan arak!" kata ketua taun rumah, dengan tangan kirinya ia memberi isyarat kepada dua orang adiknya untuk minggir sedangkan tangan kanannya menyambar sebuah cawan berisi arak.
Orang tertua dari Huang ho ini bernama Cu Lin usianya sudah lima puluh tahun lebih. Semua tamu yang berada disitu adalah orang-orang rimba persilatan, maka penyambutan tuan rumah terhadap seorang tamu dengan jalan menguji ilmu itu bukankah hal yang aneh, apalagi kalau diingat bahwa tamu yang baru tiba ini telah melakukan pelanggaran, yaitu telah bentrok dan mengalahkan tokoh-tokoh perkumpulan pengemis sabuk sutra merah.
"Dua orang saudara muda dari Kim hong, apakah tidak suka mundur dulu agar aku dapat menyambut dengan sebaik-baiknya kepada Siok Lan?" Ucapan Cu Lin ini ditujukan kepada Pui Tong dan Can Bwee, dan merupakan pertanyaan yang mengandung teguran.
Memang, sikap dua orang kakak beradik seperguruan dari Kim hong yang amat ramah terhadap Siok Lan tadi setidaknya membuat hati Huang ho menjadi tidak senang.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1