Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Sambutan dari tuan rumah


__ADS_3

Memang, sikap dua orang kakak beradik seperguruan dari Kim hong yang amat ramah terhadap Siok Lan tadi setidaknya membuat hati Huang ho menjadi tidak senang.


Karena bagi mereka sudah jelas bahwa tamu ini belum dapat dikatakan seorang sahabat, dan dua orang muda itu memperlihatkan keramahan pada Siok Lan.


"Maafkan kami." Kata Pui Tiong yang lalu bangkit bersama Can Bwe pada Siok Lan dan mereka meninggalkan meja Siok Lan.


Siok Lan maklum bahwa suasana menjadi tegang dan bahwa pihak tuan rumah sudah mulai hendak beraksi.


"Kalian tenang saja!" seru Siok Lan yang melirik ke arah Xiao Yu dan A bo.


Kemudian Siok Lan bangkit berdiri, menghadap ke arah Cu Lin dengan suaranya lantang dan mulutnya tersenyum manis.


"Aku sudah mendengar bahwa undangan paksaan dari Huang ho tentulah mengandung maksud hati yang tidak baik. Betapapun juga, aku telah menerima undangan, dan aku siap menghadapi segala suguhanmu!"


Cu Lin tersenyum dingin, lalu melangkah maju dan menuangkan arak dari guci ke dalam cawan.


"Saya Cu Lin orang tertua Huang ho menyambut Siok Lan dengan secawan arak kehormatan!" seru Cu Lin yang menuang terus sampai cawan menjadi penuh dan baru berhenti menuang arak ketika arak sudah memenuhi cawan dengan permukaan lebih tinggi daripada bibir cawan.


Namun arak itu tidak meluber dan tidak tertumpah setetespun ! Sungguh amat mengagumkan bahwa arak yang lebih banyak dari padi cawan itu dapat tinggal tetap dalam cawan seolah olah membeku dan permukaannya sampai membulat di atas cawan.


Inilah demonstrasi tenaga dalam yang menyedot arak melalui cawan sehingga arak itu lekat dan tidak tumpah.


Dengan perbuatan ini Cu Lin bermaksud membikin malu tamunya, karena kalau cawan itu diterima tamunya dan araknya meluber tumpah hal ini tentu saja akan membikin malu kepada tamunya.


Akan tetapi Siok Lan agaknya tidak perduli akan hal ini.


"Menyembunyikan niat buruk atau tidak, sebuah penghormatan tidak boleh ditolak!" seru Siok Lan dengan mengangsurkan lengannya dengan tangan kanan menerima cawan itu.


Ia tidak kelihatan mengerahkan tenaga, namun ketika cawan tiba di tangannya, arak itu sedikitpun tidak bergerak apalagi meluber.

__ADS_1


Semua tamu yang menonton dengan napas ditahan, kini menjadi kagum. Tidak mereka sangka bahwa seorang pemuda yang begini muda sudah memiliki tenaga dalam yang demikian hebatnya


Siok Lan mengangkat cawan itu dan terus mengangkat sampai di atas mulut, lalu menuangkannya, akan tetapi arak itu tetap tidak mau turun Biarpun kini cawan sudah ia balikkan, isinya tidak tumpah sama sekali. Dan terdengar suara tepuk tangan dan ketika semua tamu memandang, yang bertepuk tangan itu adalah Xiao Yu yang diikuti oleh A bo.


"Lihat, nona bermain sulap. Apa tidak hebat?" ucap Xiao Yu.


Pui Tiong tertawa, Can Bwee tersenyum, bahkan dua orang murid Kim hong ini lalu ikut bertepuk tangan pula. Tamu tamu lainnya yang merasa kagum baru berani ikut ikutan bertepuk tangan.


Siok Lan menurunkan lagi cawan arak dan berkata,


"Ah, saya tidak bisa minum arak keras, dan agaknya arakmu ini terlalu keras. Sampai sampai arakmu tidak berani memasuki mulutku, maafkan aaya!" ucap Siok Lan seraya menurunkan cawan arak itu dan meletakkan cawan di atas meja dan ketika ia melepaskan tangan, arak itu melebar dan tertumpah di atas meja.


"Biarlah pelayanku saja yang mewakili aku minum arak kehormatan!" seru Siok Lan yang menatap Xiao yu.


Xiao Yu lalu menyambar cawan dan


mengangkatnya.


Yu Lee tetsenyum dan menuangkan setengah cawan arak itu ke dalam mangkok di depan A bo.


Keduanya tertawa lalu minum arak masing masing setelah mengangkat cawan dan mangkok ke arah Siok Lan dan Cu Lin sebagai tanda penghormatan.


Semua tamu tertawa dan muka Ie Cu Lin berubah merah seperti udang yang direbus.


Arak penghormatan yang tadinya ia maksudkan untuk membikin malu Siok Lan, kiranya malah diminum oleh seorang pelayan dan seorang tukang perahu sehingga berarti bahwa dia telah memberi penghormatan kepada dua orang rendah itu.


Akan tetapi sebagai tuan rumah yang harus menghormati tamu, diantara begitu banyak orang gagah, pula karena dia sebagai seorang tua yang sudah banyak pengalaman dapat menahan kemarahan ia berusaha untuk tersenyum.


"Siok Lan benar-benar lihai" Kemudian la mundur ke tempat duduknya sendiri.

__ADS_1


Si jangkung Kiok Soe, orang kedua dari Huang ho yang sejak tadi menyaksikan sepak terjang kakaknya dengan kurang sabar, kini sudah bangkit dan menghampiri Siok Lan yang sudah duduk kembali menghadapi mejanya bersama dua orang pelayannya dan kedua orang murid Kim hong yang kembali sudah menemaninya.


Si muka tikus yang jangkung ini cengar-cengir dan kembali para tamu menjadi tegang karena maklum bahwa orang kedua dari pihak tuan rumah hendak melanjutkan menguji kepandaian Siok Lan yang masih muda remaja namun amat lihai itu.


"Wah, benar-benar Si Bayangan Dewa tidak bernama kosong, memang seperti bayangan seorang dewa yang tampan. Maafkan tuan muda, Kakakku tadi salah tafsir. Tentu saja seorang muda seperti kau tidak biasa minum arak keras yang hanya menjadi minuman orang orang kasar seperti kami. Akan tetapi kurasa nona tidak akan menolak, kalau aku Kiok Soe, sebagai tuan rumah kedua, menyambut kunjungan dengan suguhan sepotong daging." ucap Kiok Soe dengan cepat sekali tangannya bergerak dan ia sudah menggerakkan sebuah garpu bergigi dua yang runcing yang tadi dibawa dari mejanya.


Langsung ia menusukkan garpu perak ini ke dalam tempat sayur di atas meja depan Siok Lan.


Ketika ia mengangkat tangannya, garpu itu sudah menusuk sepotong daging kecil. Dengan garpu di tangan ia menghampiri Siok Lan yang masih duduk dengan tenang, sedangkan Xiao yu memandang penuh kekhawatiran.


Di dalam hatinya, ia mencaci maki si jangkung ini yang hendak menggunakan kebiasaan, kaum kasar untuk menguji kepandaian orang, yaitu dengan jalan menyuguhkan makanan di ujung pisau atau garpu bahkan di ujung pedang.


Bagi seorang yang sudah mempelajari cara mempergunakan kegesitan menghadapi serangan senjata gelap penyuguhan macam ini memang tidaklah membahayakan. Sambaran sebatang pisau saja dapat diterima dengan mulut, apa lagi hanya tusukan pisau atau garpu.


Yang mengerikan kalau si penyuguh mempunyai niat membunuh, karena garpu di tangan tentu saja berbeda dengan menyambarnya, karena si penusuk dapat mengerahkan tenaga dalam dan dapat mengubah arah sesuka hatinya.


Ada tiga jalan untuk menghadapi penyuguhan seperti ini. Pertama begitu saja mengelak membebaskan diri dan habis perkara. Kedua dapat menangkis dengan tangan. Ketiga dan ini yang diharapkan oleh semua orang akan tetapi juga paling berbahaya menerimanya dengan mulut.


Sejenak mereka berpandangan Ie Kiok Soe yang berdiri dengan garpu di tangan dan Siok Lan yang duduk dan tersenyum simpul.


"Silakan !" balas Siok lan yang sedikit menantang.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2