Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Pulang kampung ; Tikus Kuburan


__ADS_3

Tiba-tiba mereka telah berada di tanah kuburan itu, berdiri mengurung gundukan tanah kuburan berikut Xiao Yu dengan wajah beringas mengancam seperti iblis iblis sendiri yang datang hendak mengeroyoknya.


Dalam kesedihannya Xiao Yu, sampai tidak memperhatikan sekelilingnya dan baru sekarang ia tahu bahwa delapan orang itu datang dan sikap mereka jelas membayangkan permusuhan.


Gadis itu dengan tenang memperhatikan mereka sambil mempermainkan tongkat bambunya dengan kedua tangan, matanya memandang penuh selidik dan bergantian kepada delapan orang itu. Mereka itu berusia antara tiga puluh dan empat puluh tahun dan sikap mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat yang pandai.


Xiao Yu memang tidak suka mencari


permusuhan dan sikap serta pakaiannya memang amat sederhana, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia adalah seoiang ahli silat, apa lagi seorang pendekar yang ternama.


Apalagi dengan penyamarannya kini menyaksikan sikap delapan orang itu dia pun ingin menghindari mereka dan pura pura tidak mengerti bahwa mereka itu mengurungnya.


Kembali ia mengangguk kearah gundukan tanah kuburan sebagai penghormatan terakhir atau berpamit, kemudian ia membalikkan tubuhnya untuk pergi dari situ.


"Hei, berhenti kau!" seru seorang di antara mereka yang matanya merah dengan menghardik.


Xiao Yu membalikkan tubuh menghadapinya dan berpura-pura terheran.


"Apakah tuan menegur saya?" tanya Xiao Yu dengan sikap biasanya.


"Siapakah namamu dan mengapa kau bersembahyang di depan kuburan ini?"tanya si mata merah itu tanpa memperdulikan pertanyaan Xiao Yu.


Sekilas pandang saja Xiao Yu dapat menduga bahwa delapan orang ini adalah orang kasar, golongan kaum sesat di dunia persilatan.


Dalam hatinya berkata kalau tidak mungkin mendiang kakek dan keluarga nya bersahabat dengan orang orang seperti ini, akan tetapi karena ia tahu bahwa kakeknya dahulu adalah seorang pendekar pedang yang amat terkenal dan mempunyai banyak sekali musuh di dunia persilatan, maka ia dapat menduga bahwa tentu mereka ini musuh-musuh kakeknya.

__ADS_1


Kalau orang orang ini memusuhi sebagai akibat dari sepak terjangnya selama ini, tentu mereka mengenalnya maka ia lalu menjawab sederhana dan berusaha mengelak dari pertempuran.


"Saya adalah bekas pelayan keluarga Xiao dan karena tidak ada lain orang lagi yang mengurus kuburan maka mengingat akan budi dahulu saya datang untuk memberi hormat." ucap Xiao Yu yang berpura-pura.


"Ha...ha....ha...! Siapa kira Siauw Bo dapat tertipu oleh seorang bocah pelayan sehingga terluput dari pembasmianmya!" seru si mata merah yang agaknya menjadi pemimpin di antara delapan orang itu.


"Hee, budak hina ! Belasan tahun yang lalu kau terluput dari kebinasaan, dan kami telah didahului Siauw Bo membasmi keluarga Xiao Chen. Biarlah sekarang kami menyempurnakan pembasmian itu sebelum kami berhasil mencari keturunannya terakhir yang kabarnya telah lolos!" seru yang lainnya.


Xiao Yu sangat kesal sekali dan tidak salah dugaannya. Delapan orang ini adalah musuh-musuh dari mendiang kakeknya. Ia sengaja memperlihatkan sikap takutnya.


"Tuan sekalian, siapakah dan kenapa kalian mengganggu saya yang tidak berdosa ini?" tanya Xiao yu yang menatap orang-orang yang ada dihadapannya satu persatu.


"Ha...ha....ha...! perlu kau ketahui agar nyawamu kelak cepat melapor kepada arwah tuanmu Xiao Chen!


Kami adalah delapan orang dari Timur yang terkenal dengan julukan Delapan Raja Laut Timur. Dahulu belum sempat membasmi keluarga Xiao Chen dan kedatangan kami untuk membongkar kuburan nya, untuk menghancur leburkan tulang tulang keluarganya. Dan kebetulan kau datang, karena kau adalah pelayan Keluarga Xiao maka kau tidak terluput dari pada pembalasan kami. Jadi bersiaplah untuk mampus budak cilik!" seru si mata merah itu dengan beringas dan bersiap menyerang Xiao Yu.


Mereka ini adalah orang orang jahat, tidak mempunyai pribudi dan prikemanusiaan buktinya mereka ini mempunyai niat yang amat keji, hendak membongkar kuburan dan merusakkan tulang keluarga Xiao.


Melihat datangnya pukulan yang dimaksudkan untuk merenggut nyawanya, Xiao Yu tetap bersikap tenang.Ia menanti saja karena dari gerakan si mata merah itu ia maklum bahwa tingkat kepandaian mereka ini biasa saia, walaupun si mata merah ini memiliki tenaga dalam yang cukup kuat.


Akan tetapi pada detik itu Xiao Yu terkejut dan terheran heran melihat berkelebatnya sinar putih yang kecil sekali yang meluncur dari arah kanannya serta menimpa lengan si mata merah, tepat pada jalan darah di pergelngan tangan.


"Takk....! Aduuhh.....l"


Si mata merah berseru kesakitan, tangannya lumpuh dan ia meloncat ke belakang sambil meringis dan memijat lengan kanannya. Dengan memakai jari-jari tangan kirinya ia cabut keluar sebatang jarum kecil yang menancap di pergelangan lengan itu.

__ADS_1


Xiao Yu menahan senyum karena maklum bahwa ada orang membantunya, biarlah ia akan berpura-pura bodoh supaya tidak mengecewakan hati si penolongnya, akan tetapi ketika ia menoleh dan melihat berkelebatnya bayangan orang yang menolongnya tadi ia melongo dan memandang kagum.


Ternyata dari balik pohon itu meloncat keluar seorang pemuda remaja yang sangat gagah dan tampan, sukarlah dipercaya bahwa pemuda itu yang tadi melepas jarum menolongnya.


Pemuda itu usianya paling banyak dua puluh tahun, wajahnya berkulit halus dengan matanya bersinar sinar penuh semangat.


Pakaiannya sederhana terbuat dari sutera warna hijau pupus dengan warna sabuk berwarna emas, sepatunya dari kulit berwarna hitam.


Pemuda itu melangkah keluar dari balik pohon sambil mengulas senyumnya dan tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan memegang sebatang rumput yang ujung tangkainya dia gigit dengan giginya. Sehingga tampak giginya yang berderet putih dan rapih, matanya mengerling dan melihat bergantian kepada delapan orang itu yang kini semua melihatnya dengan pandang mata merah.


"Delapan Raja Laut Timur kalian ini, ya! Wah betul-betul gagah perkasa, delapan orang raja menghadapi seorang pelayan yang tidak tahu apa apa. Sejak tadi pagi aku sudah curiga dan membayangi kalian, kukira kalian ini akan merampok dusun ini, kiranya malah lebih hina daripada perampok! sebab ternyata kalian bukan lain adalah tikus-tikus kuburan yang tak tahu malu!" seru Pemuda itu dengan sedikit menggerutu.


Makian "tikus kuburan" adalah makian yang paling menghina, karena yang dimaksudkan dengan tikus kuburan adalah pencuri-pencuri yang suka membongkar kuburan untuk mengambil benda berharga yang menempel pada tubuh mayat.


Dan diantara maling-maling, tikus kuburan inilah maling yang paling rendah serta dianggap hina dan rendah oleh aliran hitam sendiri sebab merendahkan "derajat" bangsa maling.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2