
Dua orang gadis perkasa itu kini rebab di atas lantai dengan mata melotot penuh kebencian.
"Kurang ajar kalian!"
"Coba saja satu lawan satu!"
Tan Li mengeluarkan suaranya yang memaki-maki Cun Sam dan juga empat perompak buaya merah itu.
"Hemm, dua pemuda ini sangat lihai, aku harus cepat melapor kepada yang mulia Ratu!" kata dalam hati Cun Sam.
"Kalian berempat! saya harap kalian berjaga agar mereka jangan sampai melarikan diri atau ditolong teman-temannya. Siapa tahu masih ada kawan-kawannya di sekitar tempat ini!" perintah Cun Sam pada keempat perompak buaya merah.
"Baik tuan Cun!" jawab keempat perompak buaya merah dengan serempak.
Setelah Cun Sam lari untuk melapor kepada Siauw Bo, perompak buaya merah yang terpukul roboh tadi, kini sudah dapat bangkit dan ia mengambil golok nya lalu melangkah maju. Dengan gemas ia mengangkat golok untuk dibacokkan ke leher Han Wen.
Merasa menghadapi ancaman maut, murid pertama biksu Ji itu
dengan mata terbelalak, sedikitpun tidak takut, berkedip pun tidak.
Akan tetapi perompak buaya merah itu memegang lengan adiknya.
"Eh, sebelum dia diserahkan pada yang mulia Ratu, aku ingin membalaskan kekalahanku terlebih dulu!" seru perompak buaya merah yang termuda itu dengan geram.
"Ha....ha...ha....! benar juga. Aku ingin memukul mereka dua sampai empat pukulan. Itu akan menjadi kepuasanku setelah sedari tadi sibuk bertarung dengan mereka!" balas perompak buaya merah yang tertua.
"Bagaimana kalau yang mulia ratu marah?" tanya perompak buaya merah yang lainnya.
"Bodoh! Kenapa yang mulia ratu marah? Kita tidak akan membebaskan mereka!" seru
orang kedua perompak buaya merah yang mengerti akan maksud kakaknya, maka sambil tertawa iapun menghampiri tubuh Tan Li yang berusaha meronta. Akan tetapi karena kedua tangannya terbelenggu.
"Dasar pengecut! beraninya kalian saat kami terluka! Hukk....Hukk....!" seru Han Wen sembari memegang dadanya yang sesak.
"Ha ....ha....! kami tak peduli, yang penting kami puas!" seru perompak buaya merah termuda dengan tawa kemenangannya.
"Cih! tak ada jiwa kesatria ya sama sekali!" celetuk Tan Li dengan mengeluarkan salivanya.
"Ksatriya? ha...haa....! kami tak butuh julukan ksatriya, karena kami adalah para perompak! perompak buaya merah, yang tak kenal aturan-aturan aliran putih! karena kami lebih suka masuk pada aliran hitam!" seru perompak buaya merah yang tertua.
__ADS_1
Terdengar suara empat para perompak buaya merah itu yang tertawa-tawa dan juga terdengar makian-makian dari dua orang pemuda yang tertawan, menggema di dalam gelap.
...****...
Di dalam istana tengah hutan yang mana Setan kipas merah yang penasaran dengan sosok gadis yang membuat gurunya kuwalahan menurut cerita dari para perompak buaya merah.
"Gadis itu ada di dalam kamar tamu dan dia memakai baju merah muda. Hm, apakah dia lebih cantik dari Ling Ling? ah tidak Tan Li!" gumam dalam hati setan kipas merah yang sedikit kesal jika mengingat Tan Li yang menyamar menjadi Ling Ling.
Tak berapa lama langkah kaki setan kipas merah berhenti tepat di depan pintu kamar tamu. Dia menyempatkan menoleh ke kanan dan ke kiri, karena dia tak mau kalau ada yang melihatnya masuk ke kamar tamu itu.
Setelah dirasa aman, bergegaslah dia membuka pintu dan masuk. Kemudian setan kipas merah menebarkan pandangannya terutama ke atas tempat tidur.
Memang nampak tubuh seorang gadis yang memakai pakaian berwarna merah muda terbaring tak sadarkan diri.
Setan kipas merah mengulas senyumnya, lalu dia menutup dan mengunci pintu kamar tersebut.
Setelah itu setan kipas merah melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur itu.
Nampaklah seorang gadis yang sangat cantik yang belum pernah dia kenal maupun melihatnya.
Wajah putih berseri dan bibir yang mungil, membuat jantungnya berdetak kencang.
"Luar biasa kecantikannya, dan aroma tubuhnya yang harum memikat hatiku." gumam dalam hati setan kipas merah yang jari tangan kananya mulai melancarkan aksinya.
Disentuhnya pipi mulus gadis yang ada dihadapannya itu, yang tak lain adalah Xiao yu yang tak sadarkan diri karena terkena racun dan juga beberapa tendangan dari para perompak buaya merah.
Melihat tak ada reaksi dari Xiao yu, setan kipas merah mendekatkan bibirnya pada bibir Xiao yu. Dan mulailah setan kipas merah menyentuh gadis yang sedang tak berdaya itu.
Beberapa menit kemudian, Xiao Yu terbangun dari tak sadarkan dirinya. Gadis itu kemudian membuka kedua matanya lalu mengeluarkan keluhan perlahan dan bulu matanya bergerak-gerak, tiba-tiba dia merasakan ada yang menekan urat-urat syarafnya yang akan bergerak menahan dirinya yang hendak meloncat.
Xiao Yu merasa ada tangan halus membelai rambutnya, bahkan kemudian hidungnya mencium bau harum. Ketika terasa olehnya sebuah bibir yang basah melekat di pipinya, ia terkejut lalu membuka sedikit matanya.
Dari balik bulu matanya ia melihat bahwa yang sedang mencium dan membelai rambutnya penuh kasih sayang itu adalah seorang laki-laki yang pernah dia kejar tempo hari.
Xiao Yu yang masih dalam kondisi sangat lemah itu, berusaha meronta.
"Aku cinta padamu. Oh, betapa cinta ku kepadamu....!" bisikan dari mulut laki-laki yang sangat tampan dihadapannya ini hampir membuat Xiao Yu pingsan lagi.
Gadis itu berusaha untuk menekan perasaan sehingga jalan darahnya normal dan pernapasannya halus
__ADS_1
seperti tadi ketika ia berada dalam keadaan pulas atau pingsan.
Pada saat itu, daun pintu kamar yang terkunci dari dalam diketuk oleh seseorang.
"Tokk....tokk.....tokk...!"
Setan kipas merah mengangkat wajahnya dari pipi Xiao Yu menengok lalu menghardik. Kalau tadi bisikannya halus merayu, kini hardikan nya galak dan keras.
"Setan mana berani menggangguku? Siapa kau...!" seru setan kipas merah dengan berangnya.
"Ampun tuan muda, hamba diutus yang mulia. Untuk memanggil tuan muda. Karena malam ini Istana tengah hutan di serbu oleb musuh-musuh yang kuat. Bantuan tuan muda sangat diperlukan!" jelas suara laki-laki dari luar pintu kamar tamu itu.
"Ah...! dari mana juga guru tahu kalau aku berada disini!" seru Setan kipas merah yang kecewa lalu membungkuk lagi mencium bibir Xiao Yu.
"Tidurlah yang tenang dulu, kekasihku!" ucap Setan kipas merah dengan mengulas senyumnya.
Kemudian ia menyambar pedangnya dan keluar dari kamar menutup kembali serta mengunci dari luar.
Setelah Setan kipas merah pergi, segera gadis itu menggerakkan kaki tangannya. Rasa perih dan sakit di beberapa bagian luka diwajah dan tubuhnya, untung lukanya sudah kering dan sembuh.
Akan tetapi gadis itu sempat mendengar laporan tadi bahwa Istana tengah hutan ini sedang diserbu musuh.
Karena penasaran, dia berusaha mengatur hawa murninya. Kemudian bangkit dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju ke arah daun pintu.
Mudah saja baginya buat mendorong daun pintu secara paksa sehingga terbuka, karena tenaga dan energinya perlahan-lahan telah kembali.
Kemudian Xiao yu meloncat keluar dan mengingat bahwa ia tidak bersenjata. Xiao Yu masuk ke dalam taman lalu mematahkan sebatang ranting dari sebuah pohon. Setelah itu ia melompat ke atas genteng, untuk melakukan pengintaian.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1
"