
Kemudian Xiao yu meloncat keluar dan mengingat bahwa ia tidak bersenjata. Xiao Yu masuk ke dalam taman lalu mematahkan sebatang ranting dari sebuah pohon. Setelah itu ia melompat ke atas genteng, untuk melakukan pengintaian.
Suara ketawa dan jerit makian laki-laki yang terdengar dari bangunan di sebelah belakang Istana tengah hutan, menarik perhatiannya.
Seperti seekor burung rajawali ia berlari secepatnya bagaikan terbang, kemudian ia meloncat ke atas genteng, dan melihat ke bawah. Apa yang dilihatnya di dalam kamar di bawah itu membuat darahnya mendadak menjadi panas sekali. Dua pemuda yang terikat kedua tangan dan kakinya sedang meronta ronta serta memaki-maki, sedangkan empat orang laki-laki yang ia ketahui sebagai para perompak buaya merah itu menampar dan menyiksa kedua pemuda itu.
Dan membuat memar dan darah segar diwajah kedua laki-laki itu. Dan sesekali mereka memukul ulu hati kedua pemuda itu secara bergiliran.
"Iblis keji bunuhlah kami !" teriak pemuda yang memaki-maki tadi sambil meramkan mata karena menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Ya, bunuhlah kami....bunuh saja kami....!" teriak pemuda kedua yang mulutnya mengeluarkan darah segar. Dua pemuda itu memaki-maki dan tidak takut melawan maut,.
Akan tetapi empat orang itu cuma tertawa dan laksana singa kelaparan sedang memperebutkan dua ekor domba gemuk, mereka masih saja menyiksa kedua pemuda itu secara bergantian.
"Manusia binatang....!"
Seruan ini disusul menyambarnya tubuh Xiao Yu ke bawah melalui genteng serta sebelum satupun diantara tangan empat para perompak itu kembali memukuli dan menyiksa kedua pemuda yang tampan dan kini banyak memerah di wajah dan tubuhnya.
Xiao Yu sudah menghantamkan tangan kiri yang terbuka jari-jarinya kearah mereka, membuat mereka bagaikan disambar petir dan terlempar kesana kemari.
Kepala mereka terasa pening dan pandang mata berputar putar dan sampai beberapa lama mereka tak dapat bangun. Masih untung bagi mereka bahwa pemuda itu hanya menghantam mereka dengan hawa pukulannya saja karena kalau tersentuh tangan yang penuh dengan jurus Tangan Sinar Sakti tentu tubuh mereka sudah tak bernyawa lagi.
Xiao Yu cepat bergerak memotong tali kulit yang membelenggu tangan Han wen dan Tan Li.
Kedua pemuda itu kemudian bangkit dan mengatur energi serta kuda-kudanya dan bersiap menyerang para perompak buaya merah itu.
"Dess...!"
Tubuh perompak buaya merah tertua terlempar seperti bola membentur dinding dan roboh kemudian mengerang kesakitan.
"Bukk!"
__ADS_1
Han wen juga menendang secara bergantian dua orang perompak buaya merah itu. Bagaikan dua ekor harimau yang sedang marah mereka menghantam dan menendangi empat perompak buaya merah itu.
Empat perompak buaya merah itu kini merintih dan mengaduh kesakitan karena hajaran dua pemuda itu, kemudian tanpa malu-malu lagi mereka berempat berlutut mengangguk-anggukkan kepala seperti ayam makan padi sambil minta minta ampun.
"Ampun tuan, kami minta ampun!"
"Ampuni kami tuan...!"
Adapun Xiau Yu yang bengong ketika melihat bahwa dua orang pemuda itu ternyata pandai ilmu silat. Bukan hanya pandai, malah ahli benar dan jelas bahwa tingkat kepandaian mereka jauh di atas tingkat empat perompak buaya merah itu.
Saking herannya, ia hanya bengong saja dan tak dapat dicegah ketika dengan tiba-tiba Tan Li menyambar sebatang golok empat orang itu yang tercecer karena dihajar, kemudian sambil memaki-maki, Ran Li tanpa ampun empat kali menggerakkan golok dan empat buah kepala manusia menggelinding di atas lantai dan empat tubuh menyemburkan darah dari leher yang buntung itu.
"Aghh.....!"
Mendengar suara ini, Tan Li yang beringas tapi Han wen yang biarpun marah tidak seganas adik seperguruannya.
Dengan cepat mereka membalikkan tubuh menghampiri gadis yang telah menolong mereka yang saat ini berdiri dan masih terbengong-bengong melihat apa yang baru saja terjadi.
"Nona terima kasih atas pertolongannya!" ucap Han Wen sambil memberikan sikap hormat pada Xiao Yu. Demikian pula dengan Tan Li.
Melainkan dia teringat dengan peristiwa hebat yang terjadi tujuh belas tahun lalu. Dimana malapetaka yang menimpa keluarganya dan yang merenggut nyawa semua keluarganya, telah mengguncang perasaan gadis ini.
"Memang benar, mereka memang pantas untuk dibunuh!" seru Tan Li dengan menebarkan pandangannya pada empat mayat yang tergeletak tanpa kepala itu.
"Ah, lekas kita cari suhu!" seru Han Wen yang tiba-tiba teringat akan guru nya yang memasuki Istana tengah hutan itu dari depan.
Setelah berkata demikian Han Wen menggerakkan tubuh meloncat keluar dari dalam kamar melalui lubang atap yang tadi dibuat oleh Xiao Yu.
Tan Li mengerling matanya ke arah Xiao Yu yang kebetulan gadis itu juga memandangnya.Gadis itu tersipu menunduk dengan sepasang pipi merah, kemudian menghela napas panjang untuk menekan perasaan yang tidak karuan.
"Aih, kenapa perasaanku jadi aneh jika melihat laki-laki yang tampan!" gumam Xiao yu yang bingung akan dirinya sendiri.
__ADS_1
Sejenak Xiao Yu tercengang menyaksikan gerakan dua orang pemuda itu yang cukup lincah, lalu ia pun melayang naik ke atas genteng dan berkelebat menembus kegelapan malam hendak mencari musuh besarnya, Siauw Bo.
Sementara itu kedua pemuda murid dari Biksu Ji, masih saja berlari mencari keberadaan guru mereka.
"Kakak seperguruan, dia hebat sekali...!" bisik Tan Li pada saat melihat bayangan kakak seperguruannya berkelebat di sampingnya.
"Eh, a..apa? eh i...iya!" jawab Han Wen yang lari seperti orang kehilangan semangat atau seperti dalam keadaan melamun itu terkejut dan karena itulah dia menjawab dengan gagap.
Kemudian mengatupkan bibirnya rapat dan menarik napas panjang dari hidungnya yang mancung.
"Kenapa tidak tanyakan namanya?" tanya Han Wen kemudian.
"Eh, benar juga!" seru Tan Li yang sedikit kecewa.
"Hm, eh dengar itu adik seperguruan!" seru Han Wen yang kemudian kedunya berhenti sebentar dan mendengar suara riuh di sebelah depan Istana tengah hutan.
Malam telah mulai menjelang pagi dan di antara keremangan cuaca fajar, mereka melihat berkelebatnya banyak orang di depan bangunan megah itu, juga banyak orang memegang obor.
Mereka menduga kalau gurunya berada di antara mereka, lalu meloncat dan berlari cepat sekali ke arah depan bangunan.
Dari atas genteng mereka mengintai dan alangkah kaget hati mereka melihat guru mereka dibantu seorang pendekar aliran putih yang berusia lanjut dan bermuka hijau yang bersenjata pedang butut, sedang mengeroyok seorang nenek yang amat lihai.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...
"