Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Mengejar Setan Kipas Merah ll


__ADS_3

"Bagaimana? apakah kalian masih sanggup melanjutkannya?" tanya Xiao yu seraya mengulas senyumnya.


"Wuuuut......!"


Tiba-tiba bayangan merah menyambar kedua anggota buaya merah itu. Dan membawa keduanya ke arah pelabuhan.


"Hei, siapa itu?" gumam dalam hati Xiao Yu yang melihat bayangan merah berkelebat membawa kedua lawannya itu.


"A...apakah dia juga anggota dari kedua laki-laki tadi? atau dia si setan suling merah?" tanya dalam hati Xiao Yu yang karena penasarannya, berusaha untuk mengejar bayangan merah yang membawa kedua lawannya itu.


"Hop hiaaat....!"


Sekali menghentakkan kaki, Xiao Yu melesat mengejar bayangan merah yang sudah menjauh darinya.


Sementara itu bayangan merah itu yang merupakan setan suling merah, yang sedang menyelamatkan kedua anggota buaya merah yang sebelumnya melawan Xiao Yu.


Si Setan kipas merah menghentikan larinya di pelabuhan dan berusaha memberikan hawa murninya pada kedua anggota buaya merah yang sedang tak sadarkan diri itu.


Diletakkannya kedua laki-laki itu disamping kanan dan kirinya, kemudian direntangkannya kedua tangannya dan tersalurlah hawa murni setan suling merah itu pada kedua anggota buaya merah itu.


"Hukk...Hukk...!"


Satu-persatu kedua anggota perompak buaya merah itu terbatuk-batuk, yang menandakan kalau mereka telah sadarkan diri.


"Masih untung kalian aku selamatkan! anggota perompak buaya merah, bisa kalah dengan seorang gadis! sungguh memalukan!" seru setan kipas merah itu dengan geramnya.


"Ma'afkan kami tuan, nona itu memang luar biasa. Jurus-jurus kami tak mampu menandinginya." ucap salah satu dari anggota perompak buaya merah yang masih menahan rasa sakitnya.


"Hm...! Baiklah, kalau begitu kalian lekas pergi ke perahu! Dan tunggu aku disana!" perintah setan kipas merah yang menatap kedua pengikutnya.

__ADS_1


"Siap tuan!" ucap kedua perompak itu bersamaan. Dan mereka pun terpisah, kedua perompak buaya merah itu melangkahkan kakinya menuju ke arah perahu yang berwarna hitam, sedangkan si setan kipas merah melesat ke arah dimana tadi dia meletakkan Ling Ling di semak-semak.


Sementara itu Xiao yu kehilangan jejak bayangan merah itu, dan dia sudah berada di dermaga. Kemudian dia menebarkan pandangannya di sekitar dermaga itu.


"Apakah mereka ada di dalam kapal yang berwarna hitam seperti tiga perompak kemarin ya?" gimana dalam hati Xiao Yu yang terus menatap sebuah kapal yang berwarna hitam yang hendak berlayar di sepanjang aliran sungai Yang.


Ketika hendak menuju ke kapal berwarna hitam tersebut, tiba-tiba banyak orang yang berdesak-desakan hendak menaiki beberapa kapal yang ada diantara kapal warna hitam yang menjadi incaran Xiao Yu.


Untuk sementara Xiao Yu disibukkan dengan para penumpang kapal-kapal yang bersandar di dermaga itu


Perahu-perahu yang bersandar di dermaga itu, satu oersatu berlayar di sepanjang Sungai Yang,. Tiba-tiba saja bayangan merah berkelebat diatas orang-orang dan termasuk diatas Xiao Yu. Dan gadis itu memperhatikan dengan seksama, bersiap mengejar bayangan merah itu.


Bayangan merah itu sampai di atas perahu hitam dengan membopong seorang gadis, yang kemudian dia letakkan di sebuah kamar yang terdapat di dalam perahu berwarna hitam itu.


Dua perompak itu sudah bergabung dengan empat perompak buaya merah yang duduk, di dalam perahu. Keenam anggota oerompak buaya merah itu, membiarkan anak buah mereka yang mengurus pelayanan perahu yang perlahan-lahan berlayar di aliran sungai Yang itu.


Mereka itu tidak tahu bahwa tak jauh dari mereka ada sebuah perahu kecil didayung seorang gadis yang mengikuti perahu besar mereka.


Walaupun hanya satu orang yang mendayung, namun perahu kecil ini meluncur cepat sekali, tidak pernah ketinggalan oleh perahu hitam besar yang berlayar cepat.


Gadis ini bertubuh kecil, berwajah cantik sekali dengan bentuk muka bundar, sepasang matanya bersinar tajam, namun tarikan mulut dan bentuk matanya membayangkan penderitaan hidup yang membuat wajahnya tidak bergembira.


Terselip di pingang, tertutup jubahnya tampak menyembul gagang pedang, dan menggeletak didekatnya dalam perahu terdapat sebatang tongkat rotan sebesar ibu jari kaki sepanjang satu meter.


Dialah Xiao Yu yang membayangi perahu hitam dari jauh melihat betapa perahu hitam itu berhenti di tepi sungai sebelah selatan, gadis itu pun dengan cepat menepikan perahu kecilnya.


Kemudian meloncat ke darat dan mengikat perahu kecil pada sebatang pohon di tepi sungai itu sudah melihat samar-samar bangunan besar indah di tengah hutan di tepi sungai itu.


Dengan cepat namun hati-hati Xiao Yu menyelinap di antara pohon-pohon menghampiri Istana di tengah hutan itu.

__ADS_1


Gerakan gadis ini amat cepat sehingga yang tampak hanya berkelebat bayang-bayang merah muda saja. Apalagi pada saat itu matahari belum menampakkan diri, baru cahaya kemerahan sebagai utusan atau pelapor sang raja siang, sehingga keadaan di dalam hutan yang terlindung daun-daun lebat itu masih gelap.


Sementara itu ke enam anggota perompak buaya merah yang mendarat, kemudian mengangkut peti hitam terisi emas masuk ke dalam gedung istana. Para penjaga pintu depan dan tengah yang sudah mengenal baik empat orang kepala bajak ini, memberi hormat dan mempersilakan mereka masuk.


"Yang mulia Ratu masih tidur silakan anda menanti di ruang tengah," kata pelayan kepala, seorang laki laki tua yang berjenggot putih.


Keenam orang perompak buaya merah itu mengenal pula kepada pelayan ini yang bukan orang sembarangan, melainkan seorang bekas tokoh pendekar aliran hitam yang berilmu tinggi dan dipercaya menjadi pelayan di istana tengah hutan itu.


"Terima kasih." ucap salah satu perompak yang mewakili teman-temannya, kemudian mereka menanti di ruang tamu. Dimana keadaan di ruang tamu itu amat meyenangkan dengan ruangannya yanglebar, terdapat bangku bangku bertilam kasur, terhias lukisan lukisan indah dan bau kembang semerbak harum memasuki ruangan itu dari jendela jendela besar berhentuk bulan purnama.


Setelah menanti agak lama dan cukup beristirahat di ruang tamu itu, akhirnya ke enam perompak itu bangkit dan cepat dan duduk dengan sopan. Ketika mendengar pelayan kepala memberitahu bahwa yang mulia Ratu sudah siap menerima mereka.


Dua diantara mereka menggotong peti hitam dan yang dua orang lagi berjalan di belakang mereka, lalu berempat memasuki ruangan dalam. Sedangkan yang dua lagi berjaga-jaga di ruang tamu itu.


Seorang wanita berpakaian serba hitam duduk di ruangan dalam yang keadaannya lebih mewah dari pada ruangan tamu. Kursi yang diduduki wanita itu terbuat daripada perak sehingga pakaiannya yang terbuat dari sutera hitam itu kelihatan menyolok sekali.


Wanita ini sukar ditaksir usianya, rambutnya sudah berwarna dua itu di gelung rapih dan berkilat karena minyak. Sedangkan wajahnya tidak setua rambutnya, masih kemerahan dan halus kulitnya serta masih cantik.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2