Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Siok Lan ditahan di ruang bawah tanah


__ADS_3

Di dekatnya tampak sebuah panci tertutup berisi makanan dan sebuah botol berisi air minum. Akan tetapi ia tidak perdulikan makanan dan minuman ini, lalu meloncat bangun. Pedangnya sudah tidak ada, tentu dirampas.


"Bedebah sialan....!" teriak Siok Lan yang mengutuk orang yang merampas pedang serta menahannya.


Sekarang Siok Lan tahu bahwa Pui San dan San Bwee adalah para pengkhianat yang berpura-pura


menjadi pejuang, guru mereka juga. Dan ia dapat menduga bahwa orang orang muda yang mengaku pejuang itu tentulah anak murid Kim hong dan Kim hong tentu membantu pemerintah Mongol.


"Terkutuk tujuh turunan kalian hai para pengkhianat bangsa!" seru Siok Lan yang kembali memaki sambil memperhatikan rang tahanannya yang hanya ada tembok dan satu pintu tebal dengan jendela kecil di bagian atas pintu, yang lebarnya hanya sebatas kening sampai hidung saja.


"Pengkhianat terkutuk! pengecut jahanam!" seru Siok Lan yang terus memaki-maki dengan suara keras sambil melihat keluar tahanan melalui jendela kecil itu.


Kemudian Siok Lan menghela napas panjang dan duduk bersila di atas tikar yang berada di dalam ruang tahanan itu, untuk memulihkan tenaga dan menenteramkan hati.


Laki-laki yang jatuh cinta pada Xiao Yu memulihkan tenaganya diatas tikar intuk menenteramkan hatinya karena ia tahu bahwa ia menghadapi bahaya maut yang datang tiba-tiba.


Seluruh dinding ruang tahanan yang ditempati Siok Lan, terlapis besi sehingga tidak mungkinlah baginya untuk bisa keluar dari ruang tahanan itu.


Akan tetapi ia yakin bahwa ia tidak akan dibunuh, setidaknya dalam beberapa lama ini karena kalau mereka menghendaki nyawanya, tentu dengan mudah ia sudah dibunuh ketika pingsan.


Lagi pula diri ya digunakan untuk memancing kakeknya dan Pendekar tanpa gelar, jadi masih ada harapa baginya bisa tetap hidup.


Siok Lan bersemedi dengan tekun dan perlahan napasnya menjadi normal kembali, tubuhnya terasa hangat dan segar, pikirannya tidak kacau balau lagi.


Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah hanya mencegah agar kedua orang itu terutama sekali kakek nya tentu saja, tidak sampai terjebak. Ia harus dapat memperingatkan kedua orang yang disayanginya itu sebelum mereka terkena jebakan dari para pengkhianat pejuang itu.


Setelah hatinya tenang ia membuka tutup panci dan mrutnya dengan makanan dan minuman air. Ia perlu menjaga kesehatannya dan tidak perdulikan apakah makanan dan minuman itu diberi racun. Dan ternyata tidak, karena memang apa perlunya meracuni seorang tawanan yang sudah tak berdaya apa-apa lagi.


Sementara itu Xiao Yu terus menggunakan jurus meringankan tubuhnya untuk mengejar dan mencari keberadaan Siok Lan.


Hatinya terasa tidak enak karena ia belum dapat menyusul Siok Lan. Kini ia tahu bahwa ia tidak akan dapat menyembunyikan rahasia dirinya lagi.Dia harus berterus terang kepada laki-laki yang dicintainya itu.


Dahulupun ia sama sekali tidak bermaksud membohongi dan mempermainkan Siok Lan, hanya


untuk mencegah agar laki-laki yang keras hati itu tidak memusuhinya, maka terpaksa ia terus menggunakan nama samaran di depan Siok Lan.

__ADS_1


Semalam suntuk Xiao Yu tak pernah berhenti mencari, karena tidak ada tanda-tanda yang ditinggalkan sebagai jejak Siok Lan dan dia tersesat jauh, kembali lagi mencari di sekeliling tempat yang ia duga Siok Lan ada di tempat itu, namun sia sia belaka.


Barulah pada pagi harinya, ketika mata hari telah bersinar, ia melihat sesuatu yang amat mengguncangkan hatinya. Pedang Siok Lan menggeletak diatas tanah, di luar sebuah hutan.


"Kakak Siok Lan!" panggi Xiao Yu secara lirih.


Jantungnya berdebar sambil dipungutnya pedang itu dan dilihatnya berkali-kali dan tak salah lagi. inilah pedang kekasihnya.


Sudah lama ia berdekatan dengan laki-laki itu jadi hafal olehnya semua benda milik laki-laki itu.


Jika Siok Lan sudah melepaskan pedang, berarti dia telah kalah dalam menghadapi lawan. Xiao Yu ban


"Hei, apa itu!" seru Xiao ia melihat sebatang jarum, jarum perak berkilauan di atas tanah tertimpa sinar matahari pagi. Dengan cepat Xiao Yu meloncat dan memungut jarum itu.


"Jarum ini milik Siok Lan! Hei, bukan hanya sebarang, disebelah depan ada lagi dan terus ada lagi! Jarum-jarum ini seperti tercecer atau memang sengaja dilempar- lembar untuk meninggalkan jejak?" gumam Xiao Yu yang makin


berdebar jantungnya.


"Mungkin saja Siok Lan kalah oleh musuh, tertawan dan sengaja melempar lemparkan jarum nya agar aku dapat mengikuti jejaknya!


Jejak itu masuk ke dalam hutan yang lebat itu!" gumam dalam hati Xiao yu yang menatap arah berhentinya jarum itu.


"Robekan kain dari baju Siok Lan ! Tidak salah lagi. Siok Lan ditahan musuh dan meninggalkan jarum jarumnya dan kemudian setelah jarum-jarumnya habis, mungkin kak siok Lan mulai merobek bajunya dan meninggalkan robekan robekan baju ini di sepanjang jalan ini!" gumam Xiao Yu yang terus memunguti kain-kain robkan itu.


"Kakak Siok Lan!"


Kembali ia mengeluh dan kini ia dapat maju dengan lebih cepat karena robekan-robekan kain itu lebih mudah ditemukan. Jejak itu membawa masuk sampai ke tengah hutan dan tiba-tiba tampaklah olehnya pondok di tengah hutan itu dan robekan kain pun habis sampai di depan pondok.


Xiao yu menjadi marah dan juga timbul harapannya untuk menemukan Siok Lan di dalam pondok ia mengerahkan jurus meringankan tubuhnya dan kemudian ia telah sampai ke depan,


pintu pondok itu, ditendangnya pintu pondok dan ia segera masuk.


Pondok itu kosong, dan di sekitar pondokpun kosong, tidak ada bayangan seorang pun manusia. Ia menjadi kecewa dan penasaran.


Ditelitinya tanah di sebelah belakang dan tampak olehnya jejak jejak kaki manusia. Jejak sepatu dan kaki itu besar tanda bahwa itu adalah jejak kaki seorang pria. Jelas jejak itu yang terus ia ikuti.

__ADS_1


Jejak itu berhenti sampai di dekat sebuah ruangan, dan Xiao Yu segera masuk keruangan tersebut.


Dalam ruangan itu nampak sebuah pintu di lantai yang terbuka, dan hal itu menunjukkan arah ke bawah tanah.


Tiba-tiba Xiao Yu bergidik dan sudah pasti menebak kalau tentu tempat itu adalah tahanan.


"Siok Lan....!"


Xiao Yu berteriak memanggil ke arah dalam ruangan tahanan itu.


"Pendekar-pendekar! bebaskan kami!"


"Bebaskan kami pendekar!"


Seru semua tahanan yang melambai-lambaikan tangannya minta untuk dibebaskan.


Xiao Yu segera membebaskan satu persatu mereka seraya terus mencari dan memanggil nama Siok Lan.


"Kakak Siok Lan....! Siok Lan...!"


Merasa ada yang memanggil namanya, Siok Lan bangkit dari duduknya dan segera menuju ke pintu dan segera melihat apa yang telah terjadi.


"Kakak Siok Lan....! Siok Lan...!"


Suara panggilan dari Xiao Yu yang sangat jelas dia dengar karena sudah hafal akan suara gadis pujaannya itu.


"Yu Tian eh Xiao Yu!" gumam Siok Lan yang mencoba melihat keadaan diluar tahanan lewat jendela kecil itu.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2