Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Mengalahkan Pengemis sabuk sutra merah


__ADS_3

Xiao Yu bingung dan hendak mencari akal untuk mencegah hal ini. Tiba-tiba dia terkejut.


Pengemis tua itu dengan tangan kirinya telah mengeluarkan mangkok dari tempurung kelapa di saku bajunya. Saat itu Siok Lan sedang menerjang dengan pedangnya ke tubuh bagian bawah si pengemis yang sudah terdesak.


Pengemis itu hendak mengadu jiwa karena ia sama sekali tidak mengelak, sebaliknya membarengi dengan totokan pula ke dada Siok Lan dan tangan kirinya yang memegang mangkok tempurung kelapa dan dihantamkan ke arah pelipis pemuda itu.


Gerakan pengemis itu jelas merupakan gerakan orang nekad yang hendak mengadu jiwa tidak memperdulikan sambaran pedang Siok Lan ke arah lambungnya itu.


Pedang pemuda itu pasti akan memasuki lambungnya, akan tetapi , salah satu serangan mangkok tempurung kelapa si pengemis agaknya akan mengenai sasarannya pula.


Melihat ini, Xiao Yu yang sudah memegang beberapa butir kerikil cepat mengayunkan tangan.


Sebuah kerikil mengenai pergelangan tangan Siok Lan yang memegang pedang, dan dua buah kerikil mengenai kedua pergelangan tangan pengemis itu.


Siok Lan berseru kaget, pedangnya menyeleweng dan cuma berhasil melukai paha si pengemis. Sedangkan sambaran kerikil kedua mengarah ke pergelangan tangan pengemis itu mengandung tenaga lebih kuat.


Pedang Siok Lan serta mangkok pengemis itu terlepas dari pegangan pemilik mangkoknya pecah jadi dua dan pedangnya jatuh ke tanah. Siok Lan yang kaget sudah lompat mundur memegangi pedangnya, tangannya masih kesemutan karena sambaran kerikil tadi.


Siok Lan terheran-heran dan terkejut, sama sekali tidak tahu bahwa yang membuat tangannya lumpuh adalah sebutir kerikil yang dilemparkan Yu Tian, dan menyangka bahwa si pengemis itulah yang melakukan hal ini.


Sementara pengemis itu terguling dam jatuh berlutut. Paha kirinya terluka mengeluarkan darah. Xiao Yu yang mau mencegah supaya Siok Lan tidak mererjang lagi lawannya yang sudah terluka itu, cepat lari menghampiri pengemis itu.


"Tuan, majikanku sedang melakukan perjalanan jauh, harap tuan sudahi saja pertengkaran ini?" pinta Xiao Yu.


Pengemis itu tak menjawab dan berusaha bangkit, namun tak sanggup. Bahkan ketika ia mengerahkan tenaga untuk bergerak, sama sekali tubuhnya tak dapat digerakkan.


Pengemis tua itu merasa betapa kedua tangan pelayan itu menindih pundaknya seperti dua buah gunung raksasa dan dia merasa penasaran sekali, mengumpulkan tenaga dari pusar lalu mengerahkan tenaga dalamnya.


Namun makin terkejutlah ia dan terpaksa meringis kesakitan ketika tenaga dalamnya itu sampai ke pundak bertemu dengan telapak tangan si pemuda pelayan, tenaganya itu membalik dengan cepat.

__ADS_1


Tentu ia akan celaka dan terluka kalau saja ia tidak cepat-cepat membayarkan tenaganya sendiri. Ia mengaadah dan memandang wajah pelayan itu.


Terkejut ia melihat betapa sinar mata pemuda itu sangat tajam berpengaruh, sampai-sampai ia bergidik. Kemudian ia mengangguk anggukkan kepala.


"Sungguh tak tahu malu! seperti


seekor tikus berani menantang sawah!" seru Siok Lan dengan geram.


Pengemis itu lalu berdiri terus memungut pedang dan mangkoknya yang sudah pecah, memasukkan pedang ke dalam tongkat, kemudian pergi dari situ dengan kepala tunduk dan langkah terpincang-pincang.


Siok Lan menyarungkan pedangnya dan mengangkat dada, menepuk-nepuk debu yang mengotori bajunya.


"Huh, tak tahu diri! Kalau dari tadi mengaku tikus bertemu naga, tentu tak perlu aku mencabut pedang." ucap Siok Lan yang menggerutu lalu menghampiri kudanya.


"Untung kelihaian tuan muda bermain pedang membuat dia kalah dan mundur." kata Xiao Yu yang tetap menyembunyikan identitasnya.


"Tapi bagaimana jika teman-temannya nanti datang? Tentu diantara kawan-kawannya ada yang lebih pandai." ucap Xiao Yu yang berharap pemuda yang menjadi tuan mudanya itu berlaku sabar dan tidak meladeni mereka.


"Aku tahu akan perkumpulan pengemis sabuk sutra merah dari kakekku bahwa ketuanya bernama Ang Cit kon yang berjuluk si Pedang pengemis dan memiliki ilmu pedang yang amat tinggi tingkatnya, kabarnya Ang Cit kong pernah itu dengan pedangnya mengalahkan si iblis Siauw Bo." jelas Siok Lan.


Xiao Yu menggerakkan pundaknya, kalau saja ia tidak jatuh bangun dalam cinta asmara terhadap Siok Lan, tentu saat itu juga ia sudah pergi meninggalkan pemuda itu.


"Saya tahu kelihaian tuan muda. Saya hanya mengharap agar tidak ada lagi perkelahian-perkelahian itu. Melihat tuan muda bertanding pedang, sungguh mengerikan sekali. Bagaimana kalau sampai tuan muda terbacok atau tertusuk pedang lawan?" ucap Xiao Yu yang tetap berusaha merendah.


"Tak mungkin! Kalau kena paling paling juga terluka dan paling hebat mati!" seru Siok Lan dengan mengulas senyum sinisnya.


Mendengar jawaban yang dikeluarkan secara tak acuh itu, Xiao Yu menghela napas untuk menekan perasaannya yang tergoncang.


"Kalau hanya terluka, tentu saja dapat mengusahakan obatnya, akan tetapi kalau sampai mati..." ucap Xiao Yu yang sambil berpikir.

__ADS_1


"Kalau sampai mati memangnya kenapa?" tanya Siok Lan yang penasaran.


"Kalau nona mati, bagaimana saya dapat melakukan perjalanan bersama dan melanjutkan ke kota raja?" jawab Xiao yu yang mengalihkan pembicaraan.


"Aihh kau aneh sekali Aliok. Kalau aku mati, kau dapat melanjutkan perjalananmu seorang diri, atau mencari majikan baru. Kenapa susah susah?" balas sekaligus tanya Siok Lan yang tertawa geli lalu meloncat naik ke punggung kudanya.


Pemuda itu tidak tahu betapa jawabannya yang berkelakar ini seperti pisau menusuk jantung Xiao Yu.


Kemudian Xiao Yu menyambar kendali di hidung kuda dan menuntun binatang itu. Kini ia berjalan di depan kuda membelakangi pemuda yang menjadi majikannya itu.


"Mari kita berangkat tuan muda. Jangan sampai kemalaman di Kaifeng, karena akan sukar mencari tempat penginapan kalau sudah malam!" seru Xiao Yu yang terus berjalan tanpa menoleh pada Siok Lan.


"Oh, baiklah!" balas Siok Lan dan kemudian mereka berjalan secara beriringan, dan sampai sekarang Siok Lan belum tahu kalau pelayannya itu seorang perempuan.


Tak berapa lama mereka telah sampai di kota yang dimaksudkan Xiao Yu, dan segera mereka mencari penginapan satu kamar dengan dua tempat tidur. Supaya keduanya bisa saling mengawasi dan menjaga satu sama yang lainnya.


Hanya semalam mereka bermalam di Kai feng, kota yang besar dan ramai itu. Akan tetapi bagi Xiao Yu hal ini amat menyenangkan hatinya, sebab, ia berdekatan dengan pemuda yang menjadi majikan-nya itu, yang makin lama makin menguasai cinta dalam hatinya itu.


Xiao Yu terus memandangi pemuda yang sedang tertidur pulas yang ada dihadapannya dalam posisi memiringkan tubuhnya ke arah dimana Siok Lan tertidur.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2