Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Si Bayangan Dewa dan Delapan Raja Timur Laut


__ADS_3

Dan diantara maling-maling, tikus kuburan inilah maling yang paling rendah serta dianggap hina dan rendah oleh aliran hitam sendiri sebab merendahkan "derajat" bangsa maling.


"Dasar bocah bermulut lancang!" bentak si mata merah yang kini telah biasa lagi. Tangan kanannya tidak sakit lagi dan hatinya lega sebab artinya jarum itu tidak beracun.


"Kau tidak mengenal betul siapa kami maka berani main gila. Apakah kau sudah bosan hidup? Hayo lekas katakan siapa namamu dan siapa gurumu, dan kenapa kau berani mencampuri urusan kami!" seru anggota delapan raja laut timur yang lainnya.


Pemuda itu melirik serta senyumnya makin melebar. Begitu tampan dan mempesona dan belum pernah Xiao Yu bertemu dengan pemuda setampan ini.


Entah kenapa segala gerak-gerik pemuda ini menarik hatinya, membuat jantungnya berdebar-debar serta membuat ia seperti berubah menjadi sebuah patung. Dimana dia tidak mampu bergerak atau bersuara, hanya memandang dengan mata terbelalak kagum.


"Hm, kalian ini delapan anak kecil berani menyombongkan diri terhadap tuan besarmu. Sungguh menjemukan! Siapa tidak mengenal kalian bangsat-bangsat kecil ini! Kalian adalah para perompak di laut Tung hai, sesumbar memakai julukan Delapan Raja, padahal tidak becus apa apa! Belasan tahun yang lalu kalian membajak sebuah kapal, hendak merampas harta dan menghina putera dan puteri pembesar Kwan di kapal itu! kemudian kalian dihajar habis-habisan sampai terkencing kencing oleh mendiang Xiao Chen Si Pendekar pedang Naga. Huh, kalian itu seperti delapan ekor anjing ketakuan melingkarkan buntut dan lari bersembunyi. Setelah Xiao Chen sekarang menjadi gundukan tanah pura pura mau gagah gagahan mau bongkar kuburan. Mencari gigi emas atau bekas sepatu! Tak tahu malu!" cerocos pemuda itu yang membuat Xiao Yu makin terbelalak.


Bagaimana pemuda yang masih muda sekali ini tahu akan peristiwa itu. Dia sendiri yang menjadi cucu Si pendekar pedang naga saja, tidak tahu dan tidak mendengar dari kakeknya atau ayahnya.


Dan sikap pemuda itu benar-benar terlalu berani dan juga amat jenaka dan lucu. Masa pemuda yang berusia dua puluh tahun bersikap seolah-olah delapan orang yang empat puluh tahun lebih umurnya seperti anak-anak saja.


Sementara itu anggota Delapan Raja laut timur itu yang menjadi kaget, malu dan marah bercampur aduk menjadi satu. Namun rasa kaget dan heran lebih besar.


"Budak cilik! Siapa kau?" tanya si mata merah itu dengan berang.


Pemuda tampan itu kembali bertolak pinggang, kemudian dengan gerakan lucu jenaka pemuda itu menuding hidungnya sendiri yang mancung itu.


"Kau mau tahu siapa tuanmu ini?

__ADS_1


Buka telinga lebar-lebar untuk mendengar, buka mata baik baik untuk melihat! Akan tetapi teguhkan hati agar kalian tidak akan roboh pingsan karena kaget dan mati ketakutan. Di depan kalian inilah pendekar muda yang mewarisi ilmu kesaktian dari Kun lun. Akulah yang berjuluk Si Bayangan Dewa. Setelah kalian berhadapan dengan Sian li, apa kalian tidak lekas berlutut? Hayo berlutut dan minta ampun, tidak juga minta ampun saya hitung sampai tiga kali, atau daun telinga kalian akan putus dari kepala kalian!" celetuk pemuda itu dengan gaya jenakanya.


Xiao Yu hampir tak dapat menahan ketawa, pemuda ini ucapannya begitu hebat dan sombong. Akan tetapi lucu dan sikapnya sama sekali tidak membayangkan kesombongan bahkan mata dan mulutnya itu membayangkan kenakalan yang jelas tampak oleh Xiao Yu bahwa ucapannya yang keluar dari mulut pemuda itu adalah ucapan yang disengaja, bukan untuk menyombong melainkan untuk mempermainkan delapan raja laut timur itu.


Xiao Yu makin tertarik dan ingin melihat sampai di mana keahlian pemuda itu, apakah ilmu silatnya selihai mulutnya. Melihat cara pemuda itu yang tadi menyambitkan jarum, dan dia tak meragukan kemampuan pemuda itu.


Tetapi karena delapan orang ini adalah orang-orang kasar yang dan


kejam, diam-diam ia bersiap melindungi pemuda yang menarik hatinya itu.


Delapan orang itu tentu saja menjadi marah sekali. Mereka belum pernah mendengar nama julukan Si bayangan Dewa, pendekar muda tokoh Kun lun. Karena itulah mereka memandang rendah pemuda yang masih begitu muda itu, bagaimana mungkin memiliki kepandaian yang tinggi.


Diantara delapan orang itu, terdapat seorang yang mata kirinya buta.


Asal wanita muda dan cantik, tak perduli wanita itu isteri orang, ia tak mau berhenti kalau belum dapat menculiknya. Mata kirinya juga menjadi buta karena kesukaannya mempermainkan isteri orang karena dahulu ia pernah tertangkap basah, dikeroyok orang sedusun.


Walaupun ia berhasil melarikan diri mengandalkan kepandaiaanya, namun mata kirinya tertusuk pedang dan menjadi buta sebelah.


Namun mata yang tinggal sebelah itu tidak mengurangi sifatnya yang buruk, bahkan ia menjadi makin gila karena merasa sakit hati melihat betapa wanita-wanita yang merasa jijik kepadanya karena sebelah matanya.


Ia bersama tujuh orang saudaranya tidak berani mengganas lagi dan terpaksa menyembunyikan diri setelah muncul Si pendekar pedang naga Xiao Chen yang melabrak mereka di atas perahu pembesar.


Kini melihat pemuda tampan itu, Ia sudah meloncat maju.

__ADS_1


"Kakak mata merah! serahkan anak kucing ini kepadaku!" seru laki-laki dengan mata satu itu.


"Baiklah kalau itu mau kamu, memang dia lebih pantas untukmu!" seru si mata merah menyeringai dan mundur, ia masih memandang rendah pemuda itu serta merasa yakin bahwa adiknya mampu mengatasi pemuda tampan itu.


Si mata satu maju mendekati pemuda tampan dan jenaka itu, namun pemuda itu menggerak-gerakkan cuping hidungnya yang mancung.


"Ihhh, bau busuk! Kau ini si mata buta, keringatmu bau bangkai itu pertanda bahwa sebentar lagi kamu akan menjadi bangkai!" seru si mata satu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang besar besar dan berwarna kuning di balik bibir yang membiru.


"Heh...heh, anak muda yang manis! Mau kulihat apa yang kau akan lakukan dan katakan sesuai dengan nyali kamu! heh....heh.....!" seru si mata satu itu.


Dan belum habis ucapannya, tiba tiba si mata satu ini sudah menubruk maju dengan gerakannya yang cepat sekali. Kedua lengannya dikembangkan, sepuluh jari tangannya juga terbuka dan dengan gerakan gesit ia merangkul leher dan pinggang pemuda tampan itu.


Gerakan yang digunakan oleh mata satu itu adalah jurus ilmu silat yang bernama Macan Lapar Menubruk Kelinci semacam jurus serangan dengan pukulan bertubi-tubi dari kedua tangan, akan tetapi oleh si mata satu ini dirobah menjadi tubrukan buat menerkam tubuh lawannya.


"Menjijikkan!" pemuda tampan itu yang berseru dengan marah dan ia hanya menggeser kaki miringkan tubuh saja, gerakan ini cukup membuat si mata satu menubruk tempat kosong.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2