Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Memancing kemarahan Lawan


__ADS_3

Kemudian dengan sikap memandang rendah Cui Hwa mengarahkan pedangnya kepada Pui Tiong.


Tadinya Pui Tiong sangatlah marah, tapi pada saat menatap kakak seperguruannya, dia melihat Can Bwee berkedip maka Pui Tiong mengundurkan diri tanpa berkata sesuatu


.


Seperti telah diharapkan banyak orang dengan pancingan tantangan Cui Hwa terhadap tamu istimewa Siok Lan yang dianggap telah memusuhi perkumpulan pengemis sabuk sutra Merah sebagai teman-teman seperjuangan mereka ini Siok Lan bangkit berdiri.


Xiao Yu sudah siap menghindarkan Siok Lan dari pada bahaya, dengan cepat bangkit dan berdiri bahkan berlari lari mendahului majikannya itu ke tengah lapangan. Dimana Cui Hwa masih berdiri.


Sambil tertawa tawa ia berkata, mendahului Siok Lan yang sudah hendak menegurnya.


"Eh tuan! Bukankah jurus yang


dipertontonkan tadi, menjepit pedang sama persis dengan jurus yang pernah nona ajarkan kepada saya? Namanya juga hampir sama! Heran kenapa bisa sama, bukankah yang tuan ajarkan itu hanya untuk tontonan anak kecil?" ucap Xiao Yu yang membuat Siok Lan tercengang, mendengar pelayannya berucap seperti itu.


Namun dia mengerti apa yang dimaksud oleh Yu Tian si pelayannya itu.


"Kau betul, Yu Tian! Baiknya kau ingatkan aku, hampir aku lupa. Memang sudah pernah kuajarkan padamu. Leher tidak luka oleh bacokan pedang itu namanya ilmu leher kepala batu. Dan ilmu menjepit pedang dengan jari itu namanya jurus Kucing menyambar tikus!" sahut Siok Lan sembari mengulas senyumnya.


Mendengar percakapan majikan dan pelayan itu, membuat Cui Hwa geram. Karena dari percakapan mereka itu, bisa diartikan menghina jurus yang dia tampilkan tadi.


Para tamu yang semula memandang dengan wajah tegang, dan kemudian mendengar akan hal yang lucu ini membuat mereka ingin tertawa terbahak-bahak.


Wajah Cui Hwa memerah, menunjukkan akan kemarahannya yang hampir tak dapat ditahannya lagi.


"Kurang ajar!" umpat Cui Hwa yang sudah nampak geramnya.


Kemudian Siok Lan mencabut pedangnya dengan gerakan yang indah dan cepat. Semua orang tertegun kagum menyaksikan sinar pedang putih kemilau dari pedang perak itu.


"Yu Tian! Ayo kita perlihatkan apa yang telah kita latih dahulu. Aku akan bacok lehermu, keluarkan Ilmu leher kepala batu kemudian kau cakar pedang ini dengan jurus kucing menerkam tikus!" seru Siok Lan dengan maksud mengajak Yu Tian, yang tentu saja semakin memancing kemarahan Cui Hwa.


Xiao Yu pun semakin bersemangat, karena Siok Lan mengerti dan paham di dengan tak-tik ya tadi.


"Baiklah, tuan muda! Biar semua orang melihat bahwa biarpun saya hanya seorang pelayan, tentu saja mengenal jurus kucing menerkam tikus ini!" balas Yu Tian yang bersemangat.


Siok Lan memainkan pedangnya, memutar mutar ke atas.


"Hiaaaatt!"


Pedang itu menyambar leher Xiao Yu, dan dia maklum kalau majikannya itu sudah tahu akan keadaannya yang tidak pandai silat.

__ADS_1


Maka ia pun sengaja membuat gerakan takut sehingga tampak lucu. Pedang itu meluncur dan berhenti tepat setelah menyentuh kulit leher Xiao Yu.


Dari situ saja para ahli yang hadir di situ maklum bahwa Siok Lan memang seorang ahli pedang yang hebat. Karena pandainya Xiao Yu yang bersandiwara, Siok Lan bertindak dengan hati-hati sekali agar pedang nya tidak sampai melukai pelayannya.


Sebelumnya Siok Lan telah mengukur tenaganya dan tepat sekali pedangnya sudah terhenti ketika menyentuh kulitbleher pelayannya.


Xiao Yu lalu mengangkat tangannya, ditekuk jari-jarinya seperti yang dilakukan Cui Hwa tadi, lalu perlahan-lahan ia menggerakkan jari-jarinya menjepit pedang.


Pelayan Siok Lan itu sengaja membuat jari-jarinya seperti tidak kuat dan takut menghadapi mata pedang yang tajam, karena itu dia menggunakan pula tangan kirinya membantu. Barulah jari-jari kedua tangannya dapat menjepit pedang dan diangkatnya ke atas.


"Inilah jurus Kucing menyambar Tikus! Ciiiieet..ciiieeet...!" seru Yu Tian seraya berjingkrak-jingkrak dan berputaran di lapangan itu menjinjing pedang.


Semua yang menyaksikan pertunjukan yang lucu ini pun tertawa terbahak-bahak, apalagi A bo yang sampai terjungkal dari bangku yang didudukinya karena terpingkal-pingkal.


Kemudian A Bo bangkit dan menghampiri Xiao Yu dan mengacungkan jempolnya.


"Wahh, siapa kira tuan muda telah memberi pelajaran begini hebat. Dan siapa duga saudara Aliok ini ternyata seorang pandekar yang hebat! Ha.....ha....!" seru A BI seraya tertawa riang.


"Kami sendiri, sudah dipilih menjadi tukang perahu Siok Lan. Tentulah bukan orang sembarangan pula. Ini aku ketahui benar!" ucap Xiao Yu sesudahmengembalikan pedang kepada Siok Lan yang kemudian Siok Lan menyimpannya,


Ketika suara ketawa mereda dan terdengar bentakan nyaring. Inilah suara Cui Hwa yang menjadi marah bukan main.


bertiga.


"Eh, paman A bo. Kau ditantang tuh!


Beranikan?" goda Xiao Yu seraya mengulas senyumnya.


"Aku...aku? kenapa aku diikutkan?" ucap A Bo yang gugup, tentu saja A bo tidak berani dan wajahnya pucat serta kedua kakinya menggigil.


"Ha ..ha...ha...!" terdengar tertawa Cui Hwa yang mengejek dan memandang rendah sekali lawannya.


"Kau tadi benar benar menantang kami? Termasuk paman A bo tukang perahu ini?" tanya Xiao Yu yang memastikan.


"Betul sekali, hei pelayan hina dina!" seru Cui Hwa dengan senyum sinisnya.


"Aduh aku...aku...!" ucap A Bo yang kembali gemetaran.


"Tahan, paman A bo, tak perlu kamu merendahkan diri! aku tahu bahwa dalam mengadu kepandaian, kau jauh lebih menang dari pada Saudari Cui ini. Jadi kenapa kau harus pura-pura takut?" ucap Xiao Yu dengan siasatnya.


Belum sempat A bo membantah, Xiao Yu berkedip kepadanya untuk memberi kode.

__ADS_1


"Saudari Cui, di sini banyak saksi.


Benarkah kau berani menantang paman A bo untuk mengadu kepandaian? Siapa yang kalah harus cepat angkat kaki dari sini. Beranikah Kau?" ucap Xiao Yu yang memberi pilihan.


"Boleh! Suruh dia maju akan kupatahkan batang lehernya !" seru Cui Hwa.


Xiao lalu menghampiri A bo yang masih gemetaran, lalu mendekatkan mulut di telinga tukang perahu itu beibisik-bisik.


Seketika cerah wajah A bo dan sambil mengangkat dada, ia melangkah maju menghampiri Cui Hwa. Tetapi masih tampak jelas kedua kaki A bo yang menggigil sehingga keadaan yang lucu ini membuat semua orang tertawa geli.


Hanya Huang ho yang marah karena mereka sendiri merasa terhina oleh pelaya-pelayan Siok Lan yang menganggap tempat itu sebagai panggung sandiwara di antara mereka.


"Saudariku!" kata Huang Ho dengan suara lantang.


"Seorang gagah tidak akan menjilat ludahnya sendiri. Betul?" lanjut ucap Huang Ho.


"Betul!" bentak Cui Hwa dengan keras dan hal itu membuat si tukang perahu itu kelihatan kaget.


"A bo yang menantang kamu untuk mengadu kepandaian. Betul?" tanya Huang Ho.


"Betul!" jawab Cui Hwa Hwa yang sudah mengepal tinjunya, karena kedua tangannya untuk mematahkan leher tukang perahu itu.


"Jadi mulailah!" seru Huang Ho geram.


"Baiklah! aku yang akan menentukan apa macam pertandingan. Betul dan boleh kau pilih. Tangan kosong atau bersenjata !" seru Cui Hwa dengan lantang.


Tukang perahu itu mengangkat alisnya.


"Siapa bilang dengan tangan kosong? Siapa bilang pula bersenjata! Tentu saja dua macam pertandingan kan? Pertama dengan tangan kosong, kedua dengan senjata!" seru Xiao Yu yang membantah ucapan Cui Hwa.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2