Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Membebaskan Setan Kipas Merah


__ADS_3

Siauw bo yang terkenal keji, suka menyiksa dan membunuh manusia lain ini pada hakekatnya hanya seorang pengecut besar.


Ia lalu menoleh ke bawah dan apa yang dilihatnya membuat ia menahan napas. Mayat mayat bergelimpangan dan bertumpuk. Darah mengalir membuat halaman depan itu menjadi genangan air merah. Dua orang gadis dan dua orang pemuda masih mengamuk.


Sisa para perompak buaya merah yang tinggal paling banyak dua puluh orang lagi. Mereka ini hanya berani melawan karena terpaksa, karena melarikan diri berarti mati oleh senjata dua orang pemuda yang gagah perkasa itu. Maka mereka melawan dengan mati-matian.


Melihat ini Xiao Yu menggerakkan tubuhnya, melayang turun dan menggerakkan rantingnya.


"Trang.... trang... trang... !"


Semua pedang di tangan empat orang muda terlempar dan terlepas dari pegangan, menjura kepada mereka berempat.


"Maaf, saya rasa cukup banyak penyembelihan." ucap Xiao Yu.


Kemudian ia membalik dan berkata, suaranya tetap halus akan tetapi penuh wibawa.


"Kalian tidak lekas berlutut minta ampun kepada empat orang pendekar ini dan berjanji merubah watak jahat?" tanya Xiao yu seraya menatap dua puluh perompak buaya merah itu, lalu para perompak buaya merah itu melempar senjata masing masing dan menjatuhkan diri berlutut mengangguk-anggukkan kepala minta minta ampun.


Xiao Yu lalu meninggalkan empat orang muda yang terbengong, sekali melompat ia sudah berada di tengah tengah pertempuran antara Setan kipas merah dan dua sahabat kakeknya Xiao Chen.


Memang patut dikagumi kelihaian setan kipas merah, biarpun dikeroyok dua orang pendeta berilmu tinggi serta sudah sejak tadi ia terdesak dan terus dihimpit, namun dua orang lawannya belum juga berhasil merobohkannya.


Hanya dua kali ia terkena senjata lawan, sebuah gebukan tongkat Biksu Ji mengenai pinggir pinggulnya, serta pedang Kwe cheng menyerempet pundaknya. Akan tetapi ia masih terus bisa bertahan, keringatnya telah membasahi seluruh tubuh,.


"Berhenti...!" seru Xiao Yu yang tiba-tiba sudah berada di tengah mereka.


Kedua pendeta itu melangkah mundur serta menatap aneh, sedangkan setan kipas merah terhuyung huyung karena lelahnya. Lalu menjatuhkan diri duduk di atas tanah, kipas merahnya melintang di atas pangkuan.


"Harap guru berdua sudi memaafkan kelancangan murid karena memintakan ampun pada dia." ucap Xiao Yu yang menuding ke arah Setan kipas merah.

__ADS_1


Hal itu membuat setan kipas merah yang melihat ke arahnya dengan mata terbelalak heran, tercengang serta juga kagum.


"Amitabha...! apakah nona Yu tidak tahu betapa jahatnya pemuda ini dan betapa berbahayanya membiarkan dia hidup serta menggoda gadis-gadis yang tak berdosa?" tanya Biksu Ji yang penasaran.


"Yu'er dia ini adalah Siauw Hu si setan kipas merah, adik sekaligus murid Siauw Bo yang amat cabul dan ganas. Dua orang murid saya hampir saja menjadi korbannya.


Dia jahat sekali patut dibunuh. Mengapa kau menghalangi kami? Ha ...ha...ha....! nona muda, apakah kau mau mengecewakan gurumu dan kami dengan kenyataan bahwa kau tergila gila oleh ketampanannya?" ucap si bocah tua nakal yang sedikit menyentil hati Xiao Yu.


Gadis itu tidak memperlihatkan kemarahan, akan tetapi matanya yang merah mengeluarkan sinar berkilat yang membuat Kwe cheng membungkam mulutnya.


"Guru berdua! Kalau murid membiarkan dia ini tewas di depan mata murid, hal ini bahkan akan membikin malu hati murid, seorang pendekar harus mengenal budi, membalas kebaikan dengan kebaikan pula berlipat ganda. Membalas kejahatan dengan keadilan tanpa dibutakan perasaan dendam. Murid pernah ditolong wanita ini, kalau tidak ada wanita ini, tentu sudah tewas di tangan Siauw Bo. Oleh sebab itu, mana bisa murid membiarkan saja dia terbunuh di depan mata murid. Harap guru sudi memaklumi hal ini serta memaafkan murid. Kalau guru berkeras mau


membunuhnya sedangkan di sini sudah begini banyak manusia terbunuh biarlah murid menebusnya serta menerima kematian di tangan guru" jelas Xiao Yu dengan sikap hormat.


"Amitabha....!"


"Siancai, kau hebat. Ha...ha...ha...! Gurumu dahulu mengalahkan kami, sekarang muridnya. Ha...ha...ha... !" seru biksu Ji seraya tertawa.


Dua orang sahabat Xiao Chen itu lalu melangkah mundur sampai tiga tindak, pertanda mereka tidak akan menyerang setan kipas merah.


Xiao Yu membalikkan tubuh ke arah setan kipas merah.


"Tuan, kau telah menyelamatkan jiwaku dari tangan Siauw Bo, sekarang aku telah menebus jiwamu dari tangan kedua locianpwe maka sudah tidak ada budi apa apa lagi di antara kita. Kita berselisih jalan. Hanya aku memberi nasihat kepadamu, tinggalkanlah jalan gelap, carilah jalan terang. Kamu pemuda tampan dan masih muda, serta berilmu tinggi. Masih belum terlambat bagimu buat bertobat dan merubah jalan hidup. Kalau kelak kita saling berjumpa serta engkau masih tetap terbuat jahat, terpaksa aku harus menamparmu?" ucap Xiao Yu.


Gadis yang membawa kipas emas itu sejenak melihat ke wajah gadis yang memakai baju merah muda itu, penuh harap, penuh rindu serta penuh kasih. Tetapi ia melihat sinar mata Xiao yu tetap diam seperti air di telaga barat. Lalu ia mengangguk, kemudian dengan sedu sedan naik dari dada nya, ia memutar tubuhnya lalu lari pergi dari tempat itu.


Setan kipas merah pergi dengan sekelebat, kemudian dia sahabat kakek Xiao Yu memerintahkan sisa-sisa anggota perompak yang takluk buat merawat temannya yang terluka serta mengurus mayat mayat yang bergelimpangan, kemudian Biksu membawa dua orang murid wanitanya ke tempat terpisah.


Biksu Ji menghampiri kedua muridnya yang sedang mengobati tubuh mereka masing-masing.

__ADS_1


"Han Wen dan juga Tan Li, secara kebetulan sekali kita dapat bertemu dengan sahabatku Kwe cheng dan dua orang muridnya. Guru lihat dua orang muridnya itu baik dan juga cantik, dan guru akan menjadi bahagia sekali andaikata kalian dapat berjodoh dengan dua orang murid sahabatku Kwe cheng itu. Bagaimana pendapat kalian? Kalau cocok, akan guru bicarakan dengan Kwe Cheng?" tanya Biksu Ji pada kedua muridnya.


Tan Li dan Han Wen tiba tiba menubruk kaki gurunya yang sedang duduk bersila itu sambil berlutut.


"Guru, bolehlah kiranya murid menjalin hubungan dengan cucu sahabat guru?" tanya Han Wen dengan rasa hormat.


"Iya guru, kami menaruh hati padanya guru. Kiranya guru dapatemberikan restu pada kami." ucap Tan Li dengan masih berlutut dan menunduk dengan hormat.


"Bagaimana maksudnya?" tanya Xiao Yu yang penasaran.


'"Maksudnya kedua muridku menyukai kamu Yu'er." ucap Biksu Ji


"Guru, ampunkan murid." ucap Tan Li kemudian.


"Murid sudah berjanji dalam hati, kalau murid menyukai saudari Yu dengan segenap rasa dan raga Li'er." ucap seraya menundukkan kepalanya.


Demikian pula dengan Han Wen yang juga melakukan sikap yang sama.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2