
Sekali ia dapat merobohkan gadis ini, yang lain lain bisa mudah dibereskannya. Sambil menerjang, ia mengeluarkan suara siulan yang merupakan ilmu tersendiri untuk melemahkankan semangat lawan-lawannya.
Tetapi Xiao Yu dengan tenang melayani, tongkatnya telah mempunyai gerakan mantap serta setiap jurus serangan musuh dapat ia punahkan, mulailah ia mengerahkan semua tenaga serta perhatian buat memainkan jurus-jurus yang mengurung dan memikat.
Jurus-jurus inilah yang ditakuti Siauw serta membuatnya kewalahan, karena dulu ketika melawan sa Shuang, ia kerepotan dengan jurus ini, jurus yang membuat tongkat gadis itu kadang-kadang tanpa ia ketahui telah mengancam tubuhnya bagian belakang walaupun gadis ini menyerang dari depan.
Siauw bo yang menjadi repot sekali karena tekanan tekanan jurus yang aneh ini serta beberapa kali hampir saja jalan darah di punggungnya terkena totokan ujung ranting, ia lalu mendapat akal. Ia berseru keras serta segera merobah gerakan, kini memainkan jurus yang ia sebut kipas Naga Siluman.Gerakan jurus ini betul-betul hebat sekali.
Kipas emasnya berubah menjadi gulungan sinar hitam yang
membuat lingkaran-lingkaran seperti angka delapan berputaran melingkari seluruh tubuhnya sehingga tidak saja bagian depan yang terlindung, tetapi di bagian belakang juga terlindung oleh sinar kipas itu.
Benar saja cara bertahan seperti ini membuat jurus yang dimainkan Xiao Yu mulai dapat terbendung bahayanya.
"Bagus"! Hebat kau, Siauw Bo!" seru Xiao Yu yang sedikit memuji karena merasa baru sekali ini selama hidupnya ia bertemu musuh yang begini lihai.
"Mampuslah setan cilik!" seru Siauw Bo dengan memekik keras dan saat ini kipas emasnya kini telah melindungi tubuhnya menjadi tameng baja, lalu tangan kirinya bergerak-gerak memukul ke arah dada Xiao Yu dengan gerak pukulan tenaga dalam beracun.
Ilmu pukulan tangan semacam ilmu pukulan yang amat cepat dan hawa beracun yang disalurkan dalam pukulan ini bisa membuat orang yang menghadapinya, darah menjadi kering. Hawa panas yang keluar dari telapak tangan kiri nenek itu menyambar serta terasa panas di tubuh Xiao Yu.
Gadis ini terkejut, tetapi dengan tenang ia lalu menahan napas menyalurkan hawa saktinya, membiarkan dadanya terpukul akan tetapi dengan cepat sekali tangan kirinya mengetok siku musuh yang kiri.
"Dess.... takkk...!"
Siauw bo menjerit kesakitan karena biarpun pukulannya tepat mengenai dada lawannya, tetapi tulang sikunya juga patah oleh ketukan jari tangan gadis itu.
Xiao Yu terlempar sampai empat meter lalu terjatuh roboh, tetapi ia sudah melompat dan bangkit lagi dengan muka agak pucat. Sementara itu Siauw bo meringis kesakitan sejenak termangu, terus sambil memekik keras tubuhnya melayang naik ke atas genteng.
Tangan kirinya lumpuh dan tangan kanan masih tetap mencekal kipas emasnya.
__ADS_1
"Siauw bo hendak lari ke mana kau...!" seru Xiao Yu yang juga melompat untuk mengejar ke atas genteng.
Pada saat tubuh gadis ini melayang Siauw bo membalikkan tubuhnya dan dari kipas emas yang dikibasnya menyambar sinar hitam kehijauan yang amat berbahaya itu.
Xiao Yu memutar rantingnya menangkis dan begitu kedua kakinya hinggap di atas genteng, nenek itu telah menerjangnya. Mereka melanjutkan pertandingan di atas genteng Istana tangah hutan.
Sinar matahari telah menerangi tempat itu dan kini pertandingan antara kedua musuh besar itu terjadi di atas genteng disinari cahaya matahari pagi.
Saat ini keadaan Siauw bi sudah terdesak hebat oleh Xiao Yu apalagi sekarang dalam keadaan tulang lengan kirinya patah, biarpun ia bermain kipas emas dengan tangan kanan namun ia membutuhkan tangan kirinya sebagai imbangan gerakan dan juga sebagai pancingan, ancaman, tangkisan atau serangan.
Dengan lumpuhnya lengan kirinya, ia kehilangan hampir setengah kesaktiannya dan sebentar saja ia sudah mandi keringat dingin dan menjadi pucat sekali.
"Xiao Chen! Kenapa bukan engkau sendiri yang datang membunuhku!" Tiba tiba nenek itu menjerit dengan suara menyayat hati.
Mendengar ini teringatlah Xiao Yu akan kakeknya, akan ayah bundanya, paman bibinya, dan saudara saudaranya yang terbunuh iblis ini dan tak tertahankan lagi ia menangis terisak isak.
Air matanya membanjir ke atas pipinya dan tentu saja menghalangi pandang matanya.
Dalam keadaan seperti itu, Siauw bo tidak menyia nyiakan waktu. Kipas emasnya berkelebat menusuk leher Xiao Yu dengan kecepatan yang tak mungkin dapat dihindarkan lagi.
Xiao yu terkejut, cepat membuang diri kesamping sambil tongkatnya bergerak dari bawah. Namun patukan kipas emas itu masih mengenai pundaknya dan darah muncrat dari daging di atas pundak kirinya. Akan tetapi Siauw bo roboh terguling sambil menjerit ngeri.
Ternyata pada detik yang bersamaan, ujung ranting di tangan Xiao Yu telah berhasil menotok jalan darah di ulu hati Siauw Bo dan membuat tubuhnya seketika menjadi lemas dan wanita tidak kuat berdiri lagi.
Xiao Yu dengan tangan kiri memegangi pundak dan tangan kanan memegang ranting dengan air mata bercucuran, melangkah maju di atas genteng menghampiri lawannya yang masih memegang Kipas emasnya akan tetapi sudah tak berdaya, rebah miring dan mendekam di atas ganteng.
Dua pasang mata bertemu pandang, yang sepasang penuh kebencian bercampur ketakutan, yang sepasang lagi penuh kebencian bercampur keharuan.
Tangan yang memegang ranting menggigil. Terjadi perubahan pada raut wajah Siauw bo. Kini sinar kebenciannya lenyap yang tinggal hanya ketakutan. Tubuhnya menggigil mukanya pucat sekali dan bibirnya yang gemetaran.
__ADS_1
"Jangan....Jangan siksa aku! ah jangan siksa aku...!" racau ketakutan Siauw bo ketika Xiao Yu melangkah maju setindak lagi, Siauw bo menggerakkan kipas emasnya dengan sisa tenaga terakhir ia mengetuk kepalanya sendiri.
"Krakk...!"
Terdengar suara dan kepala nenek iblis ini pecah, darah dan otaknya berhamburan serta nyawanya melayang entah ke mana.
Xiao Yu berdiri dengan muka pucat memandang mayat musuhnya, kemudian dengan air mata berlinang ia berdongak ke atas dan memandang angkasa yang amat indah, dimana awan putih berarak disinari cahaya kemerahan matahari pagi.
Dalam pandangan mata yang suram karena air matanya, ia melihat seolah awan-awan putih itu membentuk wajah kakeknya. Si pendekar Pedang Naga, wajah ayahnya, wajah ibunya, wajah paman dan bibi serta saudara saudaranya. Mereka itu seolah olah tersenyum kepadanya.
Ketika cahaya matahari melenyapkan bayangan wajah wajah itu, ia menunduk dan terngiang kata-kata gurunya.
"Orang yang suka melakukan perbuatan keji yang suka menyiksa dan membunuh orang, pada hakekatnya adalah orang-orang pengecut yang melakukan perbuatan keji itu terdorong oleh rasa takutnya."
Dahulu ia tidak mengerti akan maksud ucapan ini, akan tetapi sekarang melihat mayat Siauw bo dan mengenang betapa nenek iblis ini amat ketakutan menghadapi pembalasannya, baru ia mengerti.
Siauw bo yang terkenal keji, suka menyiksa dan membunuh manusia lain ini pada hakekatnya hanya seorang pengecut besar.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1