
Yu Tian juga bukan seorang bodoh, melainkan dialah pendekar sakti yang dikagumi semua orang, yaitu Pendekar tanpa gelar yang selama ini dia cari karena kesombongannya yang tak menanggapinya sebagai tunangan yang telah dijodohkan oleh kedua kakek mereka.
Semestinya Siok Lan girang dan bahagia, tapi yang ada dihatinya adalah rasa kesal dan kesal pada pelayannya.
Beberapa kali Siok Lan berhenti dan membabat rumput-rumput yang menghalanginya.Laki-laki itu tahu kalau dirinya dikejar oleh pelayannya, maka ia lari kembali secepatnya.
Dia lari tanpa tujuan dan tidak lagi lurus menuju ke selatan, melainkan membelok-belok tidak karuan karena dia sendiri tidak tahu harus pergi ka mana, pokoknya asal lari pergi menjauhi gadis yang dicinta dan dibencinya, yang menimbulkan gembira dan marah itu.
Dalam keadaan kacau perasaan dan pikirannya seperti itu, Siok Lan kehilangan kewaspadaannya.
Ia tidak tahu bahwa sejak tadi ada belasan pasang mata memandangnya dan ada belasan orang mengikuti setiap gerak-geriknya lalu membayanginya. Ia tidak tahu bahwa makin lama ia tersesat makin jauh di daerah yang sama sekali tidak dikenalnya, tanpa tujuan.
Ia terus berlari dan berjalan sampai hari menjadi hampir gelap dan daerah yang dilaluinya makin lama makin liar dan tidak tampak seorangpun manusia.
Sesungguhnya laki-laki inig ini bagaikan seekor katak telah memasuki gua sarang ular berbisa.
Daerah itu menjadi tempat rahasia di mana orang-orang yang bertugas sebagai mata mata pemerintah Mongol bersarang.
Memang pemerintah Mongol amat pandai. Selain mengandalkan pasukan pasukannya yang besar dan kuat, juga pemerintah berhasil menarik hati orang-orang pandai.
Diantara orang orang pandai ini ada yang diangkat menjadi petugas sipil maupun militer seperti halnya Thian Sung, akan tetapi ada pula yang diberi tugas untuk bekerja sebagai penyelidik dan mata-mata rahasia sehingga tidak saja pemerintah penjajah ini dapat mengetahui semua peristiwa dan keadaan para pejuang yang mereka sebut pemberontak juga dapat mengetahui keadaan sehingga mudah untuk kelak menindasnya.
Diantara sekian banyak pasukan mata-mata yang bekerja secara rahasia ada kelompok yang bersarang di daerah yang kini dimasuki Siok Lan tanpa disadarinya itu.
nb ia masuk daerah ini, ia telah diikuti secara diam-diam oleh belasan orang yang bergerak ringan dan gesit, tanda bahwa mereka itu memiliki kepandaiannya yang tinggi juga.
Akan tetapi agaknya mereka ini menerima tugas rahasia sehingga tidak turun tangan menangkap atau menawan Siok Lan hanya mengikuti dari jauh dan meneliti untuk mendapat kepastian bahwa gadis ini memasuki daerah itu seorang diri saja tidak membawa kawan-kawan seperjuangan.
Beberapa saat kemudian Siok Lan merasa lelah dan lapar. Hari sudah mulai gelap, ia memasuki hutan dan bermaksud mencari sesuatu untuk pengisi perut dan air minum.
__ADS_1
Selagi ia celingukan mencari cari dengan pandang matanya, dari jauh tampak berkelebat bayangan dua orang dan terdengar orang memanggil.
"Siok Lan!"
Merasa ada yang memanggilnya dan dia tak kenal dengan pemilik suara itu, Siok Lan meraba gagang pedangnya, siap menghadapi segala kemungkinan.
Akan tetapi setelah dua sosok bayangan itu mendekat, ia melepaskan gagang pedangnya dan memandang dengan hati lega. Karena merasa kenal dengan kedua gadis yang menghampirinya.
Kedua gadis cantik berbaju biru, berusia dua puluh enam tahun. Salah satu gadis itu yaitu Pui San murid Kim pay yang pernah ia temui dalam perjamuan di tempat Hoang ho.
Adapun orang kedua adalah San Bwee, gadis itu yang berusia dua puluh lima tahun, pendiam dan cantik.
"Ah, kiranya kalian yang memanggil, sampai terkejut hatiku. Eh, bagaimana kalian dapat tiba-tiba muncul di tempat sunyi seperti ini? Dan kenapa kalian tidak muncul ketika kami para pejuang menghadapi musuh dan hampir saja terbasmi habis?" tanya Siok Las seraya menatap kedua gadis itu.
"Ah, nona tidak tahu barangkali. Memang kami dan kawan kawan seperjuangan menjadikan tempat ini markas kami. Kami mendengar tentang pertempuran pertempuran di sana, akan tetapi karena kami sendiri menghadapi musuh disebelah sini, kami belum dapat membantu." ucap Pui San seraya menjura hormat.
Kemudian San Bwee menggandeng tangan Siok Lan.
Siok Lan tak tahu kalau dirinya sedang dijebak dan tidak merasa heran melihat betapa San Bwee yang biasanya pendiam itu kini dapat bersikap ramah dan sekaligus menghujankan pertanyaan demikian banyak seperti lagak seorang penceloteh yang cerewet.
"Kak Siok Lan, ayo mampir ke gubuk kami. Ada sedikit makanan dan minuman untuk kamu, tentunya kamu haus dan lapar bukan?" ajak Pui San yang pura-pura ramah dan bersama San Bwee, menarik lengan Siok Lan sebelah kanan dan kiri.
Siok Lan membiarkan dirinya ditarik karena ajakan "makan minum" tadi yang membangkitkan seleranya dan membuat perutnya makin lapar, serta lehernya makin haus.
"Memang di sana ada Pendekar tanpa gelar dan setan kipas merah, tapi baru saja kami disergap dan dikurung oleh pasukan besar yang dipimpin sendiri oleh Thian Sung." ucap Siok Lan yang tanpa sadar dia menceritakan apa yang dia tahu dan alami saat pertempuran dengan prajurit dan perwira Mongol.
"Ahhh?"
Kedua gadis itu saling pandang kemudian San Bwee mempercepat langkahnya sambil menggandeng Siok Lan.
__ADS_1
"Kakak Siok Lan marilah kita cepat-cepat ke markas dan di sana kau ceritakanlah semua nya tentu amat menarik ceritamu. Marilah." ajak San Bwee.
Siok Lan pun menganggukkan kepalanya dan mereka bergegas memasuki hutan yang gelap dan di tengah hutan itu terdapat sebuah pondok besar.
Di pondok itulah mereka ini masuk. Hanya ada tiga orang yang bersikap seperti pelayan berada di pondok dan melayani mereka makan minum. Siok Lan memandang ke kanan kiri.
"Di mana teman teman seperjuanganmu?" tanya Siok Lan yang penasaran.
"Ah, pasukan kami tidak berapa besar dan mereka itu berpencaran di dalam hutan. Biarlah kupanggil mereka yang kebetulan berada dekat pondok ini." jawab Pui San sambil berdiri.
"Plok...plok...plok...!"
Gadis itu menepukkan tangannya tiga kali kemudian ia baru duduk lagi.
Tak lama kemodian, bermunculan belasan orang dari pintu pondok. Mereka ini rata-rata masih muda, dan delapan orang laki laki dan empat orang wanita yang usianya antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun sikap mereka rata rata gagah dan tangkas sehingga Siok Lan memandang kagum.
Ia bangkit berdiri dan memberi hormat yang dibalas oleh semua orang.
"Harap Sian li Eng cu banyak baik dan silakan mengaso dan makan minum." ucap salah satu diantara mereka.
Siok Lan tersenyum dan duduk kembali. Belasan orang itu lalu mengaso di dalam pondok. Ada yang berdiri bersandar ke dinding ada yang jongkok, dan duduk di mana saja.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...