Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Perjalanan Murid Biksu Ji


__ADS_3

Tergeraklah hati dua orang pemuda pendekar ini, selain karena guru mereka, Biksu Ji yang dahulunya juga seorang pejuang besar dan juga penentang pemerintah yang keji.


Keduanya meninggalkan toko pakaian dan melakukan perjalanan yang tentunya membantu kaum lemah dan tertindas.


Hari itu mereka tiba di sebuah hutan dengan arah menuju ke Propinsi Kian su sebelah barat di mana saluran air dikerjakan untuk menyambung Sungai Yang dengan Sungai Huang.


Mereka tidak tahu bahwa pada saat ini mereka telah berada di daerah lembah Yang bagian utara, dan dengan demikian mereka telah memasuki wilayah tempat penjagaan para pasukan pemerintah yang ditempatkan di sekitar terusan untuk menjaga keamanan para pekerja paksa.


"Kak Han wen, sebaiknya kita istirahat di sini dulu. sinar matahari teriknya bukan main!" seru seorang pemuda tampan sekali kepada seorang pemuda yang tak kalah tampannya.


Mereka berdua memasuki sebuah hutan kecil, kedua pemuda itu usianya paling banyak sembilan belas tahun. Kedua pemuda yang ganteng dan tampan sekali juga gagah itu gerak-geriknya gesit, gagang sepasang pedang tampak di punggungnya.


"Baiklah adik Tan Li" jawab Han Wen


Di dalam hutan kecil itu mereka berdua duduk di bawah pohon besar, menanggalkan topi dan mengipas-kipaskan ke leher untuk mengeringkan keringat.


Dua orang pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak mereka memasuki hutan, banyak pasang mata mengikuti gerak-gerik mereka.


Tak berapa lama tampaklah oleh mereka seorang laki laki berusia empat puluh tahunan, berpakaian sebagai panglima atau perwira pengawal pemerintah kerajaan Goan, pakaian kebesaran yang terlindung sisik baja, pakaian perang yang mewah dan indah. Topi perwira ini dihias bulu indah pula.


"Seekor anjing yang diberi tulang akan menggoyang ekor menjilat tangan tanpa memperdulikan siapa pemberinya. Seorang gagah mempunyai pendirian mulia


lebih baik mati dari pada menjadi pengkhianat bangsa!" seru Tan Li yang sangat geram dengan perwira tersebut.


"Mengabdi raja penjajah menindas rakyat lebih hina dari pada anjing laknat." lanjut Tan Li.


Laki laki tinggi besar yang berpakaian perwira pengawal itu menjadi marah.


"Serbu dan tangkap pemberontak!" seru perwira itu.


Tan Li dan Han Wen menggerakkan tangan dan mereka sudah mencabut pedang mereka. Tan Li mencabut pedang sepasang dan menyilangkan kedua pedang itu di depan dada, sedangkan Han Wen mencabut pedang panjang yang dilonjorkan di depan wajahnya. Dua orang ini tidak tampak gentar, pada saat itu dari balik pohon-pohon dan semak belukar bermunculan banyak sekali orang, yaitu pasukan penjaga yang bertugas menjaga di wilayah itu.

__ADS_1


Tidak kurang dari tiga puluh orang prajurit mengepung dua orang pemuda itu, dikepalai oleh laki-laki berpakaian sebagai panglima atau perwira pengawal pemerintah kerajaan Goan tadi.


"Sungguh sayang sekali kalian akan terbasmi dengan gerombolan pemberontak lain yang kami kejar kejar. Lebih baik kalian menyerah dan takluk padaku si Golok Besar Sakti, Mo Yo!" seru laki-laki yang berpakaian sebagai panglima atau perwira pengawal pemerintah kerajaan Goan.


"Dasar pengkhianat bangsa, tak usah banyak cerewet!" Makian Tan Li dan ia sudah menerjang maju, memutar sepasang pedangnya.


Terdengar teriakan kesakitan dan dua orang pengepung yang paling dekat dengannya telah roboh mandi darah.


Han Wen yang berdiri lebih dekat dengan perwira itu, tanpa banyak berkata lagi menerjang maju pula. Pedang Han Wen berkelebat cepat dan kuat, sinarnya menyilaukan mata.


Mulailah dua orang kakak beradik seperguruan itu dikeroyok. Ketika perwira yang bernama Mo Yo tadi menangkis pedang Han Wen dan Mo yo terkejut karena pemuda tampan itu lihai sekali dalam menggunakan jurus pedangnya.


Tan Li dan Han Wen boleh jadi adalah dua orang pemuda perkasa yang memiliki ilmu silat tinggi dan merupakan pemuda yang sukar dicari tandingannya dan sukar pula dirobohkan.


Akan tetapi kali ini mereka menghadapi pengeroyokan tiga puluh orang lebih pasukan penjaga kerajaan Goan yang terdiri dari orang orang yang kuat dan liar, sudah biasa bertempur, dan dipimpin oleh Mo Yo yang memiliki ilmu golok cukup lihai.


Walaupun dua orang pemuda perkasa itu mengamuk, tetap saja mereka terkurung rapat dan


terdesak hebat. Rapatnya pengurungan musuh, banyak nya senjata yang datang menyerbu, membuat mereka ini kesulitan menjatuhkan lawan, karena perhatian mereka ditujukan pada ancaman puluhan batang senjata tajam yang datang bagaikan hujan itu, untuk melindungi tubuh mereka sendiri.


Melihat keadaan kedua orang lawan yang makin lemah ini Mo Yo berkali kali mendesak anak buahnya untuk memperketat pengepungan.


"Ha....ha....ha...! siapa dapat menangkap mereka akan menerima hadiah besar. Kalau tidak bisa ditangkap hidup hidup boleh juga bunuh saja!"seru Mo Yo yang membuat empat anak buahnya itu semakin beringas.


Pengepungan makin kuat dan dalam suatu desakan Tan Li terluka di bagian paha sebelah kirinya, sedangkan Han Wen terkena hantam dipundak kirinya, dengan gagang tombak.


Kedua orang pemuda itu terluka, namun mereka menggertak gigi dan melawan terus.


"Ha...ha...ha...! apa kalian masih tidak mau menyerah!" seru Mo Yo dengan tawa khasnya.


Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tubuh Tan Li yang terkepung itu menyambar dengan sebuah loncatan tinggi, langsung terjun menyerang Mo Yo.

__ADS_1


Perwira ini kaget dan berusaha menangkis dengan goloknya. Namun yang menyerangnya adalan sepasang pedang yang gerakannya susul menyusul.


Mo Yo berhasil menangkis pedang kiri, namun pedang kanan membabat lehernya. Mo Yo cepat membuang diri ke samping.


"Hiaaaat...!" seru Tan Li yang melengking nyaring.


"Aaaarghh...!" seru Mo Yo yang menggulingkan tubuh dan terus bergulingan untuk menghindarkan serangan susulan.


Dengan cepat anak buahnya mengurung lagi Tan Li, dan Mo Yo menyumpah karena pundaknya terluka oleh pedang. Dan darah pun bercucuran.


Setelah menempelkan obat dan dibalut, Mo Yo menggunakan tangan kiri memegang goloknya, maju lagi untuk memimpin anak buahnya.


"Bunuh mereka! Bunuh...!" seru Mo Yo yang marah sekali.


Tiba-tiba terdengar balasan seruan Mo Yo, yang terdengar seruan beberapa orang gadis.


"Bunuh mereka! Bunuh antek-antek Mongol..!" seru suara perempuan yang bersautan, dan muncullah orang-orang yang pakaiannya tidak keruan.


Mereka compang-camping bahkan ada yang bertelanjang dada, rata rata mereka adalah laki-laki yang tubuhnya kurus dan pucat, akan tetapi mereka itu dipimpin dua orang dua orang gadis cantik yang mengamuk bagaikan dua ekor naga.


Juga lima puluh orang laki-laki kurus pucat itu biarpun melihat gerak-gerik mereka tidak dapat disebut sebagai ahli-ahli pertempuran, namun ternyata mereka itu bertempur dengan semangat tinggi dan kenekadan yang luar biasa.


Jelas bahwa kebencian mereka terhadap para penjaga Mongol ini meluap-luap dan karena inilah maka cara mereka bertanding amatlah dahsyat dan mengerikan.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2