
Beruntung Bening tak mendengarkan pembicaraan Arjuna dengan Bayu. Sebab setelah pengecekan tiket, Arjuna memintanya langsung pulang. Dikarenakan istrinya itu hari ini sudah mulai kuliah kembali.
"Bay, tolong kamu suruh Aji dan yang lainnya mencari flashdiskku, tepatnya di area kamarku. Karena benda itu aku taruh dalam brankas kamar, kumasukkan dalam kotak kecil baja. Semisal pun terbakar habis minimal ada bang-kainya. Tolong cari itu secepatnya. Aku tutup teleponnya. Setelah sampai, aku langsung segera ke rumah."
"Siap, Bro. Take care," ucap Bayu.
"Thanks, Bay."
Telepon keduanya pun terputus. Dan Arjuna take off dengan perasaan yang gelisah bercampur kesal. Ia terus memikirkan kejanggalan kebakaran rumah dinasnya.
Sedangkan di tempat lain Della, Luna, dan Stevi tengah bersiap untuk ke pesta ulang tahun salah satu teman sekolah mereka di sebuah bar ternama di Jakarta Selatan malam ini.
Mereka bertiga tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli kado. Selesai membeli kado, Della pamit sejenak untuk membeli minum.
Saat Della selesai membayar di kasir untuk sebuah minuman lemon juice, mendadak penglihatannya berhenti sejenak. Sebuah siluet yang ia kenal tengah berada tak jauh dari tempatnya berada.
"Bukankah itu seperti Mia, adiknya Mas Doni?" batin Della yang masih mengira Mia adalah adik kandung Doni. Padahal kenyataannya Mia bukan adik kandung Doni.
Sosok siluet tersebut yang ia yakini Mia, tengah menggandeng mesra om-om yang diperkirakan Della sekitar usia enam puluh tahun.
"Ah, tapi mana mungkin gadis itu Mia. Dandanannya menor banget terus gandeng om-om. Kayaknya aku kurang galon deh. Jadi ngelantur begini mataku," batin Della yang ragu-ragu.
Dan sosok siluet yang dilihat oleh Della menyerupai Mia itu pun sudah pergi menghilang dari pandangannya. Entah ke mana, Della pun tak tahu.
"Hem, sudah pergi. Cepat sekali, padahal mau aku kejar buat mastikan beneran Mia apa enggak cewek tadi. Ya sudah deh balik saja. Pasti Luna sama Stevi ngomel-ngomel gak karuan nunggu kelamaan, haha..." cicit Della seraya tertawa.
โ๏ธโ๏ธ
Arjuna pun sudah tiba di rumah dinasnya. Bayu masih berada di sana bersama Aji dan yang lain. Sebelumnya, Papa Bening sudah mendengar kabar kebakaran di rumah dinas Arjuna dari Riko.
Papa Bening tidak ada kecemasan mendalam. Sebab ia mendapat informasi dari ajudannya bahwa tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut. Dan Arjuna juga masih dalam perjalanan dari Jogjakarta kembali ke Jakarta.
Saat ini Komjen Pol Prasetyo Pambudi tengah melakukan safari dinas untuk keliling Indonesia. Melihat para jajaran di bawahnya bekerja dengan baik dan taat sesuai aturan yang berlaku.
Otomatis dirinya sedang tidak berada di Jakarta saat ini. Bahkan hingga dua minggu ke depan dipastikan belum kembali ke Ibukota Jakarta.
__ADS_1
Setibanya Arjuna di rumah dinasnya, ia langsung menemui Bayu. Sementara Aji dan yang lainnya masih melakukan tugasnya.
"Gimana Bay? Ketemu?" tanya Arjuna to the point yang dijawab Bayu dengan gelengan kepala.
Arjuna pun lesu dan terduduk lemas di teras depan. Pikirannya kalut dan cemas. Khawatir benda tersebut membuat malapetaka untuk dirinya dan juga Bening serta keluarganya ke depan.
"Enggak mungkin Bay. Kalau emang ini murni kebakaran pasti benda itu masih ada walaupun sudah hangus. Aku mau cek brankasnya. Kamu nemuin brankasku kan?" tanya Arjuna.
"Ada. Sudah aku amankan di rumah belakang yang kosong. Ada Bik Siti dan Yono di sana. Brankasmu cukup aneh, Jun. Kondisinya memang hangus terbakar. Tapi aku temukan dalam kondisi sudah terbuka. Sisa uangmu terbakar hangus masih ada. Tapi cuma flashdisk itu yang gak ada jejaknya. Kamu yakin menyimpannya di dalam brankas bukan di tempat lain?" tanya Bayu kembali untuk menyakinkan.
"Aku enggak pikun, Bay. Aku yakin menyimpannya di sana. Sial !!" umpat Arjuna seraya mengepalkan tangannya.
"Sabar, Jun. Jika memang ini disengaja pasti kita bisa segera temukan pelakunya yang mencoba bermain denganmu," tutur Bayu.
"Hasil cctv gimana? Kata kamu rusak. Bagaimana mungkin rusak? Padahal baru satu bulan aku ganti mode terbaru yang lebih akurat mengambil gambar," cicit Arjuna.
"Rusak parah dan tanpa jejak di sana. Aku dan tim sudah cek sampai tiga kali. By the way memangnya flashdisk itu penting, isinya apaan? Kasus fenomenal yang baru kamu tangani sekarang itu atau kasus yang menggantung kemarin?" tanya Bayu penasaran.
"Flashdisk itu berisi cctv hotel di Bandung saat aku membawanya secara paksa masuk di kamar 779 dan mengambil kesucian Bening," jawab Arjuna jujur.
"Jangan sampai kabar ini diketahui Bening atau Papa. Aku enggak mau buat mereka kepikiran atas kebodohanku. Akan aku selesaikan sendiri masalah ini. Jika tertangkap, akan aku telanjangi mereka satu per satu di markas!" geram Arjuna.
Bayu cukup terkejut mendengar penuturan Arjuna serta hanya bisa menghela nafas atas keteledoran sahabatnya itu. Namun Bayu bukan tipikal sahabat yang suka menghakimi kesalahan teman yang tanpa sengaja.
Dia cukup memaklumi dan menganggap semua ini cobaan dan takdir dari Sang Pencipta untuk Arjuna dan Bening dalam menapaki kehidupan rumah tangga mereka.
"Aku sudah bentuk tim khusus beserta Aji dan anak buahmu yang lain yang bisa dipercaya. Aku curiga pelakunya sangat mengenalmu. Karena dia tahu seluk beluk rumahmu. Dan kebiasaan orang-orang di rumahmu tepat sesuai jam sasarannya. Apalagi saat kamu juga sedang tidak berada di Jakarta. Sangat aneh jika hanya murni kebakaran kebocoran gas elpiji. Bagaimana menurutmu?" tanya Bayu.
"Benar yang kamu katakan, Bay. Tapi siapa dia? Dan apa motifnya?" tanya Arjuna menelisik.
"Aku tak tahu karena belum menemukan gambaran yang tepat. Itu tugas kita bersama untuk segera meringkusnya," jawab Bayu.
Arjuna mendadak terdiam memikirkan sesuatu dan kejanggalan ini semua.
"Apa dia orang yang sama dengan yang membuatku merudapaksa Bening karena obat lak-nat itu?" batin Arjuna bertanya-tanya guna membuka simpul tali benang merah yang tengah terjadi.
__ADS_1
Arjuna pun mengumpulkan timnya di markas bersama Bayu dan juga Aji.
"Sebarkan anggota kita, tangkap orang-orang yang patut dicurigai atas kebakaran yang menimpa rumah dinasku. Usahakan misi ini berjalan apik dan tetap rahasia. Agar pelaku tidak mengendus apa yang kita lakukan. Paham!!" ucap Arjuna tegas pada Aji dan anak buah kepercayaannya.
"Siap, Ndan."
Arjuna dan Bayu beserta tim tengah menyebar ke beberapa titik lokasi dan bekerja keras guna mengusut tuntas kejadian ini. Mereka lembur untuk menuntaskan misi rahasia ini namun tetap profesional menjalankan tugas lainnya yang sebelumnya sudah diembannya.
Sedangkan di bar, tempat pesta ulang tahun teman sekolah Della, Rendra, Luna dan Stevi yang bernama Natalia berlangsung meriah. Privat party menyewa salah satu ruangan khusus di sana. Hanya sekitar 25 orang saja yang ada di dalamnya.
Tema pesta yakni memakai topeng, khusus tamu undangan Natalia. Dan tak lama puncak party yang ditunggu pun datang.
"Mari kita lihat pertunjukkan yang membuat jantung kalian dag... dig... dug..."
"Wohoo... apaan ini Nat?" tanya Rendra mendadak terkejut.
"Yang cowok dilarang pergi ke toilet dulu," ucap Natalia seraya terkekeh sebagai pemilik acara.
Sedangkan Luna dan Stevi hanya bisa terdiam dan mematung. Luna mendadak menutup mata Stevi dengan kedua tangannya.
Stevi mulutnya menganga lebar kala pertama kali melihat pemandangan yang tak lazim di depannya. Kedua gadis ini baru pertama kali hadir dalam pesta ulang tahun seperti ini.
Della, jangan ditanya. Dia enggak kaget dengan pesta semacam ini. Karena dia sudah terbiasa datang ke pesta ulang tahun model begini yang memang mengusung privat party di bar dan selalu ada kejutan di akhir acara.
Hanya saja mendadak Della terkejut bukan main kala melihat pemandangan tak biasa tersebut dilakukan oleh beberapa orang yang masuk ke ruangan mereka. Dan salah satunya adalah orang yang ia kenal yakni Mia, adik kandung Doni.
Padahal faktanya Mia, bukan adik kandung Doni. Mia adalah bunga malam ternama di bar tersebut. Yang terkenal dengan goyang lato-latonya.
Ada total lima orang penari khusus dengan kondisi yang tak lazim yakni full naked. Mia menjadi sang primadona dalam tim tersebut. Mia tak menyadari kehadiran Della di sana. Sebab Della tengah memakai topeng.
Sedangkan para penari itu tak mengenakan apapun baik topeng maupun penutup lainnya.
"Tidak mungkin Mia bekerja di sini. Bagaimana bisa adik kandung Mas Doni jadi perr- reek di sini. Aku harus cari tahu. Setelah itu, aku laporkan sama Mas Doni biar adiknya tidak terjebak pergaulan bebas di tempat ini," batin Della menggerutu tidak jelas mendapati fakta memalukan itu.
๐๐๐
__ADS_1