
Untuk mendukung feel dalam membaca pada part awal chapter ini.
Othor sarankan sembari memutar lagu berjudul "Especially For You" by Lee Daneung.
Selamat Membaca๐
๐๐๐
Selepas kepergian keluarga kecil Bening dan Arjuna, Dokter Heni pun mendekati makam mendiang Papa Bening. Setelah sang suami mengatakan sesuatu yang membuat dirinya tersipu malu dan wajahnya merah merona.
"Aku ke sana dulu ya, Pah." Dokter Heni meminta izin pada suaminya.
"Iya, sayang. Aku tunggu di mobil. Jangan lama-lama. Bisa-bisa aku mati cemburu. Walaupun dia sudah meninggal," bisik mesra sang suami di telinganya.
"Love you, Pah."
"Kamu tahu aku lebih mencintaimu, hem. Love you too Bunda..." ucap sang suami seraya bergegas pergi menuju mobilnya yang terparkir.
Dokter Heni berjongkok dan meletakkan bangau pink tersebut di atas pusara mendiang Papa Bening. Ia memanjatkan doa secara khusyu'.
"Selamat tinggal Pras," batin Dokter Heni lega. Lalu ia berdiri dan pergi meninggalkan area pemakaman dengan senyum bahagia. Sebab kini di hatinya hanya ada suaminya, seorang yang sangat mencintai dirinya dan ia pun mencintai sang suami dengan segenap jiwa raga.
Langkah kakinya begitu ringan menuju mobil sedan mewah hitam di mana suaminya tengah berdiri di depan mobil tersebut sambil tersenyum sumringah menatap kedatangan dirinya.
Setelah mendekat, tak ayal sang suami langsung mendekapnya erat penuh posesif. Lalu suaminya membuka pintu mobil untuknya. Dan mobil tersebut pun melaju meninggalkan area makam taman pahlawan nasional utama Kalibata, Jakarta Selatan.
"Beres?" tanya sang suami seraya menggenggam erat tangan Dokter Heni.
"Beres," jawab Dokter Heni penuh keyakinan dan tersenyum menatap suaminya.
"Oke, berangkat. Malam ini kita nginep di hotel yang aku mau ya," ucap sang suami yang tampak bersemangat.
"Yaaah, terus anak-anak ditinggal di rumah sendirian Pah?" tanya Dokter Heni lesu.
"Mereka sudah besar. Lagipula di rumah juga ada bibik dan pelayan lainnya. Mereka enggak akan kesepian. Masak ngekori Bundanya terus. Papanya kapan dapat jatah merayakan cinta kalau tiap malam Bundanya bobo sama mereka terus," keluh suaminya tengah merajuk.
"Haha... sabar, Mas." Dokter Heni tertawa melihat tingkah lucu suaminya.
"Tega kamu, Bun. Sudah seminggu di awal kena palang merah yang gak tahu adat. Mendadak nongol gak izin Komandan dulu. Eh selesai palang merah, anak-anak masih nempel juga. Kamu kasih lem apa sih mereka?" tanya suaminya yang tengah menggerutu namun terlihat lucu di matanya.
__ADS_1
"Lem yang sama yang Papah rasakan padaku. Lem meriam cinta. Doorrr... hehe..." cicit Dokter Heni balas menggoda suaminya.
"Ah... aku terkena tembakan meriam cintamu, Bunda. Tolong aku, Bun. Kiss dulu Bun," cicit suaminya yang semakin membuat wajahnya merah merona bak kepiting rebus.
"Malu, Pah. Masih di luar juga," cicit Dokter Heni tersipu malu.
"Oke kita berangkat. Siapkan tenagamu, Bunda. Karena aku mau makan all you can eat. Jadi kamu enggak boleh protes. Terima beres terima enak terima nikmat pokoknya," kelakar suaminya.
"Siap menjamu, Komandan. Kalau kurang, boleh tambah kok. Ada menu double meat lovers sama pencuci mulut juga masih banyak. Semoga besok pagi aku masih kuat jalan secara normal," ujar Dokter Heni ikut tersenyum.
"Suamimu ini masih kuat gendong Bunda keliling GBK walaupun semalam suntuk makan jamuan all you can eatmu. Mau test drive dulu atau langsung gaspol rem blong nih?" goda suaminya.
"Langsung intinya saja," jawab Dokter Heni seraya tertawa kecil.
"Mantap. Love you Bunda..." ucap suaminya penuh semangat namun tetap lembut dan selalu mesra.
"Love you, Pah."
Senyum riang gembira Dokter Heni dan suaminya itu terus mengiringi perjalanan mereka. Tak menduga cinta datang menggoda hatinya yang awalnya sangat beku akhirnya menjadi cair kembali.
โ๏ธโ๏ธ
"Hiks...hiks... maafkan kakak, Del. Kakak enggak bisa berbuat banyak membantumu saat itu. Karena kakak sedang sakit dan hamil," batin Stella seraya terisak pilu menatap pusara sang adik.
Di Garut.
"Semoga Ayah, Ibu, Adek Dimas dan dedek bayi bahagia di atas sana. Dewa rindu kalian...huhu..." ucap Dewa yang meneteskan air matanya di depan pusara kedua orang tuanya dan juga kedua adiknya yang dimakamkan berdekatan di tempat yang sama.
"Sudah? Ayo buruan," ucap seorang lelaki padanya.
"Iya, Om." Dewa menjawabnya seraya berdiri meninggalkan area pemakaman.
"Dewa pergi dulu. Dewa janji suatu hari akan ke sini lagi demi kalian. Akan Dewa buktikan pada mereka," batin Dewa seraya menatap batu nisan keluarganya.
โ๏ธโ๏ธ
Hari ini adalah hari kelulusan Bening menjadi seorang Sarjana Hukum. Akhirnya ia berhasil menyelesaikan kuliahnya di fakultas hukum Universitas Indonesia dengan predikat cum laude. Setelah sebelumnya ia sempat cuti kuliah sejenak karena melahirkan buah hatinya. Dan kini tibalah hari wisudanya.
"Selamat Mah," ucap Arjuna lembut pada Bening yang langsung mencium tangan suaminya penuh takzim. Lantas Arjuna pun mencium kening sang istri sebagai perwujudan cintanya.
__ADS_1
"Makasih, Pah. Akhirnya aku lulus juga. Semoga Papa dan Mama bangga padaku di sana," ucap Bening seraya tersenyum sumringah pada Arjuna.
"Aminn..." jawab Arjuna yang juga tersenyum bahagia melihat istrinya berhasil lulus kuliah dengan nilai yang sangat bagus.
"Oh ya, katanya Mas Bayu dan Ayu mau ke sini ikut ngerayain kelulusanku sekaligus acara ulang tahunku. Kok enggak kelihatan batang hidung mereka, Pah?" tanya Bening heran.
"Maaf, Mah. Papah lupa kasih tahu Mama. Gara-gara semalam kita lembur di kasur jadi lupa deh, Papah." Arjuna nyengir tanpa dosa.
"Dasar kebiasaan deh, Papah. Memangnya mereka kenapa, Pah?" tanya Bening kembali.
"Kemarin Bayu mual-mual. Terus pas cek ke dokter eh ternyata Bayu hamil. Eh, salah. Maksud Papah, Ayu yang hamil dan Bayu yang mual-mual. Rasain tuh si mantan bujang lapuk kena getahnya. Dulu saja suka ngeledekin aku pas Mamah hamil dan aku yang kebagian ngidam serta mualnya. Sekarang giliran dia. Haha..." ucap Arjuna seraya tertawa lebar.
"Wah akhirnya berhasil memborbardir Ayu dan adonan berhasil dicetak. Brarti mereka perlu traktir kita, Pah. Bukan kita yang traktir mereka. Hehe..." cicit Bening cekikikan.
"Wah, betul banget tuh Mah. Yuk kita palakin Pak Oyes kita yang baru saja dilantik itu," ucap Arjuna seraya menggandeng istrinya pergi meninggalkan area kampus Bening yang diikuti oleh ajudan Arjuna.
Kebahagiaan yang hakiki akan datang pada kita tepat waktu. Bukan terlalu cepat atau terlalu lambat. Tetapi Allah tahu kapan waktu yang tepat untuk kita menerima kebahagiaan tersebut. Jika kebahagiaan itu datang, maka perbanyaklah bersyukur. Niscaya Allah akan menambah nikmatmu.
Happy Ending...
TAMAT๐
๐๐๐
Nama 4B (Anak Bening & Arjuna)
Berliana Cahaya Mahendra (Kembar/P).
Binar Mentari Mahendra (Kembar/P).
Brahma Satria Mahendra (L).
Bisma Arya Mahendra (L).
__ADS_1