Bening

Bening
Bab 124 - Pertengkaran Dua Tersangka


__ADS_3

Di balik jeruji besi kedua wanita yang sebelumnya berteman cukup dekat kini tengah sibuk saling mencaci maki. Bahkan berujung kekerasan sesama wanita. Keduanya kini berstatus sebagai tersangka dugaan penyebaran berita hoax, fitnah dan pencemaran nama baik pada keluarga mendiang Wakapolri Jenderal Polisi Prasetyo Pambudi.


"Brengsek kau, Del !!" maki Nayla.


"Apaan sih Nay! Karena kebodohanmu sendiri kita samapai masuk sini. Dasar enggak becus!!" serang balik Della tak terima.


"Enggak becus? Haha... mana Della Wijaya yang katanya anak seorang pengusaha sukses? Katanya bisa njamin aku enggak masalah. Minta tolong buat tayangin video asusila anak perwira tinggi polisi, ujungnya apa? Katanya anak dari pengusaha Wijaya yang tersohor. Anak pengusaha bulu ayam!!" pekik Nayla yang tingkat kemarahan pada Della sudah di ubun-ubun.


"Enak saja bulu ayam. Lihat saja, enggak lama lagi aku akan keluar dari sini. Kamu jangan memojokkan aku terus, Nay. Nanti kalau aku berhasil keluar, jika kamu terus menyalahkanku seperti ini, maka jangan salahkan aku juga jika tak menolongmu keluar dari sini!" bentak Della.


"Buktikan Del. Jangan hanya bisa omong doang. Ujungnya mulut berbusa tapi tindakan cuma nol besar alias zonk. Terus kalau sudah begitu maka nanti aku yang tertawa di ujung sana," ledek Nayla semakin membuat Della kesal hati karena merasa terpojok.


"Sudahlah kamu jangan banyak omong, Nay! Aku lagi nungguin pengacara keluargaku. Pasti enggak lama lagi dia bisa cepat ngeluarin aku dari sini," ucap Della berusaha meyakinkan dirinya dan juga Nayla.


"Iya, palingan keluar dari jeruji besi ini buat pergi ke kamar mandi. Nangis kejer-kejer di dalam kamar mandi terus balik lagi ke sini," balas Nayla semakin membuat Della tertohok.


"Sialan Nayla! Awas nanti kalau aku keluar dari sini. Enggak akan aku bantuin. Biar dia membusuk di penjara !!" maki Della dalam hati.


"Bener-bener sial nasibku! Harusnya aku nolak pesanan dia waktu itu. Ayah, Bunda, adik-adik, maafin Kak Nay. Huhu..."batin Nayla menyesal.


Karena Della, dirinya ikut terseret masuk ke dalam jeruji besi. Karena Della, karir dan kuliahnya berantakan. Padahal dirinya adalah tulang punggung dan harapan kedua orang tua serta adik-adiknya di kampung.


Kini semua hilang tak bersisa. Hanya menyisakan malu dan penyesalan. Seharusnya ia tolak mentah-mentah permintaan Della waktu itu. Namun nasi sudah menjadi bubur. Tentu tidak bisa berubah wujud kembali menjadi nasi.

__ADS_1


Tap...tap...tap...


"Della, keluar! Ada yang mencarimu," ucap polisi wanita.


"Baik, Bu." Della menjawab sumringah dengan melirik Nayla.


"Lihat kan Nay, apa ku bilang. Pasti aku hanya berada di sini sebentar. Pengacara keluargaku sekarang pasti akan mengabarkan tentang kebebasanku yang tak lama lagi. Mereka orang-orang handal dan terpercaya. Pastinya bisa mengusahakan yang terbaik untukku. Selamat menikmati waktu lebih lama di sini, Nay. Aku pergi ke depan sebentar," ucap Della sengaja memanas-manasi dan pamer pada Nayla.


"Kita lihat saja, Del. Jangan sombong dulu. Takutnya kamu semakin tenggelam dengan kesombonganmu sendiri. Aku merasa angin yang dibawa oleh orang-orangmu adalah angin yang membuat dirimu lebih lama mendekam di sini," sinis Nayla.


"Dasar miskin belagu!" hardik Della.


"Lebih baik miskin daripada orang kaya yang kesepian. Lelaki gebetan eh ketikung sahabat sendiri. Sungguh menyesakkan hati. Bahkan berita pagi ini di koran dari petugas jaga yang aku dengar obrolannya dengan petugas lainnya, Papamu meninggal kena overdosis obat kuat dengan wanita malam. Oh, kasihan sekali hidup Della Wijaya. Hidup keluarga Wijaya yang terkenal sombong, kini berada di dasar jurang. Sungguh menyedihkan. Aku harus mengucapkan selamat atau turut berduka cita ini ya cocoknya," sindir pedas Nayla membuat Della menatapnya dengan soro mata tajam.


Padahal ketika kemarin mereka bertemu di sel yang sama, mereka sudah melakukan aksi serupa namun oleh petugas bisa dilerai dengan baik. Akan tetapi hari ini kejadian yang sama terulang kembali.


"Berhenti !!" bentak petugas 1.


"Ayo, berhenti! Jika tidak, kalian akan mendapat hukuman membersihkan seluruh kamar mandi di sini. Mau?" teriak petugas 2.


Akhirnya pertarungan sengit kedua teman tersebut antara Della dan Nayla bisa dipisahkan. Keduanya lalu menempati sel yang berbeda namun tetap berdekatan.


Dan Della kini berjalan menuju ke ruangan khusus bagi tahanan bila sedang menerima tamu.

__ADS_1


"Pak Antok, Pak Sandy, bagaimana hasilnya? Kapan saya bisa keluar dari sini?" tanya Della to the point saat melihat sekretaris mendiang Papanya dan juga pengacara keluarganya datang menemuinya.


"Jenazah Tuan Wijaya sudah dikebumikan di pemakaman keluarga. Dan saya ingin menyampaikan beberapa hal penting yang mungkin di luar dugaan Nona dan maaf sebelumnya jika saya sampaikan apa adanya," ucap Pak Antok, sekretaris Papanya.


"Apa itu, Pak?" tanya Della sedikit cemas.


"Perusahaan Papa Anda dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini semakin merosot performanya. Alhasil banyak saham yang dijual oleh almarhum Papa Anda ke beberapa pemegang saham lainnya. Nyonya Camila telah mengetahui fakta ini jauh sebelumnya. Sisa saham Tuan Wijaya hanya dua puluh persen. Pemegang saham terbesar adalah Tuan Dave, mendiang kakak ipar Anda. Dan kini hampir 90% kekayaan baik saham, properti maupun beberapa harta milik Tuan Dave telah disita oleh pihak berwenang karena ternyata didapat dari hasil pencucian uang sekaligus banyak digunakan untuk hal suap-menyuap guna memuluskan tender terutama tender kelas kakap seperti usaha batu bara di luar pulau. Sisa harta Tuan Wijaya yang ada sudah dialokasikan untuk membayar gaji para karyawan serta menutup hutang yang menumpuk di bank dan pihak ketiga lainnya. Maaf jika harus saya sampaikan, Wijaya Corp. dinyatakan bangkrut. Bahkan kantor utama telah disegel karena diduga mendiang Papa Anda melakukan tindak pidana korupsi dalam mega proyek pembangunan gedung olahraga di kota xxx. Untuk kasus Anda, Pak Sandy yang akan menjelaskan," ucap Pak Antok.


Deg...


"Tidak. Tidak mungkin. Pak Antok pasti mengada-ngada kan? Enggak mungkin Wijaya Corp. bangkrut begitu saja. Selama ini Papa tidak pernah cerita apapun pada kami keluarganya. Ini pasti rekayasa. Ini pasti ada yang memfitnah Papa dan merebut perusahaan Wijaya. Saya enggak terima. Ini harus diusut tuntas. Tidak!!" teriak Della.


"Sabar Nona Della. Tenang. Ingatlah saat ini Anda sedang berada di kantor polisi. Mohon jaga emosi Nona. Apa yang disampaikan Pak Antok semua benar adanya. Saya mendapatkan seluruh bukti dan salinan pengambilan kekuasaan, penyegelan kantor serta pembekuan dana di beberapa rekening milik keluarga Nona. Semua bukan rekayasa karena ada bukti-bukti kuat bila Papa Anda melakukan kesalahan tersebut. Terlebih mega proyek yang dilakukan berhubungan dengan pihak pemerintah bukan swasta. Maka kasusnya akan lebih berat. Dan mengenai kasus Nona Della juga saya dengan berat hati sampaikan bahwa cukup pelik. Sebab Nona terkena pasal yang berlapis atas tindakan Nona yang telah melanggar hukum dan terbukti jelas. Kita sangat susah untuk melakukan kamuflase kasus Nona. Jika ingin mengaburkan hukuman, tetapi untuk mencari celah tersebut tidak mudah. Karena kasus ini sudah viral seantero negeri. Banyak pihak yang akan mengawal kasus ini hingga tuntas sesuai hukum yang berlaku. Jika tidak, maka dipastikan kami sebagai pengacara akan terkena imbasnya. Nama baik kami dipertaruhkan jika harus melawan atau main belakang. Mohon maaf Nona kami terpaksa lepas tangan," ucap Pak Sandy selaku pengacara keluarga Wijaya.


"Haha... kalian pasti bercanda kan. Papa saya sudah bayar mahal kalian berdua untuk selalu mendukung anggota keluarga Wijaya. Tapi apa ini balasan kalian pada kami setelah Papa enggak ada, hah!!" bentak Della.


"Maaf, Nona Della. Anda akan tetap menjalani hukuman sesuai undang-undang yang berlaku. Untuk kasus Anda mengenai kematian bocah atas nama Dimas dan juga kasus berita hoax, fitnah sekaligus pencermatan nama baik terhadap keluarga mendiang Wakapolri Jenderal Polisi Prasetyo Pambudi hanya ada satu jalan untuk mengurangi hukuman walaupun cara ini entah apa bisa Anda lakukan atau tidak," ucap Pak Sandy dengan nada terdengar ragu-ragu.


"Apa itu, Pak? Akan saya lakukan asal hukumanku bisa lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum."


"Meminta maaf pada keluarga korban," jawab Pak Sandy.


Deg...

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2