
Beberapa jam sebelumnya.
Saat mengetahui pesawat Bening dan Ayu baru saja lepas landas menuju Yogyakarta, Arjuna yang mendadak memiliki ide cemerlang untuk calon istrinya itu langsung bergegas pergi menuju Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Setibanya di sana, ia meminta bantuan pada rekannya di TNI AU guna mengantarkan dirinya ke Yogyakarta dengan helikopter. Alhasil Arjuna berhasil berangkat menyusul Bening ke Yogyakarta walaupun keduanya berbeda kendaraan.
Bening menggunakan pesawat komersil dan Arjuna menggunakan helikopter TNI AU.
Sebelum terbang, Arjuna meminjam ponsel rekannya itu guna menghubungi Pak Tikno untuk merencanakan sesuatu.
Alhasil selepas mendarat, Pak Tikno sudah standby di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Arjuna membawa mobil sendiri dan Pak Tikno memakai mobil satunya, mobil yang biasa digunakannya untuk mengantar Ny. Lina kemanapun pergi.
Arjuna berencana menculik Bening ke Bukit Bintang Yogyakarta karena ia belum sempat merayakan ulang tahunnya bersama calon istrinya itu. Sekaligus menebus rasa bersalahnya terhadap Bening.
โ๏ธโ๏ธ
Setibanya di Bukit Bintang, Bening masih ditutup matanya dengan kain hitam. Ia pun dituntun keluar dari mobil oleh Arjuna lalu keduanya berjalan bergandengan tangan.
Awalnya Bening menolak digandeng Arjuna karena ia masih dalam mode marah pada lelaki ini. Tetapi bukan Arjuna namanya jika tidak bisa membuat Bening mengiyakan. Akhirnya mau tak mau Bening menuruti perintah Arjuna.
Lagipula matanya juga tertutup kain yang tentu saja menyulitkan dirinya untuk berjalan karena harus meraba-raba area sekitarnya.
"Di mana ini, Mas?"
"Ssstt..." bisik Arjuna menyuruh Bening untuk diam.
"Ayu kasihan di kos sendirian. Besok aku juga ada kuliah jam delapan pagi," rengek Bening.
"Ayu sudah bobo cantik di rumah Ibu. Kamu enggak usah khawatirkan dia. Sabar Nyonya Arjuna Sabda Mahendra," jawab Arjuna lirih.
"Masih calon. Belum jadi Nyonya sah," ledek Bening.
"Ya sudah, apa perlu disahkan malam ini juga? Jika itu yang sayang mau, Mas akan tunduk titah Nyonya Arjunaku yang bawel ini," balas Arjuna seraya terkekeh.
"Biarin, bawel! Kenapa? Enggak suka?" tanya Bening dengan sengit.
"Astaga, Nyonya lagi ngegas malam-malam. Apa sedang pms? Sabar dong. Sebentar lagi juga kalau sudah sah, bisa ngegas bareng di kasur," cicit Arjuna sengaja menggoda.
__ADS_1
"Mas!" pekik Bening.
"Haha..." tawa Arjuna.
Keduanya berjalan perlahan menuju tempat yang Arjuna tuju. Arjuna bahkan sudah membooking salah satu spot yang cantik di Bukit Bintang sebagai tempat ia merayakan ulang tahunnya berdua saja bersama Bening, cintanya.
"Lama banget tutup matanya, Mas. Jadi ngantuk," cicit Bening sengaja.
"Nah, sudah sampai. Sekarang aku buka ikatannya. Setelah itu kamu lihat baik-baik," ucap Arjuna seraya mulai membuka ikatan kain yang menutup mata Bening.
Perlahan mata Bening mulai terbuka. Ia mengedarkan pandangannya yang terasa di tempat yang sepi dan remang-remang.
Saat matanya sudah terbuka cukup lebar dan jelas, ia begitu terkejut berada di Bukit Bintang yang begitu indah malam ini.
Biasanya tempat ini cukup ramai namun kini hanya dirinya dan Arjuna yang berada di sana.
Foto by Google.
Tiba-tiba dari bawah muncul beberapa balon berwarna merah dan pink yang sengaja diterbangkan oleh para pegawai cafe yang tempatnya telah dibooking Arjuna. Balon-balon itu beterbangan naik ke angkasa menghiasi langit nan indah malam ini.
"Kamu lihat sayang di langit itu," bisik Arjuna mesra seraya mengarahkan mata Bening menatap sudut langit yang dimaksud.
Deg...
Bening terkejut bercampur haru kala menyaksikan sebuah kembang api meluncur lalu tiba-tiba berubah menjadi tulisan di langit yang tertera "Arjuna Cinta Bening, Selamanya".
"Mas Juna," cicit Bening yang terkejut.
"Hem," bisik Arjuna seraya memeluk Bening dari belakang.
"Terima kasih," jawab Bening lirih.
"Hem, sepertinya Nyonya Arjuna masih mode marah bin merajuk ini tanda-tandanya. Jawabnya pelan selembut kapas artinya masih ngambek," cicit Arjuna sedikit merajuk.
__ADS_1
"Kalau iya, kenapa memang?" ujar Bening ketus.
"Pertama, aku minta maaf sama sayang. Aku mau jelasin kenapa waktu itu lupa telepon kamu dan kemana saja aku waktu hari ulang tahunku. Tetapi sebelumnya aku ingin banget ucapin makasih banyak buat sayang yang udah belain ke Jakarta buat bikin surprise party buat aku dan juga sudah menjaga pena ini dengan baik. Pena ini sangat berharga untukku. Kado terakhir peninggalan almarhum Ayah," tutur Arjuna lembut seraya mengeluarkan pena khusus miliknya itu dari sakunya ke hadapan Bening.
"Siapa juga yang bikin kejutan buat Mas. Itu yang punya ide Mas Bayu sama Ayu, bukan aku!" ketus Bening yang masih dalam mode merajuk.
Akhirnya Arjuna pun mendudukkan Bening di sebuah kursi. Lalu ia berjongkok di depan Bening seraya menggenggam kedua tangan Bening penuh sayang. Cerita dari bibir Arjuna pun mengalir begitu saja secara apa adanya dan terbuka.
Tak ada satu pun hal yang luput ia ceritakan secara jujur kejadian malam ulang tahunnya di Jakarta kala itu yang tak pulang ke rumah. Begitu pun saat dirinya tak hadir di pelantikan Papa Bening menjadi Wakapolri.
Dan saat berusaha mengejar waktu ke bandara, yang pada akhirnya berujung gagal. Karena pesawat Bening sudah lepas landas beberapa menit sebelum dirinya tiba di Bandara Soekarno Hatta.
Arjuna pun jujur segala hal tentang pertemuannya dengan Stella tanpa sengaja. Namun satu hal yang Arjuna terlupa menyebutkan nama adik kandung Stella pada Bening.
Arjuna pikir hal itu tidak penting karena Arjuna sendiri tidak tahu bahwa Della dan Bening satu sekolah. Bahkan satu kelas di SMA yang sama. Bening sendiri juga tidak tahu bahwa Stella adalah kakak kandung Della, teman sekolahnya.
Sebuah helaan nafas berat keluar dari bibir tipis Bening.
Dia sangat mengapresiasi bahwa Arjuna berani jujur padanya tentang kejadian bersama Stella yang Bening sendiri pun sudah tahu tentunya. Dikarenakan mendapat kiriman foto Arjuna bersama Stella dari nomor tak dikenal tempo lalu ketika di Jakarta.
Hanya saja Bening bukan wanita yang munafik. Arjuna adalah cinta pertamanya yang dia rasakan, yakni sebuah perasaan cinta dari hati wanita pada seorang lelaki. Belum pernah ia merasakan jatuh cinta pada lelaki lain sebelum Arjuna.
Rasa kecewa dan cemburu tentu masih membekas di hatinya. Terlebih kejutan yang ia rancang harus gagal hanya karena wanita masa lalu Arjuna yang tanpa sengaja bertemu. Jika kepergian Arjuna karena tugas negara, tentu dirinya tak mempermasalahkan.
Tetapi jika berhubungan dengan wanita lain, tentu lain ceritanya. Di luar sana, pasti wanita lain pada umumnya juga akan merasakan hal yang sama dengan yang Bening rasakan.
"Maafin aku yank. Aku sudah berbicara sejujur-jujurnya sama kamu. Enggak ada yang aku tutup-tutupin. Aku beneran enggak ada hubungan apapun lagi dengan Stella. Saat itu murni aku hanya menolongnya karena empati dan sebagai abdi negara yang berada di TKP saat itu. Hanya itu tidak lebih," tutur Arjuna dengan tegas dan apa adanya.
"Iya, Mas. Aku percaya kok," jawab Bening singkat.
"Pelan banget jawabnya. Singkat, pendek, pasti masih ngambek ini. Hem..." cicit Arjuna lirih seraya menatap wajah Bening.
"Kalau aku jawab enggak ngambek namanya munafik, Mas. Pastinya aku ngambek lihat kamu sama mantanmu itu. Apalagi dulu kamu teriakin nama dia terus saat kita_" ucapan Bening terpotong.
"Ssst.... jangan bahas itu lagi. Mas enggak mau denger hal itu!" potong Arjuna.
"Nanti Mas janji akan teriakin nama kamu terus sepanjang malam pengantin kita. Dan kamu juga akan panggil nama Mas berkali-kali sampai kamu lupa buat menghitungnya. Apa perlu sekarang saja kita ke penghulu, biar langsung aku buktikan ke kamu, yank. Biar percaya," ujar Arjuna spontan dengan lugas dan tegas.
__ADS_1
Deg...
๐๐๐