Bening

Bening
Bab 109 - Kartu As Dalam Genggaman


__ADS_3

Beberapa hari kemudian di apartemen milik Doni, Della mendadak terdorong hasrrat rindu berat karena sudah satu minggu lebih tak bermain dengan Doni. Della langsung datang ke apartemen Doni setelah mendapat kabar penting.


Akhirnya keduanya pun berhasil mengarungi indahnya penyatuan mereka untuk melepas dahaga yang seminggu lebih tak dilakoninya. Keduanya masih sibuk mengatur nafasnya setelah pergumulan panas mereka.


"Tumben kamu agresif, Del. Biasanya aku yang lebih greengg," cicit Doni sambil rebahan.


"Ah, Mas Doni kenapa begituan malah dibahas. Tapi Mas Doni tetep suka kan," bisik mesra Della.


"Of course, honey. Nanti tambah lagi ya. Sekarang istirahat dulu," ucap Doni mesra.


"Siap, Mas. Love you..." ucap Della mesra.


"Love you too..." balas Doni seraya mengecup sekilas bibir Della.


Selepas mandi bersama, keduanya pun makan siang. Sebelumnya, Doni sudah memesan delivery makanan.


"Oh ya Del, aku sudah mendapatkan bukti bahwa malam itu ternyata benar Arjuna yang merudapaksa Bening di hotel. Hanya saja Arjuna memblokade cctv hotel sehingga rekaman asli dan copyannya secara keseluruhan ada di tangan Arjuna," ucap Doni sambil melahap makanannya.


"Hah, yang bener Mas? Jadi Bening nikah sama Kak Juna kemarin itu sudah enggak suci lagi?" tanya Della dengan nada terkejut.


"Betul. Dan bukti itu valid serta otentik. Tidak bisa diganggu gugat," jawab Doni.


"Mas Doni emang keren. Hebat. Bisa dapat bukti tersebut. Sekarang serahkan semua padaku. Sisanya biar aku yang bereskan. Akan aku buat nama mereka terutama nama Bening hancur karena skandal tersebut. Haha... ternyata Bening diam-diam sudah enggak gadis sejak lama. Memalukan!" ucap Della seraya tertawa lebar.


"Siapa dulu dong. Doni gitu loh," cicit Doni membanggakan keberhasilannya pada Della.


"Mas Doniku memang hebat. Keren pokoknya. Oh ya apa aku boleh lihat bukti tersebut, Mas?" tanya Della penasaran.


"Boleh. Selesaikan makan siang kita dulu, baru nanti aku cek flashdiskku. Seingatku ada di dalam tas ranselku," ucap Doni.


"Hem," jawab Della singkat.

__ADS_1


Saat keduanya masih asyik bersantap siang, mendadak ponsel Doni bergetar tanda panggilan masuk. Doni pun melirik ponselnya. Lantas ia mengatakan pada Della jangan berisik sebab yang telepon atasannya.


Della pun mengerti dan mengangguk. Doni pun menepi ke balkon lalu menutup pintu balkon secara rapat agar Della tak mendengarkan pembicaraannya. Sebab yang menghubunginya bukan atasannya melainkan mantan rekan sesama anggota yang mengetahui sisi gelap Doni.


Namun, kini lelaki ini sudah tak menjabat sebagai anggota kepolisian lagi karena pernah punya kasus pelik di masa lalu. Hingga akhirnya ia dipecat secara tidak terhormat dari institusi.


"Halo, ada apa?" tanya Doni to the point.


"Gawat, Don! Arjuna sudah mencium gelagat mencurigakan kamu. Istri korban juga sudah mengatakan kalau ada lelaki ketiga yang diduga masih hidup. Istri korban mencurigaiku, anggota juga. Kamu kan tahu, aku yang bersama dua orang preman itu di warung kopi. Aku enggak menyangka saja kalau warung itu ternyata punya bininya. Huft !" keluh rekan Doni yang bernama Romi.


Saat Doni sedang sibuk berteleponan dengan Romi di balkon, mendadak Della melakukan aksi spontannya. Secara tiba-tiba terbesit sebuah ide dalam benaknya.


Della pun mengendap-endap masuk ke kamar Doni lalu ia pun melihat sebuah tas ransel hitam terletak di atas sofa.


"Nah, ini dia tas ranselnya. Pasti milik Mas Doni," cicit Della yang tersenyum sumringah.


Lantas bergegas ia membuka tas ransel milik Doni guna mencari sesuatu. Dan hap...


"Gotcha," cicit Della seraya tersenyum devil kala mendapatkan flashdisk yang sesuai informasi Doni sebelumnya tadi berisi video Arjuna dan Bening. Dirinya tengah bahagia membuncah seakan-akan mendapatkan sebuah harta karun terpendam yang sangat berharga nilainya.


Della buru-buru memasukkan flashdisk tersebut ke dalam tempat tersembunyi di tas miliknya. Segera ia tutup kembali dan rapikan tas ransel milik Doni seperti semula. Agar Doni tak curiga padanya.


Bergegas ia kembali ke meja makan guna melanjutkan makan siangnya yang belum tuntas. Diam seperti biasa sambil tersenyum seolah-olah tak terjadi sesuatu sebelumnya.


Doni pun yang telah selesai berbicara dengan Romi, lantas kembali ke meja makan. Doni datang dengan raut wajah penuh kekesalan dan sedikit aneh bagi Della.


Namun ia tak mau mencampuri urusan Doni jika mengenai pekerjaannya sebagai anggota. Karena urusannya dengan Doni hanya sebatas have fun di atas ranjang dan perihal Arjuna Bening saja.


"Ayo Mas lanjutin makanmu. Nasinya belum habis tuh," cicit Della pura-pura memberi perhatian pada Doni karena terlihat wajah Doni sedang tak bersahabat.


"Maaf Del, aku harus pergi dulu. Ada panggilan darurat. Maaf, kencan kita jadi cuma satu ronde saja. Padahal aku pengin nikmatin hari liburku ini sama kamu di kasur," bisik Doni mesra yang langsung memangku Della di atas pangkuannya.

__ADS_1


"Mas Doni berangkat tugas saja. Aku enggak apa-apa kok. Kan nanti jika libur lagi, aku bisa ke sini lagi. Nanti kita puas-puasin deh. Gimana?" cicit Della merayu seraya mengecup pipi Doni sekilas.


"Argghh... baiklah. Tapi beri aku ciuman panjang dulu biar semangat kerjanya," bisik Doni balas merayu Della.


"As you wish honey," jawab Della.


Setelah permintaan Doni dituruti Della, akhirnya Doni pun bergegas pergi dari apartemen guna menemui Romi di suatu tempat. Sedangkan Della pulang ke rumahnya dengan wajah yang sumringah.


Tangannya memegang erat kartu as Bening yang bisa membuat nama Bening dan Arjuna jatuh sejatuh-jatuhnya.


"Haha... akhirnya kamu akan lihat pembalasan sakit hatiku dan juga sakit hati Kak Ste padamu Bening Putri Prasetyo. Semoga setelah ini kamu tak bunuh diri karena keluargamu akan malu tujuh turunan," ucap Della seraya tertawa lebar saat mengendarai mobilnya menuju rumahnya.


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


Sedangkan di tempat lain, seorang wanita tengah mual hebat. Ia sedang berjongkok di depan closet kamar mandinya. Mual-mual seperti ini sudah ia alami dalam seminggu terakhir ini. Namun tak ada isi apapun yang ia muntahkan. Hanya cairan berwarna kuning.


"Hoek... hoek... hoek..."


"Astaga aku kenapa sih. Seminggu ini mual terus tapi gak ada yang dikeluarin. Badan rasanya lemes, pusing, maunya rebahan terus. Tapi aku enggak bisa kalau begini terus," keluhnya seraya menghela nafas kasar.


Lantas ia pergi ke wastafel dan membasuh mulutnya. Ia berjalan terseok-seok sampai-sampai memegang dinding sebagai pijakan tangannya agar tubuhnya tak jatuh atau terpeleset.


Bo kongnya pun mendarat di tempat tidur. Ia merebahkan dirinya di ranjang empuknya. Menatap langit-langit dan tanpa terasa matanya berkaca-kaca sehingga buliran air mata menetes di sudut matanya, membasahi pipinya.


Tiba-tiba otaknya langsung berpikiran tentang sesuatu hal krusial yang ia alami satu minggu terakhir ini. Ia langsung bangkit dari ranjangnya dan melihat kalender.


Deg...


"Enggak. Enggak mungkin aku hamil," cicitnya yang mendadak syok menduga-duga mual-mualnya karena dirinya tengah berbadan dua.


Bergegas dirinya langsung turun dari ranjang dengan berjalan terseok-seok kembali. Ia menuju lemarinya guna mengecek sesuatu. Dan seketika...

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2