Bening

Bening
Bab 44 - Ungkapan Cinta


__ADS_3

"Buku itu dari Papa."


"Maaf, jika aku terlambat datang."


"Maaf, jika setelah kejadian itu aku tak segera mencarimu."


"Maaf, jika aku menyakitimu malam itu. Yang aku tahu saat itu pertama kalinya untukmu juga aku."


Deg...


Bening yang menatap lurus ke depan lantas menoleh pada Arjuna yang berada duduk di sampingnya.


"Kenapa menatapku begitu? Apa kamu enggak percaya kalau malam itu juga pertama buatku?" tanya Arjuna sendu menatap Bening.


Kedua pasang mata itu saling menatap lurus berusaha menyelami dan mencari apa yang memang mereka ingin cari. Cinta dan kejujuran.


Lalu Bening memutus kontak mata itu terlebih dahulu dan menatap ke depan kembali dengan rasa yang entah. Kecamuk rasa yang tengah bergejolak di hatinya. Ingin menghindari Arjuna namun seakan hatinya menolak.


"Aku datang ke rumah calon istriku di Jakarta. Tapi sayang dia kabur terlebih dahulu sebelum bertemu denganku dan juga ibu. Bahkan dia pergi membawa benihku yang tumbuh di rahimnya kala itu," cicit Arjuna lirih.


Bening berusaha menajamkan pendengarannya kala Arjuna tengah bercerita. Dan Bening sempat terkejut saat Arjuna yang menyinggung tentang calon istrinya yang tengah hamil.


Apa ada wanita lain yang dihamili Arjuna juga selain dirinya ?


Pikiran negatif sempat bergelayut dalam benaknya. Ia masih terdiam dan menghela nafas dalam. Arjuna merasakan sedikit perubahan dari Bening saat dirinya tengah bercerita tentang seorang wanita.


Arjuna pun mengulum senyum. Sepertinya misinya memancing cinta Bening berhasil.


Apa Bening tengah cemburu padanya ?


Bukankah cemburu itu artinya tanda cinta. Dirinya semakin meneruskan ceritanya kala dirinya sudah jatuh cinta pada calon istrinya itu namun takdir berkata lain.


"Terus ngapain kamu di sini? Pergilah sana! Temui calon istrimu yang kamu cintai itu. Apalagi kata kamu, sudah menemukannya. Jangan karena aku, jadi menghalangi cintamu padanya. Anggap saja apa yang terjadi pada kita kemarin hanya sebuah kenangan buruk yang perlu kita buang jauh dan hilangkan," ucap Bening dengan nada ketus serta tanpa sadar menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Bagiku malam itu bukan kenangan buruk. Namun kenangan yang begitu indah. Bahkan aku berencana mengulangnya lebih ganas lagi saat malam pengantin kita nanti hingga kamu menjerit minta ampun," ucap Arjuna tanpa filter seraya tersenyum.


Blush...


Pipi Bening mendadak bersemu merah. Yang awalnya mimik wajahnya ketus karena didera rasa yang tak suka saat Arjuna membahas wanita lain, kini berubah menjadi merah padam.

__ADS_1


Arjuna semakin tertawa ringan melihat tingkah Bening yang begitu menggemaskan. Di mulut menyuruh Arjuna pergi namun lain di hatinya. Arjuna yang seorang polisi langsung memahami situasi dan ia sudah menemukan jawaban dari gestur dan reaksi Bening padanya saat ini.


"Kenapa kamu malah ketawa? Emang ada yang lucu?" tanya Bening dengan kesal.


"Kamu makin cantik, Bening. Terlebih saat seperti sekarang ini," cicit Arjuna seraya tersenyum menatap Bening dengan penuh cinta.


"Dasar sinting!" maki Bening.


Bening pun ingin beranjak pergi namun lengannya ditarik Arjuna hingga tanpa sengaja Bening terjatuh di pangkuan Arjuna.


Deg...


Keduanya saling bersitatap dan jarak yang sangat dekat membuat tubuh mereka pun saling bersentuhan. Otomatis hal ini membuat sesuatu di bawah sana yang sedang hibernasi tiba-tiba merasakan desir yang membuatnya naik satu oktaf secara cepat.


Jantung mereka berdebar kencang dan tentu saja keduanya dapat saling mendengar suara debaran masing-masing.


"Maaf. Aku masih ingin berbicara sebentar. Setelah itu kamu bisa kembali bekerja. Sebelumnya maaf jika aku mengganggu jam kerjamu. Nanti aku akan minta ijin sama bosmu jika perlu," ucap Arjuna.


"Tidak perlu. Bosku sedang tidak ada di tempat. Temanku juga sudah menggantikan aku hanya untuk satu jam ini," ucap Bening.


"Oke, terima kasih."


Keheningan sempat terjadi kala mereka duduk kembali berdampingan. Menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Keduanya masih canggung akibat kejadian sebelumnya.


Terlebih Arjuna yang harus berusaha menahan nafas dan memukul mundur hasrat tak tahu malunya yang tiba-tiba bangkit kala berdekatan dengan Bening. Padahal dirinya masih berusaha meluluhkan Bening alias tahap PDKT (pendekatan).


"Apa kamu cemburu?" tanya Arjuna spontan.


"Hah!"


Bening spontan menoleh ke samping dengan wajah yang cukup terkejut atas pertanyaan yang terlontar dari bibir Arjuna.


"Cemburu dengan calon istriku tadi yang kuceritakan," tutur Arjuna seraya terkekeh.


"Huh... sepertinya kaca di rumahmu kurang besar. Apa perlu aku belikan?" tanya Bening mendengus sebal.


"Siapapun wanita yang mendekatiku, tidak ada yang spesial bagiku kecuali calon istriku tadi. Hanya dia yang aku cintai. Hanya dia yang aku mau. Hanya dia yang aku inginkan untuk mendampingi hidupku sampai menutup mata. Hanya dia. Jika bukan dia, aku tak mau."


"Kamu tahu wanita itu, siapa?"

__ADS_1


"Mana aku tahu, Juna! Memangnya aku Bu Camat yang mau sensus penduduk!" pekik Bening.


"Wanita itu, kamu. Bening Putri Prasetyo. Putri kandung Komjen Pol Prasetyo Pambudi. Hanya Bening yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak," jawab Arjuna to the point seraya tulus penuh cinta.


Deg...


Bening pun tertegun dan menatap Arjuna berusaha mencari kebohongan di mata Arjuna. Akan tetapi yang ia temukan hanya sebuah kejujuran. Tak ada kebohongan dalam sorot mata itu.


Ia pun berusaha menetralkan nafasnya. Ungkapan Arjuna baru saja membuatnya cukup terkejut. Ia tak menyangka Arjuna berani mengungkapkan cinta padanya.


"Kamu enggak tengah salah minum obat atau mabuk kan, Juna?" tanya Bening berusaha mengalihkan.


"Tatap mataku Bening. Apa aku seperti orang yang sedang mabuk atau berhalusinasi?" tanya Arjuna dengan serius berusaha meyakinkan Bening.


Dan tanpa sadar Bening menggelengkan kepalanya. Lalu keduanya kembali terdiam. Dan akhirnya Bening mencoba berbicara kembali pada Arjuna.


"Apa alasan kamu mencintaiku?" tanya Bening lirih dan menatap lurus ke depan. Pemandangan hijau nan asri yang membuat sejuk hatinya.


"Karena aku percaya dengan janji Allah, Bening. Bahwa seorang lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Dan wanita itu adalah kamu, Bening. Aku ingin kamu menyempurnakan kekuranganku dengan kesempurnaan yang kamu miliki. Bahkan saat kamu pergi dari rumah, aku datang dengan ibuku untuk melamarmu sebagai calon istriku. Saat ini pun restu dari Papa sudah ada di tangan. Hanya cintaku yang belum kamu balas," tutur Arjuna dengan tulus.


"Papa?" tanya Bening lirih dan sendu mengingat Papanya yang sangat ia rindukan.


"Papamu betul-betul merasa bersalah padamu dan menyesal. Beliau sudah menceritakan padaku mengenai semua kesalahannya padamu sejak kecil hingga kamu besar. Saat namamu terpampang sebagai salah satu korban tewas dalam tragedi pesawat itu, maka saat itu juga dunia Papamu runtuh."


"Berusaha tersenyum dan bangkit di depan umum. Akan tetapi kala sendirian, hanya bisa menyesal dan meratapi kesedihan yang mendalam atas kehilanganmu. Bahkan pernah ketika aku tidur di kamarmu, aku mendengar jeritan tangis pilu Papamu walaupun lirih. Sungguh menyayat hati. Pulanglah, Bening. Papamu sangat merindukanmu. Pasti Papa sangat bahagia melihatmu masih hidup," tutur Arjuna.


Deg...


Tanpa terasa mata Bening berkaca-kaca. Mengingat sang Papa yang hidup sendirian pasti kesepian. Air matanya menetes seiring hatinya yang juga rindu dengan cinta pertamanya itu.


Apa benar yang Arjuna katakan bahwa Papanya banyak berubah dan sangat merindukan dirinya?


"Bulan depan Papamu akan diangkat menjadi Wakapolri. Apa kamu tak ingin mengucapkan selamat padanya atau menemaninya saat serah terima jabatan?" tanya Arjuna dengan nada sedikit memohon.


"A_ku... aku_" ucapan Bening terpotong.


"Tidak perlu dijawab sekarang. Kamu bisa pertimbangkan kembali saranku tadi. Kamu tenang saja, aku akan tutup mulut dan tidak menyampaikan pada Papa dan juga ibuku bahwa kamu masih hidup dan berada di Yogyakarta. Semua keputusan aku serahkan padamu selama kamu menuruti beberapa syarat dari aku," ucap Arjuna sedikit mengancam seraya tersenyum.


"Kamu mengancamku! Syarat apaan?" tanya Bening ketus.

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2