
Sebelumnya, Arjuna telah berkonsultasi pada dokter Heni tentang rencananya untuk mengubah kenangan pahit masa lalu menjadi sebuah kenangan manis.
Yakni kenangan yang terjadi pada kamar nomor 779 hotel bintang lima di pusat kota Bandung. Tempat bersejarah bagi Arjuna maupun Bening di mana kamar tersebut sebagai saksi bisu Arjuna merenggut kesucian Bening setahun yang lalu.
"Hal itu tak jadi masalah Juna, selama Bening mau berusaha mengatur emosi dirinya sendiri sehingga gangguan kecemasan semisal hadir atas puzzle kenangan pahit tersebut bisa diatasinya dengan baik. Namun bila sebaliknya, kamu harus sabar dan memaklumi andaikata Bening belum bisa melakukan malaam perrtama kalian," tutur Dokter Heni.
Itulah beberapa pesan Dokter Heni sebagai psikiater Bening beberapa waktu lalu. Dan saat pesta pernikahan Arjuna dan Bening tadi, Dokter Heni juga tampil anggun datang pada perhelatan akbar tersebut.
Selain memberi ucapan selamat dan kado, Dokter Heni pun memberi beberapa wejangan pada Arjuna mengenai tips suami siaga untuk Bening apabila istrinya itu dilanda ketakutan berlebihan saat berada di kamar 779 tersebut.
Arjuna sudah sangat paham atas apa yang disampaikan oleh Dokter Heni maupun resikonya. Dirinya sudah bertekad ingin mengubah kenangan masa lalu di kamar tersebut menjadi kenangan terindah sepanjang hidup mereka berdua.
โ๏ธโ๏ธ
Bening begitu tercengang saat berada di atap hotel ternyata sebuah helikopter TNI AU sudah menanti mereka yang dikemudikan oleh rekan dekat Arjuna. Dalam pekatnya malam keduanya pun terbang dari Jakarta ke Bandung.
Bening masih belum mengetahui ia akan dibawa Arjuna ke mana di saat malam pengantin seperti ini. Namun ia sangat percaya, suaminya tak akan membuatnya bersedih hati tetapi akan selalu berusaha membahagiakannya.
Sebuah pernikahan memang wajib dilandasi oleh pondasi kokoh selain cinta, yakni kepercayaan dan kesetiaan.
Kini mereka berdua sudah tiba di depan kamar hotel yang sama saat one night stand setahun yang lalu terjadi. Kamar 779.
Deg...
Bening mendadak berkeringat dingin, ia menggenggam erat tangan suaminya. Dan Arjuna mengetahui hal tersebut. Ia membalas genggaman tangan Bening dengan lembut dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Ketakutan itu harus dihadapi bukan dihindari.
"Mas..." cicit Bening mengeratkan tangannya pada lengan Arjuna.
"Aku ingin mengubah kenangan di kamar ini menjadi kenangan indah yang selalu kita kenang sepanjang hidup, sayang. Jika Tuhan berkehendak, semoga setelah kita melakukan ibadah malam ini di kamar ini, di sini bisa segera tumbuh calon anak-anak kita."
Arjuna membisikkan kalimat positif nan indah serta harapannya seraya mengelus perut Bening dengan lembut.
Nyesss...
Membuat Bening tak bisa berkata apapun. Dirinya menjadi terbaru bahwa Arjunanya begitu mencintainya sehingga ingin membayar kenangan pahit masa lalunya di tempat yang sama menjadi kenangan yang indah dan memorable.
"Apa kamu mau sayang? Jika tidak, aku tak akan memaksa."
__ADS_1
Keheningan melanda sekian detik dan akhirnya Bening pun bersuara setelah menghela nafas berat. Dan sebuah senyuman terkembang di raut wajah cantiknya.
"Aku mau Mas. Dengan senang hati. Karena kamu adalah imamku sekarang dan ladangku mendapatkan pahala," cicit Bening menatap Arjuna penuh cinta.
"Yakin? Enggak nyesel?" tanya Arjuna kembali untuk meyakinkan istrinya itu karena ia tidak mau memaksakan kehendaknya.
"Asal bersama Mas, aku yakin."
Bening pun menjawab dengan lugas dan meyakinkan.
"Ayo kita masuk," ajak Arjuna yang diangguki oleh Bening.
Ceklek...
Derit pintu kamar 779 pun terbuka. Bening pun begitu takjub melihatnya. Sungguh kamar pengantin ini terlihat begitu indah dan elegan. Tampak cinta Arjuna yang begitu banyak untuknya tersirat jelas dalam kamar ini.
Bunga mawar kuning dan putih menghiasi hampir di seluruh sudut kamar. Ranjang dan lantai penuh dengan bunga. Dan ada sebuket bunga mawar besar berwarna pink yang ada di sebelah kanan ranjang berdiri dengan kokohnya dan memukau.
Seketika bayangan kelam di masa lalu pun sirna seketika. Dan tiba-tiba sebuah dekaapan hangat dari sepasang lengan kokoh mendekap tubuh Bening dari belakang.
"Sayang suka, hem..." bisik Arjuna mesra di telinga Bening seraya mendekapnya.
Kakinya yang saat ini seperti agar-agar rasanya lemas seketika mendapat pelukan hangat dari Arjunanya yang sudah halal baginya.
"Sayang pengin anak berapa?" tanya Arjuna sengaja mengalihkan perhatian sebelum memulai sesuatu yang harusnya sudah dimulai sejak tadi.
"Sedikasihnya sama Allah, Mas. Kalau Mas sendiri pengin berapa?" tanya Bening.
"Kesebelasan gimana? Sanggup enggak Nyonya Arjuna," pinta Arjuna seraya terkekeh bercanda.
"Mass!!" pekik Bening seraya mencubit pinggang Arjuna di mana suaminya itu lari terbirit-birit.
Dan grep...
Arjuna menarik lengan Bening hingga sang istri terjatuh di atas tubuhnya. Keduanya sudah berada di atas ranjang dengan posisi Bening mengungkuung Arjuna di bawahnya.
Deg...
__ADS_1
Jantung keduanya berdegup kencang dan entah siapa yang memulai duluan, kini bibir keduanya tengah berpaagut mesra. Dan Arjuna telah membalikkan posisi sehingga Bening saat ini tampak tenggelam dalam kuasa gagah seorang Arjuna Sabda Mahendra.
Bibir Bening terasa keebas. Sebab suaminya ini mendadak begitu ganaas meluu matt dan menyee saap bibirnya tanpa jeda. Bak seorang pengembara yang sedang kehausan di padang pasir tandus lantas menemukan suatu oase yang telah lama dirindukan.
Arjuna pun memberanikan diri menyuusupkan lidahnya untuk merasakan kemanisan mulut sang istri yang membuat Beningnya kewalahan. Namun tak lama Bening pun mampu belajar dan segera beradaptasi hingga dirinya pun berani membalas dengan beliitan serupa.
Hal itu semakin membuat Arjuna meneekan dan memperdaalamm ciu mannya.
Bahkan tangan Arjuna telah piawai meluucuti pakaian Bening hingga menyisakan penutup segitiga bermuda sang istri. Penyangga kacamata kembar pun telah berhasil dilepaskan Arjuna.
Tanpa basa basi kini puncak meng godaa itu pun hilang dalam lipatan mulut Arjuna. Dan juga kehangaatan liidaahnya. Menye-caap dan menghiisaap raakuss bak bayi yang tengah meminum nutrisi dari sumbernya langsung. Sementara tangannya meree maass pingguul Bening.
Keecuupan bertubi-tubi dilancarkan oleh Arjuna. Seraangan penuh cinta dirasakan sekali oleh Bening dan tubuhnya. Mulai dari bibirr, leheer, kacaamatta kembar turun ke puusaar dan wajah sang suami telah tenggelam sempurna menikmati isi di balik segitiiga bermuda milik Bening yang membuat ular megalodon di bawah sana semakin memberontak.
"Akk khh... Mass." Bening tersentak s3ngaatan nikkmaat, mendongak dengan mulut terbuka.
"Mmm, Bening. Sayang," geram Arjuna yang kini kembali meraayapp naik. Keduanya bertukar sali-va dan saling meraabba.
Dan saat menuju malaam penuh bintang di puncak acara, di mana si ular megalodon yang siap melakukan manuver serangan memasuki area yang dahulu terlaarrang baginya namun kini telah halal, mendadak Bening teringat sesuatu.
Seketika ia bangun dan membuat Arjuna yang tak siap hampir saja terjungkal. Beruntung tidak jatuh ke lantai. Padahal kepalaa ular megalodon sudah berada di depan pintu tinggal menerobos maasuk namun terjeda.
"Astaga, sayang. Ada apa?" tanya Arjuna seraya menahan nafass berat.
"Aku mau mengecek sesuatu dulu, Mas."
"Ya ampun, ngecek apa?" tanya Arjuna seraya memejamkan mata sambil berusaha menarik nafas kembali.
Rasanya pening tak karuan di ubun-ubun. Ibarat kata seperti kita datang ke pesta pernikahan tema prasmanan, saat akan mencoba sisa menu yang ada, namun piring dan sendok sudah diberesi oleh pelayan catering. Rasanya dongkol dalam hati tapi bukan ikan tongkol.
"Ngecek itu," cicit Bening seraya menunjuk sesuatu.
"Apa yank? Jangan main tebak-tebakan di malam pengantin kita. Besok saja main tebak-tebakannya pasti aku ladenin sampe 69 jam juga enggak apa-apa," ucap Arjuna yang sudah diambang batas menahan sesuatu yang bergejolaak di bawah sana.
Bening pun membisikkan sesuatu di telinga Arjuna yang dalam posisi telentang. Dan sontak Arjuna terkejut.
"Hah! Enggak salah kamu mau lihat itu dengan seksama," ucap Arjuna terkejut.
__ADS_1
๐๐๐