Bening

Bening
Bab 104 - Jogjakarta "Kota Penuh Kenangan"


__ADS_3

Ketika Arjuna berada di Bogor, sang mertua yakni Komjen Pol Prasetyo Pambudi tengah berada di kota Bandung. Mendadak dirinya rindu dengan mendiang istrinya.


Alhasil ia bertandang ke Bandung bersama ajudan pribadinya, Riko, yang selalu setia bersamanya di manapun ia berada. Embun dimakamkan di kota yang dikenal dengan julukan Paris van Java atau Kota Kembang tersebut.


Sebuah batu nisan tertera nama Embun Mentari Hadnan. Gundukan tanah kering yang menjadi tempat peristirahatan mendiang istrinya itu tidur untuk selama-lamanya, kini penuh dengan taburan bunga.


Tangannya terulur menabur bunga memenuhi pusara Embun. Tak lupa ia pun menyiraminya dengan air sehingga tanah pemakaman Embun tampak basah layaknya pemakaman yang masih baru. Dan khusyu' memanjatkan doa untuk mendiang istrinya.


"Sayang, maaf lama tak ke sini. Kamu pasti marah karena aku terlalu sibuk. Maaf." Sebuah helaan nafas berat keluar dari bibirnya.


"Apa kamu sudah bahagia sekarang di sana bersama cucu kita, Putra Arjuna? Pasti kalian bahagia karena di sini Bening sudah bahagia bersama Arjuna." Tangan Papa Bening mengelus-elus batu nisan Embun dengan penuh cinta.


"Sayang, aku rindu kamu. Apa kamu di sana rindu aku juga? Semoga kita bisa berkumpul kembali bersama di sana. Doakan agar Bening segera hamil. Biar rumah kita jadi ramai kembali dengan tangis bayi. Pasti seru," cicit Papa Bening.


Riko senantiasa dengan setia berada dan melihat dari kejauhan yang dilakukan komandannya itu di makam mendiang Embun. Bahkan saat punggung tua itu bergetar karena menangis di dekat pusara Embun pun, Riko tahu.


Sebagai ajudan pribadi Papa Bening sejak lama, Riko sangat tahu betapa sang Komandan sangat mencintai mendiang istrinya itu. Dirinya berharap semoga keluarga sang komandan selalu bahagia dan damai.


"Aku pamit pulang dulu, Embun. Aku akan ke Jogjakarta bertemu putri kita. Mendadak aku rindu padanya. Sampai jumpa lagi sayang. Miss you so much..." cicit Papa Bening seraya berpamitan.


Selepas dari Bandung, Papa Bening dan Riko pun langsung bertolak ke Jogjakarta. Komjen Pol Prasetyo Pambudi tengah libur selama tiga hari setelah safari kedinasan yang cukup melelahkan keliling Indonesia selama beberapa minggu yang lalu.


Alhasil dirinya sudah lama tak bertemu menantu dan putrinya. Ia tahu bahwa Arjuna tengah berada di Bogor untuk menangani kasus. Dan dirinya memutuskan bertandang ke Jogjakarta. Selain rindu dengan Bening, dirinya juga ingin bertemu dengan seseorang.


Setelah satu jam lebih lima menit mengudara dari Bandung ke Jogjakarta, akhirnya Papa Bening dan Riko pun menginjakkan kakinya di kota Gudeg. Kota yang penuh dengan kenangan bagi seorang Komjen Pol Prasetyo Pambudi. Dan ia ingin membuat suatu kenangan bahagia di sana.


Saat ini jam menunjukkan pukul tiga sore, tepat di hari Minggu. Sebelum bertemu Bening, ia memutuskan menghubungi seseorang.


"Halo, Hen. Ini aku Pras. Kamu sekarang ada di mana?" tanya Papa Bening antusias via telepon.


"Hah, tumben kamu telepon aku jam segini. Ada apa? Kangen?" tanya Dokter Heni sengaja bercanda sekaligus terkejut karena Papa Bening meneleponnya. Keduanya cukup lama tak saling berkabar sejak Bening dan Arjuna menikah beberapa bulan lalu.


"Aku sekarang lagi di Jogja. Mau ajak kamu keluar sebentar. Ada yang marah enggak?" tanya Papa Bening to the point.


"Ini beneran kamu Pras atau kembaran kamu? Pagi tadi perasaan matahari masih terbit di sebelah timur bukan terbit dari barat," ujar Dokter Heni heran sekaligus sengaja meledek Papa Bening.


"Aku mau menemui Bening karena lama tak jumpa. Kemarin-kemarin masih sibuk safari keliling. Libur beberapa hari jadi aku manfaatkan sebentar ke Jogja. Cuma sebelum bertemu Bening, ingin ngajak kamu keluar dulu. Boleh?" tanya Papa Bening memperjelas.


"Oh begitu. Kirain," cicit Dokter Heni lirih.

__ADS_1


"Kirain apa?" tanya Papa Bening.


"Enggak apa-apa. Kirain kamu ketemu aku mau kasih oleh-oleh hasil safari keliling jadi Pak Wakapolri," ledek Dokter Heni sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Maaf, aku enggak bawa oleh-oleh. Nanti di jalan kamu mau beli apa, aku belikan."


"Dasar orang-orangan sawah. Dari dulu sampai sekarang gak nyambung!" batin Dokter Heni menggerutu.


"Gimana, Hen? Kamu di mana sekarang? Aku jemput," ujar Papa Bening.


"Aku di rumah. Kebetulan sedang libur juga kok. Jemput saja di rumah," jawab Dokter Heni.


"Oke aku ke sana. Paling setengah jam aku sudah sampai. Kamu siap-siap saja," ucap Papa Bening.


"Siap 86, Ndan!" jawab Dokter Heni antusias.


"Haha..." tawa Papa Bening.


"Sampai jumpa, Hen. Aku tutup teleponnya."


"Oke, Ndan."


Dokter Heni pun langsung masuk dan duduk di samping Papa Bening yang sengaja tak keluar dari mobil karena Dokter Heni sudah siap di teras rumahnya. Dan tak lama mobil pun melaju meninggalkan kediaman Dokter Heni untuk pergi ke suatu tempat.


Di dalam mobil terjadi keheningan sejenak. Namun Dokter Heni pun memutuskan bersuara terlebih dahulu agar tidak didera rasa penasaran. Mendadak lelaki yang pernah ia cintai ini bersikap cukup aneh, pikirnya.


"Ehem... kita mau ke mana, Pras?" tanya Dokter Heni to the point.


"Pergi makan sambil lihat sunset. Kebetulan aku laper belum makan dari tadi. Temani aku makan sebentar," jawab Papa Bening.


"Di mana?" tanya Dokter Heni kembali.


"Ada. Deket kok. Sebentar lagi juga sampai," jawab Papa Bening.


Akhirnya Dokter Heni pun tak bertanya kembali dan melihat mobil yang ia tumpangi menuju arah jalan ke kawasan Candi Ratu Boko.


Abhayagiri Restaurant. Papan nama yang tertera dan ia baca saat mobil mereka memasuki kawasan restoran yang dikenal cukup mewah dengan pemandangan sangat indah dan menarik untuk dinikmati.


Sekitar empat puluh menit dari rumahnya menuju ke restoran ini. Letaknya yang tak jauh dari Candi Ratu Boko membuat pemandangan di sekitar Abhayagiri Restaurant begitu eksotik. Terlebih saat sore seperti sekarang ini hingga malam hari.

__ADS_1


Banyak pengunjung yang datang ke restoran ini kala sore hari untuk berburu sunset dan malam hari untuk berburu pemandangan cantik dari Candi Prambanan.


Ketika masuk, sudah ada seorang pelayan khusus yang mengarahkan mereka menuju meja yang ternyata sudah Papa Bening reservasi sebelumnya. Ia sangat terkejut melihat lelaki yang diam-diam namanya masih bersemayam di hatinya ini membuat kejutan yang boleh dibilang cukup romantis baginya.


Namun ia berusaha bersikap biasa saja. Tidak ingin memberi reaksi apapun atas apa yang dilakukan Papa Bening padanya hari ini. Keduanya pun akhirnya duduk di tempat yang sudah direservasi tersebut.


Lantas pelayan pun menyodorkan buku menu pada keduanya. Papa Bening memesan Beef Wellington dan juga Premium Tea. Sedangkan Dokter Heni memesan Pan Roasted Salmon dan minuman es beras kencur.



Foto By Google.


Tak lama pesanan mereka pun datang. Lalu keduanya makan seraya menikmati sunset dan pemandangan alam sekitar yang sangat sejuk dalam keheningan. Hanya terdengar dentingan pisau dan garpu yang mereka gunakan.


"Hen," panggil Papa Bening seraya menatap Dokter Heni.


"Ya," jawab Dokter Heni singkat seraya membalas tatapan mata Papa Bening dengan serius.


"Maaf," cicit Papa Bening.


"Untuk?" tanya Dokter Heni heran seraya memicingkan tatapannya menelisik sesuatu di raut wajah Papa Bening yang cukup aneh baginya.


"Semua kesalahanku di masa lalu yang menyakitimu," jawab Papa Bening dengan lugas.


"Bukankah sudah kamu lakukan tempo lalu. Dan aku sudah memaafkanmu dan melupakan semuanya yang terjadi di masa lalu antara kita. Kenapa lagi?" tanya Dokter Heni semakin heran dengan sikap Papa Bening.


"Enggak apa-apa. Terima kasih masih mau berteman denganku setelah semua yang terjadi," jawab Papa Bening.


"Kamu aneh tahu gak Pras, hari ini. Beneran deh, sumpah. Sejak kamu telepon aku dan mendadak ke Jogja terus ngajak aku makan di sini. Kamu ngerasa beda gak sih? Apa kemarin kamu safari keliling salah minum obat?"


"Aneh-aneh saja kamu. Setelah ini ikut aku pergi ke mall sebentar. Aku mau beli sesuatu. Setelah itu aku antar kamu pulang," ucap Komjen Pol Prasetyo Pambudi seraya tersenyum tipis.


"Katanya kamu rindu mau ketemu Bening. Kok enggak langsung ketemu Bening?" tanya Dokter Heni.


"Besok pagi saja aku ke rumah besanku. Setelah antar kamu pulang, aku langsung ke hotel. Mau istirahat dulu," jawab Papa Bening.


Keduanya pun terdiam kembali dan Dokter Heni melirik Papa Bening yang tengah tersenyum memandang pemandangan alam di depan tempat mereka duduk.


"Ah, semoga ini hanya perasaanku saja. Sepertinya aku kurang minum jadi terlalu memikirkan orang-orangan sawah ini," batin Dokter Heni.

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2