
Assalammualaikum Mas Arjunaku.
Selamat Ulang Tahun.
Semoga Mas Arjuna selalu menjadi putra terbaik untuk Papa dan Ibu.
Maaf, pasti Mas terkejut menerima kejutan dan kado dariku. Hihi... ^^
Pena ini selalu aku bawa kemanapun. Tetapi, sekarang pena ini sudah waktunya kembali pada pemiliknya.
Dulu saat terbangun di Bandung, hanya pena ini yang aku temukan. Tega-teganya Mas enggak meninggalkan catatan kecil atau apapun yang lain. Uang segepok mungkin haha... buat kenyangin perutku makan cilok.^^
Sekarang, aku kembalikan pena milikmu. Pena itu pasti sangat mahal dan juga berarti buat Mas. Maaf, kalau aku menyimpannya bersamaku terlalu lama. Semoga dimaafin.
Maaf, jika selama ini aku belum bisa mengucapkan kata ini untukmu. Terima kasih telah sabar menungguku untuk bisa mengatakannya pada Mas Arjuna walaupun hanya melalui sepucuk surat ini.
Aku, Bening Putri Prasetyo mencintaimu Mas Arjuna Sabda Mahendra.
Semoga engkau pun selalu setia memiliki rasa yang sama padaku hingga kelak nanti kita menikah dan hingga akhir hayat. Hanya kita. AMIN...
Dari Bening,
Yang selalu mencintaimu hingga menutup mata.
Deg...
Tangan Arjuna mendadak tremor usai membaca surat cinta dari Bening. Ya, selama ini dirinya selalu meminta Bening mengatakan cinta padanya.
Akan tetapi Bening hanya bisa tersenyum dan belum mengucapkan kalimat sakral tersebut yang ditunggu-tunggu oleh Arjuna.
__ADS_1
Walaupun secara gestur tubuh, Bening memang terlihat mencintai Arjuna. Tetapi Arjuna ingin mendengar Bening mengucapkan kalimat tersebut.
Dan saat ini, kesabaran Arjuna terbayar sudah. Bening mengucapkan kata-kata cinta walaupun hanya melalui sepucuk surat. Menyatakan secara lugas bahwa Bening mencintai dirinya.
Ia yakin jika saja malam tadi dirinya bertemu Bening saat memberi kejutan ulang tahunnya, maka calon istrinya itu pasti mengucapkan secara langsung dari bibir manisnya. Namun sayang, waktu tak dapat diputar kembali.
Kejadian tak terduga semalam, membuat kejutan dari Bening untuknya gagal total. Ia benar-benar menyesal telah mengabaikan Beningnya padahal ia sudah berjanji.
Terlebih semalam dirinya bersama Stella secara tak sengaja. Wanita yang pernah menjadi masa lalunya. Ia merasa marah pada dirinya sendiri saat ini, karena tanpa sadar telah menyakiti hati Bening.
Walaupun ia tidak melakukan hal negatif apapun saat bersama Stella. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana semalaman Bening menunggu dan mencemaskan dirinya.
Apalagi ponsel miliknya drop dan tak bisa dihubungi sejak semalam. Ditambah tadi pagi ponselnya basah karena Della sehingga dirinya harus membuang waktu pergi ke tempat service ponsel.
"Arrghh!!" pekik Arjuna seraya menjambak rambutnya sendiri.
Tiba-tiba Bik Siti yang terbangun mendengar teriakan Arjuna, langsung keluar kamar dan bergegas menuju ruang tamu.
"Bik..."
"Iya, Den."
"Semalam, Bening ke sini ya?" tanya Arjuna sendu.
"Iya, Den. Sama Mas Bayu dan juga Neng Ayu. Mereka bertiga semalaman nungguin Den Arjuna pulang. Tapi kok tumben enggak pulang, gak kasih kabar juga ke Bibik atau Yono. Jadi semuanya semalaman pada cemas nungguin Den Juna pulang," tutur Bik Siti.
"Bening pasti sedih. Aku sudah ngecewain dia," cicit Arjuna lirih dan tertunduk lesu.
Sebuah helaan nafas meluncur dari bibir Bik Siti.
__ADS_1
"Sabar Den, pasti Non Bening maafin Den Juna kok."
"Calon istri Den Juna itu sudah cantik, baik dan kelihatan cinta banget. Pasti dimaafin. Percaya sama Bibik."
"Semua ini yang punya ide Non Bening loh, Den. Bahkan mereka nunggu Den Juna pulang sampai jam satu pagi. Eh, Den Juna masih belum juga datang. Akhirnya Non Bening minta dianter pulang sama Mas Bayu. Enggak enak sama tetangga di sini. Kan Den Juna sama Non Bening belum sah. Bener-bener wanita idaman banget buat dijadikan istri dan calon ibu buat anak Den Juna nanti. Memang pilihan Tuan dan Nyonya besar enggak salah lagi. Non Bening yang terbaik buat Den Juna," tutur Bik Siti seraya tersenyum sumringah memuji Bening.
"Bening ada bilang sesuatu ke Bibik enggak semalam?" tanya Arjuna lirih.
"Enggak ada, Den."
"Huft... sekarang giliran ponsel mereka bertiga yang enggak bisa aku hubungi."
"Ya sudah sabar, Den. Kalau pun Non Bening ngambek, pasti enggak akan lama. Yang penting Den Juna tunjukkin ke Non Bening, kalau Aden beneran nyesel dan jelasin dengan jujur semalam ke mana saja dan ngapain. Bik Siti yakin Non Bening enggak akan marah lama-lama sama Den Juna."
"Namanya calon penganten, Den. Biasa seperti ini kalau lagi diuji sama Gusti Allah. Biar naik ranking, jadi diuji dulu. Yang penting sabar dan jangan menyerah. Bibik yakin Den Juna dan Non Bening bisa melewati cobaan atau kerikil tajam sebelum menikah," tutur Bik Siti menasihati Arjuna.
Akhirnya Arjuna pun yang awalnya lesu maka sekarang dia sangat bersemangat ingin menemui Beningnya guna menjelaskan dan meminta maaf. Dirinya pun bergegas masuk kamar untuk membersihkan diri.
Awalnya, dirinya ingin langsung pergi mencari Bening yang ia yakini berada di rumah Papanya. Namun, Bik Siti mengatakan harus bersih dan ganteng bila menemui calon istri dan mertua.
"Masak calon Pak Kombes bertamu ke rumah mertua lecek dan bau begini kayak benang kusut. Pamali atuh Den Juna," ledek Bik Siti seraya terkekeh.
Akhirnya Arjuna pun menuruti nasihat Bik Siti.
"Nah, sekarang calon Pak Kombes sudah ganteng maksimal. Semangat Den Juna!"
"Makasih, Bik. Doakan saya," ucap Arjuna setengah berteriak sambil bergegas masuk ke dalam mobilnya guna menuju rumah Papa Bening.
"Pasti, Den. Hati-hati di jalan," jawab Bik Siti.
__ADS_1
๐๐๐