
Arjuna menjadi bulan-bulanan sang Ibu. Telinga hingga kaki dan tangannya tampak kemerahan, menjadi pelampiasan kemarahan Ny. Lina karena Arjuna menolong Stella daripada pulang ke rumah. Di mana Bening sudah menunggunya untuk memberi kejutan ulang tahun saat itu.
Arjuna menatap sebal pada Ayu. Akibat ulah bibir lemesnya Ayu yang keceplosan mengadu pada ibunya, berakibat fatal bagi Arjuna. Sehingga calon Pak Kombes tersebut mendapat jeweran dan cubitan dari sang Ibu yang gemas dan kesal padanya.
Ayu yang menyaksikan aksi seru antara ibu dan anak itu pun hanya bisa cekikikan tanpa dosa di balik pintu kamar Arjuna yang tak tertutup sempurna.
Bahkan Ayu sempat melongokkan kepalanya untuk masuk sedikit ke kamar Arjuna walaupun hanya sebatas di pintu saja, tak lupa ia mengabadikan momen seru Ny. Lina yang mencubit hingga menghukum Arjuna.
Selepas hukuman di pagi buta itu usai, kini Arjuna sudah berpakaian rapi dengan seragam dinasnya. Sebab ia sudah berjanji akan mengantar Bening ke kampus, sekaligus sarapan nasi gudeg bersama di warung langganan Arjuna yang cukup terkenal di Yogyakarta.
Arjuna diantar Pak Tikno ke kosan Bening. Lalu Arjuna yang mengendarai mobil Bening menuju warung gudeg favoritnya. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Masih sempat sarapan sebelum Bening masuk jam delapan pagi.
Kebetulan lokasi sarapan mereka tak begitu jauh dari UGM, kampus Bening.
Keduanya pun makan dengan lahap diselingi sedikit canda tawa namun tak begitu lama karena waktu yang singkat. Usai sarapan, Arjuna pun mengantar Bening ke kampusnya.
Saat Bening akan keluar dari mobilnya, Arjuna langsung mengunci otomatis. Alhasil Bening gagal keluar.
"Ada apa lagi, Mas. Sebentar lagi aku masuk. Kurang sepuluh menit, kuliahku di mulai."
Bening menggerutu kesal sebab Arjuna malah mengunci pintu mobil dan menahannya sehingga ia tak bisa segera masuk kelas.
"Masih ada waktu yank. Aku kan masih rindu. Habis antar kamu kuliah, aku langsung ke bandara buat balik ke Jakarta."
Sebuah pelukan hangat menubruk tubuh Bening yang sudah terlepas dari seat belt (sabuk pengaman). Bening pun membalas pelukan Arjuna dengan mengelus punggung kokoh tersebut dengan perlahan.
"Satu minggu lagi aku kan ke Jakarta buat memastikan beberapa hal tentang perintilan pernikahan kita sekalian fitting baju terakhir. Jadi kita masih bisa ketemu sebelum aku dipingit," bisik Bening lembut.
"Dua minggu kok terasa lama ya yank. Berasa dua abad," gerutu Arjuna.
__ADS_1
"Sebentar dong, Mas. Enggak lama kok. Sabar sayang," bisik Bening lirih.
"Kamu bilang apa barusan yank?" tanya Arjuna seraya melepas pelukannya lalu menatap Bening.
"Yang mana, Mas?" tanya Bening pura-pura tak tahu padahal dia tahu maksud Arjunanya.
"Setelah kata sabar kamu bilang apa tadi?" tanya Arjuna kembali yang tak sabaran.
"Sabar subur?" tanya Bening sengaja menggoda.
"Ah... iseng banget sih yank, kamu itu. Gemesin tahu," cicit Arjuna dengan gemas yang sudah di ubun-ubun.
"Tahu tempe," canda Bening.
"Haha..." tawa Arjuna.
"Ah... adem. Jadi males pulang ke Jakarta pengin lihatin kamu terus yank," goda Arjuna sembari tertawa lebar.
"Nanti aku mau kamu kasih makan apa kalau enggak kerja, Mas? Makan cinta? Idih..." gerutu Bening sengaja.
"Makan empat sehat lima sempurna dong yank. Nyonya Arjuna Sabda Mahendra harus wajib berisi karena biar enak kalau dipegang-pegang malamnya," kelakar Arjuna.
"Dasar encum!" pekik Bening seraya menjewer telinga Arjuna dengan gemas.
Akhirnya drama sebelum masuk kuliah yang terjadi di dalam mobil, tepatnya di kawasan parkiran kampus yang agak sepi, selesai juga. Arjuna bercanda tawa dengan calon istrinya itu tanpa sadar sudah menyita banyak waktu Bening.
Beruntung Bening tidak terlambat masuk. Karena ia sudah berada di kelasnya tepat satu menit sebelum pembelajaran dimulai. Jika terlambat berujung tak bisa masuk kelas. Sebab dosen pengajar mata kuliah pagi ini dikenal cukup killer.
Sedangkan di sisi lain, setelah mengantarkan Bening ke kampus, Arjuna bergegas menuju Bandara Adisutjipto untuk kembali ke Jakarta.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Satu minggu kemudian.
Persiapan pernikahan Arjuna dan Bening sudah hampir rampung sekitar 90%. Undangan untuk VVIP seperti Presiden dan Wakil Presiden serta pejabat teras sudah dikirimkan oleh staf khusus Komjen Pol Prasetyo Pambudi sehari setelah Arjuna dan Bening lamaran di Yogyakarta tempo lalu.
Saat ini Bening tengah berada di Jakarta selama dua hari yakni hari Sabtu dan Minggu. Hari Senin, dirinya harus sudah berada di Yogyakarta untuk menjalankan sisa kuliahnya beberapa hari lagi sebelum pernikahannya.
Bening pun telah mengundurkan diri dari pekerjaannya di bakery shop. Hal ini atas inisiatif Bening sendiri. Tak ada paksaan dari sang Papa maupun Arjuna.
Bening hanya ingin fokus kuliah dan berumah tangga terlebih dahulu. Dirinya tak mau terlalu letih bekerja sambil kuliah karena nantinya ketika dirinya telah menikah dengan Arjuna maka suaminya itu memiliki hak penuh atas dirinya.
Sebagai istri yang baik ia harus sigap dan siap melayani hak suaminya, kapanpun. Tak lupa juga selalu menjalankan kewajibannya sebagai istri dan juga anggota Ibu Bhayangkari. Jadwal padat akan siap menantinya.
Saat ini Bening tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan ternama di Jakarta. Dirinya ada janji fitting terakhir baju pengantinnya di sebuah butik ternama.
Kemarin Arjuna telah selesai fitting. Dikarenakan hari ini Arjuna pergi dinas ke Bandung dan akan pulang nanti malam. Alhasil Bening fitting hari ini sendirian dan tak bisa ia temani.
Ketika Bening memasuki butik tersebut, tak sengaja ada wanita cantik bertubuh semampai bak model yang juga masuk bersamaan dengannya. Tanpa sengaja keduanya bersenggolan. Dan tas belanjaan wanita itu pun terjatuh.
"Jalan itu pakai mata. Jangan pakai mulut!" hardik wanita itu.
Beningpun langsung sigap berjongkok dan membantu memunguti belanjaan wanita itu. Setelah selesai, Bening lantas mendongak.
Deg...
Tatapan keduanya langsung saling bersirobok dalam satu garis lurus yang sama. Keduanya pun sama-sama terkejut.
🍁🍁🍁
__ADS_1