
Saat pasutri yang tengah melakukan penyatuan di siang bolong ini akan mencapai puncak nirwana untuk yang kedua kalinya menggapai matahari yang bersinar terang dengan teriknya, mendadak suara gedoran pintu utama rumah mereka pun terdengar.
Terlebih teriakan kedua malaikat kecil mereka memanggil bersahut-sahutan tak sabaran.
Dor...dor...dor...
"Ayah, Ibu. Aa sama Dedek pulang. Buka pintunya," cicit si Aa seraya menggedor pintu utama dengan kencang bersama adiknya.
"Acah... bu_bu..." ucap si Dede yang selalu membuat kakaknya gemas.
Keduanya sangat antusias pulang sekolah terutama si Aa. Ia berhasil meraih juara satu lomba membuat prakarya di sekolahnya hari ini. Dan sang Ayah sudah berjanji padanya akan mengajak jalan-jalan dan main sepuasnya ke pasar malam sebagai kado bila juara.
*Dedek\=adik.
Deg...
Doni dan Titin pun yang dalam kondisi polos di atas tempat tidur, tercengang mendengar teriakan kedua putranya.
"Kang, itu si Aa sama Dedek sudah pulang. Aku buka pintu dulu ya. Kasihan mereka nunggu di luar kepanasan," cicit Titin tak tega mendengar gedoran pintu dari kedua putranya itu.
"Tanggung Tin, satu menit."
"Tapi_ ah..."
Suara Titin pun secepat kilat berubah menjadi desa han hebat karena di bawahnya terus dipoompa secara cepat oleh sang suami. Bahkan Doni membungkam bibir sang istri dengan ciuuman mematikan. Sebab khawatir terdengar kedua putranya.
Rumah mereka di desa, sangat jauh dari kata mewah. Padahal di kota, Doni tinggal di rumah dinas yang boleh dibilang lebih bagus daripada rumahnya di desa. Bahkan punya sebuah apartemen walau terbilang bukan apartemen mewah.
Sedangkan kehidupan Titin dan kedua anaknya di desa begitu sederhana. Rumah peninggalan mendiang kedua mertua Doni itu hanya ada dua kamar berukuran 3x3 meter, sebuah ruang tamu, dapur desa ala kadarnya dan satu kamar mandi. Di mana mereka harus menimba air sumur terlebih dahulu sebelum mandi.
Banyak ventilasi dan jendela serta tanpa plafon, langsung atap rumah. Otomatis kamar mereka bukan kamar kedap suara.
Akhirnya penyatuan sesi kedua itu pun usai juga dengan lancar. Dan para kecebong gesit milik Doni berhasil mendarat dengan sempurna pada sawah Titin yang telah lama gersang. Kini menjadi hijau kembali.
Sontak Doni pun segera memakai sarungnya dengan bertellanjjang da-da keluar kamar dan segera membuka pintu utama rumahnya.
Ceklek...
Derit pintu terbuka menampilkan dua malaikat kecil yang berdiri di depannya sambil tersenyum sumringah.
"Assalammualaikum..." ucap si Aa yang langsung mencium tangan sang Ayah penuh takzim.
"Alaiicuum..." ucap si Dede yang memang menjadi anak spesial mereka.
"Waalaikumsalam. Ayo masuk jagoan-jagoan Ayah," jawab Doni seraya menggandeng kedua tangan putranya untuk masuk lalu ia pun menutup pintu utama rumahnya.
__ADS_1
Doni memiliki dua putra hasil pernikahannya dengan Titin yang sudah berjalan selama delapan tahun.
Anak pertamanya bernama Dewa Anggara berusia tujuh tahun dan duduk di bangku sekolah dasar kelas satu. Sedangkan anak keduanya bernama Dimas Anugerah berusia lima tahun dan duduk di bangku TK (Taman Kanak-Kanak).
Dewa dan Dimas terlahir normal. Namun nasib sungguh malang untuk anak kedua mereka, Dimas, tumbuh menjadi seorang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).
Childhood disintegrative disorder. Salah satu jenis autisme. Ditandai dengan adanya keterlambatan perkembangan motorik, bahasa, dan fungsi sosial. Anak dengan sindrom Heller mengalami perkembangan yang normal sampai usia 2 tahun, kemudian akan mulai kehilangan ketrampilannya secara perlahan.
Penyebab gangguan ini dapat karena terjadi ketidaksinkronan kerja sistem saraf di dalam otak, paparan lingkungan seperti racun atau infeksi dan juga respons autoimun.
Dimas divonis menderita Childhood disintegrative disorder sejak usia dua tahun. Padahal sejak lahir tumbuh dan berkembang secara normal, seperti anak lain pada umumnya. Namun itulah takdir yang harus Doni dan Titin terima dengan ikhlas.
☘️☘️
"Kok Ayah siang-siang keringetan begitu? Apa habis dari sawah?" tanya Dewa.
"Eh, i_ya. Ayah habis bantu ibu membajak sawah tadi. Nanem padi. Jadi Ayah sekarang lagi keringetan nih," ucap Doni terpaksa berbohong.
"Oh, begitu. Terus ibu sekarang di mana, Yah?" tanya Dewa seraya celingukan ke dapur tapi tak melihat batang hidung ibunya.
"I_bu... ibu_," ucapan Doni terpotong.
"Ibu di sini, Nak. Gimana tadi di sekolah?" tanya Titin seraya mengalihkan perhatian.
"Dewa juara satu dong, Bu."
"Yeii... anak Ayah emang pinter banget," teriak Doni seraya tertawa riang mengangkat Dewa lalu mengayunkan putra pertamanya itu ke atas dan ia peluk serta cium penuh cinta.
"Alhamdulillah," ucap Titin seraya menggendong Dimas yang juga tertawa riang.
"Lho Ibu habis dari kamar? Kata Ayah, Ibu habis bajak sawah sama Ayah. Dewa pikir Ibu lagi di dapur atau di kamar mandi bersih-bersih, kan habis dari sawah?" tanya Dewa yang memang memiliki kecerdasan cukup mumpuni.
"Oh, Ibu sudah tadi bersih-bersihnya. Terus Ibu capek jadi tidur sebentar di kamar," ucap Titin mencari alasan.
"Oh begitu. Tapi kok aneh, Ayah keringetan tapi Ibu mukanya seger begitu. Seperti habis menang arisan saja. Haha..." ucap Dewa seraya tertawa lebar. Otomatis mereka berempat akhirnya ikut tertawa.
"Ayo-ayo ganti baju terus makan siang," ucap Titin sengaja mengalihkan perhatian Dewa.
"Ayo..." ucap Dewa antusias.
"Acoo..." ucap Dimas yang selalu membuat Doni dan Titin tersenyum melihat kelucuan anak mereka yang spesial ini.
"Nanti malam jangan lupa janji Ayah buat ke pasar malam," cicit Dewa mengingatkan.
"Siap bos. Beres pokoknya. Jangan lupa kalian harus bobok siang, lalu pergi mengaji. Setelah itu kita semua ke pasar malam bada' Maghrib. Oke," ucap Doni seraya melakukan adu tos tangan dengan Dewa dan juga Dimas.
__ADS_1
"Oke," jawab Dewa penuh semangat.
Sedangkan Titin harus membantu putra kedua mereka yakni Dimas, melakukan hal tersebut. Sebab putra kedua mereka ini walaupun usianya hanya selisih dua tahun dari Dewa, namun gerakan, ucapan kata dan pemahaman isi otaknya masih seperti anak usia dua tahun.
Doni akan marah jika ada tetangga di desa mereka yang berani menggunjing Dimas sebagai anak cacat. Karena baginya Dimas tetap putranya yang spesial.
Walaupun Doni brengsek di luaran sana sebagai suami. Tetapi dia adalah sosok figur Ayah yang baik dan penyayang untuk kedua putranya tersebut.
Titin setiap hari memiliki rutinitas sebagai petani pada sepetak kecil sawah warisan mendiang kedua orang tuanya. Sebab ia juga tak bisa terlalu mengandalkan penghasilan dari sang suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Doni selalu beralasan mengirimkan sebagian gajinya untuk orang tuanya yang berada di Sumatera. Dikarenakan Doni adalah tulang punggung keluarga. Kedua mertua Titin itu pun sudah tua dan tak bekerja.
Akhirnya Titin pun hanya bisa memaklumi dengan kondisi yang ada. Terkadang ketika menunggu padi yang masih belum panen, ia bekerja sebagai buruh cuci.
Malamnya, Doni sekeluarga pun pergi ke pasar malam sesuai janjinya. Dewa dan Dimas begitu bahagia. Titin juga sangat bahagia melihat kedua putranya itu senang karena Ayah mereka lama tak pulang. Tentu kedua buah hatinya itu rindu berat.
Bahkan sejak hari pertama suaminya pulang kampung, setiap malam dirinya tak tidur bersama sang suami. Karena Doni akan tidur bersama Dewa dan Dimas di kamar anak-anaknya.
Ketika anak-anaknya sudah berangkat sekolah, tentu Doni yang giliran meniduri Titin. Sebagai istri yang penurut, Titin pun tak pernah menolaknya.
Ketika mereka asyik bermain di area pasar malam, mendadak ponsel Doni berdering. Ia pun menjauhi Titin dan kedua anaknya yang tengah bermain di wahana komedi putar.
Drett... drett... drett...
"Halo," ucap Doni.
"Gawat, Don! Preman yang kita habisi, mayatnya sudah ditemukan polisi," ucap pria di seberang sana.
"Sial! Bagaimana bisa? Kata kamu sudah eksekusi dengan bener terus buang mayat mereka ke hutan yang jauh dan sepi. Dasar bodoh!" pekik Doni kesal lalu menutup teleponnya secara sepihak.
Bersambung...
🍁🍁🍁
Coretan Othor Tidak Solehot :
Othor sengaja memberi sedikit cerita Doni dan keluarganya. Karena novel "Bening" ini memiliki cikal bakal novel keturunan setelahnya dengan judul yang berbeda. Pesan tersirat dan beberapa clue-clue sedikit othor selipkan di sini.
Novel ini akan segera tamat Insya Allah Bulan Agustus ini. Usahakan jangan menabung bab untuk membacanya🙏.
Semoga tetap suka hingga ending dan dapat dipahami^^.
Sehat selalu Sobat Safira💋
AMIN...
__ADS_1