
Doni pun hingga saat ini masih berada di kampung halamannya. Ia sengaja mengambil cuti selama satu minggu. Sebab dirinya memang lama tak mengambil cuti.
Sudah satu minggu ini dirinya menemani Titin dan kedua anaknya di Garut. Alhasil besok pagi dirinya sudah harus kembali ke Jakarta.
Sedangkan Della terlihat kesal karena susah menghubungi Doni. Sudah satu minggu lebih nomor ponsel Doni yang ia tahu keterangannya selalu berbunyi nomor tidak aktif. Doni memang sengaja menonaktifkan nomor ponselnya tersebut yang diketahui Della.
Ia memakai nomor lain yang hanya diketahui rekan kerja , Mia dan juga keluarganya saja selama di kampung.
"Sial! Ke mana sih Mas Doni? Pas lagi dibutuhin malah enggak nongol batang hidungnya. Ponsel sudah aku belikan yang mahal buah apel, eh yang pakai malah lemot. Huft !!" umpat Della kesal.
☘️☘️
Keesokan harinya.
Doni berpamitan pada Titin dan kedua buah hatinya.
"Aa jagain Ibu sama Dedek di rumah ya selama Ayah pergi kerja. Jangan nakal dan bikin Ibu susah. Janji?" ucap Doni seraya memberikan jari kelingkingnya pada Dewa, si putra sulungnya.
"Beres, Yah. Jangan lupa kalau bisa bulan depan Ayah pulang lagi. Kan itu hari ulang tahun Dedek," pinta Dewa.
"Ayah usahakan ya," ucap Doni.
"Yah, kok diusahakan. Berarti belum pasti dong, Yah." Dewa langsung mengerucutkan bibirnya dan tertunduk lesu. Sedangkan Dimas yang ada di gendongan Titin hanya bisa tertawa karena tak begitu paham apa yang dibicarakan sang kakak pada Ayahnya.
"Dewa, Ibu bilang apa kemarin. Aa lupa ya," cicit Titin menengahi.
"Maaf, Bu."
"Ayah sayang Dewa," ucap Dewa seraya memeluk Doni dan matanya berkaca-kaca.
Doni pun membalas pelukan erat putra sulung kebanggaannya ini. Lantas Titin dan kedua putranya mencium tangan Doni dengan penuh takzim. Lalu mereka bertiga saling melambaikan tangan pada Doni yang beranjak pergi.
Entah mengapa perasaan Titin sebagai seorang istri merasa tidak enak melepas sang suami kembali ke Jakarta. Padahal sebelumnya melepas Doni kembali bertugas itu sudah biasa. Namun kali ini tampak berbeda.
"Kenapa perasaanku tak enak ya? Ah, mungkin hanya sekedar rindu yang tak bisa ditinggal jauh dari Akang. Ya Tuhan, tolong lindungi suami hamba di mana pun berada," batin Titin seraya berdoa.
☘️☘️
Hari libur dinas seperti ini tentu menjadi hari yang dinanti terutama oleh pengantin baru yang masih hangat-hangatnya. Hampir satu bulan keduanya menikah. Menjalani hubungan secara LDR an awalnya tak mudah namun berusaha mereka nikmati.
__ADS_1
Dan tentu saja Arjuna yang sudah kepalang rindu dengan istrinya. Terlebih megalodonnya yang sudah berpuasa satu minggu, langsung meluncur ke kota kelahirannya tersebut untuk bertemu dengan sang istri.
Alhasil Bening pun berhasil ia culik ke sebuah hotel bintang lima di kawasan kota gudeg tersebut. Nyonya Lina pun sangat paham dengan putra dan menantunya itu yang ingin berduaan.
Tentu ia pernah muda dan merasakan jadi pengantin baru dan harus ditinggal tugas ke luar daerah oleh mendiang suaminya dahulu. Ketika bertemu, rindu semakin membuncah seiring gejolak jiwa muda yang sangat dirinya pahami.
Terlebih ia dan besannya sudah tak sabar menanti cucu dari Arjuna dan Bening. Rumahnya pasti semakin ramai dengan tawa dan tangis bayi jika kelak Arjuna junior telah hadir di tengah-tengah mereka.
Saat Arjuna tengah memadu kasih bersama Bening guna mengabulkan keinginan Papa mertua dan Ibunya, mendadak panggilan darurat dari Bayu pun datang di saat yang tidak tepat.
Dreett... dreett... dreett...
"Mas ang_kat tele_ponnya. Siapa tahu pen_ting," cicit Bening terbata-bata karena tengah diajak sang suami berbagi keringat.
"Astaga. Siapa sih ganggu saja!" umpat Arjuna kesal.
"Masshh..." des sah Bening.
"Tanggung yank," cicit Arjuna yang tetap membiarkan telepon berdering.
Bening hanya bisa menggigit bibirnya sebab Arjuna masih membuatnya berkeringat. Alhasil Arjuna pun menggulingkan tubuhnya di samping sang istri sambil mengatur nafas.
Arjuna pun melirik ponselnya di atas nakas. Tertera nama si bujang lapuk yang mengganggu kesenangannya tersebut. Terlebih dirinya gagal mendaki puncak nirwana.
"Awas kalau bukan hal penting. Aku lempar ke Laut Kidul !!" umpat Arjuna sebelum mengangkat telepon dari Bayu.
"Halo, Bay. Ada apa?" tanya Arjuna to the poin dan ketus.
"Kamu bisa segera ke Bogor, Jun?" tanya Bayu.
"Ada apa?" tanya Arjuna serius.
"Orang yang diduga membakar rumahmu ditemukan. Hanya saja sudah jadi mayat," ucap Bayu.
Deg...
"Sial!" umpat Arjuna.
Bening yang mendengar Arjuna memaki Bayu di telepon cukup heran. Ada apa gerangan?
__ADS_1
Bening tampak diam dan berpikir. Namun ia berusaha mengerti akan tugas Arjuna sebagai abdi negara. Tidak semua hal akan diceritakan pada pasangannya.
Hal itu sudah ia pelajari kala berbincang bersama Papanya jauh sebelum menikah dengan Arjuna. Bagaimana menjadi seorang istri anggota kepolisian yang biasa disebut Ibu Bhayangkari.
Bahwa memiliki peran ganda yakni selain menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik sekaligus wajib mendukung kinerja suami sebagai Anggota Polri.
Istri adalah separuh nyawa dari suami. Maka jika nyawa suami terluka, sebagai istri yang mempunyai peran penting sebagai separuh nyawa yang lain dalam diri suami, wajib menopang suami dengan mendoakan agar langkah suami kita selalu berada di jalan yang lurus dan benar. Serta tak lupa menjadi sandaran yang baik tanpa menghakimi kala dibutuhkan.
Karena terkadang seorang suami yang letih seharian mencari nafkah butuh dekapan hangat sang istri serta perhatian walaupun sekecil apapun. Untuk menetralkan dan menjernihkan pikiran yang tengah kalut akan tumpukan tugas negara maupun hal lainnya.
"Baik Bay. Aku segera ke sana," ucap Arjuna dengan nada tegas. Lalu menutup sambungan teleponnya bersama Bayu.
Arjuna menatap langit-langit kamar hotel yang baru saja mereka sewa untuk memadu kasih. Baru juga keduanya check in beberapa jam yang lalu, namun mendadak ada urusan darurat yang membutuhkan kehadirannya.
Sebuah pelukan hangat dari sang istri membuat Arjuna terlonjak dari lamunannya. Dirinya terlupa bahwa ada Bening di sampingnya.
"Maaf yank," cicit Arjuna merasa bersalah.
"Maaf, kenapa Mas?" tanya Bening penasaran.
"Maaf baru saja kita bertemu, tapi sekarang Mas harus pergi lagi. Ada tugas darurat dari kedinasan," ucap Arjuna dengan nada berat seraya memeluk Bening.
Keduanya dalam kondisi polos di bawah selimut. Saling mendekap erat dan Bening bersandar pada da-daa sang suami.
"Enggak apa-apa Mas. Aku mengerti. Ayo bangun terus siap-siap," ucap Bening seraya tersenyum.
"Kamu enggak tanya aku pergi ke mana?" tanya Arjuna heran.
"Aku percaya sepenuhnya sama Mas. Bukankah sebagai Ibu Bhayangkari yang hebat harus mendukung suami menjalankan tugas negara dengan baik tanpa perlu banyak bertanya," ucap Bening dengan lugas dan sumringah.
"Love you, istriku. Mmuachh..." ucap Arjuna seraya mencium bibir sang istri penuh cinta.
Bening pun membalas pagutan mesra dari sang suami padanya dengan cinta yang juga besar dan tulus.
Selepas mandi bersama, Bening pun mengantar Arjuna ke bandara.
"Semoga Tuhan selalu melindungimu Mas," batin Bening kala menatap kepergian Arjuna setelah boarding time dan masuk menuju pesawat yang membawa suaminya ke Jakarta terlebih dahulu baru Arjuna bertolak ke Bogor.
Arjuna masih merahasiakan perihal flashdisk tersebut dari istrinya. Ia tak mau membuat Bening jatuh sakit dan kepikiran.
__ADS_1
🍁🍁🍁