Bening

Bening
Bab 112 - Hamil Bersama


__ADS_3

Setelah teleponnya dengan Bening terputus, saat jari jemarinya ingin menghubungi balik sang istri, mendadak ada panggilan masuk dari Papa mertuanya. Ia pun langsung sigap mengangkatnya.


"Halo, Pah. Gimana kabar Papa? Semua sehat kan?" tanya Arjuna yang selalu terbiasa menanyakan kondisi kesehatan setiap sang Papa mertuanya ini menghubungi dirinya atau bertemu langsung.


"Alhamdulillah sehat. Malah lebih sehat. Besok kamu jadi balik ke Jakarta? Libur berapa hari?" tanya Komjen Pol Prasetyo Pambudi.


"Tiga hari, Pah. Rencananya besok jam enam pagi Juna sudah di Jakarta lagi. Terus sorenya baru pulang ke Jogja. Ada yang lagi kena syndrome tropi kangen berat. Hehe..." ucap Arjuna seraya terkekeh.


"Haha... istrimu itu lagi manja. Banyak-banyakin stok sabar," cicit Papa Bening seraya tertawa.


"Abisnya putri Papa itu lucu banget. Katanya kangen Papa kok yang ditelepon Juna. Hahaa... ujungnya ngambek. Bikin Komandan pusing tujuh keliling," cicit Arjuna.


"Tapi hari ini Bening kok enggak ada telepon Papa. Memangnya dia telepon ke kamu kapan, Jun?" tanya Papa Bening heran.


"Barusan lima menit yang lalu. Mungkin sekarang kangennya berubah haluan. Jadi enggak telepon Papa," jawab Arjuna seraya terkekeh.


"Ada-ada saja putri kesayangan Papa itu. Jangan kamu ambil hati ya Jun kalau Bening ngeselin, bikin kamu marah atau manja. Maklum kecilnya Papa enggak bisa manjakan dia. Kamu tahu sendiri. Huft..." ucap Papa Bening seraya menghela nafas kasar dan mendadak kesedihan serta penyesalan menyergapnya.


"Iya, Pah. Pasti Arjuna gak bisa marah sama Bening. Soalnya limited edition, Pah. Hehe..." jawab Arjuna.


"Ya sudah kamu istirahat. Besok setelah kamu sampai di Jakarta, langsung ke rumah Papa ya. Mau Papa ajak main golf sebentar," ucap Papa Bening.


"Wah, Juna bakal kalah lagi nih tanding golf sama Papa. Terakhir kita main dua minggu yang lalu, Juna juga kalah."


"Malahan feeling Papa, besok kamu yang menang." Papa Bening pun menjawab hingga membuat Arjuna semakin bersemangat.


"Kalau sampai Arjuna menang, nanti Juna traktir Papa deh. Terserah Papa minta apa ke Juna. Kan biasanya Papa yang sering menang terus traktir Juna," ucap Arjuna.


"Oke. Ya sudah Papa tutup dulu. Jaga kesehatan Jun biar bisa jagain Bening dan anak-anak kalian kelak," ucap Papa Bening tulus mendoakan seraya berpamitan.


"Iya, Pah. Amiinn..." jawab Arjuna.


Akhirnya telepon pun terputus dan keduanya bermimpi indah dengan mimpi yang berbeda.


☘️☘️

__ADS_1


Esoknya Arjuna sudah kembali ke Jakarta bersama Bayu dan tim. Arjuna langsung bergegas ke rumah Papa Bening sesuai kesepakatan di telepon kemarin untuk bermain golf.


Akhirnya kedua lelaki beda usia ini telah memakai baju yang biasa digunakan untuk olahraga golf. Mereka pun ditemani dua orang caddy golf yang sangat cantik.


Keduanya pun serius bermain golf hingga usai. Yang pada akhirnya dimenangkan oleh Arjuna. Sesuai prediksi Papa Bening semalam di telepon.


"Luar biasa. Sekarang sudah jadi handicap 24 menantu Papa ini," cicit Papa Bening yang tersenyum sumringah seraya menepuk pundak Arjuna dan merangkulnya menuju sebuah cafe yang ada di area golf tersebut.


"Haha... masih belajar, Pah. Masih handicap yang single. Masih jauh kalau ke handicap 24," ucap Arjuna.


"Jangan merendah begitu. Permainanmu hari ini sangat bagus. Banyak hole in one. Tingkatkan terus. Nanti sesekali ajak Bening nyobain main golf juga," tutur Papa Bening.


"Siap, Komandan." Arjuna pun menjawab dengan penuh semangat.


Sore harinya Arjuna pun bertolak ke Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, menuju Jogjakarta. Rindu kian menumpuk pada sang istri tercinta yang sudah satu minggu lebih tak ia jumpai secara langsung.


☘️☘️


Beberapa hari kemudian,


Garut.


"Ibu sakit?" tanya Dewa yang melongokkan kepalanya ke kamar mandi setelah mendengar sang ibu mual-mual.


"Enggak, Aa. Si Dede ke mana?" tanya Titin mengalihkan.


"Si Dede lagi main di kamar ibu. Apa ibu yakin enggak pergi ke tempat Emak Enok? Siapa tahu ibu masuk angin. Biar diurut supaya cepet sembuh. Perasaan beberapa hari ini Aa lihat ibu mual-mual terus," cicit Dewa sendu menatap wajah ibunya yang pucat dan kurus.


Emak Enok yakni dukun pijat di desa mereka. Biasanya orang-orang desa yang tengah sakit atau melahirkan, datang ke rumah Emak Enok.


"Ya sudah karena Aa memaksa. Nanti Ibu pergi ke rumah Emak Enok. Sekarang ayo ajak Si Dede sarapan. Sudah matang semua di dapur," ucap Titin.


"Iya, Bu."


Akhirnya ketiganya sarapan dengan suka cita. Tingkah laku Dimas, putranya yang begitu spesial membuat hidupnya semakin berwarna. Celotehan Dewa yang bercerita bahwa dirinya berkeinginan menjadi seorang dokter yang hebat. Supaya kelak jika ibunya sakit tak perlu lagi ke tempat Emak Enok yang masih serba tradisional, membuat Titin terenyuh.

__ADS_1


Dua kekuatan ini yang membuat dirinya tegar menjalani hidup bersama sang suami dan tak pernah mengeluh sedikitpun.


Faktor ekonomi yang terbatas. Alhasil pergi ke klinik dokter pun tidak pernah mereka lakukan. Cukup ke tempat Emak Enok baik terkena batuk, pilek, demam. Penyakit yang umum diderita oleh masyarakat desanya terutama anak-anak.


Jarak rumah ke puskesmas sangat jauh dan butuh ongkos. Ada klinik dokter terdekat tetapi tak sanggup membayar biaya dokter. Sungguh ironi dan malang kehidupan Titin bersama kedua anaknya. Yang berbanding terbalik dengan kehidupan sang suami di kota.


Selepas sarapan, akhirnya ia pergi ke rumah Emak Enok guna memeriksakan diri. Walaupun dalam dirinya sebenarnya ia menduga-duga hasilnya akan berhubungan dengan tamu bulanannya yang tak juga datang bulan ini.


Dan setelah hampir dua jam mengantri di tempat Emak Enok. Akhirnya dia pulang dengan perasaan bahagia namun juga bimbang. Dalam rahimnya ada calon anak ketiga. Buah hatinya bersama sang suami, Aiptu Doni.


Dirinya takut sang suami marah padanya karena yang lalu saat terakhir melakukan percintaan, dirinya tidak minum pil pencegah kehamilan. Dikarenakan stok di rumahnya sudah habis.


Dirinya belum sempat membeli. Ia tak menyangka bahwa suaminya saat itu akan pulang kampung. Dan ia sempat berpikir tidak akan hamil walaupun terbesit keraguan tentang periode masa suburnya yang terkadang tidak jelas.


Maklum dirinya hanya gadis desa yang tak berbekal ilmu pendidikan memadai. Sehingga ilmu dalam otaknya bersifat terbatas.


Namun kehendak Sang Pencipta berbeda. Dan terjawab sudah. Kini dalam rahimnya telah tumbuh calon buah hati ketiga mereka.


"Apa Mas Doni mau terima anak ini? Ya Tuhan, bantu hamba." Titin hanya bisa berdoa meminta pertolongan dan jawaban pada Allah.


☘️☘️


Di tempat lain tepat di hari yang sama, seorang wanita muda pun tengah mual hebat sejak pagi. Sudah beberapa hari ini dirinya dilanda mual. Tetapi hanya cairan yang keluar. Tidak ada sisa makanan apapun.


Tubuhnya pusing dan lemas. Sudah beberapa hari ini dirinya pun memutuskan tidak masuk kerja karena bolak balik ke kamar mandi.


"Ya ampun, tubuhku kenapa ya?" keluhnya.


Lantas ia berjalan menuju ponselnya yang ia letakkan di atas nakas guna mengecek sesuatu.


Deg...


"Astaga tamu bulananku !" pekiknya bukan main kala dirinya terkejut mengecek jadwal periode tamu bulanannya di ponsel miliknya yang ternyata sudah terlewat hampir satu bulan lamanya. Padahal biasanya tamu bulanannya selalu datang on time.


🍁🍁🍁

__ADS_1


*Hole \= Lubang tempat memasukkan bola golf.


*Handicap \= Istilah untuk ukuran kemampuan pemain.


__ADS_2