
Tring...
Pukul empat pagi, ponsel Bening mendadak mendapat sebuah pesan dari nomor tidak dikenal. Sang empunya yang baru saja lima belas menit yang lalu terlelap setelah sepanjang malam tidak bisa tidur, tak terbangun walaupun ponselnya berdering cukup kencang.
Ayu sempat terbangun namun ia hanya melihat sepintas pesan masuk di ponsel Bening. Takut membangunkan akhirnya ia pun melanjutkan tidurnya sebab kantuk melandanya kembali.
Setengah jam kemudian, alarm ponsel Bening berbunyi, waktunya sholat Subuh.
"Eugh..."
Bening pun menggeliat bangun sebab alarm ponselnya berbunyi. Tangannya terulur untuk mengambil ponsel yang ia letakkan di sampingnya lalu ia mematikan alarmnya. Matanya masih terpejam namun beberapa detik kemudian sudah terbuka lebar.
Ia melihat Ayu masih pulas tertidur di sampingnya. Bening pun langsung bergegas bangun dan membersihkan diri ke kamar mandi.
Tak lama usai mandi, Bening pun membangunkan Ayu untuk salat Subuh. Bening pun melakukan ibadah rutinnya setiap pagi. Tak lama Ayu pun menyusul Bening untuk salat usai membersihkan diri.
Dikarenakan di luar masih tampak gelap, Ayu meminta izin Bening untuk istirahat kembali. Bening pun menyuruh Ayu untuk istirahat saja.
Sebab ia tahu, Ayu sangat lelah dan mungkin masih juga jet lag. Belum terbiasa bepergian menggunakan pesawat terbang. Sehingga menguras banyak pikirannya saat berada di udara.
Bening pun yang memakai baju santai rumahan motif bunga-bunga berwana kuning cerah keluar kamar dan turun tangga menuju kamar sang Papa yang ada di bawah. Tangan kiri Bening menggenggam kotak kado berwarna coklat muda yang disembunyikan di belakang tubuhnya.
Tok... tok... tok...
Bening mengetuk pintu kamar sang Papa. Di dalam kamar, Komjen Pol Prasetyo Pambudi yang baru saja selesai mengaji usai salat Subuh. Ia pun mendengar ketukan pintu lalu meletakkan mushafnya dan melipat juga sajadahnya di atas meja kecil.
"Tumben pagi-pagi begini Bik Ningsih mengetuk kamar? Ada apa gerangan?" batin Papa Bening.
Ia pun berdiri dan melangkah menuju pintu kamarnya dengan masih mengenakan baju koko berwarna putih berserta sarung lengkap dengan peci hitamnya. Pagi ini wajah Papa Bening penuh keceriaan.
Entah apa sebabnya. Dirinya pun tak tahu. Selepas bangun tidur dan mimpi indah bertemu bayangan istri tercintanya yakni Embun yang tersenyum padanya, ia melakukan rutinitas paginya hari ini penuh sukacita. Berbeda dengan hari sebelum-sebelumnya.
Aura positif dan kebahagiaan terpancar begitu jelas dalam gurat wajahnya yang masih tampan di usianya saat ini yang akan memasuki setengah abad.
__ADS_1
Ceklek...
Pintu kamar Komjen Pol Prasetyo Pambudi terbuka. Sontak dirinya langsung terkejut melihat putri semata wayangnya yang sangat ia rindukan, kini benar nyata berada di hadapannya.
Bukan mimpi. Bukan ilusi. Apalagi fatamorgana.
"Be_ ning," panggil Komjen Pol Prasetyo Pambudi dengan nada terbata-bata.
Bening pun tersenyum dan mengangguk.
"Papah, Bening kangen."
Sebuah pelukan dan bisikan rindu dari seorang anak kepada ayahnya pun langsung tercurah dan terdengar jelas di telinga Komjen Pol Prasetyo Pambudi. Tanpa sadar karena masih terkejut ia pun membalas pelukan Bening dengan perasaan yang masih campur aduk.
Hatinya sungguh terharu dan bahagia karena Beningnya nyata kembali pulang ke rumah. Bisa ia dekap. Bisa ia peluk. Bisa ia cium. Mencurahkan kasih sayangnya selayaknya orang tua pada anak yang tidak pernah ia berikan dahulu secara maksimal pada Beningnya.
"Oh, sayang. Kamu mengangetkan Papa saja pagi-pagi. Papa kira ini mimpi. Ternyata doa Papa terkabul. Bisa memeluk kamu di rumah ini," cicit Papa Bening dengan mata yang berkaca-kaca.
Sepasang ayah dan anak itu saling memeluk erat. Melampiaskan rasa rindu dan cinta yang ada di hati masing-masing untuk diungkapkan. Bukan dipendam lagi.
Bening pun ikut meneteskan air matanya. Saat ini dirinya begitu merasakan bagaimana kasih sayang orang tua yang sesungguhnya secara maksimal. Sebab di masa lalu sang Papa hanya memberikan bentuk cintanya melalui fasilitas kekayaan dan mencukupi kebutuhan Bening baik urusan sekolah dan sebagainya. Kecuali kasih sayang dan cinta.
Tapi sekarang, hidup Bening terasa lengkap sudah. Karena segala doa dan keinginannya telah dikabulkan Allah. Bahwa sang Papa bisa menyayangi dan mencintainya seperti orang tua pada umumnya kepada anaknya.
"Bening boleh masuk ke kamar Papa?" tanya Bening lirih.
"Tentu boleh sayang. Ayo masuk," ucap Papa Bening seraya menggandeng tangan putrinya itu.
Lalu keduanya pun duduk di sofa kamar.
"Papa suka enggak kejutan Bening dengan datang sekarang?" tanya Bening seraya tersenyum tipis.
"Papa bahagia dan suka sayang. Makasih banyak ya. Papa pikir kamu enggak bisa datang. Yang lalu bilang ada acara kampus enggak bisa ditinggal," ucap Papa Bening seraya memeluk Bening.
__ADS_1
"Hehe... biar jadi kejutan. Maaf aku bohong dikit, Pah. Jangan marah," cicit Bening lucu.
"Hem," jawab Papa Bening singkat.
"Setelah Papa dilantik besok pagi, siangnya Bening langsung balik ke Jogja lagi sama Ayu. Soalnya Bening izin enggak masuk kampus sehari saja pas hari Senin. Kalau kerja, Bening sengaja ambil cuti."
"Oh, kamu ke Jakarta sama Ayu. Terus sekarang dia di mana?" tanya Papa Bening.
"Ayu masih tidur. Kasihan Pah lagi capek berat anaknya. Masih jet lag. Belum pernah naik pesawat. Jadi harap maklum," cicit Bening tertawa kecil.
Komjen Pol Prasetyo Pambudi pun ikut tersenyum mendengar ucapan putrinya itu.
"Ini kado kecil dari aku untuk Papa. Selamat untuk jabatan barunya jadi Wakapolri. Semoga Papa menjaga amanah yang diberikan dengan baik dan jujur. Tetap jadi panutan yang baik untuk keluarga kita. Love you, Pah."
Bening pun memberikan kotak kado tersebut pada Komjen Pol Prasetyo Pambudi. Lalu memeluk Papanya dengan erat dan membisikkan untaian kalimat sayang, doa dan harapan Bening untuk sang Papa.
Komjen Pol Prasetyo Pambudi menerima kado dari Bening dan memeluk kembali putrinya. Bahkan ia menangis tergugu hingga punggungnya bergetar. Ia merasa tidak pantas diperlakukan baik oleh putrinya ini.
Dikarenakan di masa lalunya, ia memperlakukan secara buruk terhadap Bening. Kepingan ingatan di masa lalu saat dirinya membentak bahkan pernah mencambuk Bening dengan ikat pinggang kembali terlintas di benaknya.
Bahkan dahulu dirinya dengan tega, pernah mencambuk Bening hingga punggung putrinya itu memerah hanya karena Bening membolos di jadwal les piano yang harganya terbilang mahal yakni 500.000/jam.
Kala itu Bening tidak masuk les piano karena bertakziah ke rumah gurunya yang mendadak terkena serangan jantung di sekolah lalu meninggal dunia di hari yang sama.
Sungguh ia merasa hatinya tercabik-cabik kala mengenang itu semua.
"Terima kasih sayang. Maafkan Papa, selama ini belum menjadi Papa yang baik untuk kamu. Maaf," bisik Komjen Pol Prasetyo Pambudi di telinga Bening kala keduanya masih berpelukan erat.
Bening pun melepas pelukan itu dan menghapus air mata Papanya.
"Sudah-sudah. Ini hari bahagia kita. Jadi enggak boleh ada lagi yang menangis. Okay," cicit Bening seraya menyodorkan jari kelingkingnya.
"Okay, siap! Komandan cantik Papa," ucap Papa Bening seraya tersenyum sumringah dan membalas dengan menautkan jari kelingkingnya pada jari putrinya itu.
__ADS_1
๐๐๐