Bening

Bening
Bab 54 - Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Malamnya, Papa Bening ingin mengajak putrinya itu untuk menginap di hotel. Dikarenakan besok mereka semua akan sibuk menyiapkan keperluan pesta lamaran Arjuna dan Bening.


Walaupun Arjuna sudah menggunakan vendor ternama untuk acara lamaran dadakannya dengan Bening, tetap saja Komjen Pol Prasetyo Pambudi ingin memastikan sendiri acara sang putri semata wayangnya itu berjalan lancar. Dirinya akan mengundang beberapa kerabat dan teman dekatnya saja.


Ia ingin acara lamaran Arjuna dan Bening tidak perlu terlalu ramai mengundang banyak pihak. Nanti saja ketika perhelatan akbar saat keduanya menikah baru akan mengundang dari berbagai kalangan baik Presiden maupun wapres, atasan kesatuan, rekan sejawat maupun kolega bisnisnya.


Arjuna dan ibunya pun setuju dengan pendapat Papa Bening. Akhirnya mereka berpamitan. Arjuna yang cukup lelah tetapi hatinya senang, langsung masuk ke kamarnya bersama Bayu guna beristirahat.


"Selama ini kamu tinggal bersama seorang psikiater? Apa kamu sakit, sayang?" tanya Papa Bening terkejut bercampur sendu menatap wajah cantik putrinya itu.


"Bening sudah enggak apa-apa kok, Pah. Cuma memang kadang gangguan cemas dan trauma itu beberapa kali datang. Tetapi sekarang Bening sudah enggak minum obat anti depresan kok," ucap Bening seraya menggenggam erat tangan sang Papa.


"Apa sayang? Kamu sampai meminum obat seperti itu? Apa semua karena Papa?" tanya Komjen Pol Prasetyo Pambudi sendu dan matanya sudah berkaca-kaca.


Bening pun menghapus mata pria paruh baya cinta pertamanya itu dengan segenap cintanya. Air mata itu pun menetes dengan sendirinya dan dihapus oleh tangan putrinya yang sejak kecil ia siksa fisik dan batinnya.


"Sudah, Pah. Bening tidak apa-apa. Bukan karena Papa. Kata dokter, Bening hanya sedih mendalam sehingga cukup depresi saat kehilangan bayi Bening."


"Lupakan masa lalu. Bukankah kita sudah janji akan membuka lembaran baru. Kalau Papa terus bersedih seperti ini nanti Bening juga akan sedih teringat terus dengan bayi Bening," ucap Bening lalu mengecup kening Papanya.


"Terima kasih, sayang. Papa sayang Bening," cicit Komjen Pol Prasetyo Pambudi seraya memeluk Bening.


Akhirnya mobil mereka tiba di sebuah rumah minimalis yang tampak asri dan cukup mewah. Bening pun melihat mobil dokter Heni sudah terparkir rapi di dekat garasi.


"Jadi selama ini kamu tinggal di sini. Di tolong sama dokter itu?" tanya Papa Bening menatap rumah yang tampak begitu hangat dan nyaman dipandang dari luar.


"Iya, Pah. Yang punya janda cantik loh. Hati-hati nanti bisa kepincut. Bening enggak tanggung jawab ya," seloroh Bening seraya tersenyum kecil.


"Ada-ada saja kamu. Sudah Papa bilang. Cinta Papa cuma sama Mama kamu. Papa ingin kumpul bersama Mama kamu nanti di akhirat. Kita jadi keluarga yang utuh. Tidak perlu ada orang lain antara Papa dan Mama," ucap Papa Bening dengan lugas.


"Iya... iya, Ndan. Tapi jodoh kita dari Tuhan kan enggak ada yang tahu, Pah. Mama pasti juga bahagia kalau di masa tua Papa ada yang nemenin. Bukan hanya putra putri Papa atau cucu, tetapi juga pendamping hidup. Bening ikhlas kalau punya ibu sambung. Asal baik dan sayang sama Papa juga aku," ucap Bening penuh semangat.


"Sudah-sudah ayo kamu berpamitan sama yang punya rumah. Keburu malam. Kamu harus banyak istirahat buat persiapan lamaran kamu, lusa."

__ADS_1


"Siap laksanakan, Ndan."


Keduanya pun terkekeh. Lantas bergegas keluar dari mobil. Bening pun yang sudah memiliki kunci rumah dokter Heni maka ia langsung membukanya. Lalu ia menyuruh Papanya untuk duduk dahulu di ruang tamu. Sementara Riko dan sang sopir menunggu di teras rumah.


Papa Bening pun hanya menganggukkan kepalanya lalu duduk. Sedangkan Bening berjalan menuju kamar Dokter Heni. Sebab ia tengok ke dapur maupun ruang santai guna mencari Dokter Heni namun tidak ada.


Tok... tok... tok...


"Dokter Heni apa ada di dalam?" tanya Bening seraya mengetuk pintu kamar Dokter Heni.


Tak lama pintu kamar pun dibuka dan dokter Heni yang sudah memakai piyama tidur pun tersenyum sumringah melihat Bening sudah pulang.


"Selamat ya Bening. Dokter dengar tadi dari rekanku di Fakultas Hukum, kamu menyabet juara dua nilai terbaik tes masuk kampus. Congratulation sayang," ucap Dokter Heni seraya mencium kedua pipi Bening dan memeluknya dengan tulus.


"Makasih, Dok."


"Ehm, begini Dok. Saya mau berbicara sebentar, boleh?" tanya Bening.


"Oh, boleh saja. Masuk yuk," ajak Dokter Heni menyuruh Bening masuk ke dalam kamarnya.


"Mau bicara apa, sayang?" tanya Dokter Heni tersenyum sumringah.


"Bening sudah bertemu dengan Papa," cicit Bening lirih dan to the point.


Mimik wajah Dokter Heni seketika berubah. Bukan karena Bening bertemu Papanya, ia hanya khawatir tentang kondisi kejiwaan Bening yang belum pulih seratus persen. Terlebih respon Papanya yang pernah Bening ceritakan membencinya sejak kecil.


Namun ia sebagai seorang psikiater berusaha tetap tenang agar Bening juga fokus dengan ceritanya dan tenang.


"Dokter tidak terkejut?" tanya Bening heran melihat reaksi Dokter Heni biasa saja.


"Bagus dong sayang jika kamu sudah bertemu dengan Papamu. Apa gangguan itu masih menderamu atau tidak? Apa kamu meminum obatmu setelah kamu bertemu Papamu?" tanya Dokter Heni dengan lugas.


Bening hanya menggelengkan kepalanya saja. Senyum pun terbit seketika dari wajah Dokter Heni yang awalnya datar setelah mendengar Bening bertemu dengan Papanya.

__ADS_1


"Good. Artinya kamu bisa mengendalikan diri kamu sendiri dengan baik dan melawan hal negatif yang mengungkung jiwamu selama ini. Dan yang pasti reaksi Papamu saat bertemu denganmu pasti di luar ekspektasimu. Benar kan?" tanya Dokter Heni menebak.


Dan tentu saja tebakan dokter Heni tepat sasaran. Bening pun menjawab dengan sebuah anggukkan dan senyum.


"Oke. Artinya sekarang kamu cukup menjadi diri sendiri. Semakin percaya diri dan jangan insecure. Tatap masa depanmu yang cerah yang sudah menantimu, sayang. Jangan lagi menoleh ke belakang. Raih apa yang ingin kamu raih. Genggam apa yang ingin kamu genggam. Sampaikan apa yang ada di hatimu. Agar orang lain tahu isi hatimu. Tegakkan kepalamu jika bertemu orang yang meremehkanmu. Selama kita benar, jangan pernah menyerah. Selalu ada jalan Tuhan di setiap langkah dan doa kita. Ingat itu!" pesan Dokter Heni penuh ketegasan seraya menggenggam erat tangan Bening.


"Terima kasih banyak, Dok. Bening akan menjalankan semua saran dari dokter. Dan hari ini, Bening ingin berpamitan. Lusa, Bening akan dilamar oleh lelaki yang Bening cintai dan dia juga mencintai Bening."


"Lelaki yang menjadi Ayah kandung bayi Bening yang sudah meninggal dunia. Papa pun sudah memberi kami restu. Acara lamaran dadakan ini pun atas keinginan Papa sore tadi. Maaf jika Bening juga memberitahu Dokter secara mendadak," cicit Bening.


"Wah, selamat sayang. Akhirnya kamu bertemu dengan lelaki itu. Terlebih Papamu sudah merestui kalian. Takdir Tuhan memang tidak ada yang tahu. Kita sebagai manusia cukup menjalani dengan ikhlas dan terus berdoa dalam kebaikan," ucap Dokter Heni dengan tulus.


"Papa ada di depan. Ayo Dok kita ke depan. Bening mau kenalkan dokter dengan Papa. Orangnya ganteng, Dok. Walau agak dingin kayak kulkas. Hehe..." kelakar Bening.


"Cukup menarik. Kulkasnya berapa pintu?" tanya Dokter Heni seraya tertawa kecil.


"Hihi... dua belas pintu mungkin, Dok."


Keduanya pun tertawa riang bergandengan tangan sambil melangkah menuju ruang tamu.


Setibanya di ruang tamu, Dokter Heni melihat punggung seorang pria yang terbilang gagah dan tinggi tegap. Berseragam dinas lengkap kepolisian tengah memunggungi mereka.


Lelaki itu yang ia yakini Papa Bening tengah menatap foto pernikahan dirinya dengan mendiang suaminya yang ada di dinding ruang tamunya dengan begitu seksama.


"Nah ini Papa Bening, Dok."


"Pah, kenalkan ini Dokter Heni yang merawat Bening selama ini," ucap Bening tersenyum sumringah memperkenalkan keduanya.


"Perkenalkan saya Dokter Heni," ucapnya seraya mengulurkan tangannya.


Papa Bening yang masih setia melihat foto di depannya, lantas menoleh ke belakang setelah mendengar suara seseorang yang memanggilnya.


Deg...

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2