Bening

Bening
Bab 48 - Pelukan Hangat


__ADS_3

Untuk mendukung feel dalam membaca chapter ini.


Othor sarankan sembari memutar lagu berjudul "Kau Rumahku" by Raissa Anggiani.


Selamat Membaca.πŸ’‹


🍁🍁🍁


Acara penutupan Ospek di Fakultas Hukum UGM, berlangsung secara meriah. Komjen Pol Prasetyo Pambudi, S.H., M.H., sebagai tamu kehormatan di sana bukanlah orang baru. Papa Bening pernah menjadi lulusan terbaik di fakultas Hukum, UGM.


Saat dirinya sudah lulus Akademi Kepolisan (Akpol), Papa Bening melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Memang saat itu Bening belum lahir ke dunia. Dan Bening sepertinya tengah terlupa akan sejarah dimana saja Papanya tersebut menimba ilmu.


Pihak universitas sengaja mengundang Papa Bening sebagai tamu kehormatan pada penutupan ospek di sana. Selain sebagai orang Yogyakarta asli sekaligus alumni Fakultas Hukum UGM yang dinilai sukses di bidangnya baik pendidikan dan karir, faktor lain yakni Rektor UGM adalah teman baiknya sewaktu mereka kuliah dahulu.


Puncak acara pun tiba yakni pembagian beasiswa kepada tiga juara dengan nilai terbaik yang akan dibacakan langsung oleh Komjen Pol Prasetyo Pambudi. Penata acara pun telah menyerahkan note (catatan) kecil yang berisi tiga nama para juara tersebut.



Catur Perwira Satya


Bening Putri Prasetyo


Bambang Asmoro Ningrat



Deg...


Mendadak tangan Komjen Pol Prasetyo Pambudi gemetar saat membaca dengan seksama tiga nama yang tertulis di catatan kecil tersebut. Terselip juara kedua yakni nama lengkap putri kandungnya yang meninggal dunia.


"Bagaimana mungkin?" batin Papa Bening dengan hati yang berkecamuk.


Riko yang siaga berdiri di belakang kursi Papa Bening melihat gelagat aneh dari sang komandan. Namun ia tetap berdiri tegap sebab belum mengetahui pasti apa yang terjadi.


Papa Bening langsung mengangkat pandangannya dari tempat dia duduk. Dia mengedarkan mata elangnya dari segala penjuru arah mata angin di aula tersebut mencari sosok putrinya itu.

__ADS_1


Apa benar Beningnya masih hidup? Atau ini hanya orang lain yang memiliki nama yang sama dengan nama putri kandungnya?


Deg...


Mata elangnya berhenti pada sosok gadis yang juga tengah duduk dan menatapnya dengan tatapan sendu. Kedua pasang mata itu tak ada yang berkedip. Saling memandang dari kejauhan dalam satu garis lurus namun terselip rasa yang sama. Rindu dan cinta.


Mata keduanya berkaca-kaca. Hanya saling menatap dalam diam. Bahkan Papa Bening sampai menggosok-gosokkan matanya. Memandang kembali ke tempat Bening duduk. Dan tetap sama. Ternyata ini bukan mimpi. Beningku masih hidup.


Tanpa terasa air mata Ayah dan anak itu saling menetes.


"Bening, Papa sayang kamu. Maafkan Papa," batin Komjen Pol Prasetyo Pambudi.


"Bening juga sayang Papa," batin Bening seolah menjawab tatapan mata dari Papanya.


Sang pembawa acara telah memanggil Komjen Pol Prasetyo Pambudi untuk berdiri ke mimbar yang telah disediakan guna membacakan sekaligus memberi hadiah pada ketiga juara.


Dan juga boleh memberikan ucapan maupun pertanyaan singkat kepada para juara tersebut nantinya.


Bening pun berusaha untuk tetap tenang dan ia segera menghapus jejak air matanya. Berusaha menegakkan pandangannya ke arah panggung dan tersenyum.


Dirinya teringat pesan Dokter Heni bahwa apapun yang terjadi pada takdir yang menimpa diri kita, wajib dihadapi dengan penuh keyakinan dan semangat. Jangan pergi menghindar. Karena lari dari masalah tak akan menyelesaikan masalah tersebut.


Papa Bening pun sudah berdiri di mimbar dan memanggil nama-nama para juara.


"Juara satu diraih oleh Ananda Catur Perwira Satya. Beri tepuk tangan yang meriah untuk Ananda Catur," ucap Papa Bening penuh wibawa dan tegas.


Setelah Catur naik ke atas panggung, kini Papa Bening akan memanggil juara kedua yakni putri kandungnya sendiri. Ia sempat menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara.


"Sebelum membacakan nama juara selanjutnya, ijinkan saya menyampaikan sedikit ungkapan rasa di hati saya pada hari ini. Hari yang sungguh membahagiakan untuk saya pribadi dan keluarga," ucap Komjen Pol Prasetyo Pambudi.


"Silahkan, Pak."


Sang pembawa acara pun mempersilahkan dengan senang hati permintaan Papa Bening tersebut.


"Terima kasih," ucap Papa Bening pada semua yang hadir di sana.

__ADS_1


"Terima kasih tak terhingga saya ucapkan pada Allah SWT yang begitu baik pada kami sekeluarga terutama pada saya. Telah memberikan sebuah mukjizat untuk kami. Bahwa Bening, putri kandung saya yang lalu masuk sebagai daftar penumpang pesawat EC Airlines yang dinyatakan tewas dalam tragedi kecelakaan tersebut namun jenazahnya tidak ditemukan, ternyata masih hidup."


Mendadak suasana di aula menjadi riuh. Banyak suara sumbang mengatakan tidak mungkin dan ada juga yang menangis haru. Sebab sangat jarang kecelakaan pesawat seperti itu ada yang selamat.


Riko pun sempat tertegun dengan pernyataan sang komandan. Namun ia berusaha tetap tenang sambil menatap ke arah para mahasiswa yang duduk di depannya.


Dan sorot mata tajamnya langsung memahami situasi. Memang benar. Bening, putri sang komandannya, ternyata masih hidup.


"Papa bangga padamu, Bening. Papa sangat mencintaimu. Terima kasih telah bertahan hidup demi Papa. Sekarang mari kita sambut juara kedua yakni Bening Putri Prasetyo, putri kandung saya. Putri yang sangat saya cintai. Ayo naik ke atas panggung, Bening, kesayangan Papa."


Komjen Pol Prasetyo Pambudi tanpa sadar menitikkan air matanya. Bening pun juga sudah berkaca-kaca dan kini melangkah secara perlahan menuju ke panggung acara.


Para mahasiswa dan mahasiswi banyak yang terharu menyaksikan momen yang sangat langka ini. Bahkan para wanita menitikkan air matanya tanpa sadar.


Bening pun berusaha tetap tenang dan tersenyum dalam kondisi mata yang sudah berkaca-kaca. Sekali kedip maka air mata itu pasti akan membanjiri pipinya.


Bening pun langsung mencium tangan sang Papa penuh takzim saat keduanya sudah bertemu di atas panggung. Komjen Pol Prasetyo Pambudi yang hari ini berseragam lengkap kedinasan, terlihat begitu gagah bersanding dengan Bening di atas panggung.


Dirinya langsung mencium kening Bening. Dan air mata Papanya langsung membasahi wajah Bening. Tak ayal Bening pun memejamkan mata dan air matanya ikut juga menetes.


"Maafkan Papa, Bening. Maaf..." bisik Komjen Pol Prasetyo Pambudi begitu menyayat hati Bening.


"Bening, rindu Papa. Maafkan Bening," cicit Bening lirih.


Hadirin yang berada di sana turut mengharu biru melihat suasana di atas panggung yang awalnya gegap gempita menjadi haru bercampur bahagia. Pembawa acara tersebut yang seorang wanita pun tak ayal meneteskan air matanya menyaksikan momen ini.


"Sungguh momen yang langka dan bahagia tetapi nyata," ucap pembawa acara dengan nada terbata-bata seraya menghapus air matanya.


Bahkan Riko pun yang biasanya terkesan dingin dan tegas, kini matanya pun ikut berkaca-kaca menyaksikan momen bahagia sang komandan bertemu putrinya kembali dalam kondisi sehat.


Sebuah pelukan hangat pun Bening dapatkan dari sang Papa. Bahkan hal ini dilakukan Papanya di depan umum. Dirinya merasa bahagia karena ia begitu merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh seorang Ayah yang sesungguhnya.


Karena sejak kecil sebuah pelukan hangat seperti sekarang ini tak pernah ia dapatkan dari Papanya. Bermimpi pun dirinya tak berani. Sebab sejak kecil ia sadar bahwa kehadiran dirinya hanya membuat Papanya bersedih hati.


Dirinya pun membalas dekapan sang Papa dengan erat seolah tak ingin terlepas dan berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Terima kasih Embun, kamu sudah memilih mengorbankan nyawamu demi melahirkan seorang putri yang sangat baik dan begitu membanggakan untuk hidupku. Putri kita yang lebih berharga dari nyawa kita sendiri. Terima kasih sayang," batin Papa Bening.


🍁🍁🍁


__ADS_2