
Tak lama selepas Bening masuk ke butik ternama tersebut, Stella pun ikut mengekori. Sebab dirinya juga tengah ingin melihat-lihat koleksi terbaru di butik yang sama.
Saat sudah masuk ke dalam, ia tak mendapati Bening.
"Cepat bener langkah gadis kampung yang sok itu! Ke mana dia?" batin Stella geram seraya melihat ke kanan dan ke kiri guna mencari Bening.
Namun tak ia temukan juga. Tiba-tiba...
"Eh... eh... eh... Mbak Stella ke sini? Lama enggak jumpa. Apa kabar?" tanya Farah, pemilik butik.
"Kabar baik Mbak Farah. Makin cantik saja nih. Aku kebetulan mampir. Lagi pengin lihat-lihat koleksimu sekalian borong. Apa ada diskon mungkin untuk member VIP seperti aku?" cicit Stella seraya tersenyum pada Farah seraya keduanya berpelukan dan cipika cipiki khas wanita kaum sosialita.
"Haha... pasti ada diskon untuk Mbak Stella kok. Ayo Mbak Stella silahkan masuk dahulu sambil dilihat-lihat."
Keduanya pun berjalan menuju ruangan khusus VIP.
"Tumben Mbak Stella enggak telepon dulu buat janji temu," cicit Farah sambil mempersilahkan Stella duduk.
"Iya Mbak, maaf aku lupa kabari dulu. Maklum habis pulang liburan dari Eropa sama suami. Jadi masih jet lag," ucap Stella sengaja berbohong.
"Oh, pulang dari Eropa. Tapi perasaan ehm..."
"Emang kenapa, Mbak?" tanya Stella yang bingung melihat reaksi Farah.
"Bukan apa-apa sih Mbak Stella. Ehm, by the way Mbak Stella punya kembaran enggak?" tanya Farah hati-hati.
"Enggak. Kenapa, Mbak Farah?"
"Maaf sebelumnya Mbak Stella. Beberapa hari yang lalu, aku sempat melihat Mbak Stella berada di IGD rumah sakit X. Waktu itu saya sedang mengantar Mama saya yang tiba-tiba asmanya kambuh larut malam."
Deg...
"Apa mungkin Mbak Farah lihat aku waktu pingsan ditolong Arjuna tempo lalu dari bar ke rumah sakit X?" batin Stella bergemuruh takut kebohongannya terbongkar.
Sebab memang ia tidak pergi liburan ke Eropa bersama Dave, suaminya. Hubungan keduanya tengah renggang. Dave juga sedang berada di Bali bukan Eropa.
Stella yakin Mbak Farah tak sengaja melihatnya di IGD saat dirinya pingsan akibat asam lambungnya kambuh. Dan saat itu Arjuna memang membawanya ke rumah sakit X.
__ADS_1
"Atau mungkin itu hanya orang yang mirip Mbak Stella? Ya, sepertinya saya salah duga. Kan enggak mungkin Mbak Stella di rumah sakit padahal sedang liburan sama suami ke Eropa. Ya kan Mbak Stella?" tanya Farah.
"Eh... ya. Iya, Mbak Farah. Mana mungkin itu saya. Pasti Mbak Farah salah lihat. Mungkin orang yang mirip dengan saya. Saya ke Eropa dengan suami sedang second honeymoon," cicit Stella sedikit terbata-bata berusaha menutupi kebohongannya.
"Maaf ya Mbak Stella, saya sudah ada janji dengan langganan VVIP saya. Jadi hari ini Mbak Stella akan ditemani sama Dina, staf terbaik saya di sini. Next time jika ingin dihandle dengan saya, Mbak Stella jangan lupa buat janji dengan staf saya."
"Oh begitu. Iya, Mbak Farah enggak masalah kok."
Farah menjelaskan pada Stella dengan sopan. Sebab setiap Stella ke sini, selalu Farah yang melayaninya. Dikarenakan Stella adalah member VIP di butiknya.
"Saya maklum kok, butik Mbak Farah semakin keren dan berkelas. Langganan VVIP mbak pasti orang hebat-hebat dan kaya raya," cicit Stella pura-pura tersenyum walaupun dalam hatinya sangat dongkol karena dirinya di nomor duakan.
"Iya, Mbak Stella. Putri semata wayang Wakapolri sekaligus pengusaha ternama juga Ayahnya. Calonnya juga dari kalangan yang sama-sama kaya. Kabarnya calon mempelai prianya sebentar lagi akan naik pangkat menjadi Kombes Pol. Satu minggu lagi mereka akan menikah."
"Putri dan bapaknya sudah lama langganan di butik saya. Biasanya kita yang datang ke rumahnya. Hanya saja sekarang putrinya minta fitting baju pengantin di sini langsung sekalian jalan-jalan ke mall katanya," cicit Farah.
"Wah, keren."
"Iya, Mbak Stella. Apalagi baju yang dipesan dan saya rancang ini spesial untuk mereka berdua dan itu harganya sangat mahal. Karena bahannya yang premium nomor satu punya. Hanya satu saja saya rancang khusus untuk mereka."
"Dina..." panggil Farah pada salah satu stafnya.
"Kamu tolong temani Mbak Stella melihat koleksi terbaru kita. Layani dengan baik," titah Farah pada Dina.
"Baik, Bu."
Farah berpamitan, "Saya permisi dulu, Mbak Stella."
"Silahkan Mbak Farah," jawab Stella seraya tersenyum tipis.
"Penasaran juga, siapa sih langganan VVIP Mbak Farah? Siapa tahu bisa nambah jadi koneksi aku," batin Stella.
Selama ditemani Dina, Stella merasa tak senang. Bukan karena pelayanan Dina yang buruk. Akan tetapi ia mencari Bening yang tak kunjung ketemu juga.
Sekaligus ia merasa rendah jika dilayani oleh staf. Seharusnya sekelas member VIP seperti dirinya, Stella yang memiliki rasa pongah cukup tinggi tentu saja ingin sang pemilik butik yang menangani dia langsung secara privat.
Alhasil dirinya hanya membeli satu buah gaun santai dengan harga satu juta rupiah saja. Itu pun harganya belum dipotong diskon.
__ADS_1
Stella sebenarnya mampu membeli baju yang lebih mahal dari itu, hanya saja ia sedikit ogah-ogahan membeli baju mahal karena bukan Farah yang menghandlenya.
Ceklek...
Pintu ruangan VVIP pun terbuka, Farah ternyata keluar dari ruangan tersebut bersama wanita yang dicari Stella sejak tadi. Siapa lagi jika bukan Bening.
Farah melihat Stella berdiri depan meja kasir dengan posisi membelakanginya, sehingga Stella tak tahu Farah sedang bersama siapa sejak tadi.
Farah dan Bening pun berjalan mendekati meja kasir.
"Mbak Stella sudah selesai belanjanya?" cicit Farah seraya tersenyum.
"Eh iya, Mbak Farah."
"Terima kasih sebelumnya sudah belanja di butik saya. Semoga bisnis suami Mbak Stella semakin sukses dan segera diberi momongan," ucap Farah tulus.
"Iya, Mbak Farah. Terima kasih atas doanya," jawab Stella tersenyum sumringah.
"Oh ya, perkenalkan ini langganan VVIP saya. Namanya Nona Bening yang sebentar lagi jadi Nyonya Arjuna Sabda Mahendra," ucap Farah memperkenalkan Bening pada Stella.
Lantas Stella pun menoleh ke belakang.
Deg...
"Mbak Bening, perkenalkan ini namanya Mbak Stella. Dia salah satu member VIP di sini. Suaminya seorang pengusaha," tutur Farah memperkenalkan Stella pada Bening.
Stella sungguh terkejut ternyata Bening adalah putri dari Wakapolri yang diceritakan Farah sebelumnya. Bahkan keluarga Bening juga dari kalangan pengusaha ternama sesuai informasi Farah.
Sungguh ia tak pernah menduga bahwa istri Arjuna wanita dari kalangan kelas atas. Bahkan boleh dibilang ia melihat Bening yang usianya lebih muda darinya begitu terawat secara alami. Untuk mengatakan Bening itu cantik, rasa gengsi Stella masih mendominasi.
Dengan terpaksa Stella pun mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Bening. Keduanya pura-pura tidak saling mengenal di hadapan Farah.
"Sialan! Brengsek! Lagi-lagi aku kalah telak sama wanita cupu itu," batin Stella menggerutu selepas Bening berpamitan pulang pada Farah.
Sebelum Bening pergi, Farah sempat memberikan sebuah kado spesial yang dimasukkan dalam kotak sedang. Terbungkus rapi, cantik, nan elegan. Farah mengatakan itu kado darinya untuk pernikahan Arjuna dan Bening.
Bahkan Farah memberikan kado tersebut pada Bening di hadapan Stella. Semakin membuat mantan kekasih Arjuna itu dongkol hatinya. Dan Bening hanya tersenyum tipis melihatnya, seraya pergi dari butik Farah.
__ADS_1
๐๐๐