
Untuk mendukung feel dalam membaca chapter ini.
Othor sarankan sembari memutar lagu berjudul "Bila" by Nadya Fatira OST. Film Kata Hati.
Selamat Membacaπ
πππ
Pelukan hangat kembali tercipta antara Ayah dan putrinya malam ini di halaman kediaman Ibunda Arjuna. Disaksikan oleh Ny. Lina dan Riko, ajudan pribadi Komjen Pol Prasetyo Pambudi.
"Papah, Bening masih kangen. Jangan pulang dulu," cicit Bening lirih seraya terisak pilu. Suara kemanjaan putrinya yang jarang ia dengar. Karena Beningnya ia juluki tercipta seperti karang. Namun malam ini mendadak menjadi manja penuh rengekan khas anak kecil.
"Calon Bu Kombes kok manja bener malam ini. Kenapa, hem?" tanya Papa Bening lembut berbisik.
Keduanya masih saling berpelukan. Seakan melepas rindu yang sungguh berat. Tak ingin berjauhan oleh jarak dan waktu. Seperti lama tak berjumpa sehingga tak ingin kehilangan momen seperti ini.
"Enggak tahu. Bening penginnya deket sama Papa," cicit Bening lirih.
"Sudah malam sayang. Enggak baik angin di luar begini. Kamu gak pakai jaket pula," ucap Papa Bening.
"Enggak apa-apa, Pah." Bening pun menjawab lirih tanpa melepaskan pelukannya.
"Pakai jaket Papah. Udaranya lagi dingin banget malam ini. Nanti kalau kena flu malah repot loh. Kan lagi ujian," ucap Papa Bening seraya melepaskan pelukannya. Lalu ia melepas jaket kulit hitam yang melekat pada tubuhnya. Kemudian ia pakaikan pada tubuh putrinya.
"Loh ini kan jaket Papah, kado dari Bening. Kok dikasih ke Bening lagi," gumam Bening heran.
"Pakai saja. Biar enggak kedinginan. Nanti kalau kalian ke Jakarta, bisa sekalian dibawa kembali jaket ini. Maaf, jaketnya belum Papa cuci beberapa hari ini. Heheee..." cicit Papa Bening seraya tertawa kecil.
"Tapi Pah_" ucapan Bening terpotong.
__ADS_1
"Enggak ada tapi-tapian. Sudah pakai saja. Oh ya satu lagi hampir saja Papa lupa," ucap Papa Bening.
"Apa, Pah?" tanya Bening penasaran yang melihat Papanya mengeluarkan sesuatu dalam saku celananya.
"Taraa... ini kado penutup dari Papa untuk kamu. Gantungan kunci Twiito. Kamu kan suka sekali sama kartun Twiito. Jadi Papa belikan ini. Semoga kamu suka, sayang." Papa Bening menyerahkan gantungan mini boneka kartun Twiito pada Bening.
"Papah..." cicit Bening lirih seraya matanya berkaca-kaca menerima kado gantungan kunci Twiito tersebut dari sang Papa.
Sebuah pelukan hangat kembali membuat Ny. Lina dan Riko ikut terharu menyaksikan kedekatan penuh cinta antara seorang Ayah dengan putrinya yang benar-benar terpancar tulus dari hati keduanya.
Akhirnya setelah kurang lebih dua puluh menit drama Bening yang tak membiarkan Papanya pulang, usai juga. Kini Papa Bening sudah beristirahat di hotel. Dan Bening pun sudah tertidur pulas dengan masih mengenakan jaket milik Papanya. Rasanya ia enggan melepaskan jaket tersebut dari tubuhnya.
βοΈβοΈ
Keesokan paginya selepas sarapan, Papa Bening sudah menginjakkan kakinya di kediaman Dokter Heni. Pak Wakapolri yang biasa dikenal dengan balutan busana yang rapi ataupun seragam kedinasan yang membuatnya gagah nan tampan, kini berubah hanya memakai celana pendek selutut dan kaos hitam polos.
Walaupun begitu otot kekarnya masih terlihat gagah terlebih kaos yang ia gunakan cukup ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang berotot. Membuat seorang wanita di ujung sana yang tengah melihatnya menjadi terpesona.
Masakan udang balado pun telah matang dan mereka siap bersantap siang sebelum pergi ke Bandara Adisutjipto untuk pulang ke Jakarta.
"Makasih banyak ya, Hen. Mau direpotin buat bikin udang balado untukku," ucap Papa Bening yang makan dengan lahapnya.
"Iya, sama-sama."
"Pesawatmu jam berapa?" tanya Dokter Heni tampak tak bersemangat seperti ada yang mengganjal dalam hatinya. Namun entah apa, ia pun tak tahu.
"Dua jam lagi," jawab Papa Bening singkat seraya menghabiskan sisa nasi dan lauk udang balado di piringnya.
"Terus, itu belanjaan kamu sebanyak itu nasibnya gimana?" tanya Dokter Heni seraya memberi kode melalui matanya pada setumpuk kantong belanjaan mereka dua hari yang lalu.
__ADS_1
"Aku nitip dulu ya, Hen. Nanti kamu serahkan pada Bening langsung kalau putriku sudah periksa kehamilan. Katanya semalam padaku, dia masih nunggu Arjuna pulang ke Jogja dulu. Kebetulan sekarang menantuku itu lagi sibuk kasus di Bogor. Please..." pinta Papa Bening dengan nada memohon.
"Huft... baiklah. Mau gimana lagi," ucap Dokter Heni menyerah dan menghela nafas berat.
Berdebat dengan seorang Prasetyo Pambudi tidak akan pernah menang. Namun entah mengapa hingga kini nama lelaki ini susah sekali hilang dari hatinya.
Terlebih sejak keduanya bertemu kembali setelah belasan tahun tak berjumpa. Membuat hubungan keduanya yang awalnya datar dan canggung semakin baik dan akrab. Dokter Heni pun tak terlalu mengharapkan hubungannya dengan Papa Bening lebih dari sekedar teman setelah semua yang terjadi.
Dikarenakan membuka hati untuk bisa mencintai seseorang itu tidaklah mudah. Terlebih jika di dalam hati seorang Prasetyo Pambudi masih tersemat cinta yang sangat dalam untuk seorang Embun Mentari Hadnan, mendiang ibu kandung Bening.
Pernah ada nama orang lain yang sangat dicintai oleh pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Menjadi bayang-bayang pun tidak baik dan tentu tidak menyehatkan jiwanya.
Akhirnya dia memilih jalan seperti ini. Membiarkan hubungannya dengan Pras menjadi teman baik mengalir seperti air. Karena jodoh, rezeki dan maut semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Manusia hanya menjalani garis takdirnya saja.
βοΈβοΈ
Pesawat yang membawa Papa Bening dan Riko pun akhirnya lepas landas meninggalkan kota Jogjakarta. Kota dengan sejuta kenangan indah yang sudah dirajut bersama dengan orang-orang terkasih. Berharap waktu akan bisa mengulangnya kembali untuk membuat suatu kenangan baru di kota tersebut suatu hari nanti jika masih diberi waktu dan kesempatan.
Dokter Heni pun duduk termenung di rumahnya dengan sejuta kecamuk rasa. Sebelumnya dirinya sempat berdebat dengan Papa Bening hanya karena hal sepele. Perihal mengantarkan ke Bandara Adisutjipto.
Dokter Heni ingin sekali mengantarkan Papa Bening ke bandara. Namun ditolak mentah-mentah oleh Komjen Pol Prasetyo Pambudi dengan berbagai alasan. Dan akhirnya Dokter Heni pun kembali mengalah pada orang-orangan sawah yang diam-diam nama pria itu masih melekat di hatinya hingga saat ini.
Dan kini dirinya justru termenung di sofa kamarnya seraya menatap tumpukan belanjaan Papa Bening. Mengingat kalimat terakhir yang Papa Bening sampaikan padanya sebelum bertolak ke bandara.
" Terima kasih banyak, Hen. Sudah menjadi teman baikku. Semoga Allah membalas kebaikanmu selama ini padaku dan juga keluargaku. Jika kamu ada waktu, tolong temani putriku dan ajak dia jalan-jalan biar Bening enggak kesepian. Pasti ia nanti sering ditinggal tugas oleh Arjuna. Anggap dia seperti putrimu juga. Walaupun tak lahir dari rahim kamu. Boleh kan?" pinta Papa Bening dengan raut wajah memohon.
Sebuah helaan nafas berat kembali menyergapnya. Kala mengingat momen kebersamaan antara dirinya dengan Papa Bening yang sangat berkesan selama beberapa hari ini di Jogjakarta.
"Kenapa hatiku tak bisa melupakanmu Pras. Padahal kamu sudah pernah membuat luka di hati ini. Dan hingga kini cinta itu tak pernah bisa hilang. Alangkah indahnya dan bahagianya aku, jika hati ini bisa mencintai seseorang yang juga sama-sama mencintaiku. Bukan cinta bertepuk sebelah tangan seperti ini. Sangat menyakitkan. Bukan salahmu. Tapi salahku. Salah hati ini menetapkan rasanya. Semoga kita bisa dipertemukan kembali, Pras. Dalam kondisi yang murni berteman tanpa cinta yang merecoki di dalamnya. Mulai detik ini aku harus bisa melupakanmu dan menata hidupku sendiri. Dan semoga suatu saat nanti, hati ini bisa melupakanmu sebagai cinta pertamanya. Aku doakan kamu semoga selalu bahagia di manapun dirimu berada," batin Dokter Heni.
__ADS_1
Bersambung...
πππ