
Akhirnya tindakan mengeluarkan bayi Bening yang meninggal di usia kandungan yang baru memasuki bulan ketujuh tersebut selesai dilakukan.
Dokter mengambil tindakan operasi caesar, dikarenakan kondisi Bening yang cukup berisiko jika melakukan persalinan secara normal. Terlebih tulang panggul milik Bening terbilang sempit.
Bening pun tak banyak protes. Gadis belia yang merasa gagal menjadi seorang ibu hanya tertunduk pasrah dan mengiyakan segala saran dari dokter.
Bahkan setetes air matanya tak ada yang keluar sejak kabar pahit tersebut harus terpaksa ia telan mentah-mentah. Kerongkongannya terasa tercekat seakan dirinya susah bernafas.
Bening pun terpaksa merelakan sebuah kalung emas dengan aksen mata berlian kecil di tengahnya yang ditaksir memiliki harga sekitar lima puluh juta rupiah.
Ia menyerahkan pada ketua tim dokter yang menanganinya. Ia berikan kalung tersebut sebagai pengganti biaya persalinan, perawatan dirinya selama di rumah sakit sekaligus pemakaman bayinya.
Sesungguhnya Bening tak berniat menjual kalung tersebut. Namun ia tak punya pilihan lain sebab uang tunai yang ia miliki tak cukup. Jika ia menggunakan asuransi kesehatan, khawatir Papanya bisa mengetahui keberadaan dirinya.
Matanya tengah berkaca-kaca menatap kalung tersebut yang sejak lama bertengger di lehernya sebelum diserahkan pada sang dokter.
Kalung pemberian sang Papa. Satu-satunya kado ulang tahun dari Papanya saat dia berumur lima tahun. Walaupun bukan Papanya yang menyerahkan secara langsung padanya. Ajudan Riko yang memberikan padanya, atas nama sang Papa.
Ya, memang Komjen Pol Prasetyo Pambudi yang membelikan hadiah kalung tersebut untuk ulang tahun putrinya itu. Dikarenakan Bening menangis tak berhenti saat ia ingin sebuah hadiah dari Papanya di hari ulang tahunnya yang kelima.
__ADS_1
Bahkan kala itu Bening mogok makan dan minum supaya sang Papa mau menurutinya. Awalnya Papa Bening tak mau menuruti permintaan putrinya itu.
Akan tetapi melihat Bening jatuh sakit dan harus di opname. Sekaligus nasehat dari Riko, ajudan pribadinya. Akhirnya Papa Bening memberikan hadiah yang diinginkan putrinya itu.
Namun dikarenakan rasa cinta yang tertutupi atas kecewa dan benci, akhirnya Riko lah yang memberikan hadiah itu pada Bening.
Sang dokter yang melihat Bening seakan tak rela melepas kalung tersebut pun berkata, "Nyonya Bening tidak perlu khawatir. Biaya operasi dan semuanya sudah saya tanggung terlebih dahulu. Kalung ini tidak akan saya jual. Hanya saya bawa sebagai jaminan. Jika nanti, Anda sudah memiliki cukup uang maka bisa menebusnya kembali pada saya."
"Benar, Dok?" tanya Bening sumringah.
"Iya, Nyonya Bening."
"Terima kasih banyak, Dok. Saya berjanji pasti akan menebus kalung itu suatu hari nanti. Semoga keluarga dokter diberkahi rejeki yang berlimpah," ucap Bening tulus.
โ๏ธโ๏ธ
Bening sempat mengambil dua kali foto setelah melahirkan bayinya yang sudah dibersihkan oleh perawat sebelum dikebumikan. Ia ingin memiliki sebuah kenangan bersama bayinya yang bisa ia cetak nantinya. Walaupun bayi tersebut sudah tak bernyawa.
Bahkan ia juga meminta cetak foto USG beberapa kali pada sang dokter sebagai kenang-kenangan. Dokter pun menuruti kemauan Bening.
__ADS_1
Dikarenakan kondisi Bening pasca operasi yang tak memungkinkan untuk ikut acara pemakaman, maka ia hanya bisa menyaksikan melalui sambungan video call dari perawat yang ikut membantu pemakaman bayinya.
Putra Arjuna. Ya, Bening memberi nama itu pada bayi laki-laki yang beberapa jam lalu ia lahirkan dalam kondisi yang sudah meninggal. Dimakamkan di sebuah pemakaman umum yang cukup ternama di kota Yogyakarta.
Bening menginginkan tempat peristirahatan yang layak untuk bayinya. Sebagai tanda cintanya pada sang jabang bayi yang ia cintai sejak dalam kandungan tersebut.
Di atas gundukan tanah merah berukuran kecil yang masih basah, dengan taburan banyak bunga di atasnya. Di sana tertera nama Putra Arjuna pada batu nisan yang tertancap di atas pusara tersebut.
"Maafin Mama, Nak. Maafin Mama. Maafin Mama. Huhu..." cicit Bening dengan isak tangis yang terdengar pilu.
Isak tangis yang baru menggema di kamar rumah sakit, tempat dirinya dirawat inap.
Tangannya yang masih terbalut selang infus, tengah terulur menyentuh layar ponselnya yang berisi video pemakaman bayinya.
"Mama, tolong jaga putraku di sana. Maafin Bening, Mah. Bening telah gagal jadi seorang ibu."
Air mata terus saja mengalir di pipi mulusnya. Matanya sembab karena tak hentinya menangis usai melihat video pemakaman sang buah hati. Terlebih karena suatu kondisi, dirinya tak bisa hadir secara langsung.
Menyebabkan seorang Bening makin terpuruk dan sendiri.
__ADS_1
Di kala Bening mengalami kedukaan atas meninggalnya sang jabang bayi, duka yang sama tengah dialami Ayu. Nenek Minah meninggal dunia.
๐๐๐