Bening

Bening
Bab 71 - Sebuah Pena


__ADS_3

Tertegun, terpana dan tak menyangka. Itulah yang ada di benak AKBP Arjuna Sabda Mahendra saat ini. Ruang tamu yang biasanya tak berhias apapun kecuali foto dirinya dengan kedua orang tuanya saja yang terpajang di dinding, kini tampak berbeda.


Suasana ceria dan bahagia begitu terpancar di ruang tamu miliknya. Kerlap-kerlip bintang di langit-langit ruang tamu dan juga beberapa ornamen ala kepolisian, bunga mawar warna kuning favorit seseorang yang ia cintai, menghiasi di segala sudutnya.


Siapa lagi jika bukan dari Bening Putri Prasetyo, calon istrinya. Dikarenakan Bening sangat suka dengan warna kuning dan ungu.


Terlebih di dinding ruang tamunya terdapat beberapa foto lamaran mereka berdua sewaktu di Jogja sekaligus beberapa foto pribadi saat dirinya mengajak kencan Bening selama di kota gudeg tersebut.


Sebuah kue tart warna putih dan ungu tersaji begitu cantik nan sederhana tetapi tampak bermakna di meja ruang tamunya. Sangat menggambarkan sosok Bening sekali. Wanita yang ia cinta itu yakni sosok perempuan yang sederhana, mandiri dan sangat memiliki karakter.


Walaupun terlahir dari keluarga berada tetapi sosok Bening tetap rendah hati dan tak pernah menggunakan kekuasaan dan kekayaan sang Papa hanya untuk kepentingan pribadinya. Hal itulah yang membuat Arjuna semakin jatuh hati pada Bening.



Foto : By Google


Bahkan cemilan serta beberapa minuman masih tersaji di meja lain yang berada di sudut ruang tamunya. Sebuah helaan nafas berat hinggap di benaknya saat ini.


Ia yakin semalam Bening ada di rumahnya untuk memberi kejutan ulang tahun dirinya yang ke tiga puluh satu tahun. Arjuna sendiri saja terlupa bahwa hari ini ulang tahunnya.

__ADS_1


Kesibukannya akhir-akhir ini sangat menyita waktunya. Selain urusan pekerjaan juga urusan menjelang pernikahannya dengan Bening di Jakarta yang akan dilangsungkan tiga minggu lagi.


Saat akan melangkah pergi ke kamar Bik Siti untuk memastikan, Arjuna melihat sebuah kotak kecil berhiaskan pita cantik seperti kado. Berada di meja sudut ruang tamu dekat foto dirinya berserta kedua orang tuanya.


Akhirnya ia mengurungkan niatnya ke kamar Bik Siti, dan melangkah menuju sudut tersebut. Dirinya mengambil kotak tersebut lalu ia buka.


Deg...


"Pena ini," batin Arjuna terkejut.


Ya, Bening memberi kado pada Arjuna sebuah pena. Bukan sembarang pena. Akan tetapi pena tersebut adalah pena milik Arjuna yang tertinggal di meja kamar hotel. Pena tersebut adalah saksi ketika Arjuna melahap habis Bening di hotel berbintang di kota Bandung.


Yang menjadi malam naas bagi kehidupan Bening setelahnya. Kesuciannya yang ia jaga telah direnggut Arjuna secara paksa kala itu di bawah pengaruh zat afrodisiak dalam minuman Arjuna.


Terdapat logo institusi Polri pada ujung pena tersebut dan inisial huruf ASM. Yakni kepanjangan dari nama pemilik pena tersebut Arjuna Sabda Mahendra.


Pena tersebut diterima oleh Arjuna saat menjadi lulusan terbaik Akpol. Yang ternyata pena tersebut adalah pemberian dari Papa Bening untuk Arjuna.


Kala itu Papa Bening membuatkan pena pada orang kepercayaannya. Lalu ia berikan secara pribadi pada Kombes Pol Gatot Subekti Mahendra, Ayah Arjuna. Pena tersebut sebagai tanda jadi perjodohan kedua anak mereka kelak di masa depan.

__ADS_1


Dan saat Arjuna lulus Akpol dan menjadi lulusan terbaik, sang Ayah memberikan sebuah pena khusus itu padanya sebagai hadiah. Namun Kombes Pol Gatot Subekti Mahendra tak menjelaskan secara detail dari siapa pena tersebut.


Hanya mengatakan bahwa Arjuna harus menjaga pena tersebut dengan baik dan untuk selamanya.


Ternyata pena tersebut dibawa oleh Bening saat dirinya terbangun dengan kondisi badan remuk redam setelah semalam suntuk dihajar oleh Arjuna di atas ranjang lalu ditinggalkan begitu saja kala itu tanpa sepatah kata atau catatan apa-apa.


Kini Bening ingin mengembalikan pena tersebut pada Arjuna. Sebab ia tahu pena tersebut bernilai cukup mahal. Pena tersebut berlapis emas asli 24 karat.


Bening beranggapan pena itu adalah kenang-kenangan milik Arjuna dari seseorang yang sangat penting sehingga ia memang berniat mengembalikannya suatu hari nanti. Ternyata momen ulang tahun Arjuna saat ini dimanfaatkan Bening untuk mengembalikan benda penting tersebut.


Puzzle-puzzle ingatan kala ia mengungkung Bening di bawahnya saat malam petaka itu kembali menghantuinya. Rasa bersalah dan penyesalan itu kembali hadir di benak Arjuna. Terlebih ia menemukan kembali pena yang sangat penting baginya yang hampir saja terlupa karena hilang beberapa waktu lalu.


Akhirnya pena bersejarah tersebut kembali padanya dan itu berkat Bening yang menjaganya selama ini untuknya. Pena tersebut pemberian terakhir dari sang Ayah padanya sebelum wafat.


"Maafkan aku, Bening."


Arjuna menangis tergugu dengan rasa yang berkecamuk di dalamnya. Tangannya bergetar mengambil pena tersebut dan ia ciumi dengan linangan air mata.


Tiba-tiba matanya yang basah menangkap sesuatu dalam kotak kado dari Bening. Ada sebuah kertas seperti sepucuk surat di bawah pena tersebut yang terselip di dalam kotak kado. Di mana bagian atasnya tertera tulisan "Untuk Mas Arjunaku Tercinta".

__ADS_1


Deg...


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2