
Setibanya di rumah Papa Bening, Arjuna harus menelan pil pahit kala ia tidak mendapati Bening di sana. Menurut informasi dari Bik Ningsih, Bening pergi bersama Tuannya. Namun entah ke mana, Bik Ningsih pun tak tahu.
Lantas Arjuna pun menghubungi ponsel pribadi Papa Bening. Hasilnya pun nihil. Tetap tak bisa dihubungi juga. Keempat orang penting ini dalam hidupnya, seharian ini membuat Arjuna uring-uringan tak karuan.
Ponsel Bening dan Papanya tidak dapat terhubung alias mati entah karena sengaja dimatikan atau lemah baterai. Dua kemungkinan itu yang ada di benak Arjuna.
Sedangkan ponsel Ayu dan Bayu tersambung namun tidak ada yang mengangkat.
"Dasar bujang lapuk! Keenakan pergi kencan sampai lupa sama sahabat sendiri. Awas kamu! Ayu juga sama saja. Huft!" gerutu Arjuna berdecak sebal menatap ponselnya.
Arjuna tahu bahwa Bayu tengah pergi dengan Ayu juga dari Bik Ningsih. Selang satu jam kepergian Bening dan Papanya, dua sejoli itu pun pergi dengan mobil milik Bayu yang juga entah ke mana.
Sedangkan yang disebut namanya oleh Arjuna, kedua sejoli itu saat ini tengah sibuk suap-suapan es krim layaknya pasangan kekasih di sebuah pusat perbelanjaan ternama di Jakarta. Setelah puas bermain, tiba-tiba Ayu melihat ada ajang yang menarik perhatiannya.
Lomba khusus untuk pasangan yakni wajib menghabiskan secara cepat satu baskom besar berisi es krim. Dengan metode saling menyuapi dan harus ditutup matanya oleh kain khusus yang diberikan dari pihak acara tersebut.
Juara satu akan mendapatkan tiket wisata plus akomodasinya untuk dua orang ke Maladewa atau yang biasa orang kenal dengan sebutan Maldives, secara eksklusif. Setelah Ayu melakukan pencarian di Mbah Gorgon melalui ponsel pintarnya pemberian Bayu tempo lalu, Ayu begitu terpesona dengan keindahan yang ditawarkan di kawasan Maladewa tersebut. Terlebih dirinya belum pernah ke sana.
Maldives adalah tempat wisata yang sangat eksotik di luar negeri dan terbilang mahal serta terkenal, maka ia pun langsung menyuruh Bayu menemani dirinya mengikuti lomba tersebut.
Bayu pun dengan senang hati mengikuti apa yang di mau oleh calon ibu negaranya ini. Alhasil kini keduanya tengah kompak untuk segera menghabiskan es krim sebaskom besar tersebut melawan pasangan yang lainnya.
"Cepat habiskan! Awas kalau gagal. Aku pulang ke Jogja. Enggak mau ketemu sama kamu lagi!" ancam Ayu.
"Kalau menang, harus nurutin yang aku mau. Janji?" tanya Bayu mendesak Ayu.
"Janji. Asal bukan diajak yang macam-macam. Awas kamu nanti aku babat habis tongkat bisbolmu yang di bawah itu!" balas Ayu mengancam seraya menatap tajam Bayu.
"Cuma satu macam saja kok. Enggak akan banyak macam kecuali sudah diizinkan."
__ADS_1
"Yang pasti tongkat bisbolku masih jinak-jinak merpati sekarang. Kalau sudah dapat bukunya mungkin aku bakalan susah membuatnya jinak," cicit Bayu seraya tersenyum penuh arti.
"Hah, buku. Emang buku apaan? Apa seperti majalah anak-anak si Bobi yang gambar gajah lucu itu atau majalah Trabas yang gambar tanaman sama hewan-hewan begitu?" tanya Ayu dengan nada polosnya.
"Astaga, rasanya pengin aku gigit saja dia! Emang ini bocah sepertinya harus aku belikan buku Kangmas Susut dulu biar dia pelajari sampai khatam sebelum malam pengantin. Supaya otak polosnya bisa segera naik level. Kalau perlu malah nanti lebih jago dia daripada aku. Biar dia yang minta duluan. Bukan aku," batin Bayu menggerutu.
Buku yang dimaksud dari Bayu adalah sudah mendapatkan buku nikah dari KUA (Kantor Urusan Agama). Namun otak Ayu belum sampai menjangkau pada hal yang menjurus ke pernikahan.
Sehingga Bayu sepertinya perlu membelikan Ayu buku yang lebih fenomenal yakni buku Kangmas Susut agar pujaan hatinya itu memahami berbagai macam gaya yang akan menyenangkan pasangannya ketika nanti keduanya resmi menikah. Biar tidak jet lag.
Obrolan unfaedah keduanya saat berdebat sebelum memulai lomba betul-betul membuat Bayu pusing sembilan keliling dan harus memutar otak agar otak polos Ayu enggak polos-polos amat dan lebih peka.
πππ
Dufan
Mereka tengah menunggu makanan pesanannya datang. Perut terasa lapar dan ini sudah lewat jam makan siang. Tak terasa keduanya bermain dari satu wahana ke wahana yang lain. Akhirnya tibalah saatnya mengisi perut.
"Kamu enggak hubungi Arjuna kalau datang ke Jakarta?" tanya Papa Bening memulai pembicaraan.
Bening hanya menggelengkan kepalanya.
"Papa jadi kangen Arjuna. Biasanya di hari Minggu begini kalau kita berdua sedang tidak ada urusan dinas, Arjuna sering datang ke rumah jemput Papa pagi-pagi," cicit Papa Bening.
"Untuk apa?" tanya Bening datar namun matanya menoleh pada sang Papa karena didera rasa penasaran yang menggelitik hatinya.
"Urusan lelaki," jawab Papa Bening singkat.
Bening pun mengerucutkan bibirnya dan berdecak sebal. Hal itu justru membuat Komjen Pol Prasetyo Pambudi menangkap sesuatu dan ia pun tersenyum melihat tingkah putrinya itu.
__ADS_1
"Urusan lelaki apa di pagi hari begitu?" tanya Bening dengan ketus.
"Olah raga," jawab Papa Bening singkat.
"Main futsal, joging atau apa?" tanya Bening kembali setengah frustasi.
"Maunya olah raga ranjang tetapi kan Papa sama Arjuna enggak punya lawan tanding di arena itu. Ya, jadinya kita lihat cewek-cewek cantik di GBK atau kalau enggak di Monas," celetuk Papa Bening sengaja menggoda.
"Papah!" pekik Bening.
Kedua tangan Bening sudah bersedekap di depan d@da. Bibirnya semakin maju beberapa centi. Akibat celetukan Komjen Pol Prasetyo Pambudi barusan.
"Haha..." tawa Papa Bening.
Bening mungkin terlupa bahwa Papa Bening sudah menjadi anggota kepolisian bukan setahun atau dua tahun. Tetapi sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia tersebut.
Pernah menjadi Kasat Reskrim, Kadiv Humas Mabes Polri hingga Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim) jauh sebelum menjadi Wakapolri besok.
Tentu saja mudah bagi seorang Komjen Pol Prasetyo Pambudi yang sudah terlatih untuk menelisik gelagat putrinya yang cukup janggal di matanya hari ini. Dan tentu pada akhirnya ia mencium ada suatu problem yang terjadi antara sang putri dengan Arjuna, calon menantunya.
Tetapi masalah detailnya seperti apa, dirinya belum tahu dan tidak ingin mencampuri hal pribadi keduanya terlalu dalam. Sebab ia ingin memberi ruang bagi keduanya untuk bisa menyelesaikan masalah pribadi mereka berdua tanpa ada campur tangan dari orang tua.
Sebelum menikah, hal seperti ini kerap terjadi. Dirinya sudah banyak makan asam garam kehidupan terutama percintaan. Sehingga ia tahu hal ini berkaitan tentang urusan asmara pribadi. Ia beranggapan putra-putrinya itu sedang ada miss komunikasi saja.
Sehingga dirinya ingin menghibur Bening agar tidak terlalu larut dalam permasalahannya dengan Arjuna yang saat ini terjadi. Sebagai Ayah yang baik, ia ingin melihat putrinya itu bahagia dan tak akan tersakiti oleh siapapun.
Cukup dahulu dirinya yang membuat Beningnya menangis pilu. Ia yakin keduanya mampu mengatasi hal ini dengan baik dan bijak.
πππ
__ADS_1