
Acara empat bulanan kehamilan Bening sekaligus syukuran pengangkatan Kombes Pol Arjuna Sabda Mahendra berlangsung lancar. Syukuran sederhana tersebut diadakan di sebuah restoran kawasan Jakarta Selatan yang tak jauh dari kediaman mereka. Suasana hangat dan penuh keakraban sangat tampak di sana.
Hiasan dan pernak-pernik dari pihak EO (Event Organizer) yang dipilih mereka berdua, berhasil menyulap ruangan yang disewanya menjadi elegan dan ceria. Warna pink dan dan kuning tampak mendominasi. Sesuai request sang ibu hamil, si pemilik hajatan.
Hal ini dikarenakan Bening tengah mengandung bayi kembar sesuai hasil USG yang terakhir mereka lakukan di dokter spesialis kandungan, salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Namun untuk jenis kela min, Bening sengaja meminta nanti saja sebagai kejutan untuk mereka saat bayi kembarnya sudah lahir.
Baginya mau laki-laki atau perempuan, sama saja. Asal sehat dan tak kurang suatu apapun.
Arjuna hanya menuruti semua kemauan sang istri. Apapun yang diinginkan Bening selama hal itu positif, maka ia selalu menyetujuinya.
Dokter Heni, Ayu, Bayu dan Nyonya Lina juga hadir pada acara tersebut.
"Wah, Ning. Kamu makin cantik saja. Selamat ya, Ning. Perutmu juga sudah agak gede ya. Jadi pengin begini kayak kamu," ujar Ayu ceplas-ceplos seraya tertawa kecil.
"Hussh !! Ngawur kamu, Yu. Nikah dulu baru kawin. Jangan dibalik. Nanti yang ada kamu bisa-bisa dihukum sama ibu buat ngepel Candi Borobudur selama seumur hidup atau sekalian jadi stupa di sana. Tahu rasa kamu," ucap Arjuna.
"Yeee, aku juga tahu soal itu Junet! Enggak perlu diajarin juga. Nikah dulu pastinya baru bikin anak," ketus Ayu.
"Nah, itu kamu tahu. Tuh ada yang sudah siap kalau mau ijab kabul besok pagi. Calon Jenderal Bayu Laksono sangat siap meminang Ndoro Ayu," ujar Arjuna seraya menunjuk Bayu yang tengah berbincang dengan seorang wanita salah satu pegawai EO di seberang sana.
"Males ah sama bujang lapuk sekaligus playboy cap kedondong begitu. Hobinya tebar pesona," ketus Ayu seraya melihat Bayu tengah mengobrol dengan pegawai EO.
"Cemburu nih yeii. Ehem..." ledek Arjuna.
"Masss, sudah ah. Kasihan tuh sepupu kamu. Nanti pulang-pulang mewek loh. Bakal repot kalau harus nenangin," cicit Bening sengaja balas menggoda Ayu.
"Au...ah... sebel sama kalian berdua! Kalian enggak dukung aku. Belain terus si spesies bujang lapuk itu terus!" ketus Ayu seraya melenggang pergi.
"Eh...eh... Ndoro Ayu jangan ngambek. Nanti dapat suami baperan loh," ledek Arjuna yang langsung mendapat cubitan di perutnya dari sang istri.
"Auuch... yank. Jangan cubit di sini. Kalau ada yang bangun, repot loh nanti malam kalau harus nidurin." Arjuna kembali tersenyum penuh makna.
__ADS_1
"Megalodon puasa dulu. Baby kembar mendadak pusing kena gempa terus. Aku susulin Ayu dulu ya Pah," ucap Bening seraya berpamitan pada sang suami.
"Hem, jangan lama-lama. Sebentar lagi acaranya selesai terus pulang, Mah. Papah pengin dipijit Mah. Sekalian cari ibadah," ucap Arjuna. Namun Bening tetap berjalan menyusul Ayu. Ia hanya menggeleng samar sambil tersenyum kala mendengar ucapan suaminya barusan yang tak pernah berubah jika menyangkut hajat hidup megalodon.
โ๏ธโ๏ธ
Kebahagiaan Bening dan Arjuna berbanding terbalik dengan kehidupan seorang wanita di balik jeruji besi. Bagaikan bumi dan langit. Sangat berbeda seratus delapan puluh derajat. Tepatnya di sebuah rumah tahanan khusus wanita. Ya, dia yakni Della Wijaya.
"Cepat bersihkan toilet ini!" perintah si preman tahanan.
"Tapi itu kan tugas Mbak. Bukan tugasku," ucap Della berusaha membantah.
"Eh, berani ngelawan kamu ya. Kamu itu di sini junior. Jangan banyak belagu! Kalau kamu masih pengin hidup dan nyawamu masih ada, lakukan!" bentak tahanan tersebut.
"Baik, Mbak. A_kan saya lakukan," cicit Della terbata-bata dan pasrah.
"Habis kamu bersihkan toilet, jangan lupa ruang tidur kita juga kamu bersihkan semua dari sampah-sampah ini. Biar tidur kita nyenyak. Awas kalau sampai aku gatal-gatal karena kurang bersih. Siap-siap besok kamu dapat hukuman dari aku. Paham kamu!" bentak wanita itu.
Akhirnya Della membersihkan toilet rutan dan juga ruangan tidur bersama rekan-rekan satu selnya tersebut. Bahkan tak jarang makanan yang ia terima dari petugas lapas diambil secara paksa oleh si preman tahanan.
Bobot tubuhnya berkurang cukup drastis. Dirinya sering sakit-sakitan. Akibat kelelahan menderanya sekaligus banyak pikiran dan hal lainnya yang belum ia ketahui pasti.
Pagi ini ada kerja bakti membersihkan saluran air di belakang rutan, Della sengaja disuruh oleh si preman tahanan mengerjakan tugasnya tersebut saat pihak petugas lapas lengah. Della mau tak mau menurutinya. Sebab jika melawan pun percuma.
Beberapa hari lalu, pernah ia mencoba melawan. Namun hasilnya justru semakin buruk untuknya.
"Apa! Kamu berani ngebantah. Dasar mantan orang kaya belagu. Hajar dia!" perintah si preman tahanan pada anak buah lainnya.
Bugh...
Bugh...
__ADS_1
Bugh..
"Aaa..." jerit Della saat rambutnya dijambak ke belakang.
PLAK !!
Sebuah tamparan panas melesat di pipinya dari si preman tahanan.
Bugh...
Tubuh Della terhuyung ke belakang akibat didorong oleh si preman tahanan tersebut. Meninggalkan memar di pipinya dan bercak darah di sudut bibirnya.
"Asal kamu tahu. Aku itu orang jalanan terkenal di Jakarta ini. Dulu, aku sudah sering keluar masuk tahanan karena mencuri dan malakin orang. Buat hidupin adik-adikku. Kita yatim piatu. Orang tua kita tukang sampah yang jadi korban tabrak lari di jalan. Hidup kita berubah setelah bertemu orang baik. Dia biayain sekolah adik-adikku dan juga aku bisa lulus ujian kejar paket C karena beliau. Setelah lulus, dia ngasih pekerjaan supaya aku jadi kasir di supermarket miliknya. Bahkan dia juga berhasil menangkap tersangka yang sudah nabrak lari orang tua kami. Kebaikan dia tidak berhenti sampai di situ saja. Dia buka rumah singgah untuk orang jalanan seperti kami yang selama ini jadi kaum terpinggirkan dan selalu dianggap hina oleh orang-orang kaya yang sombong, macam kamu! Dan kamu tahu siapa orang itu, hah?"
Della hanya terdiam membisu dan menggeleng samar-samar.
"Pak Wakalpori yang kamu bunuh akibat fitnah kejimu itu! Dasar pembunuh. Kamu pantas mati! Aku sengaja melakukan kejahatan agar bisa masuk rutan dan membuat hidupmu terpuruk di dalam sini. Aku enggak terima orang baik seperti dia mati begitu saja akibat perbuatanmu yang busuk! Mati saja kau!" pekik si preman tahanan seraya memukul dan menjambak Della secara membabi buta.
"Aaa... maaf Mbak. Maaf !!" jerit Della menahan sakit seraya menangis.
"Maafmu tidak bisa membuat Ayah angkat kami hidup kembali. Dasar brengsek!!" maki si preman seraya masih melayangkan bogeman mentah pada Della.
Kepingan ingatan kejadian beberapa hari yang lalu, membuat Della semakin tertohok. Jujur, ia merasa bersalah karena dirinya membuat Papa Bening meninggal dunia. Ia sama sekali tak terpikirkan bahwa niat hati ingin mempermalukan Bening, namun ia sama sekali tak menyangka bahwa perbuatannya menyebabkan Bening kehilangan Papanya.
Tuhan telah membalas perbuatannya begitu cepat. Dirinya kehilangan kedua orang tuanya hingga kekayaan keluarganya yang selama ini ia agung-agungkan.
"Maafkan aku, Bening." Della membatin pilu seraya tangannya menahan sakit pada perutnya.
"Ughh... perutku. Kenapa akhir-akhir ini sering nyeri? Padahal yang lalu hanya sekali mendapat pukulan dari preman itu di perut. Ya Tuhan, sakit. Ughh..." Della semakin kesakitan dan tak tahan dengan nyeri pada perutnya. Pandangannya seketika menggelap dan tubuhnya yang lemas langsung roboh di dekat parit belakang rutan. Pingsan.
Bersambung...
__ADS_1
๐๐๐