
"Ini rumah kamu dan Arjuna, sayang. Kado dari Papa. Ayo masuk kita lihat sebentar ke dalam," ucap Papa Bening menggandeng masuk putrinya.
Keduanya pun memasuki rumah cantik dua lantai tersebut yang bercat perpaduan warna hitam dan putih tampak di luarnya. Di dalamnya terdapat total 7 kamar tidur. Satu kamar utama, dua kamar tamu, dua kamar untuk anak dan dua kamar untuk pembantu.
Sebuah ruang tamu dengan ukuran 7x7 meter sedangkan ruang keluarga berukuran 10x10 meter. Terdapat satu ruangan khusus untuk olah raga dan mini playground.
"Rumahnya cantik dan bagus, Pah. Bening suka. Makasih banyak Papahku sayang," cicit Bening tersenyum sumringah seraya memeluk Papanya.
"Ini kuncinya kamu bawa. Nanti kamarnya tinggal kalian atur passwordnya sesuai yang kalian mau. Jika ada perabotan atau hal lain di rumah ini yang mau kalian ganti atau rombak, tinggal bilang sama Riko. Nanti Riko akan hubungi Pak Pandu," ucap Papa Bening.
Pak Pandu yakni orang kepercayaan Papa Bening yang mengurus segala keuangan dan bisnis keluarga Pambudi yang juga berprofesi sebagai pengacara keluarga.
Hari sudah menunjukkan pukul dua belas siang, mereka pun santap siang dengan nasi gudeg di sebuah depot khusus gudeg yang tak jauh dari area rumah baru Bening tersebut. Rumah yang masih berada di kawasan kota Jogjakarta.
Jarak dari rumah ibu mertuanya yang berada di kawasan Malioboro menuju rumah pemberian dari sang Papa, sekitar tiga puluh menit berkendara.
Mobil pun masih melaju menuju ke sebuah pantai yakni Pantai Wediombo merupakan sebuah tempat wisata alam sekaligus kawasan konservasi perairan yang ada di Gunungkidul, Yogyakarta.
Lokasinya ada di Desa Balong, Girisubo, Gunungkidul, Yogyakarta. Dari pusat kota jaraknya sekitar 70 kilometer. Dua jam perjalanan mereka tempuh dan akhirnya tiba juga di Pantai Wediombo.
"Tumben Papa ngajak Bening ke pantai?" tanya Bening.
"Papa lagi pengin ke sini. Jadinya ya sudah ke sini sama kamu. Lama juga enggak main ke pantai," jawab Papa Bening apa adanya.
"Tapi Bening enggak bawa baju ganti," cicit Bening kebingungan.
"Sudah Papa bawakan. Ada di dalam mobil," ucap Papa Bening seraya tersenyum.
"Hah, kapan nyiapinnya?" tanya Bening heran.
"Sebelum berangkat ke Jogja. Papa minta tolong Bik Ningsih buat ambilkan baju santai kamu di kamar," jelas Papa Bening.
Bening pun hanya mengangguk dalam kegamangan.
Ayah dan anak tersebut bermain air di Pantai Wediombo dengan riang bahagia. Tanpa sadar membuat seorang suami berdecak sebal di kota lain. Sebab ponsel istrinya mendadak mati sejak dua jam yang lalu. Alhasil dirinya tak bisa terhubung dengan sang istri.
Papa Bening sengaja meminta putrinya itu mematikan ponselnya selama bersamanya. Sebab ia tak ingin diganggu waktu kebersamaannya dengan putrinya itu oleh siapapun. Bening pun memaklumi dan mengiyakan permintaan sang Papa.
__ADS_1
"Bening ke mana sih? Tumben ponselnya off. Apa masih ujian? Bukankah katanya hari ini cuma satu mata kuliah saja yang ujian!" gerutu Arjuna.
"Kenapa, Jun?" tanya Bayu yang berada di dekat Arjuna, mendengar sahabatnya ini mengomeli ponsel yang tak berdosa.
"Istriku tumben ponselnya off. Padahal jam ujian sudah selesai sejak tadi," jawab Arjuna.
"Oh, aku pikir masalah berat. Ternyata cuma soal rindu istri," ledek Bayu tersenyum tipis.
"Kamu belum tahu sih rasanya rindu segunung sama istri. Nanti kalau sudah merasakan, giliran aku ledekin kamu sampai nangis kejer-kejer, huft!" ketus Arjuna.
"Haha... oke-oke aku paham. Mungkin Bening lagi sibuk. Jadi ponselnya sengaja dimatikan. Nanti malam pasti Bening hubungi kamu. Percaya deh," ucap Bayu berusaha menenangkan Arjuna yang sudah seperti cacing kepanasan hanya karena teleponnya belum tersambung pada Bening.
"Saksi gimana? Sudah bisa dimintai keterangan?" tanya Arjuna.
"Sudah. Saksi membuatkan kopi pada suami dan kedua teman yang datang bersama suaminya. Mereka ke warung kopi cuma sebentar gak sampai lima menit. Tapi istri korban membantah bahwa ia meracuni suaminya. Di kopi yang baru mereka minum setengah tersebut ditemukan kandungan sianida. Sayang enggak ada cctv di warung kopi sederhana itu maupun jalan sekitarnya. Maklum area masih kategori desa terpencil," jelas Bayu.
"Kalau tiga orang minum kopi yang mengandung sianida itu, tapi mayat cuma ada dua. Harusnya ada tiga. Yang satu siapa? Dan pergi ke mana?" gumam Arjuna bertanya-tanya sambil menelaah seluruh bukti yang ada dengan motif dan skenario pelaku.
"Kata istri korban, rekan suaminya yang satu enggak minum kopi yang dia buat. Karena dia ternyata gak suka kopi. Jadi minum air mineral. Hanya saja istri korban tidak kenal dengan pria tersebut. Jika teman suaminya yang juga ikut meninggal, dia kenal. Karena mereka memang dulu pernah tinggal satu kampung," tutur Bayu.
"Kata kuncinya ada pada lelaki satunya yang masih misterius itu. Ciri-cirinya apa sudah berhasil digambar dan disebar oleh tim untuk memburunya?" tanya Arjuna.
"Oh ya, kamu ngerasa aneh gak sih lihat Doni." Arjuna mencurigai sesuatu pada sosok temannya itu.
"Doni kenapa?" tanya Bayu penasaran.
"Tumben saja dia ikut campur kasus orang lain. Saat dulu aku mintai tolong buat bantu nyelidikin perkara aku dikasih obat lak-nat pas di Bandung, dia kayak enggak ada gerak nyata. Pas di sini kita sibuk sama mayat preman malah dia mendadak muncul secara tiba-tiba," tutur Arjuna curiga.
"Iya juga sih, cuma aku masih gak ada feeling. Yang penting kita jangan gegabah menuduh sebelum ada bukti jelas," ucap Bayu.
"Hem," jawab Arjuna singkat.
"Ya sudah kita lanjutkan lagi penyelidikan sama tim. Semoga segera membuahkan hasil yang bagus," ucap Bayu.
"Ayo," ucap Arjuna.
Keduanya pun bergegas pergi menemui tim dan Bidlabfor yang tengah berada di tempat lain.
__ADS_1
โ๏ธโ๏ธ
Senja telah datang. Setelah puas bermain air di pantai, Ayah dan anak tersebut pulang kembali ke kota.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kini keduanya telah duduk di ruang keluarga kediaman orang tua Arjuna. Tampak Ibunda Arjuna terkejut melihat kedatangan Papa Bening.
"Walah Dek Pras kok ke sini enggak kabar dulu toh. Biar saya masak spesial," ucap Ny. Lina.
"Maaf Mbakyu, memang sengaja gak kasih kabar dulu karena beri kejutan buat Bening. Saya juga enggak bisa lama-lama di Jogja. Kebetulan rindu anak jadi ya sudah mampir ke sini. Enggak usah repot-repot Mbakyu. Tadi sudah makan gudeg di tempat favorit kita dulu sama mendiang Mas Gatot. Saya cuma menyapa Mbakyu sebentar sekalian anter Bening pulang," ucap Papa Bening.
"Iyo-iyo aku ngerti rasane jauh sama anak. Kalau Dek Pras kangen, sering-sering saja main ke Jogja. Atau nanti pas Juna libur dinas, biar tak suruh bawa Bening ke Jakarta."
"Ya sudah kalau begitu karena sudah malam, saya pamit balik ke hotel dulu, Mbakyu. Soalnya besok harus balik ke Jakarta lagi. Saya titip Bening di sini sama Mbakyu. Maaf, kalau nanti Bening merepotkan sampeyan atau ada salah-salah. Apalagi nanti pas anak Juna dan Bening lahir pasti Mbakyu repot sendirian momong cucu. Tak doakan Mbakyu sehat terus biar bisa nemenin Bening dan Juna," ucap Papa Bening seraya berpamitan pulang.
"Amin... Mugi Dek Pras juga sehat terus biar bisa bareng-bareng momong cucu. Bening enggak pernah ngerepotin kok. Malah saya seneng dapat menantu Bening. Bisa nemenin saya di sini. Hati-hati ya Dek Pras," ucap Ibunda Arjuna yang diangguki Papa Bening.
"Sayang, baik-baik ya di sini. Sehat terus. Jangan lupa salat dan ngajinya," ucap Papa Bening seraya memeluk dan mencium kening putrinya.
"Iya, Pah. Bening selalu inget nasihat Papa. Hati-hati ya, Pah. Minggu depan Insha Allah Bening sama Mas Juna ke Jakarta," cicit Bening seraya mencium tangan sang Papa penuh takzim.
"Papa tunggu kamu di rumah. Dan Papa yakin saat kamu ke Jakarta akan bawa kabar gembira buat Papa," ucap Papa Bening seraya tersenyum sumringah.
"Kabar apa, Pah?" tanya Bening bingung.
"Mungkin kabar cucu Papa. Ah, Papa jadi enggak sabar nih. Haha..." tawa Papa Bening begitu lepas.
"Amin..." jawab Bening dan Ibunda Arjuna serempak.
"Daa sayang... Papa pamit," ucap Papa Bening seraya melangkah dan melambaikan tangan menuju mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Riko.
Bening dan Ibunda Arjuna yang tengah berdiri depan pintu utama, lantas membalas dengan lambaian tangan pula. Mendadak mata Bening berkaca-kaca melepas kepulangan sang Papa malam ini. Namun entah kenapa alasannya, dirinya tak tahu.
Ada perasaan tertahan yang mengatakan dirinya masih rindu dengan sang Papa dan seolah-olah berat hati melihat kepergian sang Papa kembali ke Jakarta besok. Tiba-tiba...
"Papah!" teriak Bening.
Sontak Papa Bening pun terkejut mendengar teriakan putrinya. Lantas menoleh ke belakang dan melihat Beningnya tengah berlari menuju padanya dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
๐๐๐